Berprasangka Baik Kepada Allah 

Berprasangka Baik Kepada Allah 

pandai mendengar

Berikut pembahasan “Berprasangka Baik Kepada Allah” yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. hafizhahullahu ta'ala. Berprasangka Baik Kepad

Materi Kultum Singkat Bulan Syawal: Wasiat Setelah Ramadhan
Kisah Motivasi Hijrah Jangan Putus Asa karena Allah Mengampuni Semua Dosa
Cambuk Hati : Ikut Syari’at Kenapa Melarat?
Berikut pembahasan “Berprasangka Baik Kepada Allah” yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. hafizhahullahu ta’ala.

Berprasangka Baik Kepada Allah

Salah satu di antara buah termanis dari beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengenal ke-Maha Indah-an nama-namaNya, dan ke-Maha Sempurna-an sifat-sifatNya adalah kita akan selalu bersangka baik/ berharapan baik terhadap semua ketentuan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berlakukan kepada manusia. Ini merupakan ciri keimanan yang sempurna.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

ذَاقَ طَعْمَ الاِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللهِ رَبًّا وَ بِالاِسْلَامِ دِيْنًا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا

“Akan merasakan kelezatan iman (yang sempurna), orang yang ridha kepada Allah sebagai Rabbnya, kepada Islam sebagai agamanya, dan kepada Nabi Muhammad sebagai rasulnya.” HR. Muslim No. 34

Ridha kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai Rabbnya artinya ridha, senang, dan gembira dengan segala sesuatu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berlakukan, yang Allah Subhanahu wa Ta’ala pilihkan untuk hambaNya, dan selalu menyikapi segala ketentuanNya dengan husnuzhan (berprasangka baik) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kita mengetahui Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki nama/ sifat yang sempurna, di antaranya adalah فَعَالِمَ يُرِيد  (Maha Berbuat kepada apa yang dikehendakiNya). Dia adalah عَلَى كُلِّ شَيئٍ قَدِرٍ (Maha Kuasa atas segala sesuatu). Dia adalah العَزِيزُ الٌقَوِيُّ المَتِينُ (Yang Maha Perkasa, Maha Kuat, dan Maha Kokoh). Tidak ada yang bisa menghalangi kehendakNya. Tapi kita harus ingat, bersamaan dengan itu Allah Subhanahu wa Ta’ala juga Maha Sempurna hikmahNya. Hikmah artinya menampakkan segala sesuatu secara tepat pada tempatnya. Makanya Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam banyak ayat Al Qur’an menggandengkan namaNya yang berhubungan dengan keperkasaan (ke-Maha Kuasa-anNya) dengan sifat hikmahNya yang sempurna serta sifat bijaksanaNya yang sempurna. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

وَهُوَ العَزِيزُ الحَكِيمُ

“… Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” QS. Al Hadid : 1

Artinya, Allah Subhanahu wa Ta’ala melakukan segala kehendak yang diinginkanNya tidak asal melakukan seperti perbuatan manusia yang tanpa pertimbangan, karena manusia sifatnya penuh dengan kekurangan. Allah Subhanahu wa Ta’ala menempatkan segala perbuatan dan kehendakNya dengan sifat hikmahNya yang sempurna, tepat pada tempatnya sesuai dengan kebijaksanaanNya.

Ini menjadikan seorang hamba selalu bersangka baik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mengapa? Karena Dzat Yang Maha Sempurna yang melakukan perbuatan tersebut tidak mungkin ada celaan, tidak mungkin tidak menginginkan kebaikan bagi hamba-hambaNya, apalagi kalau kita mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Dzat Yang Maha Sempurna kasih sayangNya, sempurna kebaikanNya. Dialah الرَحْمنُ الرَحِيمُ Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dialah  المُحْسِيْنُ  Yang Maha Sempurna KebaikanNya, الوَهَّابُ المَنَانُ Yang Maha Pemberi Anugerah, Dialah البَرُّ الرَحِيمُ Yang Maha Dermawan lagi Maha Penyayang. Dialah yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits;

اللهُ اَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هذه بِوَلَدِهَا

“Sungguh Allah lebih penyayang terhadap hamba-hambaNya dibandingkan sayangnya ibu ini terhadap anak bayinya.” HR. Bukhari dan Muslim

Apakah setelah ini ada keraguan pada diri kita tentang sempurnanya segala ketentuan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berlakukan bagi manusia? Memang terkadang ada ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tidak kita ketahui kebaikannya, membuat kita menerimanya dengan perasaan tidak enak, tidak senang atau tidak suka. Bahkan ada yang protes. Tetapi tahukah orang yang melakukan protes tersebut, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala -yang menetapkan hal tersebut dengan hikmahNya- menginginkan kebaikan yang tidak nampak pada dirinya, yang kebaikan itu justru lebih sangat bermanfaat bagi dirinya dibandingkan seandainya keinginan dirinya yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berlakukan untuknya?

Allah Subhanahu wa Ta’ala di antara namaNya Yang Maha Indah adalah اللَّطِيفُ Yang Maha Lembut, termasuk kebaikanNya sampai kepada hamba-hambaNya. Banyak dari hal-hal yang tidak disadari oleh hamba tersebut bahwa itu adalah kebaikan untuknya. Makanya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman menyatakan kepada manusia tentang ketidaktahuan mereka, keterbatasan pengetahuan mereka, sedangkan Allah Subhanahu wa Ta’ala Dialah Yang Maha Sempurna pengetahuanNya, Yang Maha Sempurna kehendakNya untuk kebaikan manusia;

كُتِبَ عَلَيْكُمُ  القِتَالُ اللهُ وَكُرْهُ لَّكُمْ, وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُواْ شَيْأً وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ, وَعَسَى أَنْ تُحِبُّواْ شَيْأً وَهُوَ شَرُّ لَّكُمْ, وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ.

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” QS. Al Baqarah : 216

Coba lihat, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan untuk manusia kebaikan dari arah yang dia menyangka itu adalah keburukan. Atau sebaliknya, manusia menyangka itu yang terbaik baginya, padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Mengetahui akibat dari segala sesuatu menghendaki padanya dari balik semua itu justru keburukan bagi dirinya.

Dari sisi inilah seorang manusia hendaknya tahu diri. Dia tidak mengetahui hal yang ghaib. Semua di alam semesta ini Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menciptakan. Termasuk waktu, termasuk sesuatu sebelum terjadinya, ketika terjadinya, dan akibat dari segala sesuatu. Ini mengharuskan orang yang beriman selalu bersangka baik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Inilah tadi yang disebut dengan kedudukan ridha kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai Rabb terhadap segala ketentuanNya. Menerima segala takdirnya dengan lapang dada. Dan barang siapa yang berprasangka baik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan balasan kebaikan untuknya sesuai dengan sangkaannya dan harapan baiknya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Inilah makna firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam hadits qudsi;

أَنَا عِندَ ظَنِّ عَبْدِي بِي

“Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku.” HR. Bukhari dan Muslim

Kita perhatikan, bersangka baik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala termasuk sebab keutamaan besar. Dalam sebuah hadits qudsi lainnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

يَا اِبْنَ ادَمَ, اِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلَا أُبَالِي…

“Wahai anak Adam! Sesungguhnya selama engkau berdo’a dan berharap hanya kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuni dosa-dosa yang telah engkau lakukan dan Aku tidak peduli (sebanyak apapun dosa tersebut). ..” HR. At Tirmidzi

Orang yang berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala berarti dia berharap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Orang yang berharap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala berarti dia berprasangka baik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Selama hal ini masih ada dalam diri kita, maka rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala akan selalu dicurahkan kepada diri kita. Segala sesuatu yang kita butuhkan berupa kebaikan dan pencegahan dari segala keburukan ada di tanganNya. Maka siapa yang tidak berprasangka baik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, jangan dia mencela kecuali kepada dirinya sendiri. Siapa yang tidak berprasangka baik kepada Dzat Yang Maha Sempurna kebaikannya, kepada siapa dia akan menghadapkan semua pengharapannya? Bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menyebutkan diri-Nya di dalam Al Qur’an, bahwa Dia adalah الصَّمَدُ ;

قُلْ هُوَ اللهُ اَحَدٌ. اللهُ الصَّمَدُ.

“Katakanlah (Muhammad), “Dia-lah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu.” QS. Al Ikhlas : 1-2

Secara bahasa, الصَّمَدُ diambil dari kata يَصْمُدُ اِلَيْهِ yang artinya semua makhluk menghadapkan hatinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan segala kebutuhan dan keperluan mereka. Karena mereka tahu, yang bisa memenuhi semua kebutuhan mereka hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Segala kebaikan yang diharapkan makhluk ada di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Segala yang dibutuhkan untuk perlindungan dari semua keburukan, hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maka inilah buah dari memahami dan mengenal kesempurnaan nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini akan menjadikan kita untuk semakin merenungkannya, semakin mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Yang ini akan semakin menyempurnakan penghambaan diri kita kepadaNya.

Ibnul Qayyim rahimahullahu ta’ala mengatakan;

“Barang siapa yang mengenal Allah dengan nama-namaNya Yang Maha Indah dan sifat-sifatNya Yang Maha Sempurna, maka dia pasti akan mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan kita semua termasuk ke dalam golongan hamba-hambaNya yang selalu berusaha mengenal keindahan nama-namaNya dan kesempurnaan sifat-sifatNya untuk melahirkan rasa cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam hati kita yang lebih dari pada kecintaan kita kepada makhluk lainnya di dunia ini. Dan semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita untuk selalu berprasangka dan berharapan baik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan menganugerahkan kepada kita sifat-sifat kesempurnaan iman, ridha kepadaNya sebagai Rabb. Dan sifat-sifat mulia lainnya dalam agama.

Video Ceramah Singkat tentang Berprasangka Baik Kepada Allah :

Sumber video: Yufid TV – Berprasangka Baik Kepada Allah – Ustadz Abdullah Taslim, M.A.

Mari turut menyebarkan catatan kajian tentang Kultum Singkat ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum..

COMMENTS

%d blogger menyukai ini: