Khutbah Jum’at : Keagungan Al-Qur’anul Karim

Khutbah Jum’at : Keagungan Al-Qur’anul Karim

pandai mendengar

"Sesungguhnya Al-Qur'an ini menunjukkan kepada jalan yang paling lurus." (QS. Al-Isra'[17]: 9)

7 Orang Yang Dinaungi Allah
Khutbah Idul Adha: Pentingnya Mengenal Allah
Materi Kultum Ramadhan: Keutamaan Membaca Al-Qur’an

Berikut khutbah jumat “Keagungan Al-Qur’anul Karim” yang disampaikan Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah Hafidzahullahu Ta’ala.

Khutbah Pertama Keagungan Al-Qur’anul Karim

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa. Takwa bukan hanya ucapan di lisan, bukan hanya kerapian dalam pakaian, tapi takwa yang sebenarnya:

وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Dan jangan sampai kalian mati kecuali dalam satu kondisi, mati dalam kondisi Islam.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 102)

Ma’asyiral muslimin Rahimakumullah..

Bila kita memperhatikan kondisi umat Islam, kondisi kita, kita tidak perlu berbicara tentang orang lain, kita lihat ternyata tidak sedikit di antara umat Islam yang hidup dalam kebimbangan. Dia tidak tahu kenapa diciptakan. Kerjanya hanya cari makan, pulang ke rumahnya, besok bekerja cari makan, sampai kapan dia melakukan itu? Yaitu sampai mati.

Sebagian umat Islam hidup dalam pertikaian yang tidak ada ujungnya. Dan sebagian besar umat Islam juga hidup di dalam kehinaan yang sangat memprihatinkan.

Ma’asyiral muslimin Rahimakumullah..

Kita perlu berpikir, kenapa itu sampai terjadi? Padahal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak diberi sembarang mukjizat. Beliau dikaruniai mukjizat yang sampai hari kiamat kelak tetap mukjizat itu bisa kita gunakan.

Tidak seperti mukjizat Nabi-Nabi sebelum Nabi Muhammad ‘Alaihish Shalatu was Salam. Nabi Musa dengan tongkatnya, dengan wafatnya Nabi Musa selesai tongkat itu. Tapi Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Allah berikan kepadanya Al-Qur’anul Karim.

Kata Allah:

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

Sesungguhnya Al-Qur’an ini menunjukkan kepada jalan yang paling lurus.” (QS. Al-Isra'[17]: 9)

Allah berfirman:

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ

Itu Al-Qur’anul Karim tidak ada keraguan sedikitpun di dalamnya, sebagai petunjuk buat orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah[2]: 2)

Allah mengatakan:

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ

Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’anul Karim untuk menjelaskan segala sesuatu.” (QS. An-Nahl[16]: 89)

Apapun yang kita butuhkan dalam kehidupan ini, ada dalam Al-Qur’an. Tapi sayangnya kita tidak tahu apa isi Al-Qur’anul Karim.

Mana Al-Qur’an kita? Sebagian Al-Qur’an berfirkir bahwa Al-Qur’an hanya Al-Maidah ayat 51, tidak jama’ah. Al-Qur’an 30 juz, 6000 ayat lebih. Tapi kemana kita selama ini?

Sebagian tidak mengetahui dari Al-Qur’anul Karim kecuali Surat Yasin. Betul, Surat Yasin salah satu surat dari Al-Qur’anul Karim.

Sebagian hanya mengetahui “Qul huwallahu ahad.” Benar “Qul huwallahu ahad” salah satu surat dari Al-Qur’anul Karim. Di dalam kitab kita ada 114 surat.

Itulah yang menyebabkan umat Islam hina dina, tatkala mereka meninggalkan Al-Qur’anul Karim. Segala sesuatu yang kita butuhkan ada. Apapun!!

Masalah politik, Allah berbicara dan Al-Qur’anul Karim. Masalah perdagangan, Allah berbincang dalam Al-Qur’anul Karim. Masalah muamalah, masalah pernikahan, Allah jelaskan dalam Al-Qur’anul Karim. Tapi kita yang mengaku umat Islam kapan terakhir kali membaca Al-Qur’an sambil memahami artinya?

Sebagian berumur 60 tahun, tidak pernah tahu apa isi Al-Qur’anul Karim. Sebagian umurnya 50 tahun, tidak pernah bertambah hafalannya. Dia ingin bertambah hartanya, dia ingin bertambah propertinya, dia ingin bertambah rumah dan mobilnya, tapi hafalan Al-Qur’an tidak pernah bertambah. Kemana engkau? Apa yang kau cari dalam kehidupan ini?

Al-Qur’an ini petunjuk buat orang-orang yang bertakwa.

Sudah seharusnya kita kembali kepada Al-Qur’anul Karim. Baca itu Al-Qur’an. Jangan pernah matahari terbenam kecuali kita sudah membaca Al-Qur’an kita. Tambahkan lagi, kita baca artinya. Mau dibuat apa umur ini jama’ah?

Ini adalah kitab yang kalau kita berpegang teguh dengannya, selesai semua urusan. Urusan bangsa ini, urusan rakyat, urusan apa saja. Tapi karena kita tidak mau membaca Al-Qur’anul Karim.

Maka mulai hari ini, berikrarlah, memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk tidak pernah memejamkan mata kecuali telah membaca Al-Qur’anul Karim. Setiap hari 1 lembar kita buka, baca artinya. Supaya kita tahu apa sih yang Allah inginkan dari kita? Apa tujuan Al-Qur’an diturunkan kalau bukan untuk menjadi imam dan petunjuk buat kita?

Ma’asyiral Ikhwah Rahimakumullah..

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:

إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِيْنَ

“Sesungguhnya Allah Jalla Jalaluhu mengangkat derajat suatu kaum dengan Al-Qur’an dan Allah merendahkan kaum yang lainnya ketika mereka meninggalkan Al-Qur’an.” (HR. Muslim)

Ketika mereka menghina Al-Qur’anul Karim, Allah akan hinakan mereka. Tapi kita pun harus kembali kepada Al-Qur’anul Karim.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika beliau masih hidup, beliau pernah mengadu kepada Allah.

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا

“Dan Rasul berkata: ‘Wahai Rabbku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini ditinggal sama mereka.’” (QS. Al-Furqan[25]: 30)

Jangan sampai kita termasuk yang meninggalkan Al-Qur’anul Karim, yang mengaku sebagai umatnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Al-Qur’an bukan untuk pajangan, Al-Qur’an bukan untuk disimpan, tapi Al-Qur’an untuk diamalkan dalam kehidupan ini. Kita harus yakin bahwa hanya ada satu kitab di muka bumi ini yang bisa menyelamatkan umat manusia, yaitu Al-Qur’anul karim.

Khutbah Kedua Keagungan Al-Qur’an

Ma’asyiral muslimin Rahimakumullah,

Betapa sedihnya hati ini tatkala umat Islam yang jumlahnya 87,1% di negeri ini ternyata tidak berbuat apa-apa. Betapa sedihnya hati ini ternyata yang mayoritas tidak bisa memberikan warna kepada negeri ini. Apa sebenarnya yang terjadi?

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah mengingatkan kita, kalau kelak umat Islam akan berjumlah banyak,

وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ

Tapi umat Islam tidak memiliki bobot, dia seperti buih yang diombang-ambingkan, padahal jumlah mereka banyak.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengingatkan kita:

وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ

“Allah akan mencabut rasa gentar musuh kalian kepada kalian.” (HR. Abu Dawud, Ahmad, Ath-Thabrani)

Musuh kalian yang jumlahnya sedikit, mereka tidak lagi takut kepada kalian. Allah yang mencabut. Kenapa demikian? Jawabnya karena pada hakikatnya musuh-musuh kita itu lemah, tapi karena kitanya yang jadi lebih lemah, maka mereka bisa mengalahkan umat Islam.

وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ

“Allah akan melemparkan ke dalam hati kalian wahn.”

Apa wahn itu?

حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

“Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Dawud, Ahmad)

Apa bukti cinta dunia? Mungkin sebagian lebih suka membuka WhatsApp, sebagian lebih suka membuka Facebook, menghabiskan waktunya untuk dunia daripada untuk Al-Qur’anul Karim.

Sehari satu lembar Al-Qur’an sudah capek dia baca, tapi dia membuka Facebook 1 jam, membuka medsos 2 jam, menonton berita, menonton film berjam-jam dia lakukan itu. Pas gilirang Al-Qur’anul Karim, hanya beberapa menit dari hidupnya dia berikan untuk Allah Jalla Jalaluhu.

Terus bagaimana solusinya menghadapi kehinaan umat Islam? Jumlahnya banyak tapi dibantai di berbagai negeri. Kata Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

“Kalau sistem jual beli kamu itu ‘inah (riba)…”

Kita lihat negeri kita, masyarakat kita, riba itu masuk ke kampung-kampung. Masyarakat-masyarakat hidup dengan riba. Sebagian rumah dengan riba, motornya dengan riba, mobilnya dengan riba, HP nya dengan riba, bahkan sebagian pakaiannya dengan riba. Riba menjadi sebuah gaya hidup.

وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ…

“Kalian sibuk mencari dunia, kalian memegangi ekor-ekor sampi, sibuk dengna pertaniannya, dan kalian meninggalkan jihad di jalan Allah…”

Apa yang akan terjadi? Kata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Allah akan menimpakan kepada kalian kehinaan.”

Allah menimpakan kepada umat Islam kehinaan gara-gara kita semua. Sampai kapan? Sampai kapan kita akan hina seperti ini?

Kata Nabi ‘Alaish Shalatu was Salam:

حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

“Sampai kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Dawud, Al-Baihaqi)

Baru ketika itu Allah cabut kehinaan itu. Tidak ada jalan keluar dari kehinaan ini kecuali kita kembali kepada Al-Qur’anul Karim, kembali kepada sunnah Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kita kembali ke rumah Allah, kita bahwa orang-orang menuju Al-Qur’anul Karim, kita pahami Al-Qur’an dan kita amalkan dalam kehidupan ini, kita sampaikan kepada teman-teman kita di kantor, kita sampaikan kepada shahib-shahib yang ada di perusahaan.

Yang memiliki perusahaan, usahakan semuanya ketika adzan dikumandangkan, berhenti. Usahakan ketika menanti antara Adzan sama Qomat, baca Qur’an. Ini usaha untuk kembali kepada kejayaan Islam. Hanya satu cara, tidak ada yang lainnya, kembali kepada Allah Jalla Jalaluhu.

Video Khutbah Jumat Tentang Keagungan Al-Qur’an

Mari turut menyebarkan link download kajian ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum..

Komentar

WORDPRESS: 0