Berikut transkrip khutbah jumat tentang “Khutbah Jumat: Bahaya Dosa Ghibah bagi Persatuan Umat” yang disampaikan Ustadz Musyaffa ad Dariny, Hafidzahullahu Ta’ala
Mukadimah dan Wasiat Ketakwaan
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا ، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ ، وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
Jamaah shalat Jumat yang semoga dimuliakan dan dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala hendaknya terus ditingkatkan. Ketakwaan yang hakiki melahirkan semangat untuk menjalankan seluruh perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala serta meninggalkan seluruh larangan-Nya. Penerapan takwa secara sungguh-sungguh di dalam kehidupan senantiasa membawakan keberkahan serta melimpahkan berbagai kebaikan dari Allah ‘Azza wa Jalla sebagaimana firman-Nya di dalam Al-Qur’an:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ
“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (QS. Al-A’raf[7]: 96)
Selawat serta salam keberkahan semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kepada keluarga beliau, para sahabat, serta seluruh kaum muslimin yang setia mengikuti petunjuk beliau hingga hari kiamat.
KHUTBAH PERTAMA : Pentingnya Persatuan dalam Syariat Islam
Islam sangat menjunjung tinggi nilai persatuan di antara kaum muslimin. Perintah untuk berpegang teguh pada tali agama Allah ‘Azza wa Jalla guna mewujudkan persatuan dan mencegah perpecahan ditegaskan di dalam Al-Qur’an:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا
“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 103)
Larangan berpecah belah (wa la tafarraqu) di dalam ayat ini menegaskan bahwa berpegang teguh pada agama Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan sebab utama terwujudnya persatuan kaum muslimin.
Hal senada juga ditegaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala mengenai ketaatan sebagai pilar persatuan:
وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ
“Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang.” (QS. Al-Anfal[8]: 46)
Ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang diwujudkan melalui sikap berpegang teguh pada syariat merupakan benteng persatuan. Sebaliknya, perselisihan dan perpecahan di antara kaum muslimin mengakibatkan timbulnya rasa gentar terhadap musuh serta sirnanya kekuatan umat.
Begitu pentingnya nilai persatuan ini membuat Islam menerapkan prinsip persaudaraan atas dasar iman (ukhuwah islamiyyah) sebagai ikatan yang sangat kuat. Kedudukan persaudaraan antarumat beriman ini dinyatakan secara tegas oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat[49]: 10)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda mengenai hubungan persaudaraan ini:
الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ
“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lainnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Persaudaraan atas dasar iman dan akidah memiliki kedudukan yang sangat tinggi di dalam Islam dibanding persaudaraan karena ikatan nasab atau pertalian darah. Perbedaan agama antara ahli waris dan pewaris mengakibatkan terputusnya hak saling mewarisi di antara keduanya, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
لاَ يَرِثُ الْمُسْلِمُ الْكَافِرَ وَلاَ الْكَافِرُ الْمُسْلِمَ
“Seorang muslim tidak berhak mewarisi harta orang kafir dan orang kafir tidak berhak mewarisi harta orang muslim.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Terputusnya ikatan kekeluargaan akibat tidak adanya persaudaraan seiman juga terpotret di dalam Al-Qur’an melalui kisah Nabi Nuh ‘Alaihissalam ketika anaknya membangkang dari dakwah:
قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ
“Allah berfirman: Wahai Nuh, sungguh dia bukanlah termasuk keluargamu, karena perbuatannya sungguh tidak saleh.” (QS. Hud[11]: 46)
Kekuatan akidah menegaskan bahwa kecintaan hamba yang beriman tidak dapat dipersembahkan kepada pihak-pihak yang menentang Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, meskipun mereka merupakan orang tua, saudara, maupun kerabat dekat. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman di dalam Al-Qur’an:
لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ
“Engkau tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara ataupun kerabat mereka.” (QS. Al-Mujadilah[58]: 22)
Ayat ini memberikan petunjuk tegas bahwa nilai ikatan keimanan menduduki tingkatan tertinggi di atas ikatan kekerabatan nasab (ukhuwah nasabiyyah).
Keagungan prinsip ukhuwah islamiah mendorong syariat Islam mengharamkan seluruh tindakan yang berpotensi merusak persaudaraan, seperti merendahkan sesama muslim, memberikan julukan yang buruk, berburuk sangka (suudzon), memata-matai, serta mencari-cari kesalahan orang lain.
Setelah menegaskan bahwa kaum mukmin adalah bersaudara, Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang perbuatan merendahkan dan mencela sesama di dalam Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلا تَنَابَزُوا بِالأَلْقَابِ بِئْسَ الاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (kerana) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita-wanita lain (kerana) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang fasik setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Hujurat[49]: 11)
Ancaman bahwa orang-orang yang tidak bertobat tergolong sebagai orang-orang yang zalim menunjukkan bahwa tindakan merendahkan, mencela, dan memberi julukan buruk kepada sesama muslim merupakan Dosa besar yang wajib dihindari.
Menjaga kehormatan serta keutuhan persaudaraan sesama muslim menuntut setiap hamba untuk menjauhi sikap-sikap yang merusak persatuan. Perintah untuk menjauhi prasangka, memata-matai, dan merusak nama baik orang lain ditegaskan di dalam Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain”.(QS. Al-Hujurat[49]: 12)
Perbuatan ghibah memiliki dampak yang sangat buruk terhadap persatuan umat Islam. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan hakikat gibah di dalam sabda beliau:
ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ
“Engkau menyebutkan tentang saudaramu sesuatu yang dia benci.” (HR. Muslim)
Meskipun kekurangan atau keburukan yang disebutkan tersebut memang benar-benar ada pada diri saudara sesama muslim, tindakan menyampaikan dan membicarakannya di hadapan orang lain tetap diharamkan. Islam memandang perbuatan ini sebagai dosa besar yang sangat menjijikkan, sebagaimana gambaran memakan bangkai saudara sendiri.
وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ
“Dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik kepadanya.” (QS. Al-Hujurat[49]: 12)
Berbagai hadits Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memaparkan ancaman serta hukuman yang sangat keras bagi pelaku ghibah:
1. Siksa Peristiwa Isra Mikraj
Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda mengenai penglihatan beliau saat Mikraj:
لَمَّا عُرِجَ بِي مَرَرْتُ بِقَوْمٍ لَهُمْ أَظْفَارٌ مِنْ نُحَاسٍ يَخْمُشُونَ وُجُوهَهُمْ وَصُدُورَهُمْ فَقُلْتُ : مَنْ هَؤُلاَءِ يَا جِبْرِيلُ ؟ قَالَ : هَؤُلاَءِ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ لُحُومَ النَّاسِ وَيَقَعُونَ فِي أَعْرَاضِهِمْ
“Ketika aku diangkat ke langit (Mikraj), aku melewati suatu kaum yang memiliki kuku-kuku dari tembaga. Mereka mencakar-cakar wajah dan dada mereka sendiri. Aku bertanya: Siapakah mereka wahai Jibril? Jibril menjawab: Mereka adalah orang-orang yang memakan daging manusia dan merusak kehormatan sesama manusia.” (HR. Abu Dawud)
2. Bahaya Merendahkan Kehormatan Sesama
Dari Al-Bara bin ‘Azib Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menegaskan tingkat kejahatan merendahkan kehormatan saudara seiman:
الرِّبَا اثْنَانِ وَسَبْعُونَ بَابًا أَدْنَاهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرَّجُلُ أُمَّهُ ، وَإِنَّ أَرْبَى الرِّبَا اسْتِطَالَةُ الرَّجُلِ فِي عِرْضِ أَخِيهِ
“Riba itu memiliki 72 pintu, yang paling ringan tingkatan dosanya adalah seperti seorang laki-laki yang berzina dengan ibunya sendiri. Dan tingkatan riba yang paling parah adalah ketika seseorang berani merendahkan kehormatan saudaranya.” (HR. At-Thabrani)
3. Tercemarnya Lautan Akibat Ungkapan Ghibah
Ibunda ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha menceritakan peringatan tegas dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika beliau menyebutkan fisik Shafiyyah Radhiyallahu ‘Anha:
قُلْتُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : حَسْبُكَ مِنْ صَفِيَّةَ كَذَا وَكَذَا – تَعْنِي قَصِيرَةً – فَقَالَ : لَقَدْ قُلْتِ كَلِمَةً لَوْ مُزِجَتْ بِمَاءِ الْبَحْرِ لَمَزَجَتْهُ
“Aku pernah berkata kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: Cukuplah bagimu Shafiyyah itu begini dan begitu (maksudnya Shafiyyah itu berpostur pendek). Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Sungguh engkau telah mengucapkan suatu kalimat yang sekiranya kalimat itu dicampurkan dengan air laut, niscaya kalimat itu akan mencemari seluruh air laut tersebut.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
4. Bau Busuk Bangkai Pelaku Gibah
Dari Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu ‘Anhuma menceritakan pengalaman bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَارْتَفَعَتْ رِيحُ جِيفَةٍ مُنْتِنَةٍ
“Kami pernah berada bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu terciumlah aroma bau bangkai yang sangat busuk.” (HR. Ahmad)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan asal dari bau busuk yang tercium tersebut melalui sabda beliau:
أَتَدْرُونَ مَا هَذِهِ الرِّيحُ؟ هَذِهِ رِيحُ الَّذِينَ يَغْتَابُونَ الْمُؤْمِنِينَ
“Tahukah kalian bau busuk ini? ini adalah bau orang-orang yang menggunjing (mengghibah) kaum mukminin.” (HR. Ahmad)
Dosa ghibah merupakan dosa yang sangat besar, namun amat disayangkan perbuatan ini banyak diremehkan oleh manusia dan kaum muslimin.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ ، أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
KHUTBAH KEDUA: Tingkatan Dosa Ghibah dan Bahaya Mendoakan Keburukan
الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيمًا لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَإِخْوَانِهِ
Seluruh ancaman dan hukuman mengerikan terkait perbuatan ghibah berlaku untuk setiap bentuk pergunjingan, baik terhadap masyarakat umum maupun orang-orang yang memiliki kedudukan mulia. Tingkat keharaman dan besarnya dosa gibah bertambah berat sesuai dengan pihak yang digunjingkan:
- Menggibah pemimpin yang sah.
- Menggibah para guru ngaji dan pendidik.
- Menggibah orang-orang yang tekun beribadah serta berupaya menjalankan syariat Islam dengan bersungguh-sungguh, seperti wanita yang mengenakan kerudung besar atau cadar, serta orang-orang yang memakmurkan salat berjamaah di masjid.
- Menggibah pemimpin suatu lembaga sosial atau lembaga dakwah yang mendatangkan banyak maslahat bagi umat, sehingga timbul kebencian masyarakat terhadap sarana dakwah tersebut.
Ghibah terhadap pihak-pihak tersebut sangat membahayakan, terlebih apabila orang yang dizalimi senantiasa memanjatkan doa yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا ، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا
“Dan jadikanlah pembalasan kami atas orang-orang yang menzalimi kami, serta tolonglah kami atas orang-orang yang memusuhi kami.” (HR. At-Tirmidzi)
Ancaman doa dari orang-orang yang dizalimi melalui penggunjingan tersebut merupakan hal yang patut ditakuti oleh setiap muslim.
Dosa ghibah sama sekali tidak memberikan manfaat. Upaya meluruskan atau memperbaiki keburukan sesama muslim hendaknya dilakukan dengan memberikan nasihat secara langsung dan santun tanpa melalui perbuatan ghibah.
Praktik ghibah yang meluas di tengah masyarakat merusak ikatan persatuan, memicu perselisihan, melahirkan kegaduhan, serta melemahkan kedudukan kaum muslimin. Keadaan ini sesuai dengan peringatan Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an:
فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ
“Yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang.” (QS. Al-Anfal[8]: 46)
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menjauhkan kaum muslimin dari dosa gibah serta menguatkan ikatan persaudaraan di antara mereka.
Penutup
Sebagai penutup, keutamaan memperbanyak shalawat kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ditegaskan melalui sabda beliau:
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا
“Barangsiapa yang berselawat kepadaku sekali, maka Allah akan berselawat (memberi rahmat) kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim)
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِينَ ، وَعَنِ التَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Ya Rabb kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Al-A’raf[7]: 23)
رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الأَبْرَارِ
“Ya Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami, serta matikanlah kami bersama orang-orang yang berbakti.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 193)
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ مِنْهُ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا اسْتَعَاذَ مِنْهُ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Al-Baqarah[2]: 201)
وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ
Sumber Video Khutbah Jumat “Bahaya Dosa Ghibah bagi Persatuan Umat”
Sumber : Masjid Al Amanah Ciputat
Yuk, ikut ambil bagian dalam menyebarkan dakwah ini. Bagikan tulisan dan link ini kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat kita. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.


COMMENTS