Berikut transkrip khutbah jumat tentang “Khutbah Jumat: Amalan-amalan yang Tersembunyi” yang disampaikan Ustadz Yusuf Abu Ubaidah As-Sidawi, Hafidzahullahu Ta’ala
MUKADIMAH (PEMBUKA) KHUTBAH
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ
Jamaah shalat jumat yang semoga senantiasa dirahmati dan diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia dan jin, serta mengutus para nabi dan para rasul untuk mewujudkan Ubudiyah atau penghambaan hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat[51]: 56)
Barang siapa yang beribadah, bermunajat, taat, serta bergantung hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dia akan menggapai kebahagiaan, ketenangan, dan kelezatan hidup yang dicari oleh banyak orang. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah menyatakan bahwa sesungguhnya di dunia ini ada sebuah surga, barang siapa yang tidak memasukinya, dia tidak akan memasuki surga akhirat. Surga dunia tersebut adalah ketika seseorang merasakan ketenangan dalam keimanan, ketaatan, dan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ibrahim bin Adham, seorang imam yang zuhud dan saleh, juga pernah mengatakan bahwa andai para raja dan putra mahkota mengetahui ketenangan serta kelezatan yang ada di dalam hati ini, niscaya mereka akan merampasnya dengan pedang-pedang mereka.
KHUTBAH PERTAMA : Rahasia Manisnya Iman Para Salaf
Jamaah shalat jumat yang semoga senantiasa dirahmati dan diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Penyebab para ulama terdahulu atau para salaf saleh dapat merasakan kebahagiaan, ketenangan, dan kelezatan iman di dalam hati mereka terletak pada kualitas ibadah yang mereka lakukan. Fenomena saat ini menunjukkan adanya perbedaan rasa di dalam hati, padahal jenis ibadah yang dilakukan sama. Mereka mendirikan shalat, generasi sekarang juga mendirikan shalat; mereka berpuasa, generasi sekarang juga berpuasa; mereka membaca Al-Qur’an, generasi sekarang juga membaca Al-Qur’an. Landasan utama yang membuat mereka mampu merasakan manisnya ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang jarang dirasakan saat ini adalah ibadah sir, yaitu kesendirian dalam ibadah atau merahasiakan amalan antara diri sendiri dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Zubair bin Awwam, seorang sahabat mulia yang merupakan salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga, pernah berwasiat tentang pentingnya memiliki amalan rahasia:
مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَكُونَ لَهُ خَبْءٌ مِنْ عَمَلٍ صَالِحٍ فَلْيَفْعَلْ
“Barang siapa di antara kalian yang mampu memiliki amalan saleh yang tersembunyi, hendaknya ia melakukannya.”
Al-Huraibi juga menyebutkan tentang tradisi para ulama terdahulu yang saling menganjurkan agar seseorang memiliki amalan rahasia dan tersembunyi, yang tidak diketahui oleh istri, anak, maupun orang lain.
Jamaah shalat jumat yang semoga dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ibadah yang dirahasiakan, dilakukan saat sendirian, dan bukan untuk dipamerkan atau disebarluaskan, merupakan kunci ketenangan batin yang dirasakan oleh para ulama terdahulu. Amal-amal yang dilakukan secara tersembunyi memberikan banyak faedah yang besar bagi seorang muslim.
Pertama, amalan rahasia membuat seseorang menjadi lebih ikhlas, sedangkan ikhlas merupakan syarat mutlak diterimanya suatu amal saleh di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kedua, amalan yang tersembunyi lebih menumbuhkan rasa takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla karena seseorang benar-benar merasa diawasi dan dilihat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan karena diawasi oleh manusia.
Ketiga, ibadah secara sembunyi-sembunyi membuat seseorang lebih selamat dari fitnah popularitas dan pemburuan pujian makhluk.
Keempat, amalan rahasia menjaga jiwa agar lebih selamat dari berbagai penyakit dan noda hati yang sering kali menggerogoti serta merusak keikhlasan.
Jamaah shalat jumat yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala
Meniru dan meneladani kehidupan para salaf saleh dalam menjaga amalan rahasia merupakan jalan utama untuk meraih kemanisan iman yang sesungguhnya. Upaya menyembunyikan dan merahasiakan amal saleh dapat diwujudkan melalui beberapa bentuk ibadah.
1. Amalan Hati
Contoh yang pertama adalah amalan-amalan hati. Amalan hati berupa keimanan, ketakwaan, rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, rasa cinta, tawakal, serta amalan hati lainnya. Rasa takut dan cinta yang tersembunyi di dalam dada manusia merupakan penggerak utama seluruh anggota badan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyatakan:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
“Ketahuilah bahwa pada dalam jasad manusia ada sekerat daging. Jika ia baik, yang lainnya akan menjadi baik. Apabila ia rusak, yang lainnya pun akan rusak. Ketahuilah, ia adalah hati.” (HR. Bukhari)
Hati bagaikan seorang raja. Jika raja itu baik, ia akan memerintahkan prajuritnya untuk menegakkan kebaikan. Sebaliknya, jika rajanya rusak, ia akan memerintahkan prajuritnya untuk berbuat kerusakan. Jika hati seorang hamba baik, ia akan memerintahkan mata untuk melihat hal yang halal dan baik, memerintahkan telinga untuk mendengar hal yang bermanfaat, memerintahkan tangan untuk melakukan kebajikan, memerintahkan lisan untuk berbicara yang benar, serta memerintahkan kaki melangkah ke tempat-tempat yang diridai. Sebaliknya, jika hati ini rusak, ia akan menggerakkan mata, telinga, lisan, tangan, dan kaki menuju kubangan dosa serta kemaksiatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Oleh karena itu, perbaikan hati dan batin harus menjadi prioritas utama karena hati adalah ruh dari setiap amal, sedangkan amalan lahiriah hanyalah pengikut semata.
2. Shalat Malam
Contoh amalan rahasia yang kedua adalah shalat malam. Ibadah ini dilakukan secara sunyi ketika manusia lainnya sedang terlelap. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشُوا السَّلَامَ وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ
“Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makanan, dan shalatlah di waktu malam ketika manusia sedang tidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan kedamaian.” (HR. Tirmidzi)
Setiap muslim hendaknya memiliki bagian dari shalat malam yang didirikan di rumah masing-masing tanpa terlihat oleh siapapun. Shalat malam termasuk ibadah sir yang sangat menakjubkan dalam menumbuhkan kebahagiaan, ketenangan, serta kelezatan di dalam hati.
3. Sedekah secara Tersembunyi
Contoh ketiga dari ibadah sir adalah bersedekah secara tersembunyi, terutama yang ditujukan kepada golongan yang lemah, para janda, dan anak-anak yatim. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tatkala menyebutkan tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan naungan di hari akhir, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan Allah salah satunya adalah:
وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ
“Seorang yang bersedekah dengan rahasia sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.” (HR. Bukhari)
Orang tersebut betul-betul berusaha merahasiakan sedekahnya dari pengetahuan orang banyak. Terlebih lagi jika bantuan itu disalurkan untuk menopang kehidupan orang-orang yang lemah. Mengenai keutamaan menyantuni kelompok ini, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
السَّاعِي عَلَى الْأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
“Orang yang membantu para janda dan orang-orang miskin, pahalanya seperti orang yang berjihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari)
4. Menangis karena Takut kepada Allah
Contoh ibadah sir berikutnya adalah menangisi dosa-dosa kedurhakaan saat seorang hamba sedang sendirian. Dalam hadits yang sama mengenai tujuh golongan yang mendapat naungan Allah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan:
وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ
“Seorang yang mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala saat sunyi sendirian, lalu kedua matanya meneteskan air mata.” (HR. Bukhari)
Hamba tersebut mengingat Allah dalam sepi, menyesali perbuatan dosanya, lalu meneteskan air mata karena takut akan azab dan siksa Allah Subhanahu wa Ta’ala. Air mata yang keluar karena ketakwaan ini menjadi perisai dari siksa neraka, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
عَيْنَانِ لَا تَمَسُّهُمَا النَّارُ عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَحْرُسُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
“Dua mata yang tidak akan disentuh oleh api neraka: mata yang menangis karena rasa takut kepada Allah dan mata yang terjaga dalam jihad di jalan Allah.” (HR. Tirmidzi)
Jamaah shalat jumat yang semoga dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Setiap muslim dan muslimah hendaknya memiliki amalan-amalan rahasia dalam hidup ini sebagai bekal untuk menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bekal tersebut sangat penting pada hari ketika tidak ada lagi yang bermanfaat kecuali orang yang menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan hati yang bersih, serta pada hari saat semua rahasia hati manusia akan dibongkar oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana firman-Nya:
يَوْمَ تُبْلَى السَّرَائِرُ
“Pada hari ditampakkan segala rahasia.” (QS. At-Tariq[86]: 9)
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
KHUTBAH KEDUA : Menanamkan Sifat Muraqabah dan Doa Memohon Ketakwaan
الْحَمْدُ لِلَّهِ وَكَفَى وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِهِ الْمُصْطَفَى وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَلَاهُ، أَمَّا بَعْدُ
Jamaah shalat salat jumat yang semoga dirahmati dan diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Anjuran untuk memiliki amalan rahasia yang dilakukan saat sendirian memiliki konsekuensi sebaliknya, yaitu kewajiban untuk takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan meninggalkan maksiat dan dosa saat sedang sendirian. Kesendirian adalah sebuah ujian dan cobaan terberat pada zaman sekarang. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَيَبْلُوَنَّكُمُ اللَّهُ بِشَيْءٍ مِنَ الصَّيْدِ تَنَالُهُ أَيْدِيكُمْ وَرِمَاحُكُمْ لِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَخَافُهُ بِالْغَيْبِ
“Wahai orang-orang yang beriman! Allah pasti akan menguji kamu dengan sesuatu dari hewan buruan yang mudah didapat oleh tangan dan tombakmu, agar Allah mengetahui siapa yang takut kepada-Nya dalam keadaaan gaib (tidak terlihat oleh orang lain).” (QS. Al-Ma’idah[5]: 94)
Melalui ayat tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala menguji para sahabat yang sedang berihram dengan hewan buruan yang diharamkan, namun hewan-hewan itu justru dimudahkan untuk ditangkap dengan tangan dan senjata mereka. Tujuan ujian ini adalah agar Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui siapa yang benar-benar takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saat sendirian.
Kesendirian bagi seorang hamba merupakan momen ujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk membuktikan jati diri yang sebenarnya, apakah hamba tersebut lebih takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atau lebih takut kepada penilaian manusia. Oleh karena itu, kewaspadaan terhadap dosa-dosa yang dilakukan saat sendirian harus ditingkatkan. Seorang ulama pernah mengingatkan agar seseorang tidak menjadi wali Allah Subhanahu wa Ta’ala secara lahiriah, namun sejatinya menjadi musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala saat sedang sendirian.
Para ulama juga sepakat bahwa dosa-dosa yang dilakukan saat sendirian merupakan sumber petaka penyimpangan seorang hamba. Banyak orang yang awalnya saleh justru menyimpang dikarenakan dosa-dosa yang dilakukan ketika sedang sendirian. Bahkan, Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hambali menyebutkan bahwa salah satu faktor utama penyebab suul khatimah adalah dosa-dosa yang dilakukan saat seorang hamba sedang sendirian.
Jamaah shalat jumat yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Pengagungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala harus senantiasa ditanamkan di dalam dada dengan memelihara rasa takut (khasyah) dan rasa malu (al-haya‘) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dimanapun dan kapanpun berada. Seorang muslim harus selalu memiliki senjata yang mulia berupa muraqabah, yaitu perasaan selalu diawasi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Senjata ini sangat penting, terutama di zaman yang penuh dengan fitnah ini, agar selamat dari dosa dan maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan anugerah yang hanya bisa diberikan oleh-Nya. Oleh sebab itu, hamba harus memperbanyak doa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di antara doa yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk memohon sifat ini adalah:
اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنِ مَعَاصِيكَ
“Ya Allah, anugerahkanlah bagi kami rasa takut kepada-Mu yang dapat menghalangi antara kami dan maksiat kepada-Mu.” (HR. Tirmidzi)
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga mengajarkan doa yang lain:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَشْيَتَكَ فِي الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu rasa takut kepada-Mu saat aku sendirian maupun di tengah keramaian.” (HR. An-Nasa’i)
Doa Penutup dan Permohonan Perlindungan dari Fitnah
Setiap hamba perlu memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar ditumbuhkan sifat muraqabah dan khasyah di dalam dada. Melalui kedua sifat mulia tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menyelamatkan seorang muslim dari jerat serta noda-noda dosa. Berikut adalah rangkaian doa yang dipanjatkan sebagai benteng diri bagi kaum muslimin:
اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنِ مَعَاصِيكَ
“Ya Allah, anugerahkanlah bagi kami rasa takut kepada-Mu yang dapat menghalangi antara kami dan maksiat kepada-Mu.” (HR. Tirmidzi)
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَشْيَتَكَ فِي الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu rasa takut kepada-Mu saat aku sendirian maupun di tengah keramaian.” (HR. An-Nasa’i)
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Al-A’raf[7]: 23)
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan[25]: 74)
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Al-Baqarah[2]: 201)
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu surga dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka.” (HR. Abu Dawud)
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima.” (HR. Ibnu Majah)
اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا
“Ya Allah, berilah ketakwaan pada jiwaku dan sucikanlah ia karena Engkaulah sebaik-baik yang mensucikannya, Engkaulah yang menguasai serta yang memimpinnya.” (HR. Muslim)
اللَّهُمَّ اهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ
“Ya Allah, tunjukilah aku pada akhlak yang paling baik, karena tidak ada yang dapat menunjukkannya kecuali Engkau. Dan palingkanlah aku dari akhlak yang buruk, karena tidak ada yang dapat memalingkannya kecuali Engkau.” (HR. Muslim)
Perlindungan juga dimohonkan agar Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menjaga negeri Indonesia, serta memelihara para pemuda, wanita, dan anak-anak dari segala bentuk fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.
Perintah bersalawat kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ditunaikan berdasarkan ketetapan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab[33]: 56)
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ
Sumber Video Khutbah Jumat “Amalan-amalan yang Tersembunyi”
Sumber : Al-Furqon TV Official
Yuk, ikut ambil bagian dalam menyebarkan dakwah ini. Bagikan tulisan dan link ini kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat kita. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.


COMMENTS