Ceramah Singkat Tentang Cara Ngaji Yang Benar di Medsos

Ceramah Singkat Tentang Cara Ngaji Yang Benar di Medsos

ceramah tentang gowes

Ceramah Singkat Tentang Cara Ngaji Yang Benar di Medsos ini adalah catatan dari ceramah singkat yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Sofyan Baswedan, M.A.

Cara Mencintai Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
Bagaimana cara mencintai wali-wali Allah?
Kiat-Kiat Agar Bisa Hemat Waktu

Ceramah Singkat Tentang Cara Ngaji Yang Benar di Medsos ini adalah catatan dari ceramah singkat yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Sofyan Baswedan, M.A. Hafidzahullah.

Pertanyaan Tentang Cara Ngaji Yang Benar di Medsos

Pertanyaan: Ustadz, ana ingin nanya, sekarang ini Alhamdulillah kan dakwah (dakwah sunnah terutama) baik secara langsung di majelis-majelis ilmu di masjid-masjid ataupun sekarang juga via internet di YouTube ada Yufid TV dan sebagainya itu sudah mulai pesat dan sudah mulai banyak peminatnya. Dan juga sudah banyak orang-orang yang pelan-pelan mulai tertarik gitu dakwah. Akan tetapi seiring itu juga berkembang sekarang ini adalah media sosial.

Nah, kita yang awam-awam ini kadang takut, ustadz. Karena di sana banyak pendapat yang kita nggak tahu dan kita ragu ini benar atau salah, kayak syubhat gitu, ustadz. Nah itu apa ada kaidah-kaidah supaya kita ini sebagai orang yang awam ini bisa membedakan mana ajaran yang benar-benar sesuai Al-Qur’an dan sunnah dan mana juga ajaran yang sebenarnya diada-adakan?

Penjelasan Cara Ngaji Yang Benar di Medsos

1. Pelajar ushul  terlebih dahulu

Tentunya ketika kita ingin memiliki filter atau penyaring dari ilmu-ilmu agama yang kita pelajari ini, kita mesti tahu dulu ushul atau pokok-pokok ajaran-ajaran dasar dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Dan ini harus dipelajari secara ilmiah dari sumber-sumber yang otentik, tidak bisa dari sembarangan. Dan Alhamdulillah para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah telah menggariskan pokok-pokok aqidah dan matau “Way of Life”nya Ahlus Sunnah wal Jama’ah itu bagaimana. Itu telah mereka rumuskan dalam sejumlah (mulai dari risalah yang hanya beberapa halaman sampai yang berjilid-jilid) ada lengkap di situ.

Lihat juga: Download mp3 Ceramah Belajar Islam dari Dasar

2. Sistematik

Nah, tentunya kita mau belajar Islam ini harus harus sistematik. Kebanyakan masalah yang kita temukan itu karena si audiens ini tidak mempelajari Islam secara sistematis. Mereka belajarnya itu loncat-loncat dari satu video ke video yang lain, dari satu mejelis taklim ke majelis taklim yang lain, dan sayangnya juga majelis taklimnya juga tidak sistematis, tapi tematik. Beda antara tematik dengan sistematik.

Kalau tematik ini, tema ini dibahas hari ini selesai besok tema lain lagi. Nanti pekan ketiga, pekan keempat, pindah-pindah tema. Tapi secara menyeluruh, bagaimana sih seharusnya seseorang untuk menjadi seorang Muslim yang baik, pokok-pokoknya apa, kaidah-kaidahnya apa? Saya khawatirnya itu tidak dipelajari secara baik dan benar sehingga ilmunya seperti main puzzle. Jadi nyebar dan nggak bisa tersusun bagus, gitu.

Saya mungkin bikin perumpamaan bahwa ilmu agama sebagaimana ilmu-ilmu lainnya secara umum. Itu harus kita pelajari secara runtut dan pakai metodologi. Apa mungkin antum belajar matematik mulai dari logaritma, sin cos tan? Kita harus mulai dari angka dulu, kenal 1 2 3 sampai 9, kemudian penambahan sederhana, pengurangan, perkalian, pembagian, naik naik naik naik logaritma, sin cos tan dan seterusnya, kan begitu harusnya.

3. Mulai dari pokok-pokok aqidah

Demikian juga ketika kita ingin belajar Islam, harusnya begitu. Mulai dari pokok-pokok aqidah dulu. Karena aqidah ini yang menjadi dasar kita dalam beribadah dan muamalah. Dan aqidahnya harus kita pelajari dengan baik dan benar. Harus dari sumber yang bisa dipertanggungjawabkan.

Aqidah ini adalah bagaimana kita:

  • mengimani Allah,
  • bagaimana kita mengimani para malaikat,
  • mengimani kitab-kitab Allah,
  • mengimani para Rasul,
  • hari akhir,
  • dan masalah takdir

Ini 6 masalah utama dalam pembahasan aqidah, nggak keluar dari rukun-rukun iman itu sendiri.

4. Bedakan mana ijma’ dan khilaf

Nah, setelah kita mengerti itu secara mendasar, baru kita masuk ke ranah yang ini merupakan medan ijtihad para ulama. Jadi ketika ada satu pembahasan, ada khilaf (perselisihan) di situ umpamanya, kita harus ini perselisihan dalam masalah aqidah ataukah dalam masalah fiqih? Kapan kita harus toleran dan kapan kita harus punya sikap yang baku di situ, tidak berubah-rubah. Kalau kita nggak tahu aqidah Ahlus Sunnah itu yang seperti apa dan masalah fiqih yang seperti apa, kita akan bingung terus.

Banyak orang yang (mengatakan): “Ini kan cuma pendapat.” Iya, tapi tidak semua masalah itu dibolehkan ada perbedaan pendapat, ada masalah-masalah yang sudah menjadi kesepakatan kaum Muslimin di situ, nggak boleh ada perbedaan pendapat di sini. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan:

وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا ﴿١١٥﴾

Barangsiapa yang menyelisihi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam setelah jelas baginya hidayah (jalan yang benar).”

Ini yang menjadi dalil tidak bolehnya kita keluar dari kesepakatan kaum Muslimin, terutama para Sahabat Nabi. Dan dia di samping menyelisihi Rasul,

وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ

dan boleh jadi karena dia mengikuti selain jalannya kaum Muslimin.

Jadi kaum Muslimin sudah sepakat menempuh jalan ini, dia ambil jalan yang lain, keluar dari ijma’nya mereka. Ini apa ancamannya?

نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ

Kami akan biarkan kemana saja dia berpaling (dibiarkan sesat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala) -dan ujung-ujungnya- Kami masukkan dia ke dalam jahanam. Dan itu sejelek-sejel tempat kembali.” (QS. An-Nisa[4]: 115)

Kalau kita tahu bahwa ini sudah kesepakatan di sini, nggak boleh ada pendapat lain, kan enak kita. Biar aja orang mau berpendapat, mau 1.000 pendapat, Ahlus Sunnah wal Jama’ah jelas kok pendapatnya. Tapi ada hal-hal yang Ahlus Sunnah wal Jama’ah berselisih, nah kita toleransi di situ asalkan masing-masing ini tidak hanya fanatik kepada orang yang berpendapat, tapi yang menjadi pegangan adalah dalilnya apa. Karena kebenaran tidak bisa dikuasai atau dimonopoli oleh satu ulama atau 10 ulama, tidak. Kebenaran itu adalah berdasarkan dalil. Dan Ahlus Sunnah wal Jama’ah terdidik untuk fanatik kepada dalil, bukan kepada yang menggunakan dalil.

Intinya adalah kita harus belajar dulu secara urut. Kita tahu mana yang disepakati oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah, aqidah-aqidah itu kita harus patenkan dulu. Jangan semuanya jadikan medan khilafiyah, repot nanti, nggak ada kesepakatan, nggak ada yang mutlak, ini bahaya sekali. Jadi pluralisme agama nanti.

Moderator: Jadi intinya berarti supaya kita nggak mudah terombang-ambing kita yang awam ini harus kuat pondasi aqidah dulu dan harus belajar dari sumber yang otentik.

5. Pilih sumber otentik

Sumber di sini baik kitabnya otentik dan juga guru yang mengajarkan nggak kalah pentingnya. Ilmu agama atau ilmu Islam ini memiliki keistimewaan dan ini bisa kita simpulkan dari sebuah hadits yang sangat terkenal, hadits yang shahih. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ

“Allah tidak mencabut ilmu agama ini dengan sekali cabut begitu saja, tidak.”

وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ

“Akan tetapi Allah mencabut ini dengan diwafatkannya para ulama.”

Garis bawahi ya, diwafatkannya para ulama. Ulama ini adalah guru-gurunya.

فَإِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا

“Kalau sudah tidak ada lagi orang alim yang hidup di muka bumi.” Walaupun di situ ada kitab-kitab mereka, ada rekaman-rekaman video, ada rekaman-rekaman audio, ada tulisan mereka. Apa yang terjadi?

اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤَسَاءَ جُهَّالًا فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

“Orang-orang akan menjadikan tokoh-tokoh yang jahil sebagai panutan mereka. Mereka pun ditanya, karena jahil mereka berfatwa tanpa ilmu, mereka tersesat dan menyesatkan orang lain.”

Dari sini bisa kita simpulkan bahwa belajar agama itu harus ada gurunya. Dan dalam hadits yang lain Rasulullah mengatakan:

تَسْمَعُونَ وَيُسْمَعُ مِنْكُمْ وَيُسْمَعُ مِمَّنْ سَمِعَ مِنْكُمْ

“Kalian (para sahabat) mendengarkan hadits dariku, kemudian orang-orang akan mendengarkan dari kalian dan mereka menyampaikan kepada orang lain.” Terus, jadi ada asal-usulnya, seperti itu.

Video Ceramah Singkat Tentang Cara Ngaji Yang Benar di Medsos

Sumber video: Yufid TV – Ceramah Singkat: Cara Ngaji yang Benar di Medsos – Ustadz Dr. Sofyan Baswedan, M.A.

COMMENTS

%d blogger menyukai ini: