Berbakti Kepada Orang Tua dan Mertua

Berbakti Kepada Orang Tua dan Mertua

pandai mendengar

Tulisan tentang “Berbakti Kepada Orang Tua dan Mertua” ini adalah catatan faedah dari tanya jawab singkat yang dibawakan oleh Ustadz Dr. Firanda Andir

Ceramah Singkat Tentang Berbakti Kepada Orang Tua
Dua Hak Orang Tua
Dalil Tentang Berbakti Kepada Orang Tua
Tulisan tentang “Berbakti Kepada Orang Tua dan Mertua” ini adalah catatan faedah dari tanya jawab singkat yang dibawakan oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA. Hafidzahullahu Ta’ala.

Berbakti Kepada Orang Tua dan Mertua

Pertanyaan :

Samakah pahalanya kita berbakti kepada kedua orang tua dan mertua?

Jawaban :

Tidak sama. Mertua itu bukan orang tua kandung kita. Orang tua yang Allah Subhanallahu wa Ta’ala suruh kita bersyukur kepadanya adalah orang tua kandung. Ibu yang pernah mengandung kita dengan susah payahnya. 9 bulan kita merepotkannya. Bayangkan bagaimana dahulu susahnya ibu kita, bagaimana susahnya bapak kita. Setelah kita menjadi seorang bapak, baru kita tahu bahwa ternyata menjadi seorang bapak itu tidaklah mudah. Ternyata menjadi seorang ibu itu tidak mudah.

Lihatlah istri kita, bagaimana saat sedang mengandung. Muntah-muntah, sakit kepala, sakit perut, makan tidak bisa sembarangan, jadi tidak enak makan, setengah mati rasanya. Sampai sebagian ibu harus diopname karena terlalu banyak muntah-muntahnya. Terkadang ia makan makanan yang tidak ia sukai demi janin di dalam perutnya. Begitulah dahulu kira-kira merepotkannya kita terhadap ibu.

Kemudian perut besar. Coba saja antum rasakan berjalan dengan beban di perut, semisal diikat beban seberat 3 kg, apakah enak? Tentu saja tidak, bukan? 9 bulan antum berjalan seperti itu, apakah enak? Tentu saja tidak. Kita merepotkan orang tua kita.

Kemudian setelah kita keluar dari perut ibu, belum selesai permasalahannya. Masih berlanjut penyiksaan kita terhadap ibu kita. Setengah mati beliau merawat kita. Tangisan yang tiada berhenti dari mulut kita. Jika anak kita sakit, mungkin kita tidak terlalu meneteskan air mata, maka lihat istri kita benar-benar tidak dapat tidur, menangis terus melihat anak kita yang sedang sakit. Dahulu, orang tua kita seperti itu. Bapak kita bekerja sana-sini, di bawah terik matahari, dimarahi oleh atasan, dan lain sebagainya. Semua untuk kita, anaknya.

Maka, kedua orang tua tersebutlah yang kita harus berbakti kepadanya. Bukan mertua. Kita berbuat baik kepada mertua adalah bentuk dukungan kita terhadap istri (pasangan) kita agar ia berbakti kepada kedua orang tuanya. Yang berbakti kepada mertua kita adalah istri kita. Adapun kita dengan mertua, bukan dengan kedua orang tua. Tapi kita berusaha berbuat baik kepada kerabat. Di antara kerabat adalah kerabat oleh sebab pernikahan, salah satunya dengan mertua kita. Tapi tidak sederajat dengan orang tua kita.

Maka saya ingatkan bahwa tidak boleh menyamakan orang tua dengan mertua. Harus ada bedanya. Mertua bisa diganti dengan mertua lainnya, atau bisa juga ditambah mertuanya. Kalau orang tua, jelas tidak bisa. Orang tua tidak bisa diganti dan tidak bisa ditambah.

Tapi kita sebagai suami harus mendukung istri kita untuk berbakti kepada orang tuanya. Kita juga akan mendapatkan pahala dari berbakti karena mendukung istri kita untuk berbakti kepada orang tuanya.

Video Ceramah Singkat tentang Berbakti Kepada Orang Tua dan Mertua

Mari turut menyebarkan catatan kajian tentang Kultum Singkat ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum..

Komentar

WORDPRESS: 0