Berikut transkrip khutbah jumat tentang “Menjadi Hamba Allah yang Merdeka” yang disampaikan Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A. Hafidzahullahu Ta’ala.
Menjadi Hamba Allah yang Merdeka
Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepada kita ibadah kepada-Nya dan membimbing kita kepada tauhid-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada beliau, keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.”
(QS. Ali ‘Imran [3]: 102)
وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ
“Sungguh, Kami telah mewasiatkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan juga kepada kamu agar bertakwa kepada Allah.”
(QS. An-Nisa [4]: 131)
Wahai kaum muslimin, marilah senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benar takwa. Takwa adalah bekal terbaik di jalan yang sangat panjang. Takwa juga menjadi cahaya bagi kita di malam yang gelap gulita.
Kemerdekaan Fisik dan Penjajahan yang Tersembunyi
Saat ini kita berada di bulan kemerdekaan. Kurang lebih delapan puluh tahun lalu, negara Indonesia mengumumkan kemerdekaannya. Rakyat bergembira. Bangsa ini akhirnya dapat berdiri di atas kakinya sendiri. Bendera merah putih berkibar. Tangis haru bercampur tawa terdengar dari pelosok desa sampai jantung kota.
Semua itu adalah rahmat dan karunia dari Allah. Dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar disebutkan bahwa atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorong oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, rakyat Indonesia menyatakan kemerdekaannya.
Namun, jangan sampai kita terbuai oleh kemerdekaan tersebut. Di balik gemuruh kemerdekaan fisik, ada penjajahan yang lebih tersembunyi dan jauh lebih berbahaya. Penjajahan itu tidak tampak oleh mata, tetapi mampu mengikat jiwa, membunuh nurani, dan merusak iman manusia.
Penjajahan itu adalah penjajahan iblis terhadap manusia. Iblis menghalangi manusia dari jalan Allah, menyesatkan mereka, serta membisikkan racun kekufuran, kesyirikan, dan kemaksiatan.
Penjajahan itu juga berupa penjajahan hawa nafsu terhadap hati manusia. Hawa nafsu membuat manusia rela tunduk kepada harta, tahta, popularitas, pujian, dan seluruh kenikmatan dunia, sehingga tidak tunduk dengan sempurna kepada Allah ‘Azza wa Jalla, Rabbul ‘alamin.
Sebagian orang tampak tertawa lebar, tetapi hati mereka menangis dan gelisah. Sebagian tampak bersinar di layar, tetapi jiwanya penuh kegelapan. Secara jasad mereka tampak bebas dan merdeka, tetapi secara roh dan akidah mereka terjajah.
Penjajahan seperti ini lebih dahsyat dan lebih kejam daripada penjajahan Jepang dan Belanda. Penjajahan fisik membunuh dan menindas tubuh. Adapun penjajahan iblis dan hawa nafsu menghancurkan iman. Penjajahan Jepang dan Belanda menghinakan manusia di dunia, sedangkan penjajahan iblis dan hawa nafsu menghinakan manusia di dunia serta menjadi sebab kehinaan di akhirat.
أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَنْ لَا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ ۖ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
“Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu, wahai anak cucu Adam, agar kamu tidak menyembah setan? Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kamu.” (QS. Yasin [36]: 60)
Misi Para Rasul: Membebaskan Manusia dari Penyembahan kepada Makhluk
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus para nabi dan rasul untuk mengeluarkan manusia dari penjajahan tersebut. Mereka membebaskan manusia dari penyembahan kepada makhluk menuju penyembahan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rabb seluruh makhluk.
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Sungguh, Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul, yang menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl [16]: 36)
Kita adalah pengikut para rasul. Tugas yang sama ada pada kita, yaitu membebaskan diri dari penyembahan kepada selain Allah dan membebaskan manusia lain dari penyembahan kepada selain Allah menuju penyembahan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kemerdekaan Sejati Menurut Rabi’ bin Amir
Rustum, seorang jenderal Persia, bertanya kepada Rab’i bin Amir, salah seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang datang ke Persia bersama kaum muslimin, tentang sebab kedatangan mereka ke negeri Persia.
Rab’i bin Amir menyampaikan ucapan yang mengguncangkan negara adidaya tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus kaum muslimin untuk mengeluarkan siapa saja yang Dia kehendaki dari penyembahan kepada makhluk menuju penyembahan kepada Rabb seluruh makhluk; dari kezaliman agama-agama selain Islam menuju keadilan Islam; dan dari kesempitan dunia menuju keluasan dunia dan akhirat.
Inilah kemerdekaan sejati dan kemuliaan sejati yang harus diusahakan.
Khutbah Kedua: Perjuangan Ilmu dan Pembebasan Jiwa
Segala puji bagi Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, dan memohon ampunan-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari keburukan diri dan amal-amal kita. Siapa yang Allah beri petunjuk, tidak ada yang dapat menyesatkannya. Siapa yang Allah sesatkan, tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Semoga shalawat dan salam dari Rabb tercurah kepada beliau, keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.
Khatib kembali mewasiatkan kepada dirinya dan jemaah sekalian untuk senantiasa bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa di mana pun berada.
Mendirikan pondok pesantren, sebagaimana yang dilakukan oleh saudara-saudara kita, serta menyibukkan diri mengurusnya, termasuk bagian dari perjuangan. Perjuangan itu adalah membebaskan diri sendiri dan orang lain dari penyembahan kepada makhluk menuju penyembahan kepada Al-Khaliq semata.
Wahai para santri, aktivitas menuntut ilmu dan berjuang siang malam adalah karunia besar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak semua orang memperoleh kesempatan dan kemudahan seperti itu.
Enam tahun yang telah dan akan dilalui mungkin terasa berat, penuh perjuangan, dan melelahkan. Namun, di sisi Allah ‘Azza wa Jalla, waktu itu bukan sesuatu yang lama. Dalam beberapa tahun tersebut, boleh jadi Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi taufik sehingga seorang santri menjadi hamba yang merdeka, dijauhkan dari penyembahan kepada makhluk, serta dibebaskan dari mengikuti hawa nafsunya.
Inilah medan untuk berlatih dan menempa jiwa.
Menguatkan Ilmu, Takwa, dan Keteguhan Hati
Waktu yang singkat ini hendaknya digunakan untuk bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Teruslah bersemangat, bertekad kuat, dan mendalami ilmu agama.
Kuatkan ketakwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Bangunlah pada malam yang panjang untuk beribadah kepada-Nya. Basahi lisan dengan zikir kepada Allah, dan sirami hati dengan Al-Qur’an.
Carilah teman-teman yang baik. Asahlah diri dengan keterampilan dunia yang bermanfaat pada masa mendatang.
Tidak Menyerah karena Keterbatasan
Jangan cepat berputus asa dan jangan mudah menyerah karena kesempitan ekonomi yang mungkin dirasakan orang tua kita. Jangan berhenti hanya karena sedikitnya fasilitas atau kurangnya perhatian guru dan teman.
Berbaik sangkalah kepada Allah ‘Azza wa Jalla, Dzat Yang Mahakaya dan Maha Mendengar setiap permintaan hamba-Nya.
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan menganugerahkan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Talaq [65]: 2-3)
Fokuslah pada pujian Allah dan jangan memedulikan komentar manusia. Apabila prinsip dan keyakinan ini dipegang kuat, insyaallah seseorang akan menjadi manusia yang merdeka dan memerdekakan manusia lain.
Sumber Video Khutbah Jumat Menjadi Hamba Allah yang Merdeka
Sumber: HSI Abdullahroy
Yuk, ikut ambil bagian dalam menyebarkan dakwah ini. Bagikan tulisan dan link ini kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat kita. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.


COMMENTS