Janji Iblis Menghiasi Kemaksiatan dengan Keindahan

Janji Iblis Menghiasi Kemaksiatan dengan Keindahan

dukung ngaji id

Iblis menghiasi sesuatu yang buruk sehingga menjadi sesuatu yang indah bahkan menjadi candu bagi para pelakunya.

Ceramah Singkat: Alasan Bid’ah Lebih Berbahaya daripada Maksiat
Hadits Arbain ke-5 : Hadits tentang Bid’ah
Khutbah Jum’at Tentang Membela Agama Allah adalah Kewajiban Setiap Muslim

Tulisan tentang “Janji Iblis Menghiasi Kemaksiatan dengan Keindahan” ini adalah catatan faedah dari ceramah singkat yang dibawakan oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc. MA. Hafizhahullahu Ta’ala.

Janji Iblis Menghiasi Kemaksiatan dengan Keindahan

Godaan Iblis terhadap Adam

Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala melaknat iblis, maka iblis bersumpah

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

“Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya,” (QS. Al-Hijr[15]: 39)

Di antara cara iblis menggoda Adam dan anak keturunannya adalah dengan menghiasi maksiat dengan keindahan. Iblis menghiasi sesuatu yang buruk sehingga menjadi sesuatu yang indah bahkan menjadi candu bagi para pelakunya.

Dimulai dari Abuna Adam, nenek moyang kita Nabi Adam ‘alaihissalam. Bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala halalkan bagi Adam dan Hawa seluruh makanan yang ada di dalam surga. Yang Allah Subhanahu wa Ta’ala haramkan hanya satu, yaitu pohon yang Allah Subhanahu wa Ta’ala melarangnya untuk didekati apalagi dimakan.

Akan tetapi iblis menghiasi pohon tersebut dengan kata-kata palsu. Dengan nama-nama yang indah, iblis mengatakan pohon itu adalah شَجَرَةُ الخُلْدِ (pohon keabadian, lihat QS. Al-A’raf[7]: 20) padahal pohon tersebut tidak pernah dinamakan dengan pohon keabadian. Iblis menamakan pohon tersebut dengan pohon keabadian untuk mengiming-imingi agar Adam dan Hawa bisa hidup abadi.

Akhirnya dengan rayuan dan godaan tersebut, mungkin entah ada berapa pohon yang halal, Adam meninggalkan semua yang halal tersebut. Kemudian Adam menuju kepada satu pohon yang diharamkan tersebut, tidak lain karena hiasan iblis akhirnya Adam pun melanggar. Padahal yang halal banyak, tapi yang satu itulah yang dihiasi oleh iblis agar menarik.

Godaan Iblis terhadap Keturunan Adam

Demikian pula anak keturunan Adam. Betapa banyak perkara yang halal, tapi karena iblis menghiasi kemaksiatan yang haram maka kemaksiatan tersebut terlihat indah dan menarik. Bahkan menjadikannya candu.

Contoh sederhana yang benar-benar saya lihat adalah suatu kekonyolan; merokok. Merokok itu apa, sih? Pertama mencoba, batuk-batuk. Tapi setan memberinya hiasan, “Jika merokok jadi keren, gagah, macho.” Padahal boros dan bahlul. Tetapi setan menghiasi, sehingga seseorang jika ingin merokok seakan-akan merokok itu keren dan wanita menyukainya. Apalagi iklannya sampai memanjat gunung, naik mobil mewah. Namun ternyata yang merokok malah naik sepeda, uang tidak ada, tubuh kurus kering.

Jadi dihiasi oleh setan. Padahal semua orang sepakat bahwa orang jika pertama kali merokok pasti tidak enak. Tidak ada orang yang merokok langsung lezat. Dia merokok pasti batuk-batuk, sakit, mungkin sakit kepala. Tapi subhanallah, jadi barang dagangan terlaris mungkin di alam semesta. Itu bukti nyata bahwasanya memang dihiasi oleh iblis. Itu baru tentang rokok, belum perkara lainnya.

Seorang lelaki yang mungkin dia telah memiliki istri yang cantik, tapi iblis membuat dia terhias ketika melihat wanita lain yang mungkin kurang cantik dari pada istrinya. Iblis menghiasi menjadi cantik, menarik, dan memberi khayalan macam-macam kemudian akhirnya menjadi terjerumus dalam perzinahan. Padahal yang halal masih banyak, tapi dia menuju kepada yang haram.

Pemikiran Ahlul Bid’ah

Demikian juga banyak hal-hal yang haram, iblis menghiasi dengan nama-nama yang indah. Seperti ahlul bid’ah yang terjerumus dalam kesesatan dengan nama-nama yang indah. Contoh; rafidhah syi’ah ketika mereka mengkafirkan para sahabat dengan syiar ‘Cinta Kepada Ahlul Bait’.

Setan menggambarkan kepada mereka bahwasanya seakan-akan konsekwensi dari mencintai ahlul bait adalah dengan mengkafirkan Abu Bakr, Utsman, dan Umar radhiyallahu ‘anhum, serta para sahabat yang lainnya. Padahal itu adalah pengkafiran. Namun mereka labeli dengan mencintai dan membela para ahlul bait.

Demikian juga mu’tazilah. Ketika mereka memiliki lima pokok pemikiran, di antaranya adalah mereka namakan dengan inkarul munkar (mengingkari kemunkaran). Maksud mereka adalah wajib memberontak kepada penguasa muslim jika terjerumus ke dalam dosa besar. Meskipun muslim, maka wajib mereka memberontak kepadanya, kata mereka. Jika mampu maka wajib memberontak, dan ini adalah salah satu pemikiran mu’tazilah dan khawarij. Akhirnya yang timbul adalah kemudharatan; pertumpahan darah kaum muslimin antara yang satu dengan yang lainnya, saling mengkafirkan, negeri Islam hancur. Dan itu mereka namakan dengan inkarul munkar. Padahal sebenarnya adalah membuat kemunkaran; membuat kerusakan, ketidaksabaran, melanggar hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memerintahkan untuk bersabar. Hal-hal ini terjadi di banyak negara.

Oleh karenanya, ikhwan dan akhawat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala, waspadalah dan berpeganglah kepada dalil. Jangan mengikuti hawa nafsu. Setan menghiasi banyak kemaksiatan. Baik maksiat maupun bid’ah dia hiasi sehingga sangat menarik. Seakan-akan lebih baik dari pada ketaatan dan dari pada sunnah. Maka sering kita dapati ahlul bid’ah mereka seringnya lebih semangat melakukan bid’ah dari pada melakukan sunnah. Sunnah tidak mereka perhatikan. Tapi yang bid’ah, mau mengeluarkan uang banyak, pasti mereka kerjakan. Mengapa? Karena setan menghiasinya.

Mp3 Ceramah Singkat Janji Iblis Menghiasi Kemaksiatan dengan Keindahan

Sumber mp3: Team kelas UFA Official

Mari turut menyebarkan catatan kajian tentang “Janji Iblis Menghiasi Kemaksiatan dengan Keindahan” ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum..

Komentar

WORDPRESS: 0