Materi 74 – Tawadhu’nya Nabi Kepada Istri dan Keluarga

Materi 74 – Tawadhu’nya Nabi Kepada Istri dan Keluarga

iklan erto's

Tulisan tentang “Materi 74 – Tawadhu’nya Nabi Kepada Istri dan Keluarga” ini adalah catatan yang kami tulis dari Audio kajian khusus peserta WAG UFA OFFICIAL yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. Hafizhahullah.

Sebelumnya: Materi 73 – Tawadhu’nya Nabi Saat Kondisi Perang Khandaq

Materi 74 – Tawadhu’nya Nabi Kepada Istri dan Keluarga

Di antara tawadhu’nya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang menunjukkan bersihnya hati beliau, jauh dari kesombongan, jauh dari ‘ujub, yaitu tawadhu’nya beliau terhadap istri beliau. Seperti hadits yang diriwayatkan bahwa ada seseorang bertanya kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:

هَلْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْمَلُ فِي بَيْتِهِ

“Apakah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ada pekerjaan di rumahnya?”

Yaitu apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya duduk -seperti raja- di rumah, kemudian semuanya dikerjakan oleh istrinya? Maka ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

نَعَمْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَخْصِفُ نَعْلَهُ

“Iya, Rasulullah ada kegiatan di rumah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjahit sandalnya (yaitu menumpuk lapisan satu dengan lapisan berikutnya kemudian menjahitnya).”

Makna خصف adalah jama’ واضم (menggabungkan). Para ulama mengartikan bahwa lapisan sandal ditumpuk kemudian dijahit oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Itu adalah pekerjaan, membuat sandal.

Kemudian kata ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha :

وَيَخِيطُ ثَوْبَهُ

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga menjahit bajunya.”

وَيَعْمَلُ فِي بَيْتِهِ كَمَا يَعْمَلُ أَحَدُكُمْ فِي بَيْتِهِ

“Bekerja sebagaimana kegiatan seorang lelaki di rumah.”

Kemudian juga dalam riwayat yang lain, ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha ketika ditanya tentang apa yang dikerjakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumahnya, maka ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha berkata:

كَانَ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkhidmat (membantu pekerjaan yang bermanfaat bagi keluarganya) kepada keluarganya.”

Ini menunjukkan bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam jauh dari kesombongan. Sebagaimana dalam riwayat yang lain menafsirkan:

وَيَحْلُبُ شَاتَهُ

“Memerah susu kambing untuk diberikan kepada istrinya.”

Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak serta merta menjadi seperti seorang raja di rumah. Bahkan beliau juga membantu kegiatan istrinya. Tidak lain karena tawadhu’nya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Dan dari hadits ini maka para ulama mengambil kesimpulan bahwasanya demikianlah kebiasaan orang-orang shalih. Mereka mengurusi diri mereka sendiri. Kata Ibnu Baththal Rahimahullahu Ta’ala dalam Syarah Shahih Bukhari:

وفيه أن الأئمة والعلماء يتناولون خدمة أمورهم بأنفسهم وأن ذلك من فعل الصالحين

“Hadits ini menunjukkan bahwasanya para imam/ ulama langsung mengurusi diri mereka sendiri dan itu merupakan perbuatan orang-orang shalih.”

Tidak semuanya kemudian perintah sana perintah sini. Kalau Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mau ambil budak banyak, maka di rumahnya beliau mampu. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengambil budak, tinggal suruh sana suruh sini. Beliau bisa melakukannya. Tapi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tawadhu’ di hadapan istrinya. Beliau kerja bareng sama istrinya dan mengurus rumah bersama istrinya.

Ini perkara yang menakjubkan dari seseorang sekelas Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Begitu tawadhu’nya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Kita juga tahu bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga tawadhu’ di hadapan istrinya bukan hanya di dalam rumah, tapi di luar rumah juga tawadhu’. Sebagaimana sering saya sampaikan ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menikah dengan Shafiyah Radhiyallahu ‘Anha.

Ketika Shafiyah ingin naik di atas unta, beliau bukanlah orang yang tinggi, maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menegakkan lututnya agar Shafiyah menginjak pahanya dan bisa memanjat ke atas unta. Ini tawadhu’ luar biasa.  Bagaimana pahanya diinjak oleh istrinya untuk bisa naik di atas unta.

Kita berusaha demikian. Kita jangan hanya sok tawadhu’ di hadapan orang lain, tapi di depan istri seperti macan yang meraung-raung. Perintah sana perintah sini. Kita tawadhu’ kepada siapa saja, bahkan kalau boleh saya katakan orang rumah adalah yang paling utama untuk kita tawadhu’i. Kita tawadhu’ kepada anak-anak, tawadhu’ kepada istri, berkhidmat untuk diri sendiri, berusaha berkhidmat kepada keluarga.

Hal ini karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ (membantu mengurusi urusan rumahnya yang bagaimana mendatangkan kemaslahatan rumahnya).

Maka itulah sikap orang-orang shalih. Jika Anda tawadhu’ kepada orang di luar rumah, maka istri lebih utama untuk ditawadhu’i.

▬▬•◇✿◇•▬▬

Mari turut menyebarkan catatan kajian tentang “Materi 74 – Tawadhu’nya Nabi Kepada Istri dan Keluarga” ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Baarakallahu fiikum..

Komentar

WORDPRESS: 0
DISQUS: