Materi 76 –  Tawadhu’nya Nabi Kepada Wanita Lemah

Materi 76 – Tawadhu’nya Nabi Kepada Wanita Lemah

dukung ngaji id

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang kita katakan sebagai orang yang super cerdas, mau berbincang dengan wanita yang otaknya terganggu. Sungguh tawadhu' yang luar biasa.

Belajar Adab dan Akhlak Islami dari Ulama Salaf
15 Adab di Majelis Ilmu
Melapangkan dan Meluaskan Majelis

Tulisan tentang “Materi 76 – Tawadhu’nya Nabi Kepada Wanita Lemah” ini adalah catatan yang kami tulis dari Audio kajian khusus peserta WAG UFA OFFICIAL yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. Hafizhahullah.

Sebelumnya: Materi 75 – Tawadhu’nya Nabi Kepada Anak Kecil

Materi 76 – Tawadhu’nya Nabi Kepada Wanita Lemah

Di antara tawadhu’nya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu beliau mau mengurusi atau membantu orang-orang yang susah. Padahal beliau adalah orang yang super sibuk. Saya boleh katakan bahwa beliau super sibuk, sebagai kepala negara, kepala rumah tangga, mufti (tempat orang bertanya), seorang sahabat, beliau harus mengurusi banyak peperangan. Orang-orang yang ingin menjatuhkan Islam, beliau berpikir bagaimana menyebarkan dakwah ke seantero dunia, artinya punya banyak kesibukan.

Di tengah-tengah kesibukan beliau jika ada yang meminta bantuan, beliau bisa lakukan. Contohnya dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu. Beliau berkata,

أنَّ امْرَأَةً كانَ في عَقْلِهَا شيءٌ

“Ada seorang wanita yang akalnya terganggu.” Bukan orang normal. Akalnya terganggu.

“Wanita tersebut datang kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” Dan beliau agak sedikit terganggu. Mungkin tidak sampai kepada derajat gila tapi akalnya terganggu. Artinya tidak normal.

يا رَسولَ اللهِ، إنَّ لي إلَيْكَ حَاجَةً

“Kemudian wanita ini berkata, ‘Aku punya keperluan kepada engkau’.”

Subhanallah. Seorang akalnya terganggu mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengatakan ada keperluan sama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan riang tanpa ada keberatan dan rasa kesal. Sama sekali tidak.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

يا أُمَّ فُلَانٍ انْظُرِي أَيَّ السِّكَكِ شِئْتِ

“Wahai Ummu Fulan, terserah engkau mau aku antar ke lorong yang mana yang engkau hendaki. Terserah kemana saja di Kota Madinah. Jalan sana atau jalan sini kah terserah, sampai aku memenuhi kebutuhanmu. Apa urusanmu? Aku akan bantu.”

Kemudian pada sebagian jalan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdua dengan wanita ini -yang tentu dilihat orang banyak-, dia berbincang bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melayaninya hingga dia selesai dari kebutuhannya. Entah apa yang diperbincangkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mau berbincang dengan seseorang yang akalnya terganggu. Allahul musta’an.

Bagaimana jauhnya kita dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bagaimana akhlak beliau, sementara sebagian dari kita itu sok sibuk dan menyangka bahwa membantu orang seperti itu tidak mendapat pahala. Lihatlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tentu ada pahalanya jika perhatian dengan orang-orang susah.

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang kita katakan sebagai orang yang super cerdas, mau berbincang dengan wanita yang otaknya terganggu. Sungguh tawadhu’ yang luar biasa dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Contoh yang berikutnya yang juga diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata;

إِنْ كَانَتْ الْأَمَةُ مِنْ إِمَاءِ أَهْلِ الْمَدِينَةِ لَتَأْخُذُ بِيَدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَنْطَلِقُ بِهِ حَيْثُ شَاءَتْ

Kata Anas bin Malik, bahkan ada seorang budak wanita dari budak-budak milik penduduk kita madinah. Dia mengambil lengan baju Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian dia membawa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membiarkannya.

فَتَنْطَلِقُ بِهِ حَيْثُ شَاءَتْ

Maka dia membawa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ke mana dia hendak pergi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membiarkannya saja. Ini adalah budak, bukan pembantu. Kalau pembantu mungkin levelnya masih tinggi. Sedangkan ini budak. Lebih rendah di zaman tersebut. Sebagaimana kita tahu bahwa budak pada zaman itu dapat diperjual belikan.

Kemudian ketika budak wanita ini memegang lengan bajunya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau tidak lantas menghentakkan tangannya, tidak mengibaskan tangannya, tidak menghardik dengan mengatakan ‘Untuk apa menyentuhku?’ Tidak demikian. Beliau membiarkannya karena beliau berpikir dia memiliki keperluan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan karena kebetulan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada waktu untuk menemuinya maka beliau menemani budak wanita tersebut.

Subhanallah, betapa jauh kita (dengan akhlak beliau). Mungkin sebagian dari antum Maa syaa Allah. Tapi sebagian kita jauh dari akhlak Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Semoga Allah beri hidayah kepada kita semua untuk bisa tawadhu’ di hadapan siapa saja.

Wallahu a’lam.

▬▬•◇✿◇•▬▬

Mari turut menyebarkan catatan kajian tentang “Materi 76 – Tawadhu’nya Nabi Kepada Wanita Lemah” ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Baarakallahu fiikum..

Komentar

WORDPRESS: 0