Berikut transkrip khutbah jumat tentang “Khutbah Jumat: Wasiat Takwa dan Tujuan Utama Penciptaan Manusia” yang disampaikan Ustadz Abdullah Roy, Hafidzahullahu Ta’ala
KHUTBAH PERTAMA : Tantangan Banjir Informasi di Zaman Modern
Wasiat ketakwaan ditujukan kepada diri pribadi dan seluruh jemaah untuk senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hakikat takwa tersebut diwujudkan dengan cara menjalankan segala perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjauhi seluruh larangan-Nya berdasarkan dalil yang shahih serta landasan niat yang ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menciptakan manusia di dunia ini melainkan untuk satu tujuan yang sangat mulia, yaitu mewujudkan peribadatan hanya kepada-Nya semata. Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan hal ini di dalam Al-Qur’an:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat[51]: 56)
Setiap manusia telah dianugerahi jatah umur dan usia yang bersifat terbatas oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apabila ajal yang ditetapkan telah tiba, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memulangkan setiap hamba kepada-Nya. Ketetapan mengenai batas waktu hidup ini disebutkan di dalam ayat suci:
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ
“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu.” (QS. Al-A’raf[7]: 34)
Kepastian mengenai kefanaan makhluk hidup juga ditegaskan dalam ayat lain:
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ
“Semua yang ada di bumi itu akan binasa.” (QS. Ar-Rahman[55]: 26)
Tidak ada satupun manusia yang akan hidup kekal di dunia. Proses kembalinya manusia kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di akhirat kelak bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan sebuah fase yang menyajikan proses hisab serta pertanggungjawaban yang nyata atas segala amal perbuatan.
Di tengah durasi waktu kehidupan yang terbatas dan umur dunia yang demikian pendek, terdapat sangat banyak faktor yang dapat memalingkan manusia dari tujuan utama penciptaannya. Salah satu faktor penyebab kelalaian yang paling nyata pada zaman sekarang adalah fenomena banjir informasi.
Arus penyebaran berita dan kabar saat ini begitu masif hingga dapat ditulis dan disebarluaskan oleh siapa saja secara mudah. Di sisi lain, masyarakat pun dapat mengakses berbagai informasi tersebut tanpa hambatan, baik berupa informasi yang valid (benar), berita palsu (hoax), kabar yang membawa manfaat, kabar yang mendatangkan kemudharatan, maupun berita yang bersifat mubah yang tidak memiliki nilai manfaat maupun mudharat.
Seorang muslim yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hari akhir wajib menyadari urgensi tujuan penciptaan dirinya serta keterbatasan waktu yang dimilikinya. Kesadaran tersebut harus melahirkan sikap bijak di dalam menelaah, menyaring, dan membaca setiap berita yang beredar.
Prinsip kehati-hatian menuntut agar seorang muslim tidak langsung mengikuti semua hal yang didengarnya. Tidak semua tulisan yang beredar harus dibaca dan diyakini kebenarannya, sebagaimana tidak semua jenis berita perlu ditelaah secara mendalam. Apabila seorang muslim menghabiskan waktu kehidupannya yang singkat ini hanya untuk mengikuti dan mengonsumsi seluruh informasi yang sampai kepadanya, maka waktu tersebut akan habis secara sia-sia. Akibatnya, ia akan menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam keadaan belum mempersiapkan bekal amal saleh yang cukup.
Mengenai kaidah ideal dalam menyikapi fenomena ini, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memberikan sebuah panduan umum yang menjadi asas penting bagi kehidupan seorang muslim. Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ
“Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. At-Tirmidzi) [1]
Kaidah di dalam hadits ini menjadi indikator utama yang menunjukkan tingkat kualitas keimanan, kesempurnaan Islam, serta kedalaman pemahaman seorang hamba terhadap tuntunan agamanya. Seseorang yang memiliki kualitas Islam yang baik akan memilih untuk memfokuskan sisa usianya pada hal-hal yang mendatangkan manfaat keagamaan maupun keduniaan, serta mengabaikan hal-hal yang tidak berguna.
Prinsip meninggalkan hal-hal yang tidak terpercaya dan tidak bermanfaat harus menjadi asas utama di dalam kehidupan setiap muslim. Seorang hamba dituntut untuk memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai durasi usia yang singkat ini habis hanya untuk mengonsumsi arus informasi duniawi yang tidak kunjung usai, baik berupa berita konflik, peperangan, gosip, maupun kabar yang mengandung unsur namimah (adu domba) serta ghibah (gunjingan) yang tidak mendatangkan faedah keagamaan.
Seorang muslim yang bijak seharusnya menjadikan berita-berita akhirat sebagai bahan bacaan utama setiap hari. Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di dalam hadits telah menyampaikan berbagai kabar tentang peristiwa masa depan yang pasti terjadi. Kabar tersebut meliputi kepastian datangnya kematian, fitnah kubur, azab kubur, hari kebangkitan, hari pengumpulan manusia di Padang Mahsyar, hingga eksistensi surga dan neraka. Semua itu merupakan berita yang benar adanya dan mutlak dialami oleh setiap jiwa.
KHUTBAH KEDUA: Menjaga Tujuan Hidup di Tengah Kesibukan Dunia
Wasiat untuk meningkatkan ketakwaan kembali ditekankan kepada diri pribadi serta jamaah sekalian, khususnya bagi mereka yang menghabiskan waktu bekerja dari pagi hingga sore hari. Kesibukan aktivitas duniawi yang fana ini tidak boleh melalaikan manusia dari tujuan hakiki penciptaannya, yaitu murni untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kelak pada hari kiamat, mayoritas manusia akan diliputi oleh penyesalan yang mendalam. Penyesalan tersebut lahir karena mereka tidak memanfaatkan modal waktu yang singkat di dunia dengan maksimal. Bahkan, orang-orang saleh sekalipun akan merasa bahwa amalan mereka masih kurang dan belum optimal, terlebih lagi orang-orang yang tingkat keimanannya berada di bawah mereka.
Al-Qur’an menggambarkan penyesalan kolektif manusia yang memohon untuk dikembalikan ke dunia agar bisa memperbaiki kualitas amalnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا ۖ وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ
“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: ‘Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan’. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minun[23]: 99-100)
Permohonan untuk kembali ke dunia tersebut hanyalah sebatas angan-angan kosong yang tidak mungkin dikabulkan. Kesempatan hidup di dunia hanya diberikan satu kali dan momentum yang telah berlalu tidak akan pernah bisa berputar kembali.
Oleh karena itu, sisa waktu dan umur yang masih ada harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Barangsiapa yang berusaha memperbaiki kualitas amalnya pada sisa waktu yang ada di depannya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengampuni dosa-dosa dan kelalaian yang telah lalu.
Apabila sisa waktu yang dimiliki saat ini tidak dimanfaatkan dengan baik, dan manusia justru memilih untuk terus tenggelam di dalam kelalaian, maka dikhawatirkan siksaan akan diturunkan akibat perbuatan yang dilakukan sekarang serta dosa-dosa yang telah berlalu sebelumnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberikan taufik kepada seluruh hamba-Nya agar terhindar dari kelalaian tersebut.
Setiap muslim wajib mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan perintah untuk mengucapkan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Perintah agung ini termuat di dalam Al-Qur’an:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab[33]: 56)
Sumber Video Khutbah Jumat “Wasiat Takwa dan Tujuan Utama Penciptaan Manusiat”
Sumber : HSI Abdullahroy
Yuk, ikut ambil bagian dalam menyebarkan dakwah ini. Bagikan tulisan dan link ini kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat kita. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.
REFERENSI :


COMMENTS