Khutbah Jumat : Cara Selamat dari Fitnah

Khutbah Jumat : Cara Selamat dari Fitnah

Khutbah Jumat Singkat : Takdir Allah Yang Terbaik
Khutbah Jumat tentang Tamak Terhadap Ilmu
Khutbah Jumat: Hakikat Penciptaan Manusia

Berikut transkrip khutbah jumat tentang “Khutbah Jumat: Cara Selamat dari Fitnah” yang disampaikan Ustadz Abdullah Roy, Hafidzahullahu Ta’ala

KHUTBAH PERTAMA : Wasiat Ketakwaan di Tengah Kepungan Fitnah Zaman

Umat Islam saat ini sedang menjalani kehidupan di tengah-tengah kepungan fitnah yang sangat masif. Realitas zaman menunjukkan maraknya fitnah syubhat yang mengacaukan pemikiran manusia, fitnah syahwat yang merusak kesucian hati dan akhlak, serta fitnah pertikaian yang memecah belah persatuan manusia. Karakteristik berbagai fitnah tersebut bagaikan gelombang besar yang siap menenggelamkan dan menghanyutkan, sekaligus bagaikan api berkobar yang siap membakar serta menghanguskan iman seseorang.

Guna mengantisipasi dampak buruk dari fenomena tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan tuntunan agar kaum muslimin segera membentengi diri dengan amal saleh. Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda di dalam sebuah hadits:

بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا، وَيُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

“Bersegeralah kalian beramal sebelum datangnya fitnah-fitnah seperti potongan-potongan malam yang gelap gulita. Di pagi hari seseorang dalam keadaan beriman dan di sore hari ia menjadi kafir, atau di sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari ia menjadi kafir. Ia menjual agamanya demi mendapatkan sedikit keuntungan dunia.” (HR. Muslim) [1]

Satu-satunya jalan keselamatan yang dapat ditempuh untuk bebas dari jeratan seluruh fitnah tersebut adalah dengan kembali memegang teguh Al-Qur’an dan sunah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Landasan keselamatan ini ditegaskan oleh beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melalui sabda berikutnya:

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ

“Aku telah tinggalkan di tengah-tengah kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selama-lamanya jika kalian berpegang teguh kepada keduanya, yaitu Kitabullah (Al-Qur’an) dan sunah nabi-Nya.” (dalam Kitab Muwatto) [2]

Petunjuk yang sejati dan hakiki hanyalah petunjuk yang bersumber dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena Dialah dzat tunggal yang memberikan hidayah. Mengingat Allah ‘Azza wa Jalla telah menyempurnakan syariat agama ini, maka setiap hamba yang memilih untuk kembali kepada tuntunan Al-Qur’an dan hadits nabi-Nya akan mendapatkan jaminan keselamatan dari paparan berbagai fitnah zaman.

Di samping berkomitmen memegang teguh kedua pusaka tersebut, bagian dari petunjuk penting Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam saat menghadapi fase penuh fitnah adalah dengan memperbanyak doa. Seorang hamba wajib memohon dan meminta secara tulus kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar diri serta keluarganya senantiasa dijauhkan dari marabahaya fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

Seorang hamba tidak boleh sekali-kali merasa aman dari ancaman fitnah, bagaimanapun tingkat keimanan yang dimiliki. Manusia juga dilarang merasa kuat untuk menghadapi fitnah secara mandiri. Ketika fitnah telah datang melanda, dampaknya mampu menghancurkan orang-orang yang kokoh sekalipun, menghilangkan akal orang-orang yang berakal, serta membutakan hati orang-orang yang cerdas.

Tidak ada benteng yang lebih kuat dan tidak ada keselamatan dari ujian ini kecuali melalui perlindungan serta pertolongan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengajarkan banyak doa penangkal. Salah satunya adalah doa yang disunahkan untuk dibaca pada akhir salat sebelum salam, yaitu ketika tasyahud akhir:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari azab jahanam, dari azab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan dari kejelekan fitnah Al-Masihid Dajjal.” (HR. Bukhari dan Muslim) [3]

Di antara doa lain yang diajarkan dan paling sering dibaca oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. At-Tirmidzi) [4]

Kenyataan bahwa doa tersebut sering diucapkan oleh seorang yang maksum (dijaga dari dosa) seperti Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang telah diampuni dosa-dosanya yang terdahulu maupun yang akan datang, menjadi pelajaran bagi manusia. Manusia yang merupakan makhluk lemah dan hidup di zaman penuh fitnah ini tentu jauh lebih membutuhkan doa tersebut.

Petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berikutnya dalam menghadapi zaman fitnah adalah dengan memperbanyak aktivitas ibadah. Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda di dalam sebuah hadits:

الْعِبَادَةُ فِي الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ

“Ibadah di dalam waktu fitnah (pembunuhan/kekacauan) adalah seperti berhijrah kepadaku.” (HR. Muslim) [5]

Fitnah sering kali muncul ke permukaan di saat manusia mulai jauh dari ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Kondisi hati yang kosong dari zikrullah serta ibadah akan menjadi sasaran empuk yang mudah dirasuki oleh syubhat dan syahwat. Sebaliknya, hamba yang menyibukkan diri dengan ibadah dan zikrullah akan mendapatkan ketenangan jiwa.

Bentuk ibadah yang sangat dianjurkan untuk diperbanyak di masa penuh fitnah ini adalah menuntut ilmu agama dengan menghadiri majelis-majelis ilmu. Kesibukan di dalam mempelajari ilmu agama akan mempertajam pandangan seorang muslim, sehingga ia mampu membedakan secara jelas antara perkara yang hak (benar) dengan perkara yang batil (salah).

Oleh karena itu, waktu yang ada tidak boleh dihabiskan hanya untuk mengikuti kabar-kabar dunia serta isu-isu tidak jelas yang dapat menyesakkan dada. Manusia seharusnya menyibukkan diri dengan kabar-kabar akhirat melalui interaksi dengan Al-Qur’an, mendirikan salat malam, menuntut ilmu, dan duduk di majelis ilmu.

KHUTBAH KEDUA : Sikap Menahan Diri dari Lingkaran Fitnah

Tuntunan penting lainnya dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di masa penuh kekacauan adalah menahan diri dan tidak ikut campur di dalam lingkaran fitnah tersebut. Banyak manusia yang celaka bukan karena bertindak sebagai penyala api fitnah pertama kali, melainkan karena keterlibatan mereka dalam meniup dan memperbesar kobaran api tersebut.

Banyak orang yang binasa karena ikut-ikutan berkomentar tanpa landasan ilmu, menyebarkan kabar atau berita tanpa proses klarifikasi (tabayun), serta memihak kepada salah satu kelompok tanpa dasar kebenaran melainkan hanya berpatokan pada hawa nafsu. Sifat menahan diri merupakan kunci keselamatan agar seorang hamba tidak tergelincir ke dalam dosa kelalaian tersebut.

Keterlibatan tanpa ilmu di dalam suatu pusaran masalah dapat membuat seseorang terjatuh ke dalam dosa yang besar tanpa ia sadari. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memberikan peringatan yang sangat tegas di dalam sebuah hadits yang agung mengenai tahapan-tahan fitnah:

سَتَكُونُ فِتَنٌ الْقَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْقَائِمِ وَالْقَائِمُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْمَاشِي وَالْمَاشِي فِيهَا خَيْرٌ مِنَ السَّاعِي وَمَنْ يُشْرِفْ لَهَا تَسْتَشْرِفْهُ وَمَنْ وَجَدَ مَلْجَأً أَوْ مَعَاذًا فَلْيَعُذْ بِهِ

“Akan datang fitnah-fitnah yang pada masa itu orang yang duduk lebih baik daripada orang yang berdiri, orang yang berdiri lebih baik daripada orang yang berjalan, dan orang yang berjalan lebih baik daripada orang yang berlari. Barang siapa yang mencari-cari atau mendekati fitnah tersebut, maka fitnah itu akan menyeretnya. Dan barang siapa yang mendapatkan tempat berlindung atau bersandar, hendaklah ia berlindung di dalamnya.” (HR. Bukhari) [6]

Petunjuk di dalam hadits ini menunjukkan dengan jelas bahwa jalan keselamatan dari fitnah adalah dengan tidak ikut campur di dalam urusan tersebut. Seorang hamba wajib menahan dirinya demi mencari keselamatan serta perlindungan bagi agamanya. Di dalam riwayat yang lain, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga menegaskan aturan interaksi saat terjadi konflik internal umat melalui sabda beliau:

كُنْ عَبْدَ اللَّهِ الْمَقْتُولَ وَلَا تَكُنْ عَبْدَ اللَّهِ الْقَاتِلَ

“Jadilah engkau hamba Allah yang dibunuh dan janganlah engkau menjadi hamba Allah yang membunuh.” (HR. Ahmad) [7]

Pernyataan tersebut bermakna bahwa seseorang jauh lebih baik menahan diri daripada harus terlibat di dalam urusan yang menumpahkan darah manusia. Sikap diam jauh lebih utama daripada ikut menyebarkan serta memperluas narasi fitnah. Langkah menjauh merupakan pilihan terbaik daripada ikut menambah kerusakan di muka bumi. Di dalam sikap diam seorang hamba terdapat jaminan keselamatan, sementara di dalam keterlibatannya terdapat potensi kebinasaan. Sembari berikhtiar menahan diri, setiap muslim wajib memohon doa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar diri, keluarga, serta negeri ini senantiasa dijaga dari berbagai fitnah, baik yang nampak maupun yang tersembunyi.

Sumber Video Khutbah Jumat “Cara Selamat dari Fitnah”

Sumber : HSI Abdullahroy

Yuk, ikut ambil bagian dalam menyebarkan dakwah ini. Bagikan tulisan dan link ini kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat kita. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.

REFERENSI :

[1] https://sunnah.com/riyadussalihin:87

[2] https://sunnah.com/mishkat:186

[3] https://sunnah.com/hisn:55

[4] https://sunnah.com/tirmidhi:3522

[5] https://sunnah.com/mishkat:5391

[6] https://sunnah.com/bukhari:3601

[7] https://www.alukah.net/sharia/0/2090/%D9%86%D8%A8%D8%A3-%D8%A7%D8%A8%D9%86%D9%8A-%D8%A2%D8%AF%D9%85/#_ftnref2

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: