Khutbah Jumat: Siapkan Jawaban yang Benar

Khutbah Jumat: Siapkan Jawaban yang Benar

Khutbah Jumat: Terlena Dengan Dunia dan Jabatan
Materi 58 – Sikap Orang Tawadhu’ Terhadap Dunia
Tingkatan Manusia di Dunia dan Akhirat

Berikut transkrip khutbah jumat tentang “Siapkan Jawaban yang Benar” yang disampaikan Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri Hafidzahullahu Ta’ala

KHUTBAH PERTAMA: Kesyukuran atas Taufik dan Nikmat yang Melimpah

Tidak ada kata yang pantas untuk diucapkan pada kesempatan siang hari ini kecuali bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla atas segala nikmat yang telah dianugerahkan. Nikmat-nikmat tersebut senantiasa mengalir dan berjalan beriringan bersama setiap detak jantung serta detik-detik roda kehidupan manusia. Keterbatasan makhluk dalam menghitung karunia Ilahi ini ditegaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an:

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا

“Andai kalian ingin menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. Ibrahim[14]: 34)

Di antara sekian banyak karunia tersebut, nikmat terbesar adalah nikmat iman dan hidayah. Melalui hidayah-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kemudahan kepada hamba-hamba pilihan-Nya untuk beribadah kepada Rabbul ‘Alamin, salah satunya adalah dengan menunaikan ibadah salat Jumat.

Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa tidak setiap orang yang memiliki tubuh sehat mampu melangkah ke masjid. Tidak setiap orang yang memiliki fisik kuat tanpa halangan tergerak hatinya untuk melakukan ibadah ini. Kehadiran jemaah di dalam masjid ini murni terjadi karena taufik dan pertolongan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana kalimat tayibah yang sering diucapkan:

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

“Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan dari Allah.” (HR. Bukhari)[1]

Oleh karena itu, marilah kita senantiasa bersyukur dan memuji Allah ‘Azza wa Jalla. Selawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam beserta keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang istikamah berjalan di bawah naungan sunah beliau hingga hari kiamat kelak.

Marilah kita bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya takwa. Jangan sampai manusia melewati momentum kematiannya kecuali dalam kondisi beriman, bertauhid, serta mengikhlaskan seluruh amal ibadahnya hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Salah satu manifestasi takwa yang diperintahkan oleh syariat adalah senantiasa berbicara secara jujur dan benar. Sikap ini menjadi kunci bagi perbaikan seluruh urusan hidup seorang hamba, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amalan-amalan kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (QS. Al-Ahzab[33]: 70-71)

Melalui ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala berjanji akan memperbaiki dan memberikan kemaslahatan (islah) pada setiap urusan hamba-Nya, mulai dari urusan bisnis, perdagangan, transaksi jual beli, hingga urusan domestik rumah tangga, seperti pola interaksi orang tua bersama anak-anak maupun bakti anak terhadap orang tua. Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya meminta hambanya untuk bertakwa dan menjaga lisan agar selalu berbicara dengan baik, jujur, serta benar.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan peringatan yang sangat tegas mengenai fase pertanggungjawaban yang akan dihadapi oleh setiap manusia di akhirat kelak. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Barzah Al-Aslami Radhiyallahu ‘Anhu, beliau menyampaikan:

 لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ

“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskan, tentang ilmunya bagaimana diamalkan, tentang hartanya dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakan.” (HR. Tirmidzi)[2]

Pernyataan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini merupakan sebuah fakta fundamental pada hari kiamat yang harus selalu tertanam di dalam sanubari setiap muslim. Kesadaran ini akan mengantarkan manusia pada pemahaman bahwa tidak ada satu detik pun waktu yang berjalan secara gratis di dunia ini tanpa adanya kalkulasi dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Melalui hadits ini pula, kita dapat memahami bahwa esensi ilmu bukan sekadar masalah keluasan pemahaman dan kekuatan hafalan, melainkan pada aspek pengimplementasiannya dalam kehidupan sehari-hari. Begitu pula dengan harta, inti utamanya bukan terletak pada seberapa banyak jumlah yang berhasil dikumpulkan, melainkan pada proses legalitas cara mendapatkannya serta ketepatan alokasi penggunaannya.

Manusia pada hakikatnya tidak memiliki kebebasan mutlak untuk memperlakukan tubuhnya secara suka-suka atau mengonsumsi apa saja yang diinginkannya, karena fisik dan jasad ini adalah amanah yang seluruh aktivitasnya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Manusia tidak memiliki kebebasan mutlak untuk meminum apa saja yang diinginkan, karena seluruh pola hidup di dunia akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di sinilah letak akar permasalahan bagi orang-orang yang lalai. Manusia sering kali keliru dengan berpikir bahwa mereka akan ditinggalkan begitu saja tanpa adanya pengawasan dan audit komprehensif dari Allah ‘Azza wa Jalla pada hari kiamat. Sifat abai ini dibantah oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an melalui firman-Nya:

أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى

“Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (QS. Al-Qiyamah[75]: 36)

Sangat tidak realistis jika manusia berpikir bisa menjalani kehidupan dengan suka-suka, hanya mengerjakan apa yang diinginkan dan meninggalkan apa yang tidak disukai berdasarkan dorongan hawa nafsu atau cara pandang pribadinya. Pola hidup yang enggan belajar, enggan membuka Al-Qur’an, serta enggan mengkaji dan mengikuti sunah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak akan pernah disamakan kedudukannya dengan orang-orang yang senantiasa berusaha taat, berkomitmen, dan setia mengikuti petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya.

Kedua kelompok manusia ini memiliki perbandingan yang sangat kontras, ibarat perbedaan antara timur dan barat atau utara dan selatan yang tidak mungkin dapat disatukan. Seluruh lini kehidupan manusia akan ditanya secara detail oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, setiap individu wajib mempersiapkan jawaban yang tepat untuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Seseorang dipersilakan jika ingin menghabiskan waktunya sekadar untuk bersenang-senang menuruti keinginan hati, namun ia harus memastikan telah memiliki jawaban yang sahih saat hari kiamat tiba. Manusia juga dipersilakan jika memilih untuk menabrak segala aturan demi mendapatkan harta kekayaan, tetapi ia wajib menyiapkan argumen yang akan disampaikan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala kelak. Demikian pula ketika seseorang memilih untuk menolak hadir dalam kajian atau mengabaikan kesempatan belajar agama, ia harus siap memikul konsekuensi ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala mempertanyakan alasan di balik keengganannya untuk belajar, ketidakmampuannya membaca Al-Qur’an, serta ketidakpahamannya terhadap sunah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Kewaspadaan ini juga berlaku dalam urusan finansial. Seseorang mungkin bisa memejamkan mata dan mengabaikan nuraninya saat ada kesempatan mendapatkan uang dalam jumlah besar melalui cara-cara yang batil. Namun, bersamaan dengan tindakan tersebut, ia harus mempersiapkan jawaban saat Allah Subhanahu wa Ta’ala mempertanyakan alasan mengambil harta tersebut, padahal status hukumnya adalah haram. Ia harus mempertanggungjawabkan mengapa ia menghalalkan segala cara, menyikut orang lain, atau mengkhianati teman sejawat demi memuaskan keserakahannya.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bersifat pasti dan mutlak, karena posisi kedua kaki seorang hamba tidak akan pernah bergeser sebelum menuntaskan pertanggungjawaban atas empat perkara utama. Hal ini sejalan dengan hadits dari Abu Barzah Al-Aslami Radhiyallahu ‘Anhu yang menegaskan bahwa setiap individu akan diaudit secara langsung mengenai umur, ilmu, harta, dan jasadnya di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla.

Manusia mungkin bisa dengan mudah berdalih di hadapan sesamanya bahwa tubuh ini adalah milik pribadi yang bebas digunakan secara suka-suka. Membuat manusia lain bungkam dan menerima alasan tersebut adalah perkara yang sangat mudah dan tidak perlu terlalu dipikirkan. Namun, perkara yang jauh lebih berat adalah bagaimana menjawab pertanyaan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengenai apa yang telah dimakan, apa yang telah diminum, serta mengapa seseorang menerapkan pola hidup yang justru merusak kesehatan tubuhnya sendiri.

Bagi individu yang dianugerahi fisik yang kuat, sehat, dan sempurna, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mempertanyakan mengapa potensi tersebut tidak dioptimalkan untuk beribadah dan mendekatkan diri (takarub) kepada-Nya. Fenomena ironis sering kali dijumpai di tengah masyarakat, di mana seseorang sangat konsisten menjaga kebugaran fisiknya, memiliki daya tahan (endurance) yang luar biasa, serta mampu berlari menempuh jarak puluhan kilometer hingga mencapai garis finis, namun ia tidak mampu melangkahkan kakinya menuju masjid yang jaraknya hanya 100 atau 200 meter untuk menunaikan salat berjamaah.

Kelalaian fisik semacam itu pasti akan dimintai pertanggungjawaban yang sangat berat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Setiap muslim wajib mempersiapkan jawaban terbaik karena masing-masing individu akan berdiri langsung berhadapan dengan Penguasa Hari Pembalasan, sebagaimana penegasan di dalam Al-Qur’an:

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

“Pemilik Hari Pembalasan.” (QS. Al-Fatihah[1]: 4)

Sangat disayangkan jika selama puluhan tahun hidup di dunia, pikiran manusia hanya dihabiskan untuk menyusun skenario jawaban demi memuaskan pertanyaan teman, kolega, atau keluarga mengenai asal-usul hartanya. Menjawab pertanyaan makhluk adalah perkara yang jauh lebih mudah. Manusia harus menyadari dengan penuh keyakinan bahwa pihak yang akan melontarkan pertanyaan dan melakukan audit pada hari kiamat bukanlah teman-teman di dunia, melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rabbul ‘Alamin.
Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Zat Yang Maha Mengetahui segala bentuk pengkhianatan mata serta segala perkara yang disembunyikan di dalam hati manusia. Tidak ada satu pun rahasia yang dapat luput dari jangkauan pengetahuan-Nya.

KHUTBAH KEDUA: Pengawasan Mutlak Allah dan Kewajiban Bertakwa

Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya takwa. Setiap muslim harus mempertimbangkan dan memikirkan secara matang salah satu ibadah agung agar selamat dari audit serta pertanyaan Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari kiamat kelak. Pertanyaan tersebut meliputi pertanggungjawaban atas umur, ilmu, harta, serta penggunaan anggota tubuh selama hidup di dunia.

Ibadah agung yang wajib diprioritaskan bagi setiap muslim yang telah memiliki kesanggupan adalah ibadah haji. Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan kewajiban ini di dalam Al-Qur’an melalui firman-Nya:

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا

“Dan di antara kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 97)

Aspek kemampuan (istitha’ah) dalam ibadah haji ini mencakup beberapa faktor krusial, yaitu kesiapan finansial, kekuatan fisik, jaminan keamanan selama perjalanan, ketersediaan waktu atau momentum, serta kemudahan akses terhadap ilmu manasik haji yang saat ini sudah tersebar di mana-mana.

Setiap muslim harus memastikan diri telah menunaikan ibadah haji atau setidaknya berada dalam ikhtiar yang sungguh-sungguh untuk berangkat ke Tanah Suci sebelum ajal menjemput, terutama bagi mereka yang telah dianugerahi kelapangan harta dan kesehatan fisik yang prima. Sungguh sebuah ironi yang besar apabila sepanjang hidupnya seseorang mampu bepergian ke berbagai kota dan berkunjung ke berbagai macam negara, namun tidak pernah sekalipun menginjakkan kakinya di padang Arafah pada tanggal 9 Zulhijah. Jika diakumulasikan secara finansial, total biaya yang dikeluarkan untuk rekreasi ke berbagai negara tersebut sebenarnya sangat cukup untuk membiayai ibadah haji beberapa kali dalam hidupnya.

Setiap muslim yang beriman harus mengupayakan agar tubuhnya pernah merasakan langsung atmosfer ibadah di Mina, Arafah, Muzdalifah, serta kawasan Tanah Haram, khususnya Masjidil Haram. Umur umat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam rata-rata berada pada kisaran 60 hingga 70 tahun. Bagi individu yang dikaruniai fisik yang baik dan prima selama puluhan tahun tersebut, terdapat kewajiban untuk merenungkan penggunaan jasadnya. Jasad tersebut seharusnya digunakan untuk bertawaf mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali, melakukan wukuf di Arafah dari waktu zuhur hingga magrib, bermalam (mabit) di Muzdalifah, serta melakukan sai di antara bukit Safa dan Marwa.

Seluruh rangkaian manasik tersebut merupakan bentuk ibadah fisik yang kelak akan dipertanyakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Manusia harus mempersiapkan jawaban yang benar di hadapan Rabbul ‘Alamin mengenai alasan mengapa kekuatan fisiknya mampu mengantarkannya menjelajahi berbagai provinsi dan negara, tetapi tidak mampu digerakkan untuk sampai ke Baitullah. Hambatan nyata yang dialami harus dipersiapkan jawabannya dari sekarang karena audit tersebut pasti akan datang.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa sebagian orang belum berangkat menunaikan ibadah haji bukan karena ketidakmampuan ekonomi, melainkan karena tidak menempatkan ibadah ini ke dalam skala prioritas hidup mereka. Sepanjang hidupnya, kelompok ini mampu membeli berbagai macam barang mewah serta mengalokasikan dana yang sangat besar demi menunjang gaya hidup (lifestyle). Alokasi dana tersebut murni digunakan untuk kesenangan sekadar gaya hidup, bukan untuk pemenuhan kebutuhan pokok yang jika ditinggalkan akan menyebabkan kelaparan atau menurunkan martabatnya di tengah masyarakat.

Ibadah haji adalah sebuah kewajiban yang diperintahkan langsung oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, Zat Yang telah memberikan kehidupan, memberikan jantung yang berdetak, usus dua belas jari, paru-paru untuk bernapas, otak untuk berpikir, serta seluruh sistem pencernaan yang sempurna. Sungguh merupakan sebuah kemuliaan yang luar biasa, di mana Rabbul ‘Alamin yang sama sekali tidak membutuhkan makhluk-Nya, justru berkenan memberikan undangan agung kepada manusia untuk bertamu ke rumah-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam untuk mengumumkan ibadah haji kepada seluruh umat manusia. Perintah agung ini diabadikan di dalam Al-Qur’an:

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ

“Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh.” (QS. Al-Hajj[22]: 27)

Panggilan tersebut direspons dengan penuh keimanan. Orang-orang yang beriman akan mengerahkan segala upaya untuk berangkat ke Baitullah, meskipun harus berjalan kaki atau mengendarai unta yang kurus demi menempuh perjalanan dari seluruh penjuru dunia yang sangat jauh dari kota Makkah. Karakteristik utama orang beriman adalah tidak mencari-cari alasan dan segera berusaha berangkat semampu mereka melalui cara-cara yang halal, tanpa memedulikan keterbatasan sarana yang ada. Ketegasan mengenai kewajiban haji bagi yang mampu ini diikuti dengan peringatan keras bagi pihak-hari yang memilih untuk ingkar atau enggan memprioritaskannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

“Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 97)

Sebagian ulama menjelaskan bahwa penegasan mengenai sifat Allah yang Maha Kaya dan tidak membutuhkan alam semesta merupakan bentuk pesan yang sangat tajam bagi orang-orang yang enggan berangkat haji padahal mereka memiliki kemampuan secara finansial dan fisik. Manusia harus menyadari posisi dirinya yang sangat kecil di hadapan pencipta. Jangankan seorang hamba yang lemah, seluruh alam semesta, bumi beserta isinya, hingga tujuh lapis langit sekalipun sama sekali tidak dibutuhkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla.

Seseorang dipersilakan jika memilih untuk tidak berangkat dan lebih memprioritaskan urusan duniawi yang lain. Namun, ia harus bersiap menanggung segala risiko, menyiapkan jawaban pertanggungjawaban pada hari kiamat, serta bersiap menghadapi berbagai macam problematika dalam kehidupan. Kerumitan hidup tersebut merupakan konsekuensi logis ketika seorang hamba memilih untuk menomorduakan dan mengacuhkan undangan dari Zat Yang telah memberikan segala fasilitas kehidupan kepadanya. Pihak yang mengundang tersebut adalah Rabbul ‘Alamin, Zat Yang memegang otoritas mutlak untuk menentukan tempat kembali manusia, apakah di surga atau di neraka.

Setiap muslim diharapkan termasuk ke dalam golongan orang-orang yang beriman, dimudahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menunaikan ibadah haji, serta dianugerahi kemampuan untuk menjawab setiap pertanyaan pada hari kiamat kelak.

Sumber Video Khutbah Jumat “Siapkan Jawaban yang Benar”

Sumber : Muhammad Nuzul Dzikri

Yuk, ikut ambil bagian dalam menyebarkan dakwah ini. Bagikan tulisan dan link ini kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat kita. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.

Referensi:

[1] https://sunnah.com/bukhari:6384

[2] https://sunnah.com/riyadussalihin:407

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: