Kultum Singkat Tentang Waktu di Bulan Ramadhan: Waktu Anda Terbatas

Kultum Singkat Tentang Waktu di Bulan Ramadhan: Waktu Anda Terbatas

ceramah tentang gowes

Berikut pembahasan Kultum Singkat Tentang Waktu di Bulan Ramadhan: Waktu Anda Terbatas yang disampaikan Ustadz Afifi Abdul Wadud Hafizahullahu Ta’ala.

Kultum Singkat Tentang Shalat Berjama’ah
Arti Sukses Menurut Islam
Ceramah Singkat : Sikap yang Tepat Terhadap Poligami

Berikut pembahasan Kultum Singkat Tentang Waktu di Bulan Ramadhan: Waktu Anda Terbatas yang disampaikan Ustadz Afifi Abdul Wadud Hafizahullahu Ta’ala.

Transkrip Kultum Singkat Tentang Waktu di Bulan Ramadhan: Waktu Anda Terbatas

Para pemirsa yang dirahmati oleh Allah, kita masih dalam tadabbur ayat, dan kita telah melalui pada penggalan-penggalan ayat:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ﴿١٨٣﴾

 Maka diantara ayat berikutnya adalah:

أَيَّامًا مَّعْدُودَاتٍ

“Hari-hari yang berbilang, yang tertentu, yang terbatas.”

Para pemirsa, kalimat ini memberikan isyarat kepada kita berkaitan dengan kewajiban puasa secara khusus, ketahuilah bahwa puasa tidak Allah wajibkan seluruh hari dalam sepanjang tahun, maka jangan merasa berat. Sesungguhnya puasanya dalam hitungan beberapa hari, sehingga wahai Anda orang yang merasa terbebani, jangan terlampau Anda merasa berat, sesungguhnya puasa hanya dalam beberapa hari.

Atau pula bagi orang yang mereka memiliki semangat melakukan kebaikan, wahai orang yang mereka memiliki semangat mencari pahala, mencari kebaikan, ingat bahwa Ramadhan yang di dalamnya penuh dengan keutamaan dan Allah diantara wajibkan puasa di dalamnya, sungguh Ramadhan adalah hari-hari yang tertentu, terbatas waktunya, jangan Anda sia-siakan kesempatannya, jangan sia-siakan kesempatan datangnya Ramadhan, sesungguhnya waktunya terbatas. Bila Ramadhan telah lewat, maka Anda tidak mendapatkan keutamaan besar lagi yang Allah letakkan di bulan Ramadhan.

Para pemirsa yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Maka di sini ada poin-poin yang perlu kita kembali ingat berkaitan agama kita. Sesungguhnya agama kita ada agama yang mudah, agama yang Allah menghendaki kemudahan dan bukan kesulitan. Dan bukankah itu yang Allah inginkan kepada hambaNya?

يُرِيدُ اللَّـهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki kemudahan bagi Anda dan Allah tidak menghendaki kesulitan bagi kalian.” (QS. Al-Baqarah[2]: 185)

إِنَّ الدِّينَ يُسْر

“Agama ini mudah.” (HR. Bukhari)

Dan begitulah sesungguhnya kenyataan yang ada. Seluruh rangkaian syariat yang Allah ajarkan semuanya mudah. Tauhid sangat mudah, semua ibadah; shalat, puasa, zakat, haji, sangat mudah.

Shalat, diantara 24 jam Allah hanya mewajibkan kita 5 kali shalat dan  satu kali shalat boleh jadi hanya memakan waktu 10 menit, seandainya kali 5 menjadi 50 menit. Katakanlah Anda berikah waktu 1 jam atau lebih sedikit, Anda masih memiliki sisa waktu 23 atau 22 sekian jam. Shalat tidak berat.

Demikian pula puasa, diantara 360 hari, Allah hanya ambil 30 hari agar kita berpuasa. Sesuatu yang tidak berat.

Zakat, harta Anda yang banyak hanya Allah inginkan 2,5%, itu pun tidak semua harta Anda dizakati. Karena zakat barang-barangnya tertentu.

Haji, pergi ke Baitullah untuk melakukan serangkaian manasik yang Allah telah ajarkan hanya seumur hidup sekali, bukan setiap tahun.

Sungguh agama ini mudah. Agama Allah Subhanahu wa Ta’ala ajarkan dengan segala kemudahan. Dan maslahat atau kebaikannya itu semua kembali kepada hambaNya itu sendiri.

Pemirsa yang dirahmati Allah Subhanahu Ta’ala,

Maka sesungguhnya tidak akan terasa berat melaksanakan agama ini kecuali orang-orang yang mereka bodoh tentang agama. Atau dia membeban-bebankan sesuatu yang tidak Allah bebankan alias orang yang mereka mengada-adakan perkara bid’ah, perkara baru, sehingga dia memberat-beratkan diri dengan berbagai macam acara, amalan yang tidak diajarkan oleh Allah Subhanahu Ta’ala. Sehingga agama ini terasa berat. Atau hatinya rusak, penuh dengan kemaksiatan. Karena banyaknya maksiat yang dia lakukan, sehingga hatinya berat melakukan sesuatu yang walaupun ringan. Karena maksiat itu akan membuat hati berkarat, akan membuat hati bernoda hitam, akan membuat hati menjadi berat untuk melaksanakan perintah-perintah Allah, seringan apapun (perintah itu).

Pemirsa yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Maka ketahuilah bahwa agama ini ringan.

إِنَّ الدِّينَ يُسْر

“Agama ini ringan.” (HR. Bukhari)

Kemudian juga, dibalik kalimat:

أَيَّامًا مَّعْدُودَاتٍ

“Hari-hari yang berbilang, yang tertentu, yang terbatas.”

Maka di sana kita diingatkan bahwa ingatlah hari-hari Anda yang terus berjalan, kehidupan Anda pun terbatas, Anda bukan orang yang akan langgeng di dunia, Anda adalah orang akan Allah batasi umurnya dalam hitungan hari. Karena sesungghnya hakikat bulan kita adalah kumpulan hari-hari, tahun adalah kumpulan bulan, hingga seseorang bisa menjadi  20, 30, 40, 50, 60, 70 (tahun), yang sesungguhnya itu kumpulan hari-hari yang berjalan.

Kalau Anda tidak waspada tentang umur Anda, maka sungguh Anda akan dilupakan dengan berjalannya waktu, tanpa Anda sadari umur Anda habis, lalu Anda akan siap-siap masuk kubur dan Anda belum memiliki persiapan amal tersendiri. Sungguh ini adalah orang yang dilalaikan oleh kehidupan mereka.

Para pemirsa,

Anda hidup di waktu yang terbatas. Gunakan waktu yang sebaik-baiknya sebagaimana gunakanlah Ramadhan waktu yang terbatas dengan sebaik-baiknya. Jangan Anda menyesal, habisnya Ramadhan lalu Anda belum berbuat apa-apa. Maka seandainya Allah Subhanahu wa Ta’ala menyediakan ampunan yang sangat banyak di bulan Ramadhan, lalu Anda ternyata dengan waktu yang Allah sediakan keluar Ramadhan tidak mendapat ampunan, sungguh amat binasa, sungguh sangat celaka.

Bukankah Rasul kita yang telah mengaminkan do’a Jibril?

رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ

“Celaka orang yang mereka mendapatkan Ramadhan, dan dia keluar dari Ramadhan dalam keadaan tidak mendapatkan apapun dari ampunan Allah Subhanahu Ta’ala.” (HR. Tirmidzi)

Lalu diaminkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ini sesuatu yang sangat penting untuk kita pahami.

Para pemirsa yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Maka lihatlah bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan motivasi kepada kita agar bersegera, berlomba, bercepat-cepat, jangan lambat.

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi” (QS. Ali-Imran [3]: 133)

بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ

“Segeralah melakukan berbagai amal” (HR. Tirmidzi)

وَفِي ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ

dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Al-Mutaffifin[83]: 26)

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ

Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik” (QS. Al-Anbiya[21]: 90)

Ini semuanya adalah bagaimana Allah menyebutkan tentang perintah Allah untuk kita bersegera dalam meraih ampunan Allah dan pahala. Nabi mengatakan agar bersegera dalam beramal, jangan ditunda-tunda hingga nanti Anda tidak bisa lagi bisa melakukannya.

Dan sifat orang-orang yang mereka betul-betul mengharapkan kehidupan yang terbaik di sisi Allah, mereka berlomba. Berlomba untuk mendapatkan segala perkara yang mulia di hadapan Allah Subhanahu Ta’ala.

Para pemirsa yang dirahmati oleh Allah,

Maka ingatlah sekali lagi apa yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ingatkan. Kalau Anda tidak bersegera memanfaatkan waktu Anda, apa yang ada tunggu?

Nabi kita katakan:

بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ سَبْعًا هَلْ تَنْتَظِرُونَ إِلَّا فَقْرًا مُنْسِيًا أَوْ غِنًى مُطْغِيًا أَوْ مَرَضًا مُفْسِدًا أَوْ هَرَمًا مُفَنِّدًا أَوْ مَوْتًا مُجْهِزًا أَوْ الدَّجَّالَ فَشَرُّ غَائِبٍ يُنْتَظَرُ أَوْ السَّاعَةَ فَالسَّاعَةُ أَدْهَى وَأَمَرُّ

“Segeralah beramal (sebelum kedatangan tujuh hal, tidaklah kalian menunggu selain kefakiran yang membuat lupa, kekayaan yang melampaui batas, penyakit yang merusak, masa tua yang menguruskan, kematian yang menyergap tiba-tiba, Dajjal, seburuk-buruk hal gaib yang dinanti-nanti, kiamat dan kiamat itu sangat membawa petaka dan sangat pahit.” (HR. Tirmidzi)

Kalau Anda tidak segera beramal, wahai hamba. Apa yang Anda tunggu? Yang Anda tunggu itu hanya Anda terjatuh dalam kefakiran? Lalu Anda dibuat lupa karena sibuk mencari maisyah, lalu Anda tinggal berangan-angan, “Seandainya dulu waktu kaya saya beramal” Tapi tinggal angan-angan. Kebiasaan orang ketika jatuh fakir, dia disibukkan hanya untuk memenuhi kebutuhan, kecuali yang dirahmati Allah.

Apa yang Anda tunggu wahai orang yang miskin? Yang masih punya banyak waktu dan kesempatan. Apa yang Anda tunggu untuk tidak segera beramal? Apakah Anda tunggu saat kaya? Yang kekayaan sering sekali mendorong orang untuk terjatuh dalam perbuatan yang melampaui batas. Yang dengan hartanya ternyata menghantarkan ke Jahannam? Dia dengna hartanya diajak berangan-angan melakukan segala macam hal yang mungkar.

Atau yang Anda tunggu adalah sakit yang membuat Anda tidak lagi bisa bergerak? Anda akan rusak keadaannya, Anda akan dibuat tidak lagi sempat untuk melakukan amal-amal besar sebagaimana Anda ketika sehat.

Atau yang Anda tunggu adalah pikun sehingga lupa segala macam? Atau bahkan yang Anda tunggu adalah kematian yang memutuskan segala aktifitas Anda? Atau yang Anda tunggu adalah Dajjal? Perkara ghaib yang ditunggu-tunggu manusia. Ataukah yang Anda tunggu adalah kiamat yang merupakan perkara yang sangat dahsyat?

Segeralah beramal!

أَيَّامًا مَّعْدُودَاتٍ

Sungguh hari-hari Anda terbatas..”

Para ulama dan para Salaf (orang-orang shalih terdaulu), mereka berpacu dan berlomba. Bagaimana waktu mereka tidak ada yang sia-sia. Alangkah mereka sangat menyesal seandainya waktunya begitu saja.

Ibnu Mas’ud, diantaranya mengatakan:

ما ندمت على شيء ندمى على يوم غربت شمسه نقص فيه أجلى ولم يزد فيه عملي

“Tidak ada penyesalan yang aku rasakan yang lebih mendalam dibandingkan penyesalanku terhadap hilangnya hari dimana matahari tenggelam, ajalku berkurang, amalku tidak bertambah.”

Hal ini mereka anggap kerugian sangat besar. Bagaimana mereka yang menyia-nyiakan waktu, bahkan mereka menghiasi dengan hal-hal yang haram, sungguh binasa dan celaka orang mereka tidak memperhatikan waktu.

Semoga bermanfaat, semoga kita di antara kaum Mukminin yang bisa merasakan lezatnya ibadah, yang bisa menjadikan rasa ringannya semua tuntutan syariat.

Dan semoga Ramadhan menghantarkan kita menjadi hamba yang bertakwa kepada Allah dan tidak berlambat-lambat dalam menyambut seruan Allah. Hidup sementara, waktu kita terbatas, semoga Allah memberkati kita semuanya.

Video Kultum Singkat Tentang Waktu di Bulan Ramadhan: Waktu Anda Terbatas

Diambil dari Yufid TV dengan judul asli Kajian Ramadhan: Waktu Anda Terbatas – Ustadz Afifi Abdul Wadud, BA.

COMMENTS

Saudaraku, silahkan login atau daftar terlebih dahulu ya. Barakallahu fiik.
%d blogger menyukai ini: