Ceramah Singkat: Artis di Langit

Ceramah Singkat: Artis di Langit

iklan erto's

Sungguh berapa banyak orang-orang yang dikenal di bumi tidak dikenal di langit. Dan berapa banyak orang-orang tidak dikenal di bumi tapi dikenal di langit, bahkan Allah kenalkan kepada kita Uwais.

Tulisan tentang “Artis di Langit ” ini adalah catatan faedah dari ceramah singkat yang dibawakan oleh Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan, Lc, MA. Hafidzahullahu Ta’ala.

Transkrip Ceramah Singkat Tentang Artis di Langit

Tubuh/jasad kita ini, seindah apapun juga, dia akan binasa kemudian akan ditanam di dalam tanah ini, dia akan hancur menjadi tulang belulang. Apapun keindahan yang ada pada seseorang ketika hidupnya, tatkala dia meninggal, mungkin ukuran 5 hari, 7 hari, 10 hari, perutnya akan hancur binasa, pecah, kemudian apapun yang ada di dalam tubuhnya akan segera hancur binasa. Itulah yang namanya tubuh/fisik. Tapi ruh, ruh akan naik ke atas.

Ruh orang-orang beriman akan naik ke langit sebagaimana dikatakan oleh Nabi yang mulia ‘Alaihish Shalatu was Salam tatkala meninggal ‘Utsman bin Mazh’un ketika dia melepas ruhnya ke atas matanya terbuka. Maka Rasulullah menutupkan mata ‘Utsman bin Mazh’un, berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

إِنَّ الرُّوحَ إِذَا قُبِضَ تَبِعَهُ الْبَصَرُ

“Sungguh ruh seseorang apabila dicabut maka pandangan mata akan melihatnya.” (HR. Muslim)

Karena itulah kita melihat orang-orang yang wafat terkadang matanya terbuka, dia melihat ruhnya ke atas.

Oleh karena itu, sebagian orang menganggap jasad inilah segala-galanya, padahal -wallahi- tidak. Jasad ini akan hancur binasa berkalang tanah, tapi ruh yang akan berkekalan, dia akan naik ke atas. Bagi ruh orang-orang beriman Allah akan angkat sampai ke atas langit ke-7.

Oleh karena itu salah besar ketika orang begitu pedulinya dengan jasadnya, tapi dia lupakan ruhnya. Biarlah ruh/jasad/diri Anda tidak dikenal oleh penduduk bumi, selama anda dikenal oleh yang di langit Allah ‘Azza wa Jalla.

Ada kisah yang sangat baik sebagai renungan setiap orang. Bahwasanya penampilan ini bukanlah segala-galanya, tapi yang dilihat Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah apa yang bersarang dalam hati kita, apa yang bersarang dalam diri kita.

Suatu ketika ‘Umar bin Khattab Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu senantiasa mencari sosok manusia dari negeri Yaman yang bernama Uwais. Bahkan disebutkan 10 tahun ‘Umar mencari Uwais. Setiap datang utusan-utusan dari negeri Yaman sebagai bantuan bala tentara, senantiasa ‘Umar bin Khattab mencari: “Apakah di antara kalian Uwais?” sehingga tepat masanya suatu ketika disebutkan manusia ada Uwais. Allahu akbar.

Maka Uwais dipanggil oleh ‘Umar bin Khattab Amirul Mukminin. Uwais pun datang. Ketika itu ‘Umar bertanya: “Apakah engkau Uwais bin ‘Amir?” dan riwayat ini tersebut dalam shahih Muslim. Dia mengatakan: “Saya Uwais bin ‘Amir”. ‘Umar bertanya lagi, “Benar engkau dari Murod, dari Qarn?” Uwais menjawab, “Iya.”

Maka berkata ‘Umar:

فَاسْتَغْفِرْ لِ

“Mintakanlah kepada Allah ampunan untuk saya.” Allahu akbar..

Dia mengatakan: “Wahai ‘Amirul Mukminin, Anda lebih layak untuk mendoakan saya, siapa saya?” Kata ‘Umar: “Tidak, sungguh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah mengatakan kepada saya: “Akan datang kepada kalian bantuan dari negeri Yaman, di tengah-tengah mereka ada seorang pemuda yang begitu berbakti kepada ibunya. Pemuda tersebut bernama Uwais bin ‘Amir. Dari Murod, dari Qarn.”

‘Umar bertanya: “Bukankah engkau orangnya?” Uwais menjawab, “Iya wahai Amirul Mukminin.”

‘Umar bertanya: “Bukankah tubuhmu dulu semuanya terkena penyakit sopak?” Uwais menjawab, “Iya.”

‘Umar bertanya: “Bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala sembuhkan seluruh penyakit sopak yang terdapat dalam dirimu kecuali satu dirham?” Uwais menjawab, “Iya, benar”

‘Umar bertanya: “Bukankah engkau orang yang berbakti kepada ibumu?” Uwais menjawab, “Benar wahai Amirul Mukminin.”

‘Umar berkata: “Mintakanlah kepada Allah agar Allah mengampuni saya.”

Seketika Uwais meminta kepada Allah ‘Azza wa Jalla ampunan untuk ‘Umar. Kemudian berkata ‘Umar: “Wahai Uwais, sudikah kiranya jika aku tuliskan surat kepada Gubernurku di Kufah agar kepadamu kepadamu keistimewaan?”

Subhanallah, apa kata Uwais? “Wahai Amirul Mukminin, sungguh apabila aku ada di tengah-tengah manusia dan tidak dikenal/diketahui manusia, itu lebih aku cintai daripada aku dikenal manusia.”

Allahu akbar. Ini menggambarkan kepada kita Uwais bukan orang yang cinta dengan ketenaran, Uwais bukan orang cinta popularitas, Uwais tidak ingin dikenali di bumi, Uwais bukanlah orang yang sosoknya gagah dan tampan. Tapi ruhnya naik ke atas, ruhnya begitu mulia. Sehingga Rasulullah mengatakan:

إِنَّ خَيْرَ التَّابِعِينَ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ أُوَيْسٌ

“Sebaik-baik tabi’in adalah Uwais.” (HR. Muslim)

Subhanallah.. Suatu ketika ‘Umar bin Khattab Radhiyallahu Tabaraka wa Ta’ala ‘Anhu pernah menanyakan kepada penduduk Yaman: “Apakah di tengah-tengah kalian ada seseorang yang mengetahui Uwais?” Maka dicarilah ketika itu. Ada seseorang dari penduduk Yaman yang mengetahui Uwais, maka dia pun datang di hadapan Amirul Mukminin ‘Umar bin Khattab Radhiyallahu Tabaraka wa Ta’ala ‘Anhu wa Ardhah. Maka bertanya ‘Umar: “Apakah engkau mengenal Uwais?” Orang itu menjawab: “Wahai Amirul Mukminin, benar saya mengenal Uwais bin ‘Amir.”

‘Umar bertanya: “Bagaimana kau dapati dirinya?” Maka dijawab: “Wahai Amirul Mukminin, Uwais di tengah-tengah kami adalah bukan orang yang kaya, dia orang yang mempunyai sedikit perbendaharaan rumahnya (tidak ada apa-apa di rumahnya), dia tidak dikenal.”

Subhanallah.. Bahkan sebagian riwayat mengatakan bahwa Uwais adalah orang yang dilecehkan di negerinya. Orang-orang mencemooh, melecehkan dan menghinakan dirinya.

Berkata ‘Umar: “Sungguh Rasulullah mengatakan: ‘Akan datang dari tengah-tengah negeri Yaman seorang laki-laki bernama Uwais dari Murod, dari Qarn, sungguh andaikata dia bersumpah dengan nama Allah Subhanahu wa Ta’ala, Allah akan kabulkan sumpahnya. Mintalah kepadanya agar dia meminta kepada Allah ampunan untuk dirimu.'”

Seketika orang ini begitu kagum dengan Uwais. Segera dia pulang ke negeri Yaman. Setibanya di negeri Yaman, dia datangi Uwais dan dia katakan: “Wahai Uwais, mintalah kepada Allah agar Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni saya.”

Maka berkata Uwais: “Subhanallah, bukankah engkau baru pulang dari haji? Tentunya engkau membawa segala macam bentuk kebaikan. Engkau yang lebih layak meminta kepada Allah ampunan untuk saya.”

Orang itu mengatakan: “Tidak wahai Uwais, mintalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mengampuni saya.”

Maka Uwais berkata: “Apakah engkau pernah berjumpa dengan ‘Umar?” Dia katakan: “Iya, ‘Umar yang mengatakan kepada saya agar meminta dirimu meminta kepada Allah agar mengampuni saya.”

Apa yang terjadi setelah Uwais Al-Qarni diketahui di tengah-tengah masyarakat memiliki begitu besarnya kedudukannya di langit/di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala? Seketika esok harinya Uwais membawa perkakas rumah tangganya yang begitu sederhana dan ditinggalkan negeri tersebut, dia pergi ke negeri dimana orang-orang tidak mengetahuinya.

Sungguh Uwais adalah mutiara, dia tidak ingin dikenal, dia tidak ingin tenar. Tapi Allah kenalkan dia kepada kita.

Subhanallah. Betapa banyak orang-orang dalam hidup ini mencari popularitas, mencari ketenaran, mencari segala macam cara agar dia dikenal manusia. Dan sungguh berapa banyak orang-orang yang dikenal di bumi tidak dikenal di langit. Dan berapa banyak orang-orang tidak dikenal di bumi tapi dikenal di langit bahkan Allah kenalkan kepada kita Uwais.

Ini sebagai pelajaran kepada kita semua, bahwasanya tubuh kita ini bukanlah segalanya, pangkat dan jabatan bukanlah segalanya. Tapi ruh yang tempat bersarang padanya iman itulah segala-galanya. Karena itulah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan kepada kita:

إِنَّ الله لا يَنْظُرُ إِلى أَجْسامِكْم، وَلا إِلى صُوَرِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak pernah melihat kepada tubuh-tubuh kalian, tidak pula melihat kepada bentuk rupa kalian.”

وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Akan tetapi Allah melihat kepada hati-hati kalian dan amalan kalian.” (HR. Muslim)

Hati, bagian dalam tubuh kita, itulah inti dari segalanya. Ruh kita ini adalah inti segalanya. Oleh karena itu berusahalah kita memperbaiki hati kita, berusaha memperbaiki ruh kita dengan santapan ilmu, dengan santapan iman.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengenal kita di langit sekalipun orang-orang di bumi tidak ada yang mengenal kita.

Video Ceramah Singkat Artis di Langit

Sumber video: Yufid TV

Mari turut menyebarkan catatan kajian tentang “Artis di Langit” ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum..

Komentar

WORDPRESS: 0
DISQUS: