Khutbah Jumat: Allah Tidak Butuh Ibadahmu

Khutbah Jumat: Allah Tidak Butuh Ibadahmu

"Andaikan tidak ada satu pun makhluk yang mau menerima sedekah kita, berarti kita tidak akan mendapatkan kesempatan pahala sedekah."

Berikut ini transkrip khutbah jumat tentang “Allah Tidak Butuh Ibadahmu” yang disampaikan oleh Ustadz Ammi Nur Baits, S.T., BA. Hafizhahullahu Ta’ala.

Khutbah Idul Adha: Mendulang Pelajaran Dari Dzulhijjah

Hadirin jama’ahnya Jum’at yang dimuliakan Allāh Azza wa Jalla.

Satu prinsip yang perlu kita pahami bahwa setiap ketaatan yang kita lakukan, ibadah yang kita lakukan, sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta’āla sama sekali tidak membutuhkannya. Karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak membutuhkan ketaatan yang dilakukan oleh makhluk. Sehingga tidak ada satu pun ibadah yang kita lakukan, kepentingannya kembali kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Sehingga kalau pun manusia sedunia ini semuanya kufur kepada Allāh, Allāh tetap Maha Kuasa, Allāh tetap Maha Perkasa, kerajaan Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak akan berkurang sedikit pun. Sebaliknya ketika seluruh makhluk yang ada di alam semesta ini semuanya taat kepada Allāh, itu pun tidak akan menambah kekuasaan dan kerajaan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Allāh Ta’āla berfirman melalui pesan yang disampaikan oleh nabi Musa ‘alayhi shalaatu wa salaam, seperti yang disebutkan di dalam surat Ibrahim ayat 8.

Allāh berfirman,

وَقَالَ مُوسَىٰٓ إِن تَكۡفُرُوٓاْ أَنتُمۡ وَمَن فِي ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعٗا فَإِنَّ ٱللَّهَ لَغَنِيٌّ حَمِيدٌ

Musa mengatakan, “Kalau pun kalian kufur dan seluruh makhluk yang ada di muka bumi ini, sesungguhnya Allāh Ta’āla tetap dzat yang Maha Kaya yang tidak membutuhkan alam semesta, dan Dia tetap Maha Terpuji.”

Juga ketika Allāh Subhānahu wa Ta’āla memerintahkan tentang haji, ada sebagian hamba yang dia tidak mau berangkat haji dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak membutuhkan mereka.

Allāh Ta’āla berfirman,

وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًۭا ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنِ ٱلْعَـٰلَمِينَ

“Hanya milik Allāh yang menjadi kewajiban bagi umat manusia berhaji ke Baitullāh bagi siapa pun yang mampu untuk melakukan perjalanan ke sana.”

Kemudian Allāh katakan, “Namun siapa yang kufur (dalam arti dia tidak mau berangkat haji), sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak membutuhkan apa yang ada di alam semesta ini.” (QS. Āli-Imrān [3]: 97).

Artinya siapapun yang berbuat taat, sama sekali tidak akan menambah kerajaan Allāh dan siapapun yang tidak mau melakukan ketaatan itu juga tidak akan mengurangi kerajaan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Disebutkan dalam hadīts qudsi, dari sahabat Abu Dzarr Al-Ghifari radhiyallāhu ‘anhu, Nabi ﷺ meriwayatkan dari Rabb-Nya.

Allāh Ta’āla berfirman,

لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ

“Wahai para hamba-Ku, andaikan makhluk yang pertama hingga yang terakhir (jin maupun manusia) mereka menjadi manusia yang paling bertakwa di antara kalian…”

Anggaplah misalnya (kita ambil contoh) semuanya seperti Nabi Muhammad ﷺ, andaikan kita semua takwanya seperti Nabi Muhammad ﷺ.

Apa kata Allāh Subhānahu wa Ta’āla?

ما زادَ ذلِكَ فِي مُلْكِي شيئًا

“Sepeser pun itu tidak akan menambahkan kerajaan-Ku.”

Kemudian Allāh katakan,

يا عِبادي، لو أنَّ أوَّلَكم وآخِرَكم وإنْسَكم وجِنَّكم كانوا على أفجَرِ قَلبِ رَجُلٍ واحِدٍ منكم، ما نَقَصَ ذلك مِن مُلْكي شَيئًا، يا عِبادي

“Wahai para hamba-Ku, andaikan makhluk yang pertama hingga yang terakhir baik dari kalangan jin maupun manusia, mereka menjadi makhluk yang paling jahat di antara kalian…”

Kita ambil contoh Iblis (misalnya), ‘Andaikan semua makhluk ini mempunyai hati sebagaimana hatinya Iblis’.

“Sepeser pun itu tidak mengurangi kerajaan-Ku.” (Hadits riwayat Muslim).

Sehingga Allāh Subhānahu wa Ta’āla tegaskan dalam hadits ini, bahwa ketaatan yang kita lakukan sepeser pun tidak kembali kepada keuntungan Allāh, demikian pula kemaksiatan yang kita kerjakan, sama sekali tidak mengurangi kerajaan Allāh. Karena masing-masing manusia akan menanggung sesuai dengan amal yang dia kerjakan.

Lalu siapakah yang mendapatkan manfaatnya ketika kita melakukan ketaatan? Jawabannya adalah diri kita sendiri.

Demikian pula ketika manusia melakukan perbuatan maksiat. Siapa yang akan mendapatkan dampak buruknya? Jawabannya adalah kita sendiri.

Berbeda dengan makhluk ketika ada orang yang berkuasa, namun ternyata bawahannya tidak taat kepadanya. Bisa jadi itu akan mengancam kekuasaannya. Ketika ada orang yang memiliki posisi dan jabatan namun ternyata tidak mau tunduk kepadanya, bisa jadi itu akan mengancam status sosialnya. Itu manusia!

Tapi Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak berlaku hukum semacam ini.

Karena itulah Allāh Subhānahu wa Ta’āla banyak menegaskan di dalam Al-Qur’an, seperti di dalam surat Al-Isrā ayat 7.

Allāh Ta’āla berfirman,

إِنۡ أَحۡسَنتُمۡ أَحۡسَنتُمۡ لِأَنفُسِكُمۡۖ وَإِنۡ أَسَأۡتُمۡ فَلَهَاۚ

“Kalau kalian berbuat baik, hakikatnya kalian berbuat baik untuk diri kalian sendiri, dan kalau kalian berbuat jahat sesungguhnya kalian akan mendapatkan balasan atas kejahatan itu.”

Dalam ayat lain di dalam surat Fussilat ayat 46.

Allāh Ta’āla berfirman,

مَّنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا فَلِنَفۡسِهِۦۖ وَمَنۡ أَسَآءَ فَعَلَيۡهَاۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّٰمٖ لِّلۡعَبِيدِ

“Barangsiapa melakukan amal shalih maka manfaatnya kembali kepada dirinya sendiri dan siapa yang berbuat jahat maka hukumannya akan kembali kepadanya. Dan Allāh tidak pernah menzhalimi hamba-Nya.”

Kita memohon kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla agar kita diberi oleh Allāh hidayah untuk melakukan ketaatan kepada-Nya dengan keyakinan bahwa kitalah yang butuh kepada-Nya, bukan karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla membutuhkan ketaatan yang kita kerjakan.

Demikian sebagai khutbah yang pertama.

أقول قولي هذا واستغفر الله

Khutbah Kedua

Kaum muslimin jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Ada sebagian orang yang dia merasa berjasa ketika dia beramal terutama amal yang berstatus sebagai kegiatan sosial, seperti menyumbang masjid, berwakaf, beramal membantu orang lain dan yang lainnya.

Padahal hakikatnya amal yang dia kerjakan sesungguhnya siapakah yang butuh? Dia sendiri.

Satu prinsip yang perlu kita sadari. Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak membutuhkan amal kita, dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjanjikan siapa yang berbuat baik, seharusnya manfaatnya kembali kepada dirinya sendiri dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak mempunyai kepentingan di sana.

Karena itulah satu niat baik yang perlu kita pasang setiap kita melakukan amal sosial, baik menyumbang masjid, membantu orang yang membutuhkan, pahami bahwa kita yang membutuhkan bukan orang yang menerima yang butuh.

Sehingga ketika orang tersebut membayar zakat, dia serahkan zakat tersebut dan diterimalah oleh seorang fakir miskin, maka sebenarnya siapakah yang mendapatkan manfaat yang lebih besar? Jawabannya adalah Muzaki yang membayar zakat.

Kenapa? Andaikan tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang mau menerima zakatnya, berarti dia tidak bisa menunaikan kewajiban zakatnya. Andaikan tidak ada satu pun masjid yang mau menerima wakafnya, maka dia tidak akan punya kesempatan untuk mendapatkan pahala wakaf. Andaikan tidak ada satu pun makhluk yang mau menerima sedekahnya, berarti dia tidak akan mendapatkan kesempatan pahala sedekah, dan demikian seterusnya.

Maka kalaupun kita beramal sosial, yakini bahwasanya kita yang lebih membutuhkan dibandingkan penerima, bukan karena kita merasa mempunyai jasa besar kepadanya. Sehingga ada orang yang misalnya dia ingin memiliki posisi di jajaran status takmir masjid, atau mempunyai posisi dihargai karena merasa telah menyumbang lebih besar. Perlu Anda pahami bahwasanya dakwah tidak perlu Anda, dakwah tidak membutuhkan kita, kegiatan agama tidak membutuhkan kita. Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan tetap mengangkat agama ini meskipun manusia tidak mau mendukungnya.

Sebagaimana yang Allāh Ta’āla firmankan di dalam Al-Qur’an,

هُوَ ٱلَّذِىٓ أَرْسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلْهُدَىٰ وَدِينِ ٱلْحَقِّ لِيُظْهِرَهُۥ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦ وَلَوْ كَرِهَ ٱلْمُشْرِكُونَ

“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa agama yang benar untuk Allāh tampakkan di seluruh agama meskipun orang-orang kafir tidak menyukainya.” (QS. At-Tawbah [9]: 33).

Dan Nabi ﷺ menyebutkan dalam hadits dari sahabat Tamim Ad-Dari radhiyallāhu ta’āla ‘anhu bahwa agama Islam ini akan didengar oleh seluruh makhluk yang ada di permukaan bumi di manapun dia berada.

Rasulullah ﷺ pernah bersabda,

ليَبْلُغن هذا الأمر ما بلغ اللَّيل والنَّهار

“Dakwah akan sampai di tempat di mana di sana ada siang dan malam.”

Artinya di seluruh permukaan bumi dan itu terbukti. Tidak ada satu pun manusia kecuali telah mendengar akan keberadaan agama Islam, hanya saja ada yang mau menerima dan ada yang menolak dan masing-masing akan mempertanggung-jawabkan setiap amal yang dia lakukan.

Kita memohon kepada Allāh Ta’āla semoga Allāh jadikan kita hamba-Nya yang ikhlas dalam beramal. Pada saat kita beramal, perasaan dan semangat yang kita hadirkan adalah merasa membutuhkan Allāh bukan karena kita merasa lebih berjasa.

Semoga setiap amal yang kita kerjakan diterima oleh Allāh dan mendapatkan pahala yang berlipat.

Video Khutbah Jumat: Allah Tidak Butuh Ibadahmu

Video: ANB Channel

Mari turut menyebarkan link download kajian “Allah Tidak Butuh Ibadahmuini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum..

Komentar

WORDPRESS: 0
DISQUS: