Motivasi Ustadz Nuzul Dzikri Untuk Belajar Bahasa Arab

Motivasi Ustadz Nuzul Dzikri Untuk Belajar Bahasa Arab

iklan erto's

Tugas Antum belajar maksimal, ngga usah pedulikan nilai. Intinya bukan nilai, tapi intinya semangat, intinya kehadiran Antum di sini biar dicatat oleh malaikat.

Kajian Motivasi Ustadz Nuzul Dzikri Untuk Belajar Bahasa Arab ini disampaikan oleh Ustadz Muhamad Nuzul Dzikri Hafidzahullah.

Mukaddimah Kajian Motivasi

Kita tahu bersama bahwa menuntut ilmu adalah ibadah yang sangat mulia, apalagi ketika Anda rela mengorbankan weekend (sabtu-ahad) Anda untuk belajar agama secara lebih intensif, maka di hadapan Anda firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يَرْ‌فَعِ اللَّـهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَ‌جَاتٍ

“… Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. …” (QS Al-Mujadilah: 11)

Di hadapan Anda, ada sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an Al-Karim dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

Di hadapan Anda, ada sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan untuknya, (maka) Allah akan pahamkan dia terhadap agamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لا يُرِيدُ إِلا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يَعْلَمَهُ ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حَجَّتهُ

“Barangsiapa yang berjalan ke sebuah masjid dan dia tidak menginginkan kecuali mempelajari atau mengajarkan kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala ibadah haji dengan haji yang sempurna.” (HR. Thabrani)

Di hadapan Anda, ada sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الأَرْضِ حَتَّى الْحِيتَانُ فِي الْمَاءِ

“Dan seorang ulama (dalam riwayat yang lain: Dan para penuntut ilmu), maka makhluk-makhluk Allah yang ada di langit dan ada di bumi, semua beristighfar, memohon kepada Allah agar Allah berkenan mengampuni mereka, sampai ikan-ikan yang ada di perairan.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Di hadapan Anda, ada ayat (Al-Qur’an) dan hadits yang menggambarkan betapa mulianya derajat Anda, betapa tingginya reputasi Anda di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di hadapan Anda, ada ayat dan hadits yang menjelaskan bahwa Anda adalah orang-orang pilihan, orang-orang yang Allah inginkan kebaikan.

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ.

“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan, maka Allah akan buat dia pahama tentang agamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Lihat juga: Kumpulan Hadits Tentang Menuntut Ilmu Beserta Penjelasannya

Hadirin yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, pengorbanan Antum tidak sia-sia. Karena ratusan keutamaan siap siap menyambut Antum di dunia dan di akhirat.

Banyaknya keutamaan tergantung tingkat kesulitan

Namun yang ingin saya tekankan pada kesempatan kali ini, ketika kita sepakat bahwa menuntut ilmu agama memiliki banyak sekali keutamaan, banyak sekali keuntungan (baik di dunia maupun di akhirat). Dan beberapa hadits dan ayatnya sudah kita sebutkan beberapa saat yang lalu. Maka ingatlah sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits riwayat Imam Tirmidzi:

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ

“Sesungguhnya besarnya sebuah ganjaran itu tergantung tingkat kesulitan sebuah ujian/ibadah.” (HR. Tirmidzi)

Jadi Nabi mengatakan dalam hadits riwayat Imam Tirmidzi bahwa sesungguhnya besarnya pahala, banyaknya keutamaan, itu tergantung tingkat kesulitan sebuah ujian atau ibadah. Dari sini lahirlah sebuah kaedah di dalam agama kita:

الأجـر علـى قـدر المشقة

“Balasan itu tergantung betapa sulitnya sebuah ujian atau ibadah tersebut.”

Jadi ganjaran atau pahala tergantung tingkat kesulitan. Bisa dipahami sampai di sini? Kalau kita paham ini, mari kita flashback, mundur sejenak ke belakang. Saya ingin tanya kepada Antum, menuntut ilmu agama, ibadah yang memiliki segudang keutamaan atau cuma satu dua keutamaan?

Jawabnya segudang keutamaan. Lalu kaitkan dengan kaidah yang baru saja kita pelajari, الأجـر علـى قـدر المشقة (Balasan itu tergantung tingkat kesulitan sebuah ujian atau ibadah). Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ

“Sesungguhnya besarnya pahala (banyaknya keutamaan) tergantung tingkat kesulitan sebuah ibadah/ujian.” (HR. Tirmidzi)

Oleh karena itu dari dua sisi ini, mari kita tarik sebuah kesimpulan. Menuntut ilmu agama ibadah yang susah atau mudah? Jawabnya susah, jangan bermimpi mudah karena tidak mungkin mudah.

Makanya belajar bahasa Arab itu susah. Saya kurang sependapat dengan yang mengatakan:

اللغة العربية سهل جدا

“Bahasa Arab itu gampang sekali.”

Nggak, saya nggak setuju. Pelajaran yang termasuk yang dulu saya benci adalah adab, balaghah juga saya nggak suka, karena memang susah. Alfiyah Ibnu Malik itu salah satu momok bagi orang-orang yang belajar di fakultas syariah, itu pelajaran Nahwu kelas tinggi.

Maka kalau ada ustadz yang mengatakan “bahasa Arab itu mudah,” jangan percaya.

Tapi hadirin yang dirahmati oleh Allah,

Tapi ada pengecualian, ada harapan, ada ekspektasi, agar kita tetap sukses, agar kita tetap berhasil, agar kedatangan Antum tidak sia-sia, walaupun susah.

Saya ingin tanya, hari pertama Takhassus datang, sebanyak ini atau tidak? Sekarang pada kemana? Cuti hamil semua? Hilang semua, berguguran satu demi satu. Ini fakta lagi bahwa menuntut ilmu tidak mudah. Apalagi harus mengorbankan weekend. Bayangkan orang Jabodetabek itu sabtu ahad segalanya, tapi kita harus datang dari pagi sampai sore. Berat.. Tapi lagi-lagi ada harapan, ada jalan keluar. Dan ini yang ingin saya tekankan kepada Antum-Antum semua.

Kiat Agar bisa sukses belajar di Takhassus

Menit ke-12:00 Poin-poin agar kita bisa sukses belajar di sini, agar kita bisa belajar bahasa Arab, agar kita bisa mempelajari tajwid, agar kita istiqamah mempelajari pengantar bahasa Arab dan mempelajari kunci-kunci agama kita.

1. Niat

Niat ini segalanya.

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung niatnya.”

Kalau Antum ingin sukses di Takhassus dan di majelis ilmu yang lain, tanamkan niat di dalam diri Antum. Niatkan karena Allah Jalla wa ‘Ala, kita datang ke sini mengharapkan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan cari muka Ustadz, bukan agar kita diakui karena setiap Sabtu Ahad ke Rodja terus, bukan karena ingin sekalian jualan gamis atau membawa rujak dan misi-misi tertentu yang lain.

Kita berharap mendapatkan ridha dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lalu kita niatkan kita hilangkan kebodohan dari diri kita. Lalu kita bisa dakwah semampu kita di lingkungan terkecil kita. Kita ingin ajarkan istri, anak-anak, kalau untuk ibu-ibu di belakang (untuk mengajarkan kepada) suami dan anak-anak. Lalu scope yang lebih besar lagi, lalu yang luas lagi dan terus begitu.

Dan sekali lagi, dunia ilmu itu yang bermain bukan kecerdasan, hadirin. Di dunia ilmu, yang bermain bukan sebatas ketekunan. Tapi faktor utama adalah niat. Makanya sebagian para ulama Salaf mengatakan:

إنما العلم على قدر نيتك

“Sesungguhnya ilmu yang engkau dapatkan tergantung sedalam apa keikhlasanmu.”

Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنْ تَصْدُقِ اللَّهَ يَصْدُقْكَ

“Jika kita jujur sama Allah, Allah akan wujudkan cita-cita kita.” (HR. An-Nasa’i)

Kita datang ke sini mau apa? Mau bisa baca Al-Qur’an dengan lancar, agar bisa baca kitab, agar paham kunci-kunci agama secara daftar dan basic. Nabi mengatakan: “Apabila Anda jujur dengan Allah, Allah akan wujudkan cita-cita Anda.”

Jujurlah kepada Allah, tidak ada kepentingan ke sini. Jujurlah kepada Allah, saya ingin belajar tajwid. Jujurlah kepada Allah, saya ingin bisa bahasa Arab. Jujur kepada Allah, saya ingin mempelajari kunci-kunci ilmu agama, saya ingin belajar ushul fiqih, saya ingin belajar musthalah hadits.

Lihat juga: Keutamaan Belajar Bahasa Arab

Jadi kita harus jujur dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini penting.

Hadirin, ilmu sedikit yang kita dapatkan dengan keikhlasan, itu akan bermanfaat, itu yang akan eksis. Imam Malik mengatakan:

ما كان لله يبقى

“Sesuatu yang dipersembahkan kepada Allah, maka itu yang akan eksis.”

Itu yang akan bertahan (baik di dunia maupun di akhirat). Maka jaga niat kita. Dan ini penjelasan para ulama. Bersihkan hati kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ibnu Qudamah mengatakan bahwa para ulama besar itu tidaklah menjadi ulama kecuali karena kebeningan hati mereka. Muhammad bin Ismail tidak menjadi Bukhari, Muhammad bin Idris tidak akan menjadi Imam Syafi’i, Yahya bin Syaraf tidak akan menjadi Nawawi, Ahmad bin Abdul Halim tidak akan menjadi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, kecuali dengan niat-niat yang tulus kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan itu yang kita lihat.

Jangan pedulikan bisikan-bisikan setan untuk menggoda niat kita. Kesuksesan Antum tergantung niat Antum. Kalau niat kita ikhlas, insyaAllah lancar. Dan terbukti, sebagian kakak kelas Antum bisa memperbaiki tajwidnya, akhiranya bisa berbahasa Arab dan bisa memahami kunci-kunci bahkan sebagian ada yang melanjutkan ke Lipia misalnya.

Jaga keikhlasan, pintu itu masih terbuka. Ikhlas ini pentingnya minta ampun. Karena itu nasehat para ulama.

Lihat Imam Malik Rahimahullah, Imam Syafi’i mengatakan:

الليث أفقه من مالك

“Laits bin Sa’ad (salah satu ulama fiqih besar) itu lebih faqih (lebih pintar) daripada Imam Malik.”

Tapi Antum pernah mendengar nama “Laits”? Tapi kenapa Imam Malik lebih terkenal? Kenapa Imam Malik lebih diterima oleh manusia? Kata para ulama karena keikhlasan Imam Malik. Dan ini bukan berarti Laits tidak ikhlas. Tapi keikhlasan bertingkat-tingkat. Dan ini kita lihat sendiri. Di dunia ilmu, bukan kecerdasan yang bermain, bukan ketekunan nomor satu, tapi yang nomor satu keikhlasan.

Hadirin, tokoh-tokoh sesat itu apa tidak cerdas-cerdas semua? Dari zaman dulu sampai hari ini, tokoh kesesatan itu cerdasnya minta ampun. Wasil bin Atha’ cerdas, Al-Jahid tekun, Jahm bin Safwan tidak diragukan kepintarannya. Bayangkan, Wasil bin Atha’ cerdasnya dari sisi bahasa. Dan yang lebih menakjubkan lagi beliau berguru dengan Hasan Al-Bashri. Orang cerdas bertemu guru yang handal nomor 1 di Bashrah, tapi jadinya sesat. Kata Syaikhul Islam:

اوتي ذكاء ولم يؤت زكاة !!

Orang-orang mu’tazilah (khususnya Wasil bin Atha’) diberikan kecerdasan, tapi tidak diberikan kebeningan hati.

Itu yang terpenting. Antum belajar di sini dan seterusnya.

Syaikh Shalih Fauzan pernah datang ke kampus kami, di Riyadh. Itu di hadapan para doktor, di hadapan para profesor, di hadapan mahasiswa pascasarjana S3 dan S2. Beliau mengatakan:

“Saya ingatkan kepada anak-anakku sekalian, jangan sampai kedatangan Anda ke sini hanya mencari gelar. Gelar tidak ada manfaatnya sama sekali. Yang Anda harus pikirkan apa yang Anda bisa berikan kepada umat. Jaga keikhlasan Anda.”

Itu nasehat di hadapan para profesor fiqih, para doktor-dokter fiqih dan aqidah, mahasiswa pascasarjana fakultas fiqih, aqidah, hadits. Karena itu intinya. Syaikh Fauzan tidak bicara khilaf tentang shalat, masalah hijab, tapi masalah keikhlasan. Karena itu nomor 1.

Jangan sampai kedatangan kita ke sini agar dapat status “murid takhassus” dan bisa bangga “Ana selalu datang ke Rodja setiap sabtu dan ahad,” itu tidak penting. Yang penting ikhlas kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan ini kunci kesuksesan kita. Keikhlasan itu benar-benar membuat orang meroket di dunia maupun di akhirat. Bersihkan hati kita, maka kita akan merasakan nikmatnya.

Makanya para ulama dulu paling takut masalah ini. Ngeri. Hisyam Ad-Dastawa’i sebagaimana yang disampaikan oleh Al-Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar A’lamin Nubala‘, beliau mengatakan:

والله ما أستطيع أن أقول: إني ذهبت يوما قط أطلب الحديث أريد به وجه الله عز وجل

“Demi Allah, aku tidak berani mengatakan: ‘aku pernah belajar ilmu hadits satu hari saja ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala’.”

Imam Adz-Dzahabi ketika membawakan riwayat ini, kata beliau: “Saya juga tidak berani.”

Ikhlas itu berat. Makanya ini yang diulang-ulang oleh para ulama. Sampai Hisyam Ad-Dastawa’i saja tidak bisa mengklaim. Padahal Hisyam Ad-Dastawa’i itu sangat direkomendasikan oleh Imam Ahmad. Bahkan sebagian ulama mengatakan: “Saya tidak tahu ada orang yang paling ikhlas dibanding Hisyam Ad-Dastawa’i.” Beliau tidak berani mengklaim ikhlas karena ikhlas itu berat.

Imam Ahmad penulis kitab musnad, hadits yang beliau tulis 40.000 hadits lebih, hafalan beliau satu juta hadits. Suatu ketika ditanya oleh seseorang: “Wahai Imam Ahmad, Anda ikhlas atau tidak?” Kata Imam Ahmad: “Adapun keikhlasan itu perkara yang sangat berat. Adapun saya, saya hanya berusaha semampu saya.” Imam Ahmad tidak berani mengklaim dirinya ikhlas.

Makanya itu terus yang ditekankan. Masalah keikhlasan ini penting.

Imam Bukhari ketika membuat Shahih Bukhari, hadits pertama tentang ikhlas. Padahal bab pertama adalah tentang بدء الوحى (bab turunnya wahyu). Tidak ada hubungannya dengan ikhlas, tapi hadits pertama tentang ikhlas. Kata Al-Hafidz Ibnu Hajar bahwa Imam Bukhari ingin mengingatkan diri beliau dan pembacanya agar mengevaluasi keikhlasan, padahal yang membaca Shahih Bukhari adalah ulama-ulama hadits; Al-Khatib Al-Baghdadi, Ibnu Shalah, Adz-Dzahabi, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, An-Nawawi, Ar-Rafi’i. Ini yang perlu kita camkan. Yaitu keikhlasan.

Begitu juga yang ditulis oleh Imam An-Nawawi di Riyadhush Shalihin dan Arbain Nawawiyah. Hadits pertama adalah masalah keikhlasan. Untuk mengingatkan diri beliau. Imam An-Nawawi mengingatkan diri sendiri untuk ikhlas. Allahu Akbar. Imam Nawawi Imam yang luar biasa, Muhyiddin. Itu masih mengingatkan dirinya agar ikhlas.

Antum pernah mendengar bahwa salah satu buku yang ditulis Imam Nawawi adalah Al-Minhaj Syarah Muslim (Arab: المنهاج شرح صحيح مسلم). Di sebuah penerbitan dicetak 11 jilid, ada yang 10 jilid. Tahukah Antum beliau mensyarah Shahih Muslim tanpa melihat buku Shahih Muslim, semua dari otaknya. Dan dalam riwayat beliau tidak mempunyai Shahih Muslim, semua dari hafalannya. Beliau hafal beserta sanad dari Imam Muslim ke Rasulillah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Orang sekaliber itu masih mengingatkan dirinya untuk tetap ikhlas. Lalu kita lupa menata hati untuk ikhlas?

Ikhlas ini yang terpenting, yang bisa membuat kita bertahan. Karena sekali lagi, kalau takhassus dibandingkan dengan dunia, sudah kalah, nggak dapat apa-apa Antum. Yang dapat capek, pegel, lelah, letih, PR banyak, macem, nyebelin semua, itu kalau dunia. Yang bisa membat Antum bertahan itu keikhlasan. Ketika Antum benar-benar berharap menjadi orang terbaik di sisi Allah, ketika Antum benar-benar berharap diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, ketika kita mengharapkan doa malaikat.

Jadi begitu datang ke Al-Barkah yang ada di benak kita ini didoakan malaikat. Yang kita harapkan mendapatkan pahala haji. Karena kalau dalam sisi dunia tidak ada untungnya belajar di sini. Ini bukan menakut-nakuti.

Ana pertama kali ditawarin ngajar, saya juga bingung. Memangnya ada yang mau ya sabtu ahad dari jam 08.00 sampai ashar? Itu kan waktu-waktunya keluarga banget, waktu-waktunya istirahat, terus tempatnya Cileungsi pula yang macetnya luar biasa di Cibubur.

Saya tadi ke sini berangkat dari Pondok Gede jam 11 lebih, sampai sini jam 01.15, dua jam. Yang bisa membuat Antum bertahan itu keikhlasan, selebihnya tidak bisa. Tapi kalau Antum ikhlas, Antum akan bisa bertahan.

إِنْ تَصْدُقِ اللَّهَ يَصْدُقْكَ

“Jika kita jujur sama Allah, Allah akan wujudkan cita-cita kita.” (HR. An-Nasa’i)

Kita pengen bahasa Arab, kita ingat surat Yusuf, bahwa Allah menurunkan Al-Qur’an dengan bahasa Arab. Dalam surat Yusuf ayat 2 kita tahu semua ayatnya. Itu yang memotivasi kita.

Kalau mengharapkan dunia, susah. Tapi akhirat, itu luar biasa. Allah bayar semuanya.

الأجـر علـى قـدر المشقة

“Balasan itu tergantung tingkat kesulitan.”

2. Bertakwalah semampu kalian

Menit ke-30:44 Camkan baik-baik, Antum belajar ilmu agama di sini dan enaknya belajar agama dan ibadah-ibadah yang lain itu tidak ada beban. Karena konsep agama adalah:

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

Bertakwalah kepada Allah semampu kalian.” (QS. At-Tagabun[64]: 16)

Konsep agama adalah:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

Allah tidak bebankan kalian di atas kemampuan kalian.” (QS. Al-Baqarah[2]: 286)

Jadi tidak ada yang suruh Antum mendapat nilai 100. Tidak ada yang mewajibkan Antum di Takhassus harus mendapat nilai 9. Antum dituntut bertakwa semaksimal mungkin. Dan itu yang saya suka dari ilmu agama, tidak ada beban. Makanya tidak ada ceritanya belajar bahasa Arab stress itu tidak boleh.

Bahas nahwu hanya mampu dapat 4, maka di sisi Allah nilai kita 100. Tugas kita hanya bertakwa semampu kita.

Salah satu dosen di Riyadh menceritakan: “Kalau saya punya dua mahasiswa, yang satu IPKnya 4,99 dan hebatnya dia belajarnya hanya sistem kebut semalam. Lalu saya punya mahasiswa IPKnya 2, tapi dia belajar siang dan malam mulai hari pertama sampai hari terakhir ujian. Maka yang akan saya kasih hadiah yang IPKnya 2. Karena dia sudah bertakwa semampu dia.”

Adapun yang 4,99 dia lalai. Itu bukan hebat, tapi itu dzalim. Dia dikasih kecerdasan, dia dikasih potensi oleh Allah, tapi tidak dia manfaatkan.

Tugas Antum memaksimalkan potensi yang Allah berikan kepada Antum di hari ini. Jadi tidak perlu mempedulikan yang dulu-dulu. Kalau sadarnya sekarang, sekarang berubah, masih ada waktu. Makanya kan para ulama Salaf mengatakan:

كُنْ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا أَوْ مُسْتَمِعًا وَاعِيًا* وَلَا تَكُنِ الرَّابِعَةَ** فَتَهْلِكَ

Berusahalah untuk menjadi orang alim, kalau tidak bisa jadilah penuntut ilmu, kalau tidak bisa jadilah pendengar, kalau tidak bisa jadilah orang yang mau diberi masukan walaupun sekilas-sekilas. Dan jangan Anda jadi yang keempat, bengong, main, waktu habis dan seterusnya.

Jadi betul target pertama harus jadi alim, ngerti bahasa Arab, tajwidnya bagus. Kalau tidak bisa, ya sudah tidak masalah. Jangan mundur, tapi jadilah penuntut ilmu, jadilah mahasiswa takhassus sejati yang 12 tahun tidak lulus-lulus. Yang penting sabtu ahad masuk kelas, pokoknya saya mau tercatat oleh Allah sebagai penuntut ilmu. Ngga peduli mau dapat nilai 4, 3, pokoknya berusaha. Datang terus, bodo amat pokoknya saya mau belajar. Karena itu nasehat dari para ulama Salaf.

Kalau kita nggak bisa juga, qaddarullah misalnya orang tua kita sakit akhirnya kita tidak bisa lanjut lagi di takhassus, baru jadi pendengar yang hanya hadir di kajian-kajian rutin. Tapi itu kalau sudah mentok. Kalau masih bisa jadi penuntut ilmu yang benar-benar benar belajar seperti di takhassus, jadi seperti ini.

Jadi tidak usah berkecil hati. Agama kita orientasinya proses, bukan hasil. Ini yang saya suka dengan agama kita. Makanya Nabi bersabda dalam hadits Bukhari:

إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ

“Apabila seorang hakim memutuskan perkara, lalu ia berijtihad dan benar dalam berijtihad, maka baginya dua pahala. Dan jika ia berijtihad dan salah dalam ijtihadnya, maka baginya satu pahala.” (HR. Bukhari)

Padahal hasilnya salah, tapi dia tidak mendapatkan dosa, justru mendapatkan pahala dari sisi proses. Dia sudah usaha dan melakukan penelitian, maka kesalahannya dimaafkan prosesnya mendapatkan poin dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sebaliknya, dalam sebuah hadits yang lemah tetapi maknanya benar disepakati oleh para ulama Tafsir.

مَن قَالَ في القُرآنِ برَأيِه فأَصَابَ فَقَد أَخْطَأَ

“Barangsiapa yang berbicara tentang Al-Qur’an dengan otaknya lalu dia benar, dia baru saja melakukan kesalahan dan dosa.”

Hadits ini lemah tapi redaksinya diterima oleh seluruh para ulama. Jadi orang bicara tentang satu ayat dengan otaknya tanpa kaidah tafsir Ibnu Katsir, tidak juga Ath-Thabari, tidak juga Al-Baghawi, pakai otaknya dan kebetulan benar. Dosa dengan ijma’ para ulama. Padahal kalau kita orientasi hasil, hasilnya bagus atau tidak? Jawabnya bagus. Tapi kenapa dia berdosa? Prosesnya salah dan benarnya kebetulan.

Ini enaknya Islam, orientasinya proses. Jadi sukses atau tidaknya Antum di Takhassus bukan cas cis cusnya Antum ketika lulus atau bukan mingkemnya Antum ketika lulus. Sukses atau tidaknya Antum di Takhassus bukan nilai yang ada di buku raport, bukan hafalannya. Tapi bagaimana Antum menjalani proses belajar ini dengan baik.

Antum dikasih suka mufradat, dikasih 5  susahnya minta ampun bahkan ketika ujian senyum-senyum aja. Padahal setiap hari dihafalkan. Dialah orang sukses. Adapun yang muda-muda, yang masih encer-encer, yang belajarnya 1 jam sebelum ujian, terus bisa jawab semuanya, itu tidak sukses dimata Allah, dia dzalim karena tidak maksimal.

Jadi inti dari Takhassus adalah memberikan kesempatan pahala buat Antum-Antum semua, biar Antum bisa belajar menjadi muta’alliman. Ada kesempatan paling luar biasa. Bayangkan itu pahala semua dari jam 8 sampai ashar. Rugi kalau tidak dapat. Kapan lagi?

Pihak manajemen bertanya beberapa kali ke kami dan mungkin juga Ustadz-Ustadz di sini bahwa beberapa daerah ingin buka takhassus tapi sampai sekarang belum di acc oleh kita. Mereka ingin belajar tidak bisa, sedangkan Antum mendapatkan kesempatan luar biasa. Dan intinya bukan jadi Syaikhul Islam, bukan jadi Imam Syafi’i. Tapi proses ini tadi, kita ingin belajar serius dan dapat pahala besar. Mungkin dari sisi usia sudah lanjut, sudah bekerja, tapi pengen dapet pahala.

Buat apa kita hafal Qur’an, hafalan hadits, tapi sombong, tapi belagu, tapi ngga maksimal. Proses hadirin, keikhlasan dipadukan dengan semangat, itu baru yang diinginkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Tugas Antum belajar maksimal, ngga usah pedulikan nilai. Kalau saat ini Allah berikan waktu muda untuk kita dan otak yang nyaman, Alhamdulillah. Tapi kalau Allah memberikan kita waktu tua, daya ingat sudah berkurang, ngga ada masalah. Intinya bukan nilai, intinya semangat, intinya kehadiran Antum di sini biar dicatat oleh malaikat, intinya bagaimana Antum berusaha menjalani program-program itu dengan tanpa rasa malu, pedenya minta ampun walaupun (jawabnya) yang paling keras terus salah di tengah-tengah teman-teman tapi jalan terus, itu yang paling penting.

Oleh karena itu maksimalkan baik-baik. Tidak ada beban, tugas kita proses, harus lebih semangat lagi.

Yang paling Antum ngga suka dari Takhassus adalah ketika ujian, kan? Terus baru buka-buka. Itu salah. Orientasi nilai itu tidak bagus. Seharusnya orientasi proses, itu yang paling penting. Dan dengan orientasi proses, Antum akan belajar terus, mau ujian atau tidak, bodo amat saya mau belajar. Terus kalau lupa semua juga pede aja, ngga minder, ngga takut, karena bukan nilai, tapi proses.

3. Bersungguh-sungguh

Menit ke-47:09 Hadirin yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, setelah kita tahu pentingnya niat, pentingnya konsep bahwa tidak ada beban di pundak Antum, orientasinya proses, maka PR Antum tinggal bersungguh-sungguh, harus habis-habisan.

Enak udah, yang penting niat ikhlas, nggak ada beban, berarti Antum harus habis-habisan. Dan ini salah satu kunci sukses para ulama. Belajar mati-matian. Makanya Syaikh Abdul Aziz As-Sadhan mengatakan: “Kalian itu sama Imam Bukhari, Imam Syafi’i, itu punya kesamaan, punya hubungan, yaitu hubungan dalam sebuah ayat:

وَاللَّـهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ…

Dan Allah yang mengeluarkan kalian dari rahim ibu kalian dalam kondisi kamu tidak tahu apa-apa.” (QS. An-Nahl[16]: 8)

Waktu Antum lahir, hafalan Antum berapa juz? Begitu juga dengan Imam Syafi’i. Imam Ahmad begitu lahir juga nggak bisa bahasa Arab. Semanya nol, dan kita mulai dari titik nol.

Makanya ketika orang tua kita mengabarkan berita kelahiran kita, yang menjadi berita adalah berat dan panjang badan. Semuanya seperti itu karena memang tidak ada hafalan. Tapi kenapa mereka bisa jadi Syafi’i, jadi Bukhari, bisa jadi Ishaq bin Rahawaih, sedangkan kita istiqamah jadi orang awam. Kata para ulama karena kesungguhan mereka, habis-habisan. Karena orientasinya proses, harus habis-habisan, usaha maksimal. Ini bekal kita menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Seorang ulama besar, murid dari Sibawaih yang bernama Abu Ali Muhammad, biasa dinamakan Quthrub. Kalau Antum belajar ilmu nahwu tingkat lanjutan, Antum akan mengenal nama Quthrub. Siapa yang memberi gelar beliau Quthrub? Yaitu Imam beliau, Sibawaih. Dan Sibawaih ini adalah bapaknya ahli nahwu.

Quthrub adalah binatang yang hanya keluar di malam hari, khususnya tengah malam menjelang subuh. Kisahnya adalah karena semangat belajarnya dengan Imam Sibawaih. Jadi Abu Ali ini itu sangat semangat belajar dengan Imam Sibawaih, beliau tidak mencukupkan belajar di kelas atau di majelis. Setiap hari, begitu Sibawaih membuka pintu rumahnya untuk berangkat ke masjid dalam rangka shalat subuh, itu Abu Ali sudah ada di depan rumah untuk belajar selama di perjalanan dari rumah ke masjid. Dan ternyata beliau istiqamah setiap hari. Sampai-sampai Sibawaih mengatakan: أنت قُطربُ ليل (Anda ini seperti binatang Quthrub yang nongolnya menjelang subuh). Subhanallah..

Itu ulama. Mereka benar-benar belajar, kerja keras, mendatangi ustadz, makanya mereka jadi. Orang yang menghafal tanpa beban tapi sungguh-sungguh, itu masuknya lebih cepat. Coba deh, insyaAllah bisa.

Sharafnya dibaca dan diulang-ulang, kaedah nahwunya juga diulang-ulang terus, kalau perlu Antum baca, Antum rekam, lalu dengarkan di manapun. Itu cara belajarnya Ustadz kita, Ustadz Erwandi Hafidzahullahu Ta’ala ketika S2 dan S3. Beliau catat semua penjelasan Syaikh beliau, lalu beliau baca sambil direkam, lalu kemana-mana beliau dengarkan. Begitu belajar, habis-habisan.

Salah satu ikhtiar dan kerja keras adalah praktek berbicara bahasa Arab. Telfon teman satu kelas pakai bahasa Arab. Amburadul ngga masalah, yang penting nekat aja dulu.

Dan inisiatif, untuk yang belajar tajwid coba telfon Ustadz dan minta disimak meskipun hanya 2 menit. Jangan nunggu kajian Ustadz di Rodja, ngga masuk-masuk. Jadilah penuntut ilmu yang aktif.

Allah sudah berikan hidayah, kalau mundur kita rugi. Syaikh Utsaimin Rahimahullahu Ta’ala berkata: “Barangsiapa yang Allah berikan kesempatan menuntut ilmu lalu dia hadir di majelis tersebut, lalu dia tidak datang lagi, kufur nikmat.”

Kecuali kalau ada udzur syar’i. Adapun karena malas, ngga enak karena ngga ngerjain PR, itu kufur nikmat. Dan ngeri kalau kufur nikmat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Kalau kalian kufur nikmat, adzabKu sangat pedih….”  (QS. Ibrahim[14]: 7)

Kita diberikan kesempatan untuk belajar di Takhassus, tapi karena nggak bisa mengatur waktu, ngga murojaah, keteteran, akhirnya nggak masuk lagi, kufur nikmat, kata Allah. Dan bagi orang yang kufur nikmat “AdzabKu sangat pedih,” karena ini anugerah, ini kesempatan emas untuk mendapatkan pahala yang luar biasa di weekend. Dan kelas seperti ini nggak di setiap wilayah dibuka, nggak di setiap kota dibuka, nggak di setiap daerah dibuka. Kalau kita nggak manfaatkan, kufur nikmat.

Coba Antum cari dimana belajar Ushul fiqih sekarang? Apalagi menggunakan bahasa Arab. Kalau pondok iya, tapi kalau untuk pekerja, mahasiswa, atau yang sudah berumur, ya di sini. Saatnya untuk Antum nikmati.

Jadi kita harus bersyukur kepada Allah. Belajar, hafalkan, diulang-ulang lagi, banyak menulis, dan inisiatif sendiri, jangan tunggu PR. Dan bahasa itu harus dipraktekan, telepon teman-teman atau ustadznya, nanti kalau umroh dipakai. Jadi harus bersungguh-sungguh.

من جدَّ وجد

“Barangsiapa yang bersungguh-sungguh dia akan dapatkah hasilnya.”

Pasti ada kemajuan, sangat besar pahalanya.

والله تعالى أعلم بالصواب

Mp3 Kajian Motivasi Belajar Bahasa Arab

Sumber: radiorodja.com

Silahkan dibagikan, semoga bermanfaat dan menjadi pembuka pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum..

Komentar

WORDPRESS: 0
DISQUS: