Berikut transkrip khutbah jumat tentang “Khutbah Jumat: Hakikat Maksiat sebagai Bentuk Kebodohan (Jahalah)” yang disampaikan Ustadz Firanda Andirja, Hafidzahullahu Ta’ala
KHUTBAH PERTAMA : Sebab-Sebab Pelaku Maksiat Dikatakan Bodoh
Setiap perbuatan bidah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di dalam neraka.
Ma’asyiral muslimin…
Sesungguhnya siapa saja yang melakukan maksiat dan berbuat dosa, ia dikategorikan sebagai orang yang jahil atau bodoh. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an:
إِنَّمَا التَّوبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ فَأُولَئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
“Sesungguhnya tobat di sisi Allah hanya diterima dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kebodohan, yang kemudian mereka bertobat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah tobatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (QS. An-Nisa'[4]: 17)
Istilah bijahalah (dengan kebodohan) di dalam ayat ini merupakan washfun kasyif atau washfun lazim (sifat yang melekat). Maknanya, seseorang yang melakukan maksiat meskipun ia pintar dan mengerti tentang hukum-hukum syariat tetap dinilai sebagai orang yang bodoh saat melanggar aturan tersebut. Di dalam ayat yang lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menegaskan:
ثُمَّ إِنَّ رَبَّكَ لِلَّذِينَ عَمِلُوا السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ تَابُوا مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ
“Kemudian, sesungguhnya Tuhanmu (mengampuni) bagi orang-orang yang mengerjakan kesalahan lantaran kebodohan, kemudian mereka bertobat setelah itu.” (QS. An-Nahl[16]: 119)
Mengenai hal ini, Tabiin Qatadah rahimahullahu taala berkata:
كُلُّ مَنْ عَصَى اللَّهَ فَهُوَ جَاهِلٌ
“Setiap orang yang bermaksiat kepada Allah, maka ia adalah orang yang jahil.”
Oleh karena itu, Nabi Yusuf Alaihis Salam memilih berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari sifat kejahilan ini ketika digoda oleh para wanita, sebagaimana doa beliau yang diabadikan di dalam Al-Qur’an:
رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ ب إِلَيْهِنَّ وَأَكُنْ مِنَ الْجَاهِلِينَ
“Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi rayuan mereka. Jika tidak Engkau alihkan tipu daya mereka dariku, niscaya aku akan cenderung kepada mereka dan aku termasuk orang-orang yang bodoh.” (QS. Yusuf[12]: 33)
Kondisi condong dan terjerumus ke dalam maksiat diposisikan sama dengan perilaku orang-orang yang jahil. Setiap hamba harus menyadari bahwa saat ia sedang bermaksiat, ia sedang berada di dalam kebodohan.
Para ulama menjelaskan beberapa alasan mengapa pelaku maksiat disebut sebagai orang yang bodoh. Alasan pertama adalah karena ia mendahulukan kesenangan duniawi yang fana dan meninggalkan kehidupan akhirat yang abadi. Alasan berikutnya adalah karena ia mengorbankan kenikmatan akhirat yang sempurna demi mengejar kenikmatan dunia yang sangat sedikit. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى
“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’la[87]: 16-17)
Tindakan seseorang yang rela mengorbankan kenikmatan abadi demi merasakan kenikmatan sesaat merupakan bentuk kebodohan yang nyata. Kenikmatan maksiat yang sebentar tersebut pasti akan disusul dengan kesengsaraan hati, karena tidak ada orang yang bermaksiat melainkan hatinya akan merasa sengsara. Perbandingan antara kesenangan dunia dengan akhirat telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala:
فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ
“Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit.” (QS. At-Tawbah[9]: 38)
Ketika terbersit keinginan untuk bermaksiat, kebodohan ini harus segera direnungkan. Seseorang tidak boleh mengorbankan kenikmatan yang sempurna dan abadi hanya demi kesenangan yang sedikit.
Alasan kedua mengenai kebodohan pelaku maksiat adalah ketidaktahuannya akan keagungan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seandainya ia mengerti dan menghayati keagungan Allah Subhanahu wa Ta’ala, ia tidak akan nekad untuk bermaksiat. Saat maksiat dilakukan, tingkat pengagungan hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sedang luntur.
Oleh sebab itu, orang yang paling bertakwa adalah orang yang paling berilmu, di mana ilmunya telah meresap ke dalam hati. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Ku, hanyalah para ulama.” (QS. Fatir[35]: 28)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda:
إِنَّ أَعْلَمَكُمْ بِاللَّهِ وَأَخْشَاكُمْ لَهُ أَنَا
“Sesungguhnya orang yang paling tahu tentang Allah di antara kalian dan yang paling takut kepada-Nya adalah aku.” (HR. Bukhari)
Para ulama salaf menyatakan bahwa siapa saja yang lebih tahu tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka ia akan menjadi orang yang paling jauh dari maksiat. Sering kali pengetahuan manusia tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya sebatas wacana dan tidak meresap ke dalam hati, sehingga kebodohan akan keagungan Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap terjadi saat maksiat dilakukan.
Bentuk kebodohan lain dari pelaku maksiat adalah ketidaktahuannya bahwa setiap maksiat pasti mendatangkan dampak buruk secara instan. Banyak orang salah mengira bahwa dampak maksiat hanya berkaitan dengan kerusakan fisik atau kerugian harta benda. Padahal, dampak pertama yang diserang oleh maksiat adalah hati manusia. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ
“Sesungguhnya seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan sebuah noda hitam di dalam hatinya.” (HR. Tirmidzi)
Noda hitam akibat maksiat inilah yang memicu timbulnya rasa malas untuk beribadah, munculnya sifat futur (lemah iman), serta hilangnya kekhusyukan di dalam penyembahan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Meskipun seseorang hidup dalam kondisi fisik yang sehat dan perputaran ekonominya lancar, maksiat yang dikerjakannya tetap memberikan dampak buruk secara langsung pada hatinya tanpa menunda.
Seseorang yang bermaksiat dapat memperhatikan kondisi hatinya. Setelah bermaksiat, hati dipastikan akan terasa gelap dan mengeras. Pada saat itulah racun maksiat masuk sedikit demi sedikit hingga berakumulasi. Jika seorang hamba tidak segera bertobat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, akumulasi racun tersebut ada kalanya akan meledak dan membinasakan dirinya.
Bentuk kebodohan lain dari pelaku maksiat adalah ketidaktahuannya bahwa ia tidak akan pernah mampu menghadapi siksaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kobaran api neraka sangatlah dahsyat, sebagaimana firman-Nya di dalam Al-Qur’an:
فَأَنْذَرْتُكُمْ نَارًا تَلَظَّىٰ
“Maka Aku memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al-Layl[92]: 14)
Api neraka memiliki karakteristik yang berbeda dengan api dunia. Jika api dunia membakar bagian luar terlebih dahulu baru kemudian merambat ke bagian dalam, maka api neraka langsung membakar luar dan dalam secara bersamaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
الَّتِي تَطَّلِعُ عَلَى الْأَفْئِدَةِ
“Yang (membakar) naik sampai ke jantung.” (QS. Al-Humazah[104]: 6)
Saat membakar tubuh manusia, api tersebut langsung merasuk ke dalam jantung. Seandainya tubuh manusia terbuat dari besi, besi tersebut dipastikan akan luluh lantak di dalam neraka jahanam. Manusia pada hakikatnya hanyalah perpaduan darah, daging, dan kulit yang sangat lemah. Jangankan api neraka jahanam, panasnya api lilin saja tidak mampu dihadapi oleh manusia. Orang yang bermaksiat berada dalam kebodohan karena melupakan fakta tersebut.
Pelaku maksiat dikategorikan bodoh karena ketika ia melanggar syariat, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mencabut kebahagiaan dari dirinya. Banyak orang merasakan kesengsaraan batin yang mendalam akibat perbuatan maksiat yang dilakukan. Sebagai contoh, seseorang yang tidak menjaga pandangan matanya dengan sengaja melihat hal-hal yang haram, maka kelezatan halal yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala anugerahkan akan hilang. Dampaknya, ia akan merasa hambar ketika memandang istrinya sendiri. Kebahagiaan di dalam rumah tangganya sirna karena kebiasaan maksiat tersebut, sementara kelezatan yang halal telah dicabut oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Setiap maksiat yang dilakukan selalu berimplikasi pada pencabutan kebahagiaan hidup.
Ma’asyiral muslimin…
Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan jangan menjadi orang-orang yang bodoh. Ujung dari jalan yang ditempuh oleh orang-orang bodoh hanyalah penyesalan. Jika penyesalan tersebut baru muncul di akhirat, maka hal itu tidak akan berguna lagi.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Aku mengucapkan perkataanku ini dan memohon ampun kepada Allah untukku dan untukmu sekalian serta bagi setiap muslim. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (HR. Bukhari)
KHUTBAH KEDUA : Melawan Kejahilan dengan Ilmu dan Larangan Menunda Tobat
الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَإِخْوَانِهِ
Ma’asyiral muslimin…
Ketika jiwa tergerak untuk melakukan maksiat dan bisikan-bisikan setan mulai merasuk, seseorang harus berusaha keras untuk tidak menjadi orang yang bodoh. Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji hamba-hamba-Nya yang melawan ketika kebodohan maksiat mulai menjangkiti mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ
“Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga.” (QS. Ar-Rahman[55]: 46)
Sebagian ulama menafsirkan ayat ini bagi seseorang yang baru berkeinginan melakukan maksiat, namun tiba-tiba ia ingat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia ingat bahwa dirinya akan dihisab dan ingat betapa banyak nikmat yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepadanya. Ia segera mengembalikan ilmu yang sempat hilang akibat terpaan kejahilan. Melalui upaya mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala secara konsisten, ia berhasil meninggalkan maksiat tersebut, sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahinya dua surga.
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman di dalam Surat Al-A’raf:
إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka ditimpa waswas dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (QS. Al-A’raf[7]: 201)
Sebagian ahli tafsir menjelaskan bahwa ketika bisikan setan datang mengepung dan menghasut, orang yang bertakwa akan segera melawan kebodohan tersebut dengan mengingat keagungan Allah Subhanahu wa Ta’ala serta limpahan nikmat-Nya. Seseorang dinilai sangat bodoh jika ia membalas kenikmatan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan tindakan membangkang.
Orang yang bertakwa juga akan mengingat kedahsyatan api neraka untuk melawan kejahilannya dengan ilmu. Ahli tafsir menyebutkan bahwa makna fa-idza hum mubsirun adalah fa-idza hum ‘alal bashirah, yang berarti mereka berada di atas ilmu sehingga akhirnya mampu meninggalkan kemaksiatan tersebut. Manusia sering kali terjatuh menjadi orang bodoh, namun kebodohan tersebut tidak boleh dibiarkan terus-menerus melainkan harus dilawan karena hidup di dunia hanya sebentar.
Di antara bentuk kebodohan pelaku maksiat yang disebutkan oleh para ulama adalah kebiasaan menunda-nunda tobat. Seseorang sering kali menyangka bahwa usianya di dunia masih panjang, padahal kematian dapat datang secara tiba-tiba tanpa diduga. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahkan ilmu yang bermanfaat kepada setiap hamba, terutama tatkala bisikan setan datang menghasut untuk membangkang kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kajian ini ditutup dengan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk bershalawat kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab[33]: 56)
Sumber Video Khutbah Jumat “Hakikat Maksiat sebagai Bentuk Kebodohan (Jahalah)”
Sumber : Firanda Andirja
Yuk, ikut ambil bagian dalam menyebarkan dakwah ini. Bagikan tulisan dan link ini kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat kita. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.


COMMENTS