Ceramah Singkat: Mencintai Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Ceramah Singkat: Mencintai Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Jasa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dalam menebar/membawa hidayah untuk umat akhir zaman ini jauh lebih besar daripada jasa siapapun kepada kita.

Tulisan tentang “Mencintai Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam” ini adalah catatan faedah dari ceramah singkat yang dibawakan oleh Ustadz Anas Burhanuddin, M.A. Hafidzahullahu Ta’ala.

Transkrip Ceramah Singkat Tentang Mencintai Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أحَدُكُمْ، حتَّى أكُونَ أحَبَّ إلَيْهِ مِن والِدِهِ ووَلَدِهِ والنَّاسِ أجْمَعِينَ

“Tidaklah beriman seorang di antara kalian sampai dia mencintai aku lebih dari cintanya kepada anaknya, orang tuanya dan manusia semuanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Iman yang dinafikan dalam hadits ini adalah kesempurnaan iman. Artinya kalau ada seorang di antara kita yang masih mencintai orang lain lebih dari cintanya kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka dia tidak lantas kafir, tidak lantas keluar dari Islam, namun ia berdosa. Karena yang dinafikan adalah kesempurnaan iman yang wajib.

Jadi, wajib bagi setiap muslim untuk mencintai Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lebih dari cintanya kepada segala sesuatu dan kepada siapapun.

Dalam riwayat Al-Bukhari yang lain disebutkan bahwasanya ‘Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali dari diri saya sendiri.”

Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan: “Tidak wahai ‘Umar, demi Allah yang jiwaku berada di tanganNya sampai engkau menjadikan aku lebih engkau cintai dari segala sesuatu termasuk dari dirimu sendiri.” Maka ‘Umar bin Al-Khattab mengatakan: “Sekarang wahai Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu termasuk dari diriku sendiri.” Maka kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:

الآنَ يَا عُمَرُ

“Sekarang wahai ‘Umar baru benar.”

Hadits yang kedua ini menjelaskan bahwasanya yang dimaksud dengan cinta dalam hadits ini adalah cinta dalam arti yang sesungguhnya, bukan hanya sekedar pengagungan. Karena mengagungkan itu lebih mudah daripada mencintai. Dan ‘Umar bin Khattab tidak pernah mengagungkan diri beliau lebih daripada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Namun beliau sempat untuk mencintai diri beliau lebih dari cinta beliau kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Hal ini menjelaskan bahwasanya seorang sahabat sekaliber ‘Umar bin Khattab tidak mengetahui sebagian hukum Islam. Namun lihatlah bagaimana ketika beliau mengetahui bahwasanya hal ini adalah sebuah kewajiban. Saat itu juga beliau menyatakan bahwasanya beliau mencintai Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lebih dari cinta beliau kepada siapapun.

Dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam layak untuk dicintai lebih dari siapapun dan apapun. Karena faktor penyebab cinta seseorang kepada orang lain ada tiga:

  1. Faktor fisik/lahir. Misalnya karena parasnya yang menawan atau karena suaranya yang indah.
  2. Faktor batin /internal/inner beauty. Misalnya karena keshalihan seseorang atau tingginya ilmu yang dia miliki.
  3. Faktor jasa.

Ketiga faktor ini ada pada diri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan tingkatnya yang paling tinggi.

Jasa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam menebar/membawa hidayah untuk umat akhir zaman ini jauh lebih tinggi/lebih besar daripada jasa siapapun kepada kita. Bahkan jasa itu lebih besar daripada jasa ibu kita sendiri yang berbulan-bulan mengandung kita, susah payah mendidik kita dengan berbagai kenakalan kita. Tanpa pernah merasa capek, tanpa pernah merasa lelah, tanpa pernah mengharapkan jasa.

Kalau seandainya ibu kita telah memberikan cintanya dengan sepenuhnya, telah menjalankan tugasnya tanpa berkurang sesuatupun. Apalah artinya kalau ternyata di akhirat kita tidak masuk surga, kita tidak bisa mendapatkan kebahagiaan yang abadi di sana. Semua jasa itu akan menjadi sia-sia tidak ada artinya di akhirat.

Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah sebab yang telah Allah pilih agar kita bisa masuk surga, agar kita bisa merasakan kebahagiaan di alam keabadian.

Maka sudahkah Anda mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lebih dari cinta Anda kepada orang tua Anda, kepada anak Anda, kepada harta Anda yang paling mahal?

Anda tidak punya jawaban kecuali satu, yaitu mengatakan iya. Karena jawaban tidak membuat Anda jatuh dalam dosa. Jawabannya cuma satu. Kalau Anda sudah bisa mengatakan iya, alhamdulillah. Kalau belum, sadarilah itu adalah dosa dan menjadilah ‘Umar bin Khattab sekarang. Katakanlah: “Wahai Rasulullah, sekarang saya lebih mencintai engkau lebih dari cinta saya kepada siapapun.”

Demikian, jadikanlah cinta Anda kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai cinta yang paling besar. Dan dengan begitu InsyaAllah Anda akan dibangkitkan bersama beliau di akhirat nanti. Wallahu ta’ala a’lam.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

Video Ceramah Singkat: Cinta Sejati

Sumber video: Yufid TV

Mari turut menyebarkan catatan kajian tentang “Mencintai Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam” ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum..

Komentar

WORDPRESS: 0
DISQUS: