Cambuk Hati : Melawan Budaya Kuliner

Cambuk Hati : Melawan Budaya Kuliner

pandai mendengar

Tulisan tentang “Melawan Budaya Kuliner” ini adalah catatan faidah dari ceramah yang dibawakan oleh Ustadz Ammi Nur Baits Hafizhahullahu Ta’ala. Camb

Ceramah Singkat: Pilihan Allah Adalah Yang Terbaik
Materi 21 – Doa Terhindar Dari Riya’
Ceramah Singkat: Kesabaran yang Tercela
Tulisan tentang “Melawan Budaya Kuliner” ini adalah catatan faidah dari ceramah yang dibawakan oleh Ustadz Ammi Nur Baits Hafizhahullahu Ta’ala.

Cambuk Hati : Melawan Budaya Kuliner

Mari sejenak kita membaca bagaimana kesederhanaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam urusan makan. Di antara kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seusai shalat subuh, beliau tidak langsung pulang namun beliau berdzikir hingga terbit matahari. Baru setelah itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pulang dan menemui istrinya.

Kita akan simak bagaimana penuturan Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha;

“Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menemuiku kemudian beliau bertanya,

هل عندكم شيءٌ؟

“Apakah kalian memiliki sesuatu untuk dimakan (sarapan)?”

Maa syaa Allah, pertanyaan yang sangat sederhana. Hanya sesuatu. Sekalipun sangat sederhana, yang penting bisa untuk sarapan.

Ketika ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha tidak memiliki makanan untuk sarapan, sang istri dengan jujur mengatakan, “Tidak ada, Ya Rasulallah.”

Coba kita bisa perhatikan. Bagaimana jawaban suami yang mulia ini. Ketika beliau mendengar bahwa tidak ada yang bisa dimakan, beliau mengatakan :

فَاِنِّي اذًا صَائِمٌ

“Jika demikian, saya puasa saja.” (HR. Muslim No. 1154)

Subhanallah. Jawaban yang sangat indah dari seorang suami terbaik di dunia. Ada banyak sekali pelajaran yang bisa kita gali dari dialog yang sederhana ini. Namun kita hanya akan membatasi tentang pola makan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kita bisa perhatikan, bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam urusan makan merupakan masalah yang sangat sederhana. Prinsip beliau adalah jika ada makanan maka beliau akan makan, dan jika tidak ada maka beliau akan berpuasa. Beliau tidak pesan untuk dimasakkan yang aneh-aneh atau minta kepada istrinya untuk didatangkan makanan yang merepotkan dirinya.

Kemudian hal istimewa lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mencela makanan. Jika beliau berselera, beliau akan memakannya. Dan jika beliau kurang berselera, beliau akan meninggalkannya. Sama sekali tidak mencela makanan. Tidak memberikan komentar untuk makanan.

Kita bisa simak bagaimana persaksian Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Beliau pernah mengatakan ;

ما عاب النبي صلى الله عليه و سلم طعاما قط ان اشتهاه اكله وان كرهه تركه

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sama sekali tidak pernah mencela makanan. Jika beliau menyukainya, beliau akan memakannya. Dan jika beliau tidak berselera, beliau akan meninggalkannya.” (HR. Ahmad 9755, Bukhari 3563, dan Muslim 5504)

Kita akan coba bandingkan dengan kondisi masyarakat di zaman kita saat ini. Kita bisa perhatikan, ketika masyarakat sudah dikendalikan oleh sebuah budaya yang dikenal dengan budaya kuliner. Urusan makan itu menjadi sesuatu yang sangat rumit. Bahkan, yang dipikirkan bukan lagi soal rasa. Yang dipikirkan adalah soal penyajian; bagaimana dia makan, bagaimana orang bisa bahagia ketika makan. Dan itu menyita banyak perhatian.

Sampai saya pernah mendengar ada sebuah restoran yang menyajikan makanan di samping kandang singa. Maa syaa Allah laa quwwata illa billaah. Hanya untuk mendapatkan kepuasan makan, orang itu harus melakukan yang aneh-aneh.

Zaman dahulu mungkin kita tidak pernah begitu perhatian dengan yang namanya sarjana ahli masak. Kita tidak pernah perhatian dengan jurusan tata boga. Sekarang maa syaa Allah, permintaannya luar biasa, peminatnya banyak sekali. Bahkan menjadi salah satu kebanggaan. Orang itu banyak yang sudah bercita-cita untuk menjadi chef (ahli masak), hingga melupakan ilmu-ilmu lainnya yang lebih berharga.

Itulah budaya kuliner. Budaya yang telah mempengaruhi banyak manusia untuk menjadi budak bagi pencernaannya. Budaya yang mendidik orang untuk bersikap boros. Budaya yang mengajarkan kita untuk buang-buang waktu hanya untuk satu urusan, yaitu urusan perut.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita hambaNya yang bisa menghargai waktu.

Video Ceramah Singkat Tentang Melawan Budaya Kuliner :

Mari turut menyebarkan catatan kajian tentang Ceramah Singkat ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu Facebook, Twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum..

Komentar

WORDPRESS: 0