Khutbah Jumat : Menggapai Kenikmatan Tertinggi di Akhirat

Khutbah Jumat : Menggapai Kenikmatan Tertinggi di Akhirat

Khutbah Jumat: Ketika Iman Masuk ke Hati
Khutbah Jumat Tahun Baru: Kenapa Kita Tidak Merayakan?
Khutbah Jumat Singkat : Takdir Allah Yang Terbaik

Berikut transkrip khutbah jumat tentang “Khutbah Jumat: Menggapai Kenikmatan Tertinggi di Akhirat” yang disampaikan Ustadz Abdullah Taslim, Hafidzahullahu Ta’ala

Khutbah Pertama: Hakikat Memandang Wajah Allah Berdasarkan Hadits

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ مُنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran[3]: 102)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

“Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki yang banyak dan perempuan. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS. An-Nisa'[4]: 1)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barang siapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab[33]: 70-71)

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ، أَمَّا بَعْدُ

Ma’asyiral muslimin, jamaah shalat Jumat hafizhakumullah.

Pujian dan pengagungan senantiasa dipanjatkan kehadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai wujud syukur atas segala limpahan nikmat dan karunia-Nya. Utamanya adalah nikmat yang berkaitan dengan kebaikan urusan agama, berupa nikmat Islam, nikmat mengenal iman, serta nikmat menjadi pengikut Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang membawa sebaik-baik petunjuk untuk kebaikan di dunia maupun di akhirat. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan mulia, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Selaku khatib pada kesempatan Jumat kali ini, kami menghimbau jamaah sekalian untuk selalu berusaha meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Setiap muslim hendaknya mengusahakan sebab-sebab yang dapat menguatkan serta menyempurnakan keimanan, ketaatan, dan penghambaan diri kepada-Nya.

Ma’asyiral muslimin, jemaah shalat Jumat a’azzakumullah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan petunjuk terbaik melalui ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Petunjuk tersebut berfungsi sebagai pembimbing bagi manusia dalam melaksanakan amalan kebaikan yang menjadi sebab datangnya keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahkan menjadi sarana untuk memperoleh kenikmatan tertinggi di akhirat kelak.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengenai syarat mutlak untuk meraih keutamaan tersebut:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaknya ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahf[18]: 110)

Ayat ini memuat janji keutamaan besar yang didambakan oleh setiap orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hari akhir. Perjumpaan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kesempatan memandangi wajah-Nya Yang Maha Indah merupakan bentuk kenikmatan yang paling agung dan paling besar di dalam surga, meskipun surga itu sendiri sudah dipenuhi oleh berbagai macam kenikmatan yang tinggi.

Ketetapan mengenai kedudukan melihat wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala di akhirat dijelaskan di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Yahya Suhaib bin Sinan Ar-Rumi radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ قَالَ يَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى تُرِيدُونَ شَيْئًا أَزِيدُكُمْ فَيَقُولُونَ أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ وَتُنَجِّنَا مِنَ النَّارِ قَالَ فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ

“Apabila penghuni surga telah masuk ke dalam surga, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Apakah kalian menginginkan sesuatu sebagai tambahan kenikmatan?’ Mereka menjawab, ‘Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari api neraka?’ Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Kemudian Allah menyingkap hijab (penutup), maka tidak ada satu pemberian pun yang lebih mereka sukai daripada melihat kepada Rabb mereka ‘Azza wa Jalla.'” (HR. Muslim)

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan jemaah sekalian termasuk ke dalam golongan penghuni surga dengan rahmat dan karunia-Nya. Setelah menyampaikan sabda tersebut, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menyelaraskan hakikat tersebut:

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ

“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.” (QS. Yunus[10]: 26)

Berdasarkan ayat tersebut, orang-orang yang senantiasa berbuat kebaikan selama hidup di muka bumi akan memperoleh balasan pahala terbaik berupa surga, dan yang dimaksud dengan komponen tambahannya adalah kesempatan untuk bertemu serta memandang wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Mahamulia. Pencapaian ini merupakan puncak kenikmatan tertinggi yang berkaitan erat dengan manifestasi keimanan yang benar dan sempurna selama menjalani kehidupan di dunia.

Seorang muslim dituntut untuk memahami dan mengamalkan petunjuk Islam dengan benar. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah mengajarkan sebuah doa yang agung di dalam hadits yang shahih. Di antara bait doa tersebut, beliau memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ فِي غَيْرِ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ وَلَا فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِينَةِ الْإِيمَانِ وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِينَ

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kelezatan memandang wajah-Mu dan kerinduan untuk bertemu dengan-Mu tanpa adanya bahaya yang mencelakakan dan tanpa adanya fitnah yang menyesatkan. Ya Allah, hiasilah diri kami dengan perhiasan iman dan jadikanlah kami sebagai orang-orang yang selalu mendapatkan dan mengikuti petunjuk-Mu.” (HR. Nasa’i)

Kebaikan besar berupa kesempatan memandang wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala ini dijanjikan bagi hamba-hamba-Nya yang mampu memenuhi dua syarat diterimanya amal, sebagaimana penegasan Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam akhir surat Al-Kahf:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaknya ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahf[18]: 110)

Syarat pertama adalah mengamalkan amalan saleh, yaitu amalan yang sesuai dengan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dicontohkan dengan sempurna oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Syarat kedua adalah tidak menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala serta menjauhi perbuatan syirik dalam beribadah. Seorang hamba wajib memurnikan niatnya agar bersih dari segala bentuk kesyirikan, baik syirik besar maupun syirik kecil.

Amalan yang tidak dilaksanakan dengan ikhlas akan tertolak karena Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak membutuhkannya dan berlepas diri darinya. Di dalam sebuah hadits qudsi, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

“Aku adalah Dzat yang paling tidak butuh kepada sekutu. Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang dia menyekutukan Aku di dalamnya dengan selain Aku, maka Aku akan meninggalkan dia bersama kesyirikannya.” (HR. Muslim)

Pada riwayat lain disebutkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berlepas diri dan meninggalkannya (ana atabarra’u minhu). Apabila penyimpangan niat tersebut berupa syirik kecil seperti riya’ atau memamerkan amalan, maka perbuatan itu dapat menggugurkan nilai dari amal yang sedang dikerjakan. Perbuatan ini dikategorikan sebagai dosa yang sangat besar dan melebihi tingkatan dosa-dosa besar lainnya.

Sementara itu, jika kesyirikan yang dilakukan termasuk kategori syirik besar, yaitu dengan menyerahkan atau menunjukkan bagian ibadah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka seluruh amalan yang pernah dikerjakan oleh seorang hamba akan gugur secara total. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِيطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am[6]: 88)

Peringatan tegas mengenai dampak syirik besar ini juga disampaikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada para nabi:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, ‘Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang rugi.'” (QS. Az-Zumar[39]: 65)

Di dalam Tafsir Ibnu Katsir diterangkan bahwa ayat terakhir dari surat Al-Kahf memuat dua rukun atau tiang utama sebagai syarat sah diterimanya suatu amal di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rukun pertama mewajibkan amalan tersebut berlandaskan rasa ikhlas demi mengharapkan wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, tanpa dicampuri kesyirikan besar maupun kecil. Rukun kedua mewajibkan tata cara pelaksanaan amalan tersebut bersesuaian dengan contoh dan praktik yang dituntunkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Keselarasan dalam mengikuti petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merupakan barometer utama untuk mendapatkan kecintaan dan ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketetapan ini ditegaskan di dalam Al-Qur’an:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran[3]: 31)

Kewajiban mengikuti Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjadi sarana untuk meraih kecintaan serta ampunan dosa dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana diterangkan di dalam Tafsir Ibnu Katsir, ayat tersebut menegaskan bahwa pengakuan mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala, keinginan mendekatkan diri kepada-Nya, serta upaya mencari keridhaan-Nya, tidak akan diterima kecuali setelah dibuktikan dengan tindakan nyata. Bukti tersebut diwujudkan dengan selalu mengikuti petunjuk serta contoh teladan yang dipraktikkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam beribadah.

Oleh karena itu, para ulama menyebut ayat ini sebagai ayatul imtihan (ayat penguji). Fungsinya adalah menguji kebenaran dari pengakuan cinta seseorang kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pengakuan yang dinilai benar dan diterima hanyalah yang membuktikan kecintaan tersebut melalui keselarasan terhadap petunjuk yang disyariatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dipraktekkan secara sempurna oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Ma’asyiral muslimin, jamaah shalat Jumat hafizhakumullah.

Sebuah kisah yang memuat pelajaran agung dalam masalah ini terdapat di dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengenai tiga orang yang datang ke rumah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mereka bertujuan untuk menanyakan kepada keluarga beliau tentang bagaimana tata cara ibadah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika berada di dalam rumah.

Berdasarkan penjelasan keluarga Nabi, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melaksanakan shalat malam dengan diawali tidur terlebih dahulu, kemudian bangun di sepertiga malam yang terakhir untuk menegakkan shalat tahajud. Dalam urusan puasa sunnah, beliau tidak berpuasa setiap hari, melainkan berselang-seling, seperti mengamalkan puasa Senin dan Kamis, puasa tiga hari setiap bulan, serta jenis puasa sunnah lainnya. Begitu pula dalam kehidupan rumah tangga, beliau bergaul dengan keluarganya sebagaimana layaknya manusia normal.

Mendengar penjelasan tersebut, ketiga orang ini seolah-olah menganggap bahwa kuantitas ibadah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam masih sedikit. Mereka berkeinginan untuk melakukan ibadah yang lebih banyak dengan alasan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah dijamin pengampunan dosa-dosanya yang lalu maupun yang akan datang, sedangkan manusia lain tidak memiliki jaminan keselamatan tersebut sehingga merasa harus beribadah lebih keras.

Orang pertama di antara mereka mengatakan bahwa dirinya akan melaksanakan shalat malam sepanjang waktu tanpa tidur. Orang kedua menyatakan bahwa dirinya akan berpuasa sunnah sepanjang tahun tanpa ada hari untuk berbuka. Sementara orang ketiga menyatakan bahwa dirinya akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah selama-lamanya agar dapat berkonsentrasi penuh untuk beribadah.

Pernyataan dari ketiga orang tersebut akhirnya sampai kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau segera memanggil dan menegur mereka dengan kalimat yang tegas:

أَنْتُمُ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

“Kalian yang telah mengatakan begini dan begitu? Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut dan paling bertakwa kepada Allah di antara kalian. Akan tetapi aku berpuasa dan aku berbuka, aku shalat dan aku tidur, dan aku pun menikahi wanita. Barangsiapa yang membenci sunnahku, maka ia bukan termasuk golonganku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Setiap muslim wajib meyakini dan mengimani bahwa tidak ada seorangpun manusia yang lebih mulia, lebih bertakwa, serta lebih sempurna tingkat keimanan dan ibadahnya melebihi Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sikap berlepas diri yang dinyatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melalui kalimat bukan termasuk golonganku menunjukkan bahwa perbuatan menyelisihi petunjuk beliau dengan sengaja merupakan perkara yang dilarang keras dalam agama. Berkat teguran langsung dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ketiga sahabat tersebut mengurungkan niat ekstrem mereka.

Peristiwa di dalam hadits shahih ini memberikan dua pelajaran fundamental bagi umat Islam:

  1. Kebenaran Cara Lahiriah: Suatu amalan ibadah, meskipun dikerjakan dengan landasan niat yang ikhlas, tidak akan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala apabila tata cara pelaksanaannya salah atau menyelisihi syariat. Ketiga orang sahabat tersebut dipastikan memiliki niat yang ikhlas karena mendatangi rumah Nabi secara sembunyi-sembunyi demi mengejar ketaatan, namun niat baik saja tidak dinilai cukup.
  2. Keterpaduan Amal Batin dan Lahir: Ajaran Islam menetapkan adanya komponen amalan batin dan amalan lahir yang harus berjalan beriringan. Amalan batin diukur berdasarkan keikhlasan niat semata-mata karena Allah Subhanahu wa Ta’ala demi mengharapkan perjumpaan dengan-Nya di hari kiamat. Sementara amalan lahir diukur berdasarkan keselarasan tata cara pelaksanaan dengan apa yang telah disyariatkan dan dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Tolok ukur suatu amalan bukan didasarkan pada pikiran, akal, maupun perasaan manusia. Manusia seringkali menganggap suatu amalan sangat luar biasa berdasarkan pertimbangan logika semata. Sebagai contoh, keinginan untuk menegakkan shalat semalam suntuk dari habis isya hingga subuh, keinginan untuk berpuasa sunnah setiap hari sepanjang tahun tanpa jeda, atau keinginan untuk menjauhi pernikahan demi berkonsentrasi penuh dalam beribadah. Meskipun amalan-amalan tersebut kelihatan baik menurut pandangan akal atau perasaan manusia, amalan tersebut tidak diterima dan tidak diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala karena tidak sesuai dengan petunjuk yang dicontohkan oleh sebaik-baik hamba dan utusan-Nya, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Perbuatan tersebut bukan merupakan amal kebaikan, melainkan amal buruk yang dimurkai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menegaskan dalam sabda beliau:

فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

“Barangsiapa yang membenci sunnahku, maka ia bukan termasuk golonganku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ma’asyiral muslimin, jamaah shalat Jumat hafizhakumullah.

Hal ini harus menjadi perhatian besar bagi setiap muslim. Kemuliaan serta keutamaan di dunia dan di akhirat hanya dapat diraih dengan memperhatikan dua syarat diterimanya amal. Setiap hamba berkewajiban untuk belajar mengkaji Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam demi memperbaiki kualitas keimanan. Keimanan yang benar akan membuahkan keikhlasan dan tauhid yang murni, yaitu semata-mata mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam beribadah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun. Melalui pemahaman yang benar, seorang muslim dapat mengetahui tata cara ibadah yang sesuai dengan petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Pengamalan ibadah yang sesuai tuntunan ini akan mendatangkan kecintaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang menjadi sebab seorang hamba memperoleh kenikmatan tertinggi berupa kesempatan bertemu dan memandang wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari kiamat nanti. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan kebaikan ini bagi semua hamba-Nya.

بَارَكَ اللَّهُ لَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Khutbah Kedua: Keutamaan Bulan Muharram dan Puasa Asyura

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ مُنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

Ma’asyiral muslimin, jamaah shalat Jumat hafizhakumullah.

Sebagai tambahan informasi untuk mengingatkan jamaah sekalian, saat ini kita berada di bulan Muharram. Amalan ibadah puasa di bulan ini memiliki keutamaan yang sangat besar. Di dalam hadits shahih yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

“Seutama-utama puasa setelah bulan Ramadan adalah puasa di bulan Allah, bulan Muharram. Dan seutama-utama shalat setelah shalat yang wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim)

Hadits ini menunjukkan keutamaan puasa Sunnah secara mutlak di bulan Muharram. Mengamalkan ibadah puasa sunah di bulan Muharram memiliki nilai keutamaan yang lebih besar dibandingkan dengan puasa sunnah di bulan-bulan lainnya setelah puasa wajib di bulan Ramadan.

Amalan puasa yang paling utama untuk dilaksanakan di bulan Muharram adalah puasa pada tanggal 10 Muharram, yang dikenal dengan sebutan hari Asyura. Ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ditanya mengenai keutamaan dari puasa Asyura tersebut, beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan jawaban melalui sabda beliau:

يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

“Ia dapat menghapuskan dosa-dosa di tahun yang lalu.” (HR. Muslim)

Keutamaan besar ini merupakan karunia dari Allah ‘Azza wa Jalla yang sepatutnya dimanfaatkan dengan baik oleh setiap muslim untuk mendulang pahala dan ampunan.

Penghapusan dosa selama setahun yang lalu merupakan keutamaan yang sangat besar dari puasa Asyura. Keutamaan tersebut menjadi lebih sempurna jika ibadah puasa pada tanggal 10 Muharram digandengkan dengan puasa pada tanggal 9 Muharram (puasa Tasu’a) dalam rangka menyelisihi tradisi orang-orang Yahudi dan Nasrani.

Ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berhijrah dari Makkah dan tiba di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi sedang melakukan ibadah puasa pada hari Asyura, yaitu tanggal 10 Muharram. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian mempertanyakan alasan mereka melakukan puasa tersebut. Orang-orang Yahudi memberikan penjelasan sebagaimana yang terekam di dalam hadits shahih:

هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ فَصَامَهُ مُوسَى

“Ini adalah hari yang baik, hari ketika Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, lalu Nabi Musa berpuasa pada hari itu.” (HR. Bukhari)

Berdasarkan riwayat lain, orang-orang Yahudi menyatakan bahwa hari tersebut adalah hari yang agung, yaitu hari saat Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan Nabi Musa beserta kaumnya serta menenggelamkan Firaun beserta bala tentaranya. Sebagai bentuk ekspresi rasa syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Nabi Musa berkewajiban untuk berpuasa, sehingga orang-orang Yahudi pun turut menjadikannya sebagai hari berpuasa.

Mendengar penjelasan tersebut, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ

“Maka aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.” (HR. Bukhari)

Melalui sabda tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menegaskan bahwa umat Islam jauh lebih berhak dan lebih utama untuk mengikuti petunjuk Nabi Musa daripada orang-orang Yahudi, sehingga beliau langsung berpuasa dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa.

Selanjutnya, dalam rangka membedakan diri dan menyelisihi petunjuk kaum Yahudi, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menganjurkan umat Islam untuk turut berpuasa pada tanggal 9 Muharram bersamaan dengan tanggal 10 Muharram. Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُومَنَّ التَّاسِعَ

“Jika aku masih hidup sampai tahun depan, niscaya aku akan berpuasa pada tanggal sembilan.” (HR. Muslim)

Namun, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam wafat sebelum sempat menjumpai bulan Muharram pada tahun berikutnya.

Secara umum, pelaksanaan puasa sunnah secara mutlak di bulan Muharram sangat dianjurkan karena nilai keutamaannya melebihi puasa di bulan-bulan lain selain bulan suci Ramadan. Peluang kebaikan yang besar ini perlu dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya sebagai sarana yang efektif untuk menguatkan keimanan serta menyempurnakan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Barakallahu fikum.

Untaian Doa Penutup

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

“(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah[1]: 7)

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Al-A’raf[7]: 23)

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (QS. Ali Imran[3]: 8)

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan[25]: 74)

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّيْنَا صِغَارًا

Ya Tuhan kami, ampunilah dosa kami dan dosa kedua orang tua kami, serta sayangilah mereka sebagaimana mereka telah mendidik kami sewaktu kecil.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ

Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, baik yang masih hidup di antara mereka maupun yang telah wafat. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Mahadekat, lagi Maha Mengabulkan doa.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Al-Baqarah[2]: 201)

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Ya Allah, limpahkanlah shalawat, salam, dan berkah kepada Nabi kami Muhammad beserta seluruh keluarga dan sahabatnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Sumber Video Khutbah Jumat “Menggapai Kenikmatan Tertinggi di Akhirat”

Sumber : Masjid Nurul Iman Blok M Square

Yuk, ikut ambil bagian dalam menyebarkan dakwah ini. Bagikan tulisan dan link ini kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat kita. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: