Allah Akan Menghilangkan Kemiskinan

Allah Akan Menghilangkan Kemiskinan

Khutbah Jumat: Mengenalkan Diri Pada Allah
Khutbah Jumat: Gambaran Keindahan dan Luasnya Surga
Khutbah Jumat: Dunia Kesenangan Menipu

Berikut transkrip khutbah jumat tentang “Khutbah Jumat: Allah Akan Menghilangkan Kemiskinan” yang disampaikan Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, Hafidzahullahu Ta’ala

Khutbah Pertama: Kunci Kekayaan Jiwa dan Kecukupan Rezeki

Segala puji bagi Allah ‘Azza wa Jalla dengan pujian yang banyak, baik, lagi diberkati di dalamnya, sebagaimana yang dicintai dan diridhai oleh Tuhan kita. Selawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, keluarga, dan para sahabat baginda.
Tiada kata yang lebih layak diucapkan selain rasa syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala nikmat yang tidak terhitung jumlahnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَا

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. Ibrahim[14]: 34)

Nikmat terbesar ialah iman dan Islam, yang dengannya Allah memberikan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Barang siapa yang beramal soleh dalam keadaan beriman, Allah akan mengaruniakan kehidupan yang bahagia. Kehadiran kita di rumah Allah untuk menunaikan solat Jumaat adalah bukti hidayah dan taufiq, bukan semata-mata kerana kekuatan fisikal. Oleh itu, marilah kita senantiasa bertakwa dengan menjalankan perintah Allah dengan ikhlas dan menjauhi larangan-Nya kerana takut akan azab-Nya.
Satu hadits qudsi yang sangat relevan untuk ditadabburi dalam menghadapi kesukaran ekonomi ialah seruan Allah ‘Azza wa Jalla:

يَا ابْنَ آدَمَ ، تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِي أَمْلأْ صَدْرَكَ غِنًى ، وَأَسُدَّ فَقْرَكَ

“Wahai anak Adam, fokuslah beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan penuhi dadamu dengan kekayaan dan Aku akan tutup kefakiranmu.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Maksud fokus beribadah dalam hadits ini adalah memprioritaskan hak-hak Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas segala urusan duniawi. Fokus ini tidak bermaksud meninggalkan kerja atau hanya berdiam di masjid sepanjang waktu, melainkan memastikan urusan dunia tidak melalaikan kita daripada mengingati Allah, mendirikan solat, atau menunaikan zakat.Apabila seseorang memprioritaskan Allah, Allah menjamin kekayaan jiwa (qanaah) dan menghilangkan kefakiran. Kekayaan yang sebenar bukanlah pada harta yang melimpah, tetapi pada hati yang merasa cukup. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Kekayaan itu bukanlah dengan banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan kekayaan jiwa ini, berapapun rezeki yang Allah berikan tidak akan membuatkan seseorang goyah, galau, atau bermaksiat. Segalanya akan dicukupkan oleh Rabbul ‘Alamin.

Khutbah Kedua: Kesengsaraan Akibat Melalaikan Ibadah

Jika seseorang tidak fokus beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan lebih memilih untuk menyibukkan diri sepenuhnya dengan urusan dunia, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan peringatan dalam sambungan hadits qudsi tersebut:

وَإِلاَّ تَفْعَلْ مَلأْتُ يَدَيْكَ شُغْلاً وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ

“Dan jika kamu tidak melakukannya, niscaya Aku akan penuhi hatimu dengan kesibukan dan Aku tidak akan menutup kefakiranmu.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Allah akan membuatkan dunia terasa tidak pernah selesai di mata hamba tersebut. Satu masalah belum selesai, akan muncul masalah berikutnya sehingga konsentrasi pecah dan hidup terasa tertekan. Walaupun mungkin dia kaya secara materi, dia tidak dapat menikmati kekayaan tersebut kerana hatinya senantiasa berasa sibuk dan tidak tenang. Dia kehilangan waktu bersama keluarga dan kehilangan kebahagiaan hakiki.

Kefakiran yang tidak ditutup bermaksud hamba tersebut tidak akan pernah merasa cukup. Allah mencabut keberkatan daripada hartanya sehingga hidupnya lebih sengsara daripada orang miskin yang qanaah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berkuasa menyengsarakan hamba-Nya tanpa perlu memiskinkannya, sebagaimana Firaun yang tersiksa dalam paranoia kekuasaan di atas singgasananya.

Oleh itu, jadikanlah pekerjaan sebagai jalan menuju akhirat. Jangan sesekali menzalimi orang lain atau mengambil hak mereka demi mencari nafkah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

اتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ

“Takutlah kamu akan doa orang yang dizalimi, kerana sesungguhnya tiada hijab (penghalang) antara doanya dengan Allah.” (HR. Bukhari)

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan taufiq agar kita dapat fokus beribadah, dikaruniakan kekayaan hati, dan dijauhkan daripada sifat lalai terhadap akhirat. Amin ya Mujibas sailin.

Viideo Khutbah Jumat tentang Allah Akan Menghilangkan Kemiskinan

Sumber: Muhammad Nuzul Dzikri

Yuk, ikut ambil bagian dalam menyebarkan dakwah ini. Bagikan tulisan dan link ini kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat kita. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: