Ceramah Singkat Tentang Tips Amalan Ringan Pahala Besar

Ceramah Singkat Tentang Tips Amalan Ringan Pahala Besar

Berikut ini adalah pembahasan Ceramah Singkat Tentang Tips Amalan Ringan Pahala Besar yang kami catat dari ceramah singkat yang disampaikan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullahu Ta’ala.

Transkrip Materi Ceramah Singkat Tentang Tips Amalan Ringan Pahala Besar

الحمد لله ربّ العالمين، والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين، نبينا محمد وآله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين

امّا بعد

Akhi..

Di dalam kita beramal shalih, penting kiranya untuk mengetahui bagaimana dan apa amal-amal yang bisa menyebabkan suatu amal tersebut menjadi besar pahalanya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kalau kita lihat dan perhatikan, apabila seseorang pekerja kuli bangunan, ia bekerja dari jam 7 sore sampai jam 5 pagi, ia mengangkat pasir, ia mengangkat batu bata, begitu capeknya, tapi ternyata gajinya sehari mungkin Rp. 70.000,- sampai Rp. 100.000,-. Sementara si kontraktor yang hanya sebatas menyuruh, melarang, menganjurkan, tak banyak ia mengeluarkan tenaga, tapi ternyata gajinya jauh lebih besar daripada itu, hasilnya pun jauh lebih besar daripada para pekerja itu. Apa yang membedakannya? Yang membedakan adalah ilmu.

Maka dari itu seseorang yang beramal shalih pun demikian seharusnya. Ketika misalnya seseorang beramal dengan tanpa ilmu, yang dia inginkan adalah beramal, beramal, beramal, tanpa berpikir bagaimana saya bisa mendapatkan pahala yang besar. Tapi orang yang berilmu, dia berpikir bagaimana saya bisa mendapatkan sebesar-besarnya pahala dengan amal yang paling ringan.

Lalu bagaimana kiat-kiat agar kita bisa mendapatkan pahala besar dengan amal yang ringan?

1. Ikhlas

Yang pertama yaitu bahwa semakin ikhlas, maka semakin besar pahalanya. Bahkan semakin tidak ikhlas, semakin kecil pahalanya bahkan bisa jadi dia mendapatkan dosa.

Contoh misalnya ada dua orang shalat, yang satu ikhlas mengharapkan wajah Allah, yang kedua ternyata tidak ikhlas, dia mengharapkan wajah manusia. Maka yang satu dapat pahala dan yang satu dapat dosa. Karena keikhlasan tersebut.

2. Sesuai dengan contoh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Yang kedua yaitu semakin amalan tersebut sesuai dengan contoh Rasulullah, maka semakin besar pahalanya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebuah contoh misalnya, apabila dua orang shalat qobliyah subuh. Yang satu shalat qobliyahnya dipercepat, yang satu shalat qobliyah subuhnya diperlambat. Maka kita bertanya, mana yang lebih utama daripada dua orang ini? Jawabnya yang dipercepat itu lebih utama. Kenapa? Karena itu yang lebih sesuai dengan contoh dan praktek Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Baca Juga:  Materi Kultum Ramadhan: Kata-Kata Ramadhan Terakhir

Contoh lagi, ada dua orang wanita yang satu shalat di rumah yang satu shalat di masjid. Mungkin kalau ia pergi ke masjid lebih capek daripada shalat di rumah. Tapi mana yang lebih besar pahalanya? Tentu yang shalat di rumah lebih utama. Karena Rasulullah bersabda:

لَا تَمْنَعُوا إِمَاءَ اللَّهِ مَسَاجِدَ اللَّهِ ، وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ

“Jangan kalian mencegah para wanita untuk pergi ke masjid, dan rumah-rumah mereka lebih baik buat mereka.” (HR. Muslim)

Kata Rasulullah: “Rumah mereka lebih baik buat mereka.”

3. Yang lebih berat di hati

Kemudian di antara kiat agar kita bisa mendapatkan pahala lebih besar, yaitu bahwa suatu amal walaupun kecil tapi itu lebih berat di hati, itu bisa lebih besar pahalanya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebuah contoh, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

سَبَقَ دِرْهَمٌ مِائَةَ ألفِ دِرْهَم

“Satu dirham bisa mengalahkan seratus ribu dirham.” Subhanallah.

Lalu para sahabat bertanya: “Bagaimana bisa itu Wahai Rasulullah?”

Kata Rasulullah:

رَجُلٌ لَهُ مَالٌ كَثِيرٌ

“Ada orang yang punya harta melimpah ruah, banyak sekali.” Kemudian dia ambil 100.000 dirham dan dia infakkan. Sementara yang satu lagi -kata Rasulullah- hartanya hanya dua dirham, lalu dia ambil satu dirham dan ia infakkan. Maka yang satu dirham ini lebih besar pahalanya daripada 100.000 dirham. Kenapa demikian? Coba bayangkan, kalau kita punya uang satu miliar, untuk berinfak satu juta tentu mudah sekali. Tapi kalau uang kita hanya Rp. 200.000, untuk berinfak Rp. 50.000 terkadang kita mikir-mikir.

Ini menunjukkan bahwa semakin besar perjuangan kita di dalam melakukan suatu ibadah, semakin besar pahalanya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

4. Yang lebih berkesan di hati

Di antara kiat agar mendapatkan pahala yang besar yaitu ibadah yang lebih berkesan dan mengokohkan hati, itu lebih utama. Imam Ahmad pernah ditanya tentang amal apa yang paling utama wahai Abu Abdillah? Kata Imam Ahmad: “Coba kamu lihat, mana yang lebih berkesan di hati kamu, maka itulah yang paling utama.”

Ada orang berdzikir, yang satu baca Qur’an, yang satu membaca “Subhanallah, Alhamdulillah, Laa Ilaaha Illallah, Allahu Akbar“. Pada asalnya membaca Al-Qur’an adalah dzikir yang paling utama. Tapi suatu keadaan misalnya kalau dia baca Qur’an dia kok kurang khusyu’, tapi kalau dia membaca “Subhanallah, Alhamdulillah, Laa Ilaaha Illallah, Allahu Akbar” ternyata dia lebih khusyu’, lebih mengena di hati, maka pada waktu itu, membaca “Subhanallah, Alhamdulillah, Laa Ilaaha Illallah, Allahu Akbar” lebih utama daripada membaca Al-Qur’an walaupun pada asalnya membaca Al-Qur’an lebih utama daripada membaca dzikir-dzikir tersebut.

Baca Juga:  Cara Menghilangkan Rasa Malas Ibadah: Paksa Hatimu Beramal

5. Perhatikan hukum-hukumnya

Di antara kiat agar kita bisa mendapatkan pahala yang jauh lebih besar, yaitu kita hendaknya memperhatikan hukum-hukumnya. Misalnya yang satu wajib yang satu sunnah, jangan kita dahulukan yang sunnah sehingga akhirnya melalaikan yang wajib. Tapi hendaknya yang wajib kita dahulukan daripada yang sunnah. Kalau ternyata bertemu dua kewajiban, kita lihat mana yang lebih besar maslahatnya.

Demikian kita beramal, supaya kita bisa mendapatkan pahala yang lebih besar. Tertipu ya akhi, ketika ada seseorang disibukkan dengan yang sunnah lalu dia tinggalkan yang lebih wajib dari itu.

Ada seorang wanita, dia membela-bela dzikir pagi dan petang. Tapi ia lalaikan suaminya, ia lalaikan anaknya, padahal seorang wanita lebih wajib untuk melayani suaminya. Maka kita katakan orang ini tertipu. Kenapa demikian? Karena ia mendahulukan yang sunnah, tapi melalaikan yang wajib. Ini perkara yang tidak diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kenapa? Karena yang wajib lebih utama disisi Allah. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman dalam hadits Qudsi:

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ

Tidaklah seorang hamba bertaqarrub kepadaKu dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari apa yang Aku wajibkan kepadanya.” (HR. Bukhari)

Ingat, yang wajib harus kita lebih dahulukan daripada yang sunnah. Maka ketika kita beramal atau dihadapkan pada dua amal, perhatikan mana yang wajib, mana yang sunnah, supaya kita tidak tertipu.

6. Perhatikan waktu dan tempat beramal

Kemudian penting untuk melihat waktu-waktu yang utama dan tempat-tempat yang utama. Kenapa? Karena suatu amal apabila bertepatan dengan waktu yang utama, maka pahalanya jauh lebih besar. Contoh waktu utama misalnya 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Kata Rasulullah:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ

“Tidak ada hari-hari yang amalan shalih lebih dicintai oleh Allah dari pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah ini.” (HR. Abu Dawud)

Maka di waktu itu, amal shalih menjadi sangat besar.

Demikian pula di bulan Ramadhan, bahkan di bulan Ramadhan pahalanya sangat besar. Demikian pula di waktu-waktu utama. Di tempat yang utama, di Mekkah, di Madinah, jelas shalat di sana lebih dibandingkan dengan tempat-tempat yang lainnya.

Baca Juga:  Ceramah Singkat Tentang Poligami Yang Gagal

Inilah saudaraku.. Kita penting di sini di dalam beramal shalih untuk memperhatikan waktu-waktu yang utama, tempat-tempat yang utama atau keadaan-keadaan yang menjadikan amalan tersebut lebih dicintai oleh Allah sehingga lebih besar pahalanya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

7. Apa yang paling utama dari amalan kita?

Kemudian yang terakhir, yaitu kita berusaha untuk mencari amalan yang paling utama dan yang paling utama dari amal. Contoh misalnya, ketika adzan dikumandangkan, maka shalat lima waktu itu yang paling utama. Tapi kita berpikir, apa yang paling utama dari shalat lima waktu? Ternyata untuk laki-laki shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian, cari yang lebih utama.

Shalat berjamaah yang paling utama yang seperti apa? Di shaf yang pertama lebih baik daripada shaf di belakang. Untuk wanita, yang paling utama shalat di mana? Di rumah. Thayyib, di rumah yang paling utama seperti apa? Kata Rasulullah:

صَلاَةُ الْمَرْأَةِ فِى بَيْتِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى حُجْرَتِهَا

“Shalatnya seorang wanita di kamar tidurnya lebih utama daripada shalatnya seorang wanita di bagian-bagian tempat lain dari rumahnya.” (HR. Abu Dawus)

Semakin tersembunyi, semakin besar pahalanya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kita mau berpuasa, puasa apa yang paling utama? Coba kita lihat dari setiap amal, apa yang paling utama dari amalan-amalan kita?

Maka dengan seperti ini, kita bisa memanage pahala kita. Ini merupakan bagaimana kita diuji dalam beramal shalih. Semoga kita termasuk orang-orang yang diberikan kefakihan di dalam beramal shalih, bukan hanya sebatas semangat beramal shalih tanpa menimbang mana yang lebih besar dan yang lebih kecil dan kemudian kita pun bisa mendapatkan pahala yang besar dengan amalan yang ringan.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنْتَ ، أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إلَيْكَ
وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Video Materi Ceramah Singkat Tentang Tips Amalan Ringan Pahala Besar

Sumber video: Yufid TV – Ceramah Singkat: TipsUntuk Mendapatkan Pahala Besar – Ustadz Badrusalam, Lc.

Mari turut menyebarkan link Ceramah Singkat Tentang Tips Amalan Ringan Pahala Besar di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum..

COMMENTS

Saudaraku, silahkan login atau daftar terlebih dahulu ya. Barakallahu fiik.
%d blogger menyukai ini: