Khutbah Jumat tentang Kendalikan Cintamu

Khutbah Jumat tentang Kendalikan Cintamu

Ada yang mencintai orang lain meskipun beda suku dan budaya, "Tapi saya mencintai Anda karena Anda taat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala".

Berikut tulisan tentang Khutbah Jumat tentang Kendalikan Cintamu” yang disampaikan Ustadz Ammi Nur Baits Hafizhahullahu Ta’ala.

Khutbah Jumat tentang Kendalikan Cintamu

Khutbah Pertama

Hadirin jamaah jumat yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Salah satu diantara bukti tanda iman seseorang adalah mencintai sesama mukmin. Bahkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebut sebagai bagian dari ikatan iman yang paling kuat adalah mencintai karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dan membenci karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

أَوْثَقُ عُرَى اْلإِيْمَانِ: الْمُوَالاَةُ فِي اللهِ، وَالْمُعَادَاةُ فِي اللهِ، وَالْحُبُّ فِي اللهِ، وَالْبُغْضُ فِي اللهِ.

“Ikatan iman yang paling kuat adalah loyalitas yang kuat karena Allah dan permusuhan karena Allah, mencintai karena Allah dan membenci karena Allah.” HR. Ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabir (no. 11537)

Sehingga landasan cinta dan benci seorang mukmin adalah karena imannya. Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai para hamba-Nya yang berusaha mencintai orang-orang yang shalih. Sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat muslim dari shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

أنَّ رجلًا زارَ أخًا لَهُ في قريةٍ أخرى ، فأرصدَ اللَّهُ لَهُ على مَدرجَتِهِ ملَكًا فلمَّا أتى عليهِ ، قالَ : أينَ تريدُ ؟ قالَ : أريدُ أخًا لي في هذِهِ القريةِ ، قالَ : هل لَكَ عليهِ من نعمةٍ تربُّها ؟ قالَ : لا ، غيرَ أنِّي أحببتُهُ في اللَّهِ عزَّ وجلَّ ، قالَ : فإنِّي رسولُ اللَّهِ إليكَ ، بأنَّ اللَّهَ قد أحبَّكَ كما أحببتَهُ فيهِ

“Pernah ada seseorang pergi mengunjungi saudaranya di daerah yang lain. Lalu Allah pun mengutus Malaikat kepadanya di tengah perjalanannya. Ketika mendatanginya, Malaikat tersebut bertanya: “engkau mau kemana?”. Ia menjawab: “aku ingin mengunjungi saudaraku di daerah ini”. Malaikat bertanya: “apakah ada suatu keuntungan yang ingin engkau dapatkan darinya?”. Orang tadi mengatakan: “tidak ada, kecuali karena aku mencintainya karena Allah ‘Azza wa Jalla”. Maka malaikat mengatakan: “sesungguhnya aku diutus oleh Allah kepadamu untuk mengabarkan bahwa Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu karena-Nya“ (HR Muslim no.2567)

Inilah keunggulan orang yang lebih mengedepankan rasa cinta dan penilaian kepada orang lain untuk mencintai disebabkan karena dorongan iman yang dia miliki. Dan bahkan nanti Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membangga-banggakannya di hari kiamat. Ketika di padang mahsyar nanti Allah Subhanahu wa Ta’ala mengumpulkan manusia dan dan memanggilnya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَيْنَ الْمُتَحَابُّونَ بِجَلاَلِى الْيَوْمَ أُظِلُّهُمْ فِى ظِلِّى يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلِّى

Allah berfirman pada hari kiamat, “Di manakah orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari ini akan Aku naungi dia, di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Ku.” (HR. Ahmad 7432 & Muslim 6713)

Sehingga ini semuanya menunjukkan bahwa kita sangat ditekankan untuk mencintai orang-orang mukmin yang shalih. Karena iman yang kita miliki itu akan menyebabkan timbulnya cinta. Kecintaan karena kesamaan aqidah, agama, kesamaan ideologi, dan karena kita sama-sama menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala semata.

Demikian sebagai khutbah yang pertama. Semoga bermanfaat.

Khutbah Kedua

Kaum muslimin yang berbahagia,

Ada dua hal yang perlu kita bedakan, yaitu ada kenyataan dan ada bagaimana cara menyikapi kenyataan. Dalam sebuah pernyataan yang menurut sebagian ulama ini adalah perkataan Imam Syafi’i rahimahullahu ta’ala, beliau mengatakan,

إنَّك لا تقدر أن ترضي الناس كلهم ، فأصلح ما بينك وبين الله ، ثم لا تبال بالناس

“Anda tidak akan mampu mendapatkan ridha semua manusia, maka perbaikilah hubungan antara engkau dengan Allah, dan tidak usah peduli dengan ucapan orang-orang”

Lihat juga: Cara Memperindah Hubungan Dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala

Namun, kita tidak boleh meninggalkan tujuan untuk menggapai ridho Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seluruh manusia meridhai dan mencintai merupakan cita-cita yang mustahil bisa tercapai. Tapi dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah cita-cita yang tidak boleh kita meninggalkannya.

Karena itu, tinggalkan cita-cita yang tidak mungkin bisa kau capai. Namun kejarlah cita-cita yang tidak boleh kau tinggalkan, sehingga tidak boleh memiliki tujuan agar orang-orang menyetujuinya. Atau agar seluruh masyarakat mencintainya, lalu dia mengambil posisi; “Apapun yang masyarakat menginginkannya, akan saya ikuti.”

Akhirnya dia sampai melanggar hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan itu berbahaya karena berarti dia meninggalkan cintanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam rangka untuk mengejar cinta manusia kepadanya. Sehingga dalam hidup ini ada pilihan, yaitu mencintai orang yang mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala ataukah sebaliknya, justru memusuhi orang yang mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kata Imam Syafi’i rahimahullahu ta’ala dalam Hilyatul Aulia;

ما أحد إلا وله محب ومبغض، فإن كان لا بد من ذلك، فليكن المرء مع أهل طاعة الله عز وجل

“Tidak ada satupun manusia kecuali pasti ada yang senang dan ada yang tidak senang. Kalau seperti itu yang terjadi,  maka hendaknya masing-masing mukmin bersama orang yang taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Jangan sampai kita salah dalam menaruh rasa cinta maupun kebencian. Kadang ada orang yang lebih senang dengan Syi’ah. Pertimbangannya apa? Pertimbangan karena -misalnya- kesamaan suku, budaya, dan seterusnya. Berarti dia mencintai karena latar belakang di luar syariat.

Ada yang mencintai orang lain meskipun beda suku dan budaya, “Tapi saya mencintai Anda karena Anda taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala”. Model seperti inilah yang kita harapkan. Karena cinta dan benci itu bagian dari ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutnya sebagai ikatan iman yang paling kuat.

Dan kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengendalikan hati kita untuk bisa menjadi hati yang bersih. Sehingga kita bisa mencintai orang yang mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan sebaliknya, kita membenci orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala membencinya.

Video Khutbah Jumat tentang Kendalikan Cintamu

Sumber audio: anb channel

Mari turut menyebarkan “Khutbah Jumat tentang Kendalikan Cintamu” ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum..

Komentar

WORDPRESS: 0
DISQUS: