Hadits Tentang Waktu, Tinggalkan Yang Tidak Bermanfaat Bagimu

Hadits Tentang Waktu, Tinggalkan Yang Tidak Bermanfaat Bagimu

Transkrip kajian hadits tentang waktu, tinggalkan yang tidak bermanfaat bagimu ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A. Hafidzahullah.

Lomba #NyatetKajian Berhadiah
Buat kamu yang suka dengerin dan nyatet kajian, yuk ikuti Lomba Nyatet Kajian Periode Syawal 1441 H (ngaji.id/klik/62)

Mukaddimah Kajian Hadits Tentang Waktu, Tinggalkan Yang Tidak Bermanfaat Bagimu

Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan banyak memuji kepada Allah. Pada pagi hari ini Allah Subhanahu wa Ta’ala masih memberikan kesempatan dan kesehatan kepada saya dan juga para jamaah sekalian untuk bersama-sama melaksanakan salah satu diantara kewajiban kita sebagai seorang muslim, yaitu melakukan shalat subuh. Alhamdulillah bisa dilaksanakan dengan berjamaah.

Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima amal ibadah ini dan menerima seluruh amal ibadah yang kita lakukan meskipun dengan kekurangan yang kita miliki. Dan semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan amal shalih ini semua sebagai hasanah dan tambahan kebaikan dan bekal kita menuju Allah ‘Azza wa Jalla.

Tidak lupa shalawat dan salam, semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang diutus kepada manusia untuk memberikan kabar gembira dan juga memberikan peringatan, diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Dan beliau adalah Rasul yang terakhir, tidak ada Rasul setelah beliau. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita termasuk umat beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang konsekuen dengan syariat beliau, rela untuk menghidupkan sunnah beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengumpulkan kita semuanya bersama beliau dalam surgaNya.

Shalawat dan salam juga untuk para sahabat dan juga untuk para keluarga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, para ahlul bait, dan juga orang-orang yang mereka, mengikuti pemahaman mereka di dalam beragama, mengikuti mereka dengan baik di dalam masalah aqidah, didalam masakah ibadah, didalam masalah muamalah, didalam masalah akhlak, didalam masalah keikhlasan, didalam masalah mutabaah. Semoga shalawat dan salam atas mereka juga sampai hari kiamat.

Kita ingin duduk sebentar bersama-sama mempelajari satu diantara hadits- hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kita tahu bahwasannya sumber agama kita, apabila ktita berpegang teguh dengan sumber tadi, maka kita tidak akan tersesat. Sebagaimana dalam hadits:

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا

“Aku tinggalkan di antara kalian dua perkara. Kalian tidak akan tersesat selama kalian masih berpegang teguh dengan keduanya.”

Beliau mengatakan:

كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

Kitabullah (Al-Qur’an), barangsiapa yang mempelajarinya, memahami isinya, berpegang teguh dengan isinya, maka dia tidak akan tersesat. Di dalamnya adalah petunjuk, cahaya. Kemudian yang kedua adalah sunnah RasulNya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Barangsiapa yang memegang ucapan dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka dia tidak akan tersesat. Ini adalah petunjuk bagi kita didalam kehidupan kita di dunia ini.

Di antara hadits tersebut adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan juga yang lain. Dan dia adalah hadits yang dihukumi oleh Syaikh Al-Albani Rahimahullah shahih lighairihi dan At-Tirmidzi menghasankan.

Dan hadits ini disebutkan oleh Al-Imam An-Nawawi Rahimahullah di dalam kitab beliau Al-Arbain An-nawawiyah. Sebuah kitab dimana pengarangnya yaitu Al-Imam An-Nawawi mengumpulkan di dalam kitab ini 42 hadits yang menurut beliau 42 hadits ini adalah Islam berkumpul pada 42 hadits ini. Mengumpulkan pokok-pokok agama ini. Makanya orang kalau ingin mempelajari lebih dalam agama Islam dan dia adalah seorang penuntut ilmu, para ulama menasihatkan hendaklah dia menghafal kitab Al-Arbain An-Nawawiyah yang isinya adalah 42 hadits, dan bukan hadits-hadits yang panjang. Hadits-haditsnya adalah jawami’ul kalim (pendek tetapi memiliki makna yang banyak). Dan sampai sekarang para ulama menasehatkan murid-muridnya, para santrinya, untuk menghafalkan hadits ini. Didalamnya ada masalah aqidah, ada masalah akhlak, ada masalah adab, ada masalah muamalah. Maka diharapkan orang yang memulai menuntut ilmu dengan mempelajari hadits-hadits yang ada didalam Al-Arbain An-Nawawiyah, dengan mudah dia mempelajari ilmu yang ada didalam agama ini.

Dan ini adalah silsilah (rantai) penjelasan tentang hadits-hadits Al-Arbain An-Nawawiyah ana sampaikan ketika melakukan Safari dakwah seperti ini, minimal disana ada satu hadits yang kita ambil dari Al-Arbain An-Nawawiyah dan ini adalah hadits yang ke-12.

Syarah Hadits Arbain Nawawi Ke-12

Al-Imam An-Nawawi Rahimahullah mengatakan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ المَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ

Abu Hurairah (08:01)

Dan Abu Hurairah ini adalah sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang paling banyak haditsnya meskipun beliau termasuk orang yang terakhir-terakhir masuk kedalam agama Islam. Karena baru masuk kedalam agama Islam setelah perang khaibar dan tidak bertemu dengan Nabi Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam kecuali beberapa tahun saja. Berbeda dengan Abu Bakar, Umar, Utsman juga yang lain. Namun Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan keutamaan bagi siapa yang dikehendaki. Abu Hurairah adalah orang yang paling banyak haditsnya dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan diantara sebabnya:

  • Karena doa yang baik dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk Abu Hurairah sehingga setiap hadits yang beliau dengar dia tidak pernah lupa.
  • Karena Abu Hurairah ini termasuk orang yang sering melazimi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Karena beliau adalah termasuk Muhajir yang berhijrah ke Kota Madinah, termasuk orang yang miskin, dia tidak memiliki tempat tinggal kecuali di Masjid Nabawi. Dia termasuk Ahlus Shuffah. Tidak ada kesibukan yang banyak kecuali berada di dalam masjid mendengarkan petuah dan hadits- hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sehingga tidak heran apabila beliau banyak menghafal hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, secara mutlak. Lebih banyak daripada para sahabat yang lain. Dan ini adalah keutamaan dari Allah yang Allah berikan kepada siapa yang Allah kehendaki.

Di antara haditsnya adalah hadits ini. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ المَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ

“Diantara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang bukan kepentingan dia.” (HR. Tirmidzi)

Keagungan Hadits

Para ulama menjelaskan bahwasanya hadits ini adalah termasuk pokok di antara pokok-pokok adab. Dan dia adalah termasuk jawami’ul kalim (ucapan yang Allah berikan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang sangat ringkas tetapi mengandung makna yang luas). Rata-rata santri, para ulama, para asatidzah, hafal yang demikian. Tidak membutuhkan waktu untuk menhafal, tapi ternyata dia memiliki makna yang luas, makna yang dalam.

Berkata Ibnu Rajab Rahimahullah bahwa hadits ini adalah termasuk pondasi diantara pondasi-pondasi adab. Orang kalau ingin memiliki adab yang baik di dalam agama -di sisi Allah, bukan di sisi manusia- maka hendaklah dia memperhatikan hadits ini.

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ المَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ

“Termasuk kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang dia tidak punya kepentingan didalamnya.”

Berkata Hamzah Al-Kinani, bahwa hadits ini adalah sepertiga dari Islam. Ini menunjukkan tentang kedudukan hadits ini.

Berkata Ibnu Abdil Barr, bahwa ucapan beliau ini Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah termasuk ucapan yang menyeluruh terhadap makna-makna yang banyak yang sangat besar. Didalam lafadz yang kecil, lafadz yang sedikit, dan dia termasuk ucapan yang tidak pernah diucapkan oleh seorang pun sebelum Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Berkata Ibnu Hajar Al-Haitami, bahwa hadits ini adalah seperempat dari Islam sebagaimana diucapkan oleh Abu Dawud. Dan Aku (Ibnu Hajar) katakan bahkan ini adalah saparuh dari Islam, bahkan ia adalah Islam seluruhnya.

Ini menunjukkan tentang ketinggian dan besarnya kedudukan hadits ini dalam agama ini. Sampai beliau mengatakan bahwa Islam semuanya terkumpul di dalam hadits ini. Nanti akan disebutkan bahwasannya apa yang menjadi kepentingan kita sebagai seorang manusia? Yaitu yang terpenting bagi kita adalah melaksanakan syariat Allah. Dan syariat Allah disitu ada:

  • melaksanakan kewajiban,
  • meninggalkan larangan,
  • meninggalkan perkara yang diharamkan,
  • menyakini yang mubah itu sebagai sesuatu yang mubah,
  • melaksanakan sesuatu yang mustahab, yang disunnahkan.

Ini semuanya adalah masuk di dalam agama Islam dan semuanya adalah penting bagi diri kita. Itu termasuk kepentingan kita sebagai seorang manusia, sebagai seorang hamba Allah. Makanya tidak heran apabila beliau mengatakan bahwa hadits ini adalah seluruh Islam semuanya. Makanya dimasukkan oleh Al-Imam An-Nawawi didalam Arbain Nawawiyah ini.

Berkata Ash-Shan’ani, bahwa hadits ini termasuk jawami’ul kalim an-nabawiyyah, mencakup seluruh ucapan dan seluruh perbuatan.

Ucapan para ulama dari dahulu sampai sekarang yang menunjukkan tentang keagungan hadits yang kita pelajari ini.

Penjelasan Hadits Tinggalkan Yang Tidak Bermanfaat Bagimu

Termasuk kebaikan Islam seseorang

Ucapan beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Termasuk kebaikan Islam seseorang” Maksudnya adalah termasuk kesempurnaan Islam seseorang. Kita tahu bahwasanya makna Islam artinya adalah menyerahkan diri, pasrah kepada Allah. Kita serahkan hidup kita, kita serahkan kematian kita, kita serahkan usia, kita serahkan apa yang kita miliki berupa harta, berupa fisik kita, kekuatan kita, hanya kepada Allah Sbhanahu wa Ta’ala. Pasrah total hanya kepada Allah. Siap, mau diperintahkan apa oleh Allah, mau dilarang apa saja oleh Allah, maka kita pasrah. Ini adalah muslim.

Baca Juga:  Hadits Menyegerakan Berbuka Puasa

Seorang muslim adalah menyerahkan dirinya hanya kepada Allah, baik ibadahnya, gerak-geriknya, usianya, hartanya, manut dan nurut dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Disuruh untuk mengeluarkan zakat, maka dia mengeluarkan zakat. Ini adalah milik Allah, hanya titipan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Disuruh menggunakan sebagian waktunya untuk beribadah, shalat berjamaah di Masjid, maka dia mendengar dan taat karena ini adalah bagian dari menyerahkan diri kepada Allah. Dilarang untuk meninggalkan kemaksiatan, maka mendengar dan taat kepada Allah. Inilah muslim.

Semakin tinggi keislaman seseorang, maka akan semakin dia menjalankan perintah, semakin dia jauh dari apa yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Termasuk diantaranya menunjukkan tentang bagusnya seorang muslim, bagusnya keislaman dia, tingginya pemahaman dia terhadap agama yang dia anut adalah seseorang meninggalkan apa yang dia tidak memiliki kepentingan didalamnya.

تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ

Dia meninggalkan sesuatu yang tidak ada kepentingan didalamnya. Dan akan kita sebutkan apa saja yang termasuk sesuatu yang kita punya kepentingan didalamnya dan apa yang bukan.

Makna يَعْنِيْهِ

Maksudnya adalah apa yang dia ada kepentingan didalamnya. Kalau مَا لاَ يَعْنِيْهِ (sesuatu yang dia tidak memiliki kepentingan didalamnya).

Ucapan beliau “dia meninggalkan sesuatu yang dia tidak memiliki kepentingan didalamnya”. مَا (sesuatu) di sini mencakup ucapan maupun perbuatan. Disana ada ucapan yang penting bagi, kita punya kepentingan didalamnya, ada faedahnya dan juga ada manfaatnya. Baik ucapan dunia maupun ucapan yang berkaitan dengan akhirat atau agama seperti dzikir, membaca Al-Qur’an. Demikian pula mencakup perbuatan. Baik berupa perkara dunia maupun perkara agama. Maka ini semuanya ada didalam kalimat مَا.

20:50 Waktu yang Allah berikan di dunia ini terlalu mahal. Maka orang yang rugi adalah orang yang tidak bisa memanfaatkan waktunya.

وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾

Demi waktu, sesungguhnya manusia dalam kerugian (tidak bisa memanfaatkan waktunya dengan baik).

Bahkan orang yang menggunakan waktunya untuk perkara yang mubah, dia tetap rugi. Orang yang beruntung adalah didalam ayat ini:

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ﴿٣﴾

Kecuali orang yang beriman, beramal shalih, saling mewasiati dalam kebenaran, saling mewasiati dalam kesabaran.” (QS. Al-Ashr[103]: 3)

Ini orang yang beruntung, selainnya rugi. Termasuk orang yang menggunakan untuk perkara yang mubah, perkara yang boleh. Seharusnya dia bisa niatkan untuk beramal shalih kalau dia niatnya lurus.

22:00 Orang yang niatnya benar, bisa menjadikan amal yang asalnya boleh menjadi berpahala. Misalnya antum tadi malam tidur. Niatnya sebelum tidur, “Ya Allah, saya ingin bisa bangun malam. sekarang istirahat biar nanti bangun malamnya tidak ngantuk, semangat untuk bangun malam kemudian melakukan shalat subuh berjamaah.” Kalau niat tidurnya demikian, dapat pahala.

Siapa di antara kita yang demikian? Rata-rata tidur begitu saja karena capek, dia lupa tidak meniatkan tidurnya untuk perkara yang baik.

Makan dan juga minum. Kalau dia niatnya, “Ya Allah saya memakan satu suap dua suap ini adalah supaya nanti saya kuat untuk beribada” Dia dapat pahala.

Terkadang seseorang duduk bersama-sama dalam satu meja makan. Tapi orang yang berilmu, dia makan dan dia mendapatkan pahala. Adapun orang yang tidak berilmu maka dia makan sebagaimana yang lain, hanya sekedar menikmati makanan dan tidak ada niat didalamnya untuk takwa didalam ibadahnya. Maka tentunya orang yang beruntung adalah yang bisa memanfaatkan waktu dengan baik.

Kita di dunia ini, banyak perkara-perkara yang kita tidak punya kepentingan didalamnya. Maka seorang muslim tentunya sangat sayang dengan waktunya. Kalau sudah meninggal dunia, sudah habis waktunya, sudah tidak bisa kembali lagi kesini. Maka dia berusaha bagaimana di dunia ini melakukan perkara-perkara yang dia ada kepentingan didalamnya, bermanfaat bagi dia. Terutama terhadap kehidupan akhirat.

1. Menjaga Ucapan atau Pandangan

Masuk didalam kalimat “segala sesuatu yang tidak ada kepentingannya” baik itu berupa ucapan atau berupa pandangan. Jadi memandang pun ada sesuatu yang memang penting bagi kita dan ada yang tidak penting. Maka termasuk kebaikan Islam seseorang adalah memandang sesuatu yang memang dia ada kepentingannya.

Makanya para ulama -kalau antum bertemu dengan mereka- mereka sangat menjaga pandangannya bahkan dalam perkara yang mubah. Mereka tidak menoleh ke kiri atau kekanan kecuali memang ada maslahatnya disitu. Disitu mereka bermuamalah dengan Allah. Ini adalah pandangan Allah yang memberikan, pandangan/penglihatan Allah yang memberikan. Dia berusaha bagaimana pandangan ini sesuai dengan keridhaan Allah. Tidak memandang kecuali yang disitu dia perlu untuk memandangnya.

2. Menjaga Pendengaran

Kita menjaga pendengaran kita. Mendengarkan sesuatu yang memang ada kepentingannya kita didalamnya. Adapun yang tidak ada kepentingannya, maka ini menyia-nyiakan waktu.

3. Menyentuh

Demikian pula menyentuh, termasuk menyentuh dengan tangan. Para ulama, orang-orang yang shalih juga berhati-hati. Mereka tidak menyentuh kecuali memang disitu ada keperluan.

Berjalan juga demikian, memikirkan sesuatu juga mereka memilih mana yang ada kepentingan dan mana yang tidak. Dan seluruh gerak-gerik mereka, kaki mereka, wajah mereka, ucapan mereka, mereka berpikir “disini ada faedahnya atau tidak, penting atau tidak bagi saya?”. Maka ini semakin tinggi keislaman seseorang maka akan mencapai derajat ini.

Makanya para ulama, orang-orang yang shalih, mereka berbeda dengan kita. Mulai dari pandangannya, mulai dari gerak-gerik mereka, mulai dari ucapan mereka. Karena disini mereka bermuamalah dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan semakin baik keislaman seseorang, maka semakin dia menjaga gerak-geriknya, semakin dia menjaga waktunya.

Ucapan para Salaf terkait hadits

26:42 Disebutkan disini sebagian ucapan para Salaf yang berkaitan dengan hadits ini.

Berkata Al-Hasan Al-Bashri:

علامة إعراض الله تعالى عن العبد أن يجعل شغله فيما لا يعنيه

“Tanda bahwasannya Allah sudah berpaling dari seseorang adalah Allah menjadikan kesibukan dia didalam perkara yang tidak bermanfaat.”

Hati-hati! Itu baru perkara yang tidak bermanfaat, lalu bagaimana apabila dijadikan amalan kita didalam perkara yang memudharati kita. Seperti perkara yang diharamkan, maksiat, dan demikian juga dosa.

Maka seseorang menanyakan kepada dirinya, waktu yang Allah berikan ini untuk apa dia gunakan? Didalam perkara yang dia ada kepentingannya atau tidak? Karena termasuk tanda Allah sudah berpaling dari seseorang adalah dijadikan amalan dia didalam perkara yang tidak bermanfaat bagi dirinya.

Ma’ruf Al-Khurkhi mengatakan:

كلام العبد فيما لا يعنيه خذلان من الله

“Ucapan seseorang mengucapkan sesuatu yang dia tidak ada kepentingannya, ini adalah kehinaan dari Allah.”

Allah berarti menghinakan dirinya. Dijadikan dia mengucapkan sesuatu yang dia tidak ada kepentingan didalamnya.

Tentunya dalam tingkat yang tinggi didalam keislaman seseorang, dikatakan kepada Lukman, beliau ditanya, “Bagaimana engkau bisa mendapatkan keutamaan seperti ini (menjadi seorang yang bijaksana, seorang yang hakim, memiliki keutamaan yang besar)?” Maka Lukman Al-Hakim mengatakan:

صدّق الحديث وأداء الأمانة. وترك ما لا يعنينى

“Aku bisa mendapatkan keutamaan seperti ini karena aku menjaga ucapan, jujur dalam ucapan dan dalam melaksanakan amanah dan aku meninggalkan perkara yang tidak ada kepentingan bagi diriku.”

Berkata Al-Imam Asy-Syafi’i:

ثلاثة تزيد في العقل: مجالسة العلماء ومجالسة الصالحين وترك الكلام فيما لا يعني

“Tiga perkara yang akan menambah akal seseorang (sehingga menjadi orang yang berakal, bijaksana): Bermajelis kepada para ulama (ini menambah akal seseorang, karena para ulama berbicara dengan dalil, berbicara dengan akal), bermajelis dengan orang-orang yang shalih, dan meninggalkan ucapan yang seseorang yang tidak ada kepentingan didalamnya.”

Berkata Muhammad Ibnu Ajlan:

إنما الكلام أربعة: أن تذكر الله، وتقرأ القرآن، وتسأل عن علم فتخبر به، أو تكلم فيما يعنيك من أمر دنياك.

“Ucapan itu diucapkan seseorang ada empat perkara; (1) kita mengingat Allah (mengatakan tasbih, tahmid, maka ini adalah ucapan yang penting bagi kita), (2) membaca Al-Qur’an, (3) bertanya tentang ilmu (tidak tahu, bertanya kepada orang lain. maka ini termasuk ucapan yang baik), (4) engkau berbicara didalam sesuatu yang memang engkau memiliki kepentingan didalamnya diantara urusan-urusan dunia (kalau memang antum harus berbicara dan kalau tidak bicara maka tidak baik dan disana ada maslahat yang hilang, maka silakan kita berbicara yang berkaitan dengan dunia kita, tidak masalah.)”

Berkata Ibnu Taimiyyah:

ولا سيما كثرة الفضول فيما ليس بالمرء إليه حاجة من أمر دين غيره ودنياه.

“Termasuk perkara yang tidak ada kepentingan adalah perkara-perkara tambahan yang tidak ada faedahnya yang kita tidak memerlukannya seperti urusan orang lain baik urusan agamanya maupun urusan dunianya.”

Berkata Syaikh Abdurrahman As-Sadi:

إن من لم يترك ما لا يعنيه، فإنه مسيء في إسلامه

“Sesunggunya barangsiapa yang tidak meninggalkan sesuatu yang dia tidak berkepentingan didalamnya, maka dia telah berbuat jelek didalam Islamnya.”

Ini adalah beberapa ucapan dari para ulama dan juga para Salaf yang menunjukkan tentang hadits ini dan bahwasannya keislaman seseorang baik atau tidaknya dilihat dari apakah dia meninggalkan sesuatu yang tidak ada kepentingan bagi dirinya atau tidak.

Baca Juga:  Ceramah Tentang Bulan Ramadhan Penuh Berkah Beserta Dalil Shahih

Ibnu Rajab Rahimahullah di dalam kitab Jami’ul Ulum wal Hikam. Kitab ini juga membahas tentang penjelasan dari 42 hadits yang disebutkan oleh Imam Nawawi ditambah 8 hadits dari Ibnu Rajab. Jadi seluruhnya ada 50 hadits. Dan Ibnu Rajab ini adalah murid dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

Beliau menjelaskan bahwasannya makna dari hadits ini bahwa orang yang baik Islamnya maka dia akan meninggalkan perkara yang tidak ada kepentingan baginya baik berupa ucapan maupun perbuatan. Dan dia akan mencukupkan dengan ucapan dan juga perbuatan yang disitu ada kepentingan bagi dirinya.

Perkara Yang Termasuk Kepentingan Bagi Seseorang

Kemudian beliau (Ibnu Rajab) menjelaskan, perkara yang termasuk kepentingan bagi seseorang.

“Karena sesungguhnya Islam mengharuskan melakukan perkara yang diwajibkan” Berarti ini adalah termasuk perkara yang kita ada kepentingan didalamnya. Melaksanakan kewajiban termasuk perkara yang kita ada kepentingan didalamnya.

“Termasuk diantara Islam yang sempurna -masuk didalamnya- meninggalkan perkara yang diharamkan (kata beliau).” Ini juga termasuk yang seseorang memiliki kepentingan didalam.

“Apabila Islam seseorang semakin baik, maka ini mengharuskan dia meninggalkan segala sesuatu yang tidak ada kepentingan didalamnya seperti perkara yang diharamkan, perkara-perkara yang samar (kita ragu-ragu apakah ini haram atau halal, boleh atau tidak).” Maka termasuk kepentingan kita meninggalkan perkara yang samar ini. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ، اِسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ

“Barangsiapa yang meninggalkan perkara yang samar, sungguh dia telah membersihkan agamanya dan kehormatannya.” (HR. Bukhari Muslim)

Kalau kita ragu-ragu ini halal atau haram kemudian kita tinggalkan, agama kita bersih dari seorang melakukannya dan ragu-ragu. Cari perkara-perkara lebih jelas. Dan kalau dia meninggalkan perkara yang disamarkan, maka dia akan membersihkan kehormatannya. Orang tidak akan berbicara apa-apa sama antum. Tapi kalau kita melakukan perkara yang samar kemudian ada orang lain yang melihat yang dia beranggapan bahwa ini adalah perkara yang diharamkan, maka akan jelek kehormatan kita. Kalau kita tinggalkan, agama kita bersih dan kehormatan kita akan bersih.

“Termasuk diantara yang harus kita tinggalkan adalah perkara yang dimakruhkan.” Baik berupa makanan atau berupa perbuatan.

Termasuk diantaranya yang kita tidak berkepentingan didalamnya adalah tambahan-tambahan dari perkara yang mubah (diperbolehkan). Termasuk makanan, tidak boleh berlebihan. Kita memakan sesuatu yang memang penting bagi kita. Minum juga demikian, pakaian juga demikian, kendaraan juga demikian, tempat tinggal juga demikian. Meninggalkan perkara-perkara tambahan-tambahan dari yang harus.

Maka ini adalah usaha seorang muslim untuk menjaga waktunya, meninggalkan perkara-perkara yang dia tidak ada kepentingan didalamnya.

Faidah-faidah hadits

1. Mengajak kepada akhlak mulia

Hadits ini mengajak kita kepada akhlak yang mulia didalam agama ini, mengajak kepada kesempurnaan iman dan juga Islam. Jadi bukan berarti orang yang melakukan perkara yang dia tidak ada kepentingannya berarti dia keluar dari agama Islam, tidak. Ini berbicara tentang kesempurnaan iman dan juga Islam. Kesempurnaannya adalah meninggalkan sesuatu yang tidak ada faedahnya. Dan diantara yang masuk dalam masalah ini adalah menjaga lisan, menjaga ucapan, dari ucapan-ucapan yang sia-sia. Berarti ini adalah termasuk pelaksanaan dari hadits ini. Dan dalam hadits yang lain Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia mengucapkan ucapan yang baik, kalau tidak maka dia diam.”

Diantara faedah pelajaran yang bisa kita ambil dari hadits ini:

2. Tingkatan kaum muslimin

Hadits ini menjelaskan kaum muslimin didalam berpegang teguhnya mereka terhadap agama ini bertingkat-tingkat. Ada diantara mereka yang baik Islamnya. Diantara ciri-cirinya adalah meninggalkan perkara yang dia tidak ada kepentingan didalamnya. Dan ada diantara mereka yang jelek Islamnya.

Maka disana ada perkara-perkara yang menunjukkan baiknya Islam seseorang. Diantaranya adalah jujur, menjaga waktunya, menjaga kehormatan, bersungguh-sungguh didalam taat kepada Allah, melaksanakan amanah yang diberikan, baik amanah didalam pekerjaan ataupun amanah-amanah yang lain.

Dan termasuk jeleknya Islam seseorang apabila ia berdusta, berbohong kepada orang lain, berkhianat ketika diberikan amanah, terang-terangan didalam melakukan kemaksiatan. Termasuk jeleknya Islam seseorang ketika dia menyia-nyiakan kewajiban yang sudah Allah wajibkan kepada dirinya.

Maka hadits ini menunjukkan bahwasanya kaum muslimin ini bertingkat-tingkat. Ada diantara mereka yang baik Islamnya dan ada diantara mereka yang kurang keislamannya.

3. Pentingnya waktu

Didalam hadits ini ada isyarat tentang pentingnya waktu dan isyarat menggunakan waktu yang sedikit ini didalam kebaikan. Dan sebaliknya, orang yang menggunakan waktu ini didalam perkara yang tidak ada manfaatnya, maka ini adalah menyanyikan-nyiakan waktu, apalagi digunakan untuk kemaksiatan.

Dan banyak sekali orang yang tidak bisa memanfaatkan waktu ini dan mungkin kita termasuk mereka. Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ

Dua nikmat dimana manusia banyak yang tertipu, banyak yang tidak bisa memanfaatkan dengan baik dua nikmati ini; yang pertama adalah nikmat kesehatan. Banyak di antara kita ketika dia dalam keadaan sehat, tidak ada keluhan dalam jantungnya, dalam nafasnya, dalam darahnya, tidak menggunakan kesempatan ini untuk kebaikan, tidak mau menghadiri majelis ilmu, tidak digunakan untuk menghadiri shalat berjamaah, tidak digunakan untuk amal shalih, justru digunakan kesehatan tadi dalam perkara yang tidak ada manfaatnya atau didalam kemaksiatan. Padahal yang namanya amal shalih ini perlu kesehatan, perlu badan yang sehat. Makanya jaga kesehatan, diantaranya adalah menjaga makanan, olahraga, gerak. Tujuannya adalah supaya kita bisa kuat didalam melakukan ibadah, bisa beramal shalih, bisa menuntut ilmu dengan baik. Ketika seseorang sakit, baru dia merasakan nikmatnya seandainya kemarin saya dalam keadaan sehat. Barulah dia menyesal, sekarang sudah tidak bisa ke masjid, sekarang tidak bisa majelis ilmu, duduk sebentar di majelis ini sudah tidak kuat. Ketika kemarin sehat tidak digunakan, ketika dia sakit baru dia berangan-angan, menyesal. Banyak diantara kita tidak bisa memanfaatkan kesehatan.

Yang kedua adalah waktu luang. Banyak diantara kita memiliki waktu yang luang, waktu yang senggang, yang bisa digunakan untuk menambah amal shalihnya dengan membaca Al-Qur’an, dengan shalat, dengan puasa, dengan menghadiri majelis ilmu, tapi tidak digunakan dengan baik. Setelah dia memiliki kesibukan dengan keluarga, dengan pekerjaan, barulah dia berangan-angan melihat orang lain menghadiri majelis ilmu, dia ingin seperti mereka.

Maka ini adalah dua nikmat yang diingat oleh Nabi karena banyak diantara manusia yang tidak bisa memanfaatkan dengan baik.

4. Diperlukan tekad dan kesabaran

Untuk mendapatkan derajat ini, yaitu meninggalkan sesuatu yang kita tidak ada kepentingannya, maka seseorang perlu tekad dan juga perlu kesabaran, perlu latihan.

Mungkin tidak kita melaksanakan hadits ini? Jawabannya mungkin. Karena tidak mungkin Allah mensyariatkan sesuatu yang kita tidak mampu untuk melakukannya. Tapi perlu kita kesungguhan, perlu kita memulai, perlu seseorang berpikir sebelum berbicara, perlu seseorang berpikir sebelum dia melihat. Kita melihat ke sininya ada manfaatnya atau tidak? Saya berbicara dengan ucapan ini ada manfaatnya atau tidak? Kalau sudah dibiasakan, maka nanti akan menjadi kebiasaan bagi dia. Dan ini perlu kesungguhan, perlu waktu yang panjang. Tidak cukup dengan satu hari dua hari, satu minggu dua minggu, perlu kesungguhan dan waktu yang panjang.

5. Hikmah meninggalkan sesuatu yang kita tidak ada kepentingannya

Agama ini menunjukkan kepada kita untuk meninggalkan sesuatu yang kita tidak ada kepentingannya ini memiliki hikmah-hikmah dan faedah-faedah untuk kita. Kenapa kita disuruh meninggalkan sesuatu yang kita tidak ada kepentingannya? Diantaranya:

  • Orang yang menyibukkan diri dengan sesuatu yang dia tidak ada kepentingannya, nanti lama-kelamaan bisa menjerumuskan dia didalam perkara yang diharamkan. Dan setan bersabar didalam menggoda manusia. Dijadikan dia melakukan perkara yang sia-sia/ yang tidak ada kepentingannya, lama-kelamaan akan diseret oleh setan untuk melakukan perkara yang bukan hanya sia-sia, bahkan memudharati diri seseorang.
  • Seseorang yang menyibukkan diri dengan sesuatu yang tidak ada kepentingannya bagi dia, akan menyeret dia kepada permusuhan diantara kaum muslimin. Antum campur tangan dengan urusan orang lain, marah atau tidak orang lain? Dan di dalam Islam, jangan kita melakukan perkara yang kita tidak ada kepentingan didalamnya. Disana masih banyak urusan yang harus kita kerjakan yang itu adalah penting bagi diri kita. Orang yang ikut campur dengan urusan orang lain yang dia tidak ada kepentingan didalamnya maka ini bisa menimbulkan permusuhan diantara kaum muslimin.
  • Membawa kepada kelemahan iman. Sebaliknya, orang yang menyibukkan diri dengan sesuatu yang penting bagi dia, ini membawa kekuatan iman. Orang yang sibuk dengan perkara yang dia tidak ada kepentingan didalamnya, maka ini menjadikan dia berat untuk melakukan ketaatan. Dia terlalu sibuk dengan perkara yang tidak ada manfaatnya, terlalu banyak mengikuti berita, tidak ada kepentingan, masih banyak perkara yang seharusnya dia lakukan. Membaca Al-Qur’an, itu penting bagi dia. Adapun seorang mengikuti berita dari awal sampai akhir, dari ujung timur sampai ujung barat dia berusaha untuk tahu padahal dia tidak ada kepentingan didalamnya, seandainya dia tidak tahu dan tidak mengabarkan kepada orang lain, tidak akan memudharati dia, tidak akan bermanfaat bagi dirinya di akhirat. Maka menyibukkan diri dengan perkara-perkara tadi, ini menjadikan seseorang malas melakukan ketaatan.
  • Orang yang sibuk dengan perkara-perkara yang tidak ada kepentingan didalamnya, maka ini akan memalingkan dia dari perkara-perkara penting yang harus dilakukan oleh seseorang dan akan menjadikan ia sibuk dengan perkara-perkara yang rendahan yang tidak bermutu dan tidak berkualitas.
Baca Juga:  Hadits Tentang Akhlak

Contoh Perkara Yang Tidak Penting

Diantara contoh perkara-perkara yang kita tidak ada kepentingan didalamnya disebutkan oleh para ulama. Yaitu:

1. Terlalu banyak berbicara didalam majelis

Terlalu banyak berbicara tambah-tambahan ucapan yang tidak ada manfaatnya didalam sebuah majelis. Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah melarang dari قِيلَ وَقَالَ (ada yang mengatakan: dia mengatakan, ada yang mengatakan: dia mengatakan dan seterusnya) seperti yang ada dalam majelis-majelis.

2. Berlebih-lebihan perkara yang diperbolehkan

Berlebih-lebihan perkara yang diperbolehkan seperti perkara-perkara dunia yang itu hanya kesempurnaan saja kemudia dia berlebihan. Tadi kita sebutkan, masalah rumah, mobil atau motor, jika berlebih-lebihan maka ini termasuk perkara yang tidak ada kepentingan bagi seorang muslim didalamnya. Maka hendaknya dia melakukan perkara yang bermanfaat.

3. Bertanya sebelum bertanya

Bertanya tentang keadaan manusia dan perkara-perkara mereka yang khusus tanpa ada sebab yang mengharuskan dia untuk bertanya. Terkadang kita bertanya sesuatu dan kalau kita renungkan apa faedahnya saya bertanya tentang perkara ini? Kalau tidak ada faedahnya, maka ini termasuk -dalam hadits ini- sesuatu yang tidak ada kepentingan didalamnya.

4. Mencari-cari aib dan aurat seorang muslim

Mencari-cari kesalahan orang, khususnya mencari-cari kesalahan pemerintah, mencari-cari kesalahan para ulama, berkoar-koar tentang kesalahan-kesalahan mereka, maka ini termasuk perkara yang kita tidak ada kepentingan didalamnya. Terlalu banyak perkara-perkara yang harus kita urus. Keluarga kita, masyarakat kita, sekolah tempat kita mengajar didalamnya, yang itu kalau kita sibukkan dengan perkara-perkara tadi lebih bermanfaat daripada seorang membicarakan sesuatu yang tidak bermanfaat bahkan memberikan mudharat bagi seseorang. Karena dalam Islam tidak boleh kita mencari-cari kesalahan orang lain, apa lagi mencari-cari kesalahan pemerintah. Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:

مَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللَّهِ، أَهَانَهُ اللَّهُ

“Barangsiapa yang mengingatkan penguasa Allah (yaitu pemimpin), maka Allah akan menghinakan dia.” (HR. Tirmidzi)

Dan ini kaidah. Setiap orang yang menghinakan pemimpin, antum lihat, nanti dia akan menjadi orang yang terhina. Tidak didengar oleh manusia, tidak dianggap ucapannya. Dan didalam Islam diharuskan untuk mendengar dan taat kepada pemerintah dalam perkara yang tidak menyelisihi agama.

5. Bermudah-mudah meriwayatkan hadits dhaif

Meriwayatkan hadits-hadits yang dhaif atau memberikan kisah-kisah yang lemah yang tidak ada asal-usulnya meskipun maksudnya adalah ingin menasihati orang, ingin menggetarkan hati seseorang, tapi caranya bukan demikian. Cukup dengan Qur’an, cukup dengan hadits-hadis yang sahih, tidak perlu seseorang mendatangkan cerita-cerita yang tidak ada asal-usulnya.

Demikian pula terlalu banyak dan terlalu sering seseorang membaca perkara-perkara yang tidak ada manfaatnya seperti koran dan juga majalah yang tidak ada manfaatnya bahkan memberikan mudharat apabila majalahnya adalah majalah yang tidak benar atau bacaannya adalah bacaan yang tidak benar.

Demikian pula apalagi membaca kitab-kitab yang sesat, yang dikeluarkan dan diterbitkan oleh aliran-aliran yang sesat, maka ini termasuk yang tidak ada manfaatnya bahkan memudharati seseorang.

Termasuk diantaranya adalah melihat perkara-perkara misalnya sinetron, film-film yang ini menghabiskan waktu seseorang yang seharusnya bisa dia gunakan untuk ibadah dan juga amal shalih, habis waktunya untuk melihat film-film tadi. Dan masih banyak contoh-contoh yang lain.

Ukuran Suatu Perkara Penting Atau Tidak

Kemudian perlu kita sampaikan bahwasanya sesuatu itu penting bagi kita atau tidak itu kembalinya bukan kepada hawa nafsu. Tapi kembali kepada agama. Ddilihat secara agama, perkara ini termasuk kepentingan kita atau tidak. Jadi ukurannya bukan kepada hawa nafsu kita. Penting atau tidak itu dilihat dari kacamata agama.

Contoh: sesuatu yang dianggap katanya mencampuri urusan orang lain, amar ma’ruf nahi munkar. Ada sebagian orang ketika dinasehati, dia mengatakan, “Ini bukan urusanmu. Saya berbuat maksiat, saya berzina, saya minum khamr itu bukan urusanmu.” Dianggapnya ini termasuk sesuatu yang tidak ada kepentingan seseorang didalamnya. Padahal secara syariat, ini adalah sesuatu yang termasuk kepentingan kita. Kenapa? Karena kalau sampai dibiarkan kemungkaran yang terjadi, akibatnya siapa yang menuai? Kita semuanya, bukan hanya orang yang melakukan kemaksiatan tadi, itu yang pertama. Kalau sudah banyak kemaksiatan didalam sebuah daerah lalu diturunkan adzab, yang kena bukan hanya yang melakukan, tapi yang lain juga kena. Termasuk orang-orang shalihnya. Dan mereka kelak di hari kiamat dibangkitkan sesuai dengan iman dan juga amal shalihnya. Sama-sama terkena adzab, sama-sama terkena musibah, tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Adil. Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membangkitkan mereka sesuai dengan iman dan amal shalih.

Yang kedua, amar ma’ruf nahi munkar ini termasuk kepentingan bagi kita karena Allah menyuruh kita untuk amar ma’ruf nahi munkar.

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ

Hendaklah ada di antara kalian sebuah kaum yang amar ma’ruf nahi munkar (berarti hukumnya fardhu kifayah, kalau sampai seluruhnya tidak amar ma’ruf nahi munkar, dosa semuanya)” (QS. Ali-Imran[3]: 104)

Berarti amar ma’ruf nahi munkar adalah penting bagi saya. Karena kalau saya tidak amar ma’ruf nahi munkar dan Fulan juga tidak, kita semuanya akan kena, semuanya akan mendapatkan dosa.

Termasuk hal yang menjadi kepentingan bagi seseorang adalah mendidik anak. Ini adalah penting bagi seseorang. Karena ada sebagian bapak menyangka bahwasannya ini bukan urusan dia, urusan dia adalah dalam masalah nafkah saja, maka tarbiyatul aulad ini termasuk perkara yang merupakan kepentingan seseorang. Kalau bukan kita, siapa lagi yang mendidik mereka. Dan fitnah yang semakin besar, setiap datangnya zaman atau setiap mendekati hari kiamat fitnah semakin besar dan kerusakan semakin merajalela, kalau kita tidak mendidik anak-anak kita dengan baik, membentengi mereka dengan agama, dengan keimanan, maka siapa yang akan mendidik mereka? Kelak mereka akan menghadapi fitnah yang lebih besar dari zaman sekarang. Kalau kita tidak memiliki perhatian dengan mereka, maka kita akan kecolongan kelak. Dan setiap masing-masing dari kita akan ditanya tentang orang yang dia pimpin.

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤول عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Masing-masing dari kalian adalah pemimpin dan masing-masing dari kalian akan ditanya tentang orang yang dia pimpin.”

Berarti ini penting bagi kita. Penting bagi kita untuk memiliki perhatian yang besar terhadap anak-anak kita.

Penutup Tinggalkan Yang Tidak Bermanfaat Bagimu

Itulah yang bisa kita sampaikan pada kesempatan kali ini. Poin yang penting juga, bahwasannya bukan masuk didalam perkara yang sia-sia apabila seseorang bercanda dengan canda yang disyariatkan. Apalagi maksudnya adalah untuk masukkan kebahagiaan didalam diri seorang muslim atau seseorang membawa anaknya dan istrinya bertamasya sebentar untuk menghilangkan kepenatan, merapatkan tali ukhuwah, tali kekeluargaan. Maka kalau niatnya demikian, maka ini bukan termasuk perkara yang sia-sia.

Terkadang kita bertanya sesuatu kepada seseorang, tujuannya bukan apa-apa, ingin supaya dia lebih dekat, supaya dia nyaman berbicara dengan kita kemudian kita nasihati dengan baik. Maka ini ada niatnya berarti, ini bukan perkara yang sia-sia.

Oleh karena itu jangan dipahami setelah mendengar hadits ini semuanya diam, keluar dari masjid semuanya diam, bukan demikian.

Ada perkara-perkara yang mubah tujuannya adalah lebih tinggi dari pada itu. Kita ingin menghidupkan suasana supaya kita enak berbicara dengan mereka. Tapi disana ada aturan-aturannya, yang penting tidak ada didalamnya larangan secara syariat. Dan tidak boleh sampai meninggalkan kewajiban atau menghalangi seseorang dari dzikrullah atau sampai melupakan dari shalat.

Demikian pula bercanda silahkan akan tetapi jangan sampai justru mendatangkan permusuhan setelahnya. Berlebih-lebihan didalam bercanda. Dan jangan dijadikan ini sesuatu yang dominan didalam kehidupan kita.

Asa dari seorang muslim adalah bersungguh-sungguh didalam berbuat. Boeh melakukan perkara-perkara yang tadi kita sebutkan untuk memberikan semangat kembali. Dahulu para ulama kita terkadang mereka mengajak murid-muridnya keluar ketaman. Sudah banyak menghafal, banyak duduk, mereka tahu bahwa yang namanya manusia ada kejenuhan, diajak keluar, belajar di taman, tidak masalah. Niatnya adalah supaya semangat lagi dalam beramal shalih.

Baik, itu yang mungkin bisa kita sampaikan, Wallahu Ta’ala A’lam..

Simak tanya jawabnya pada menit ke-1:01:48

Sumber Transkrip Kajian Hadits Tentang Waktu Tinggalkan Yang Tidak Bermanfaat Bagimu

Tinggalkan Yang Tidak Bermanfaat Bagimu

📚 Kajian Ilmiah
🔉 Pemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A.
🔗Download mp3: ngaji.id/klik/4g
🗃 InsyaAllah akan terus diupdate
⭐ File sudah dikecilkan
📹 Sumber: HSI TV

Mari turut menyebarkan link download kajian Kajian Hadits Tentang Waktu “Tinggalkan Yang Tidak Bermanfaat Bagimu” di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum..

COMMENTS

%d blogger menyukai ini: