Ketika Doa Tidak Terkabul

Ketika Doa Tidak Terkabul

dukung ngaji id

Tulisan tentang “Ketika Doa Tidak Terkabul” ini adalah apa yang bisa kami ketik dari kajian yang disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdur Razzaq bin ‘

Tidak Mengusir Orang dari Tempatnya
15 Adab di Majelis Ilmu
Mutiara Hikmah : Bagaimana Ilmu Mengangkat Derajat Manusia

Tulisan tentang “Ketika Doa Tidak Terkabul” ini adalah apa yang bisa kami ketik dari kajian yang disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdur Razzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-Badr Hafizhahumullahu Ta’ala.

Sebelumnya: Adab Berdoa

Ketika Doa Tidak Terkabul

Jadi jelas bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjamin doa itu pasti akan Dia kabulkan. Namun bisa jadi ada seseorang yang berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian Dia tidak mengabulkan doanya. Ini bukan berarti Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelisihi janji. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berjanji bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti mengabulkan doa.

Kalau ada seseorang yang berdoa kemudian tidak dikabulkan, berarti kesalahannya kembali kepada orang itu sendiri. Bisa jadi dia tidak memenuhi syarat-syarat terkabulnya doa. Atau bisa jadi tatkala berdoa dia tidak memperhatikan adab-adab berdoa. Oleh karena itu, masalah ini adalah masalah yang sangat penting. Bagaimana mengetahui syarat-syarat diterimanya doa dan mengetahui adab-adab diterimanya doa.

Dan yang paling penting untuk kita ketahui dalam masalah ini bahwasanya doa itu merupakan ibadah. Kalau doa merupakan ibadah, maka ibadah itu tidak boleh diserahkan kecuali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ibadah itu hanyalah hak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita harus beribadah secara ikhlas kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika perkaranya demikian, maka kita tidak boleh berdoa kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan tidak boleh kita minta pertolongan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Berdoa Hanya Kepada Allah

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

هُوَ الْحَيُّ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ ۗ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Dia-lah Yang Maha Hidup, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadat (ikhlas) kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.” (QS. Ghafir[40]: 65)

Oleh karena itu, di dalam Al-Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang menunjukkan larangan berdoa kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di antaranya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala;

قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ ۖ لَا يَمْلِكُونَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَمَا لَهُمْ فِيهِمَا مِنْ شِرْكٍ وَمَا لَهُ مِنْهُمْ مِنْ ظَهِيرٍ

“Katakanlah: “Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrahpun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu sahampun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya.” (QS. Saba’[34]: 22)

Di dalam ayat yang lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

..فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

“Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di samping (menyembah) Allah.” (QS. Al-Jinn[72]: 18)

Artinya berdoa hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ عِبَادٌ أَمْثَالُكُمْ ۖ

“Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu seru selain Allah itu adalah makhluk (yang lemah) yang serupa juga dengan kamu.” (QS. Al-A’raf[7]: 194)

Di sini ada faedah yang sangat penting yang harus kita ketahui. Tadi telah kita sebutkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

هُوَ الْحَيُّ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ ۗ

“Dia-lah Yang Maha Hidup, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadat (ikhlas) kepada-Nya.” (QS. Ghafir[40]: 65)

Allah Subhanahu wa Ta’ala memulai ayat-Nya tersebut dengan “Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Hidup”. Demikian juga dalam ayat yang lain;

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ ۚ

“Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya.” (QS. Al-Furqan[25]: 58)

Di dalam ayat kursi juga Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ

“Allah, tidak ada Tuhan (yang b=rhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya);” (QS. Al-Baqarah[2]: 255)

Yang Disembah Kaum Musyrikin

Di sini ada peringatan bagi kita. Bahwasanya ibadah itu hanya berhak kita serahkan kepada Dzat Yang Maha Hidup dan tidak akan mati Yang Kekal selama-lamanya; dan Dia hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun selain-Nya yang disembah dan didoai oleh orang-orang musyrikin itu tidak keluar dari tiga kemungkinan.

Yang pertama adalah hidup dan akan mati. Kemungkinan yang kedua adalah hidup dan sudah mati. Dan kemungkinan yang ketiga adalah jamadat. Benda-benda mati yang memang asalnya tidak ada kehidupan padanya. Oleh karena tidak berhak dan tidak layak kita menyerahkan doa kita kepada sesuatu yang hidup namun akan mati, atau sesuatu yang hidup namun sudah mati, atau kepada jamadat. Doa ini hanyalah hak Dzat Yang Maha Hidup dan tidak akan mati. Dan Dia-lah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sekali lagi Syaikh mengingatkan bahwasanya yang mereka sembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala itu tidak keluar dari tiga kemungkinan. Yang pertama, hidup namun akan mati. Yang kedua, pernah hidup namun sekarang sudah mati. Dan yang ketiga, jamadat. Yaitu benda-benda mati yang pada asalnya mereka tidak hidup.

Ketiga jenis ini tidak boleh sama sekali kita serahkan ibadah kepada mereka. Karena selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, sudah pasti tidak keluar dari ketiga kemungkinan tersebut. Maka tidak boleh kita beristighatsah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan tidak boleh kita thalabul madat (meminta pertolongan) kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena semua ibadah hanyalah hak dari Dzat Yang Maha Hidup, Yang Kekal selama-lamanya.

Memintalah Hanya Kepada Allah

Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah berkata dalam suatu wasiatnya kepada Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Wasiat yang sangat agung. Beliau bersabda;

إذا سألت فاسأل الله ، وإذا استعنت فاستعن بالله، واعلم‏:‏ أن الأمة لو اجتمعت على أن ينفعوك بشيء، لم ينفعوك إلا بشيء قد كتبه الله لك، وإن اجتمعوا على أن يضروك بشيء، لم يضروك بشيء إلا بشيء قد كتبه الله عليك

“Jika kamu (ingin) meminta (sesuatu), maka mintalah (hanya) kepada Allah, dan jika kamu (ingin) memohon pertolongan, maka mohon pertolonganlah (hanya) kepada Allah, dan ketahuilah, bahwa seluruh makhluk (di dunia ini), seandainya mereka bersatu untuk memberikan manfaat (kebaikan) bagimu, maka mereka tidak mampu melakukannya, kecuali dengan suatu (kebaikan) yang telah Allah tetapkan (takdirkan) bagimu, dan seandainya pun mereka bersatu untuk mencelakakanmu, maka mereka tidak mampu melakukannya, kecuali dengan suatu (keburukan) yang telah Allah tuliskan (takdirkan) akan menimpamu,” (HR. At Tirmidzi)

Oleh karena itu jika kita meminta, mintalah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kalau kita minta pertolongan, mintalah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala mensifati orang-orang yang berdoa kepada selain-Nya bahwasanya mereka benar-benar di atas kesesatan yang sangat nyata. Tidak ada kesesatan yang lebih sesat dari pada kesesatan mereka. Meminta kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak meminta kepada Dzat Yang Maha Hidup. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ. وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوا لَهُمْ أَعْدَاءً وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَ

“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa)nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka? Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka.” (QS. Al-Ahqaf[46]: 5)

Maka tidak ada yang lebih sesat dari pada orang-orang yang berdoa kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Bersemangat Menjalankan Sunnah

Setelah kita ketahui yang pertama bahwasanya doa itu adalah ibadah dan hanya merupakan hak Allah Subhanahu wa Ta’ala, perkara kedua yang mesti kita ketahui yaitu kita harus berusaha dan bersemangat untuk menjalankan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk dari beliau. Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah menjelaskan kepada umatnya apa yang harus mereka lakukan dan ucapkan dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Apa yang harus mereka ucapkan dari dzikir maupun doa tatkala di pagi dan sore hari. Tatkala sedang shalat, bagaimana doanya itu telah beliau ajarkan. Setelah shalat, bagaimana doanya telah beliau ajarkan. Tatkala masuk dan keluar masjid, tatkala akan tidur, terjaga dari tidur, mimpi yang buruk. Kemudian tatkala memakan makanan dan selesai makan. Tatkala naik kendaraan, keluar untuk bersafar, melihat sesuatu yang menyenangkan dan tidak dia senangi, terkena musibah, ditimpa dengan kesedihan, dan kegundahan. Seluruhnya telah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan.

Dari sisi-sisi kehidupan yang bermacam-macam, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengajarkan bagaimana doanya ataupun dzikirnya. Maka hendaknya kita berusaha mengetahui apa yang telah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan. Dan berusaha mengikuti petunjuk serta sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Demikian juga Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah menjelaskan tingkatan-tingkatan dzikir. Dan juga bagaimana doa-doa serta macam-macamnya. Kemudian beliau juga menjelaskan syarat-syarat doa dan adab-adabnya dengan penjelasan yang sangat sempurna dan sangat gamblang.

Dalam segala perkara, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah menjelaskan seluruh perkara di dalam agama. Apa lagi dengan masalah yang sangat agung seperti doa. Oleh karena itu, wajib bagi kita berusaha untuk berdoa sesuai dengan doa-doa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan. Kita berusaha untuk mengenal doa-doa yang beliau ucapkan dan ajarkan.

Selanjutnya: Dampak Negatif dari Doa yang Tidak Nabi Ajarkan

MP3 Kajian Ketika Doa Tidak Terkabul

Mari turut menyebarkan tulisan tentang “Ketika Doa Tidak Terkabul” ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum..

Komentar

WORDPRESS: 0