Berikut transkrip khutbah jumat tentang “Khutbah Jumat: Hakikat Kehambaan dan Perintah Bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla” yang disampaikan Ustadz Syafiq Riza Basalamah, Hafidzahullahu Ta’ala
KHUTBAH PERTAMA : Perkataan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Mengenai Sikap Mengekor
Predikat sebagai hamba Allah merupakan sebuah status melekat yang tidak akan pernah berpisah dengan diri manusia, baik dalam kondisi hidup maupun mati. Seorang hamba pada hakikatnya tidak memiliki dirinya sendiri. Ia tidak memiliki rumah atau apa pun yang atas nama pribadi, karena semua hal di dunia ini hanyalah titipan belaka. Manusia hanya mendapatkan amanah untuk menjalankan tugas dari Penciptanya.
Oleh karena itu, setiap hamba wajib bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, karena hanya hamba-hamba yang bertakwa yang akan meraih kesuksesan di dalam hidupnya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman di dalam Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 102)
Seruan ini ditujukan kepada orang-orang yang mengaku beriman agar bertakwa dengan sebenar-benarnya takwa. Takwa bukan hanya sebatas ungkapan di lisan atau sebuah status formal, melainkan sebuah kebenaran yang menghujam di dalam jiwa, diucapkan dengan lisan, serta dipraktikkan melalui amal raga. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menegaskan larangan mati kecuali dalam kondisi memeluk Islam.
Lebih dari 1400 tahun yang lalu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hadir sebagai sang pencerah yang membawa pelita untuk menerangi alam semesta. Tatkala umat Islam mulai berjaya, mampu menaklukkan musuh-musuh, menguasai kota Mekah sebagai bagian dari wilayah Islam, hingga menduduki perbatasan Syam dan Persia, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memberikan sebuah peringatan. Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda di dalam sebuah hadits:
لَتَتْبَعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا شِبْرًا وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ، حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوهُمْ
“Kalian benar-benar akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sampai sekiranya mereka masuk ke dalam lubang dhab (reptil padang pasir), niscaya kalian akan ikut masuk ke dalamnya.” (HR. Bukhari) [1]
Pernyataan tersebut merupakan nubuat bahwa sebagian umat Islam akan meniru pola, gaya, dan cara hidup umat lain secara detail. Seseorang yang berada di posisi belakang dan bertindak sebagai ekor tidak akan pernah menjadi pemimpin. Filosofi ekor sapi menunjukkan bahwa ia hanya berfungsi untuk menutup kekurangan, atau sekadar mengusir gangguan-gangguan kecil seperti semut, nyamuk, dan lalat.
Kondisi tersebut merefleksikan realitas sebagian umat Islam pada masa sekarang. Meskipun jumlah umat Islam di dunia mencapai 2 miliar jiwa, dan di Indonesia sendiri sudah melebihi 240 juta jiwa, umat Islam belum sepenuhnya menjadi panutan atau contoh. Peradaban umat Islam saat ini belum menjadi imam atau kompas yang menentukan arah kiblat kemajuan zaman.
Kenyataan mengenai sikap mengekor ini terlihat jelas pada setiap momen akhir tahun. Banyak di antara umat Islam yang ikut serta merayakan hitung mundur pergantian jam, padahal aktivitas tersebut sama sekali bukan bagian dari urusan dan budaya umat Islam. Budaya tersebut merupakan kebudayaan asing yang diikuti oleh umat Islam dengan begitu gegap gembira.
Ketidakpedulian terhadap identitas sendiri juga tampak ketika masyarakat ditanya mengenai tanggal hari ini. Mayoritas akan menjawab berdasarkan penanggalan Masehi, yang pada hakikatnya merupakan kalender rujukan umat Kristus. Sebagai seorang muslim, umat Islam memiliki sistem penanggalan sendiri, yaitu kalender Hijriah. Berdasarkan kalender Islam, hari ini telah memasuki tanggal 6 Rajab, yang merupakan bagian dari bulan-bulan haram yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Urutan penanggalan Islam setelah bulan Rajab adalah bulan Sya’ban, yang kemudian diikuti oleh bulan Ramadan. Sikap mengabaikan identitas penanggalan sendiri menunjukkan bahwa umat Islam saat ini berada di posisi mengekor dan menganggap fenomena tersebut sebagai hal yang biasa. Mengenai kondisi keterpurukan ini, sebuah pepatah Arab kuno menyatakan:
وَمَنْ يَكُنِ الْغُرَابُ لَهُ دَلِيلًا يَمُرُّ بِهِ عَلَى جِيَفِ الْكِلَابِ
“Barang siapa yang menjadikan burung gagak sebagai penunjuk jalannya, niscaya burung itu akan membawanya melewati bangkai-bangkai anjing.”
Kondisi tersebut menggambarkan keadaan manusia yang mengabaikan petunjuk mulia lalu memilih mengekor pada hal-hal yang buruk. Umat Islam sering kali meninggalkan wahyu dan petunjuk Al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan jaminan keselamatan bagi orang yang mengikuti tuntunan-Nya melalui firman-Nya:
فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى
“Lalu barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS. Taha[20]: 123)
Sikap mengagungkan peradaban asing saat ini sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Ibnu Khaldun di dalam kitab Al-Muqaddimah. Beliau menyebutkan sebuah tesis sosiologis bahwa sudah menjadi budaya bagi kaum yang kalah untuk selalu mengekor dan meniru kaum yang menang. Kaum yang kalah memiliki kecenderungan menganggap bahwa segala hal yang berasal dari bangsa pemenang merupakan benih-benih keberhasilan, sehingga mereka menirunya dengan harapan dapat meraih kejayaan yang sama.
Kemunduran umat Islam bukan disebabkan oleh kekuatan faktor eksternal, melainkan karena kelalaian umat Islam sendiri terhadap agamanya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan peringatan keras melalui sabda beliau:
إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ
“Jika kalian telah berjual beli dengan cara ‘inah (sistem riba yang terselubung), memegang ekor-ekor sapi, rida dengan pertanian, dan kalian meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menimpakan kehinaan kepada kalian. Allah tidak akan mencabut kehinaan tersebut sampai kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Daud) [2]
Kehinaan yang dialami oleh umat Islam saat ini merupakan ketetapan dari Allah Rabbul ‘Alamin akibat maraknya sistem ekonomi riba yang meniru kaum Yahudi, kesibukan yang melalaikan pada urusan harta duniawi, serta pengabaian terhadap perjuangan di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kehinaan tersebut tidak akan pernah diangkat dari permukaan bumi sebelum umat Islam kembali menjadikan wahyu Al-Qur’an dan hadits sebagai imam serta kompas utama untuk menyaring budaya yang layak diterima atau wajib ditolak.
Dampak nyata dari hilangnya kompas syariat ini dapat disaksikan pada setiap momentum akhir tahun, yang ditandai dengan melonjaknya angka penjualan alat kontrasepsi serta penuhnya hotel-hotel murah untuk kemaksiatan. Fenomena kemungkaran yang dibiarkan tanpa adanya pencegahan ini sangat kontradiktif dengan status umat Islam yang dinobatkan sebagai umat terbaik di dalam Al-Qur’an:
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِالنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 110)
Kewajiban utama untuk mempertahankan predikat umat terbaik adalah dengan konsisten menegakkan amar makruf nahi mungkar serta menjaga iman kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Upaya mengingatkan sesama dapat disalurkan melalui media apa pun yang memungkinkan, termasuk menulis pesan pengingat di grup-grup komunikasi keluarga untuk menegaskan bahwa hari ini adalah tanggal 6 Rajab, yang merupakan bagian dari kalender resmi umat Islam.
KHUTABH KEDUA : Fungsi Mimbar Jumat dan Larangan Berbicara Saat Khutbah
Mimbar Jumat merupakan sarana legal syariat yang berfungsi untuk menegakkan amar makruf nahi mungkar, memberikan edukasi, serta menyampaikan pendidikan agama kepada umat. Oleh karena itu, kehadiran dan perhatian penuh dari para jemaah bersifat wajib.
Aturan ketat di dalam mendengarkan khutbah Jumat ditegaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Seorang jemaah dilarang keras untuk berbicara, bahkan sekadar mengucapkan kata-kata teguran seperti meminta orang lain untuk mendengarkan khatib yang sedang berkhotbah.
Tindakan berbicara saat khotbah berlangsung dapat merusak kesempurnaan ibadah Jumat dan menggugurkan pahala mendengarkan khotbah. Sayangnya, sebagian jamaah masih memiliki kebiasaan hadir di masjid setelah khatib naik ke atas mimbar. Waktu selama enam hari dua puluh tiga jam di luar hari Jumat seharusnya sudah lebih dari cukup untuk menyelesaikan urusan duniawi, sehingga manusia mampu menyisihkan sedikit waktu di dalam sepekan untuk hadir di masjid sebelum malaikat menutup buku catatan keutamaan Jumat.
Fenomena keterlambatan ini sering kali berulang dari pekan ke pekan, bahkan berlangsung hingga bertahun-tahun tanpa ada rasa bersalah dari yang bersangkutan. Sikap menganggap biasa keterlambatan tersebut menyebabkan jemaah hanya mendengarkan materi agama secara sepotong-sepotong. Hal ini menjadi budaya yang berbahaya karena menerima informasi agama secara tidak utuh dapat menjadi celah kesesatan bagi manusia.
Saatnya umat Islam kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Demi Allah, sekiranya seseorang memiliki seluruh kekayaan di kota Sidoarjo, semua fasilitas tersebut pasti akan ditinggalkan. Manusia pada akhirnya akan menjadi mayat yang diangkat oleh keluarganya sendiri untuk diletakkan di dalam lubang kubur yang sempit. Di dalam kubur tersebut, manusia hanya akan ditemani oleh amal perbuatannya, termasuk catatan kelalaian dan keterlambatannya dalam beribadah. Sebagian jemaah bahkan tidak pernah berada di barisan (shaf) pertama selama hidupnya saat menunaikan salat Jumat karena fokus pencariannya di dunia hanyalah pangkat, harkat, dan martabat semata.
Kecenderungan manusia yang terlalu mencintai dunia telah ditegaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an:
بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى
“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’la[87]: 16-17)
Rumah yang ditempati serta tanah yang dimiliki manusia pada hari ini, dahulu merupakan milik orang lain. Pada masa depan, seluruh aset tersebut akan ditinggalkan dan beralih kepemilikannya menjadi milik orang lain pula. Kenyataan ini menjadi alasan kuat agar jemaah segera sadar untuk memakmurkan rumah Allah Subhanahu wa Ta’ala demi mendapatkan ketenangan yang sejati.
Jemaah yang pada hari ini terlambat harus mengusahakan diri agar berada di barisan pertama pada Jumat berikutnya. Di zaman modern ini, manusia telah difasilitasi dengan jam dinding maupun jam tangan sebagai pengingat waktu, berbeda dengan kondisi para sahabat dahulu. Waktu jeda istirahat kerja yang biasanya dihabiskan untuk makan dan mengobrol, seharusnya dapat dialokasikan untuk datang lebih awal ke masjid sebagai bentuk pembuktian keseriusan hamba di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sangat tidak pantas jika seorang karyawan tidak berani datang terlambat ke kantor karena malu kepada atasannya, namun di sisi lain ia justru berulang kali menyepelekan dan terlambat dalam menghadiri panggilan salat Jumat.
Umat Islam wajib memanfaatkan bulan Rajab ini sebagai momentum emas untuk mempersiapkan diri menghadapi bulan Ramadan. Berdasarkan analogi para ulama, bulan Rajab adalah waktu yang tepat untuk mulai bercocok tanam dengan amal saleh. Selanjutnya, bulan Syakban merupakan fase untuk menyirami serta memupuk tanaman tersebut, hingga akhirnya manusia dapat memetik hasil panen pahala yang melimpah pada bulan Ramadan.
Sumber Video Khutbah Jumat “Hakikat Kehambaan dan Perintah Bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla”
Sumber : Syafiq Riza Basalamah Official
Yuk, ikut ambil bagian dalam menyebarkan dakwah ini. Bagikan tulisan dan link ini kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat kita. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.
REFERENSI :


COMMENTS