Apakah Melakukan Maksiat Adalah Takdir dari Allah?

ceramah tentang gowes

Tanya jawab Ramadhan tentang apakah Melakukan Maksiat Adalah Takdir dari Allah ini dijawab oleh Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A. Hafidzahullah. Apakah M

3# Hati Yang Bersih Akan Pasrah dan Ridha dengan Takdir Allah
Ceramah Singkat: Pilihan Allah Adalah Yang Terbaik
Ceramah Singkat Tentang Kisah-Kisah Menakjubkan Pilihan Allah Yang Terbaik

Tanya jawab Ramadhan tentang apakah Melakukan Maksiat Adalah Takdir dari Allah ini dijawab oleh Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A. Hafidzahullah.

Apakah Melakukan Maksiat Adalah Takdir dari Allah?

37:43 Dari fulan:

Bagaimana cara menanggapi orang yang beranggapan bahwa jika dia melakukan maksiat, maka itu sudah takdir dari Allah.

Dijawab oleh Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A Hafidzahullah

Orang yang beranggapan bahwasannya kalau dia sudah berbuat maksiat atau baru melakukan maksiat itu adalah takdir Allah ‘Azza wa Jalla. Kita katakan benar bahwasannya maksiat adalah takdir Allah. Siapa yang mentakdirkan apa yang terjadi di permukaan bumi selain Allah ‘Azza wa Jalla? Ini adalah kerajaan Allah, Allah yang menciptakan makhluk yang ada didalamnya, termasuk diantaranya adalah pekerjaan-pekerjaan mereka, amalan-amalan mereka Allah yang menciptakan. Allah mengatakan:

اللَّـهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ

Allah, Dialah yang meciptakan segala sesuatu.” (QS. Az-Zumar[39]: 62)

Masuk didalam “segala sesuatu” di sini adalah orangnya maupun amalan yang dia lakukan. Karena Allah mengatakan:

وَاللَّـهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ ﴿٩٦﴾

Dan Allah yang menciptakan kalian dan apa yang kalian kerjakan.” (QS. Ash-Shaffat[37]: 96)

Apa yang kalian kerjakan? Kadang amal shalih dan terkadang amal kemaksiatan. Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:

إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ كُلَّ صَانِعٍ وَصَنْعَتَهُ

“Sesungguhnya Allah, Dialah yang menciptakan orang yang melakukan maupun amalan yang dilakukan oleh orang tersebut.”

Maka ini semua menunjukkan bahwasanya baik ketaatan maupun maksiat itu adalah ditakdirkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Yang perlu kita pahami, tidak semua yang diciptakan oleh Allah kemudian itu otomatis dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla.

Iradah syar’iyyah dan kauniyyah

Ada dua iradah; ada iradah syar’iyyah , ada iradah kauniyyah. Iradah kauniyyah (adalah) Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan sesuatu dan tidak ada kelaziman Allah mencintai sesuatu tersebut. Contoh: Allah menciptakan iblis, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala melaknat iblis, menjauhkan dia dari rahmatNya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan kemaksiatan dan Allah tidak menyenangi kemaksiatan.

Berbeda dengan iradah syar’iyyah. Maka iradah syar’iyyah berkaitan dengan mahabbatullah (kecintaan Allah). Seperti misalnya kehendak Allah, keimanan manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki iradah, yaitu senang dan cinta apabila manusia beriman kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam atau kepada Nabi yang diutus kepada mereka. Allah memiliki yang demikian. Allah memiliki keinginan manusia beriman dengan Rasul, makanya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Nabi, menurunkan Al-Qur’an. Kenapa? Karena Allah ingin mereka mendapatkan hidayah. Tapi apakah semua manusia kemudian mereka masuk kedalam agama Islam? Jawabannya tidak.

Jadi untuk iradah syar’iyyah, itu tidak melazimkan terjadinya. Tapi dia sesuatu yang dicintai oleh Allah. Adapun iradah kauniyyah, maka dia pasti terjadi dan belum tentu itu dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla.

Kemudian yang edua yang perlu kita pahami bahwa maksiat memang ditakdirkan oleh Allah, tapi tidak boleh kita beristidlal, berhujjah dengan takdir Allah untuk melakukan kemaksiatan. Yang disebutkan tadi, “Si Fulan ketika dia melakukan kemaksiatan mengatakan ini kan dengan takdir Allah.”

Thayyib, kalau dia mengatakan demikian dan maksudnya adalah ingin berhujjah, ingin membela dirinya untuk melakukan kemaksiatan tadi dengan menyebutkan takdir Allah, maka ia adalah salah besar. Takdir Allah itu digunakan sebagai hujjah di dalam musibah. Seperti dalam keadaan sekarang ini kita mengatakan “musibah ini adalah takdir Allah”, benar.

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّـهِ

Tidaklah menimpa sebuah musibah kecuali dengan izin Allah.” (QS. At-Taghabun[64]: 11)

Tapi untuk kemaksiatan, maka tidak boleh kita berdalil dengan takdir. Dalam Al-Qur’an, bahwasannya orang yang berdalil dengan takdir untuk membolehkan kemaksiatannya adalah orang-orang Musyrikin.

سَيَقُولُ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّـهُ مَا أَشْرَكْنَا وَلَا آبَاؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِن شَيْءٍ

Akan berkata orang-orang musyrikin: “Seandainya Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan berbuat syirik...” (QS. Al-An’am[6]: 148)

Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajak mereka untuk bertauhid dan melarang mereka untuk memaksiati Allah dengan kesyirikan. Tapi apa kata mereka? “Kalau Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan berbuat syirik. Kalau Allah menghendaki, niscaya bapak-bapak kami tidak akan berbuat syirik. Kalau Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan mengharamkan.” Berarti orang-orang musyrikin berdalil dengan takdir untuk membolehkan kesyirikannya. Apakah ridha kita mengikuti cara yang dilakukan oleh orang-orang musyrikin?

Ditambah lagi Allah Subhanahu wa Ta’ala membantah mereka. Setelahnya:

كَذَٰلِكَ كَذَّبَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ حَتَّىٰ ذَاقُوا بَأْسَنَا

Demikianlah orang-orang sebelum mereka mendustakan para Rasul.

Diutus kepada mereka Rasul kemudian mereka mendustakan, tidak mau mengikuti Rasul tersebut dengan hujjah yang sama. Demikian cara mereka mendustakan para Rasul, yaitu dengna berhujjah dengan takdir. Apakah ridha -sekali lagi- kita mengikuti apa yang dilakukan oleh orang-orang musyrikin?

حَتَّىٰ ذَاقُوا بَأْسَنَا

Sampai mereka merasakan adzab Kami.”

Jadi mereka berhujjah dengan hujjah tadi tidak akan bermanfaat dan tidak akan diterima di sisi Allah. Buktinya apa?

حَتَّىٰ ذَاقُوا بَأْسَنَا

Mereka berhujjah dengan hujjah yang sama tapi mereka diadzab oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Maka apa yang diucapkan oleh si Fulan tadi, kalau maksudnya adalah berdalil dengan takdir untuk membolehkan kemaksiatannya, ini jelas kekeliruan yang besar.

Kalau dalam masalah maksiat dia berdalil dengan takdir, tapi kalau dalam masalah musibah dia berdalil dengan takdir. Bahkan dia orang yang paling semangat dalam dunianya, dia menjadi orang yang tamak didalam dunianya. Tapi ketika disurut taat, disuruh untuk menjauhi kemaksiatan, dia membawakan takdir. Dalam masalah yang lain yang justru disyariatkan kita untuk mengingat takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala, dia lupa yang demikian. Ini was-was dari setan dan bisikan-bisikan dari setan. Wallahu ta’ala a’lam.

Video Apakah Melakukan Maksiat Adalah Takdir dari Allah?

File: 20200424 Ustadz Abdullah Roy – Halaqah Ramadhaniyah – Episode 1.mp3
Video: https://www.facebook.com/hsi.abdullahroy/videos/579034459635154

COMMENTS

%d blogger menyukai ini: