Khutbah Jumat: Ketakutan Yang Salah Dalam Menyikapi Musibah

Khutbah Jumat: Ketakutan Yang Salah Dalam Menyikapi Musibah

dukung ngaji id

Kita melihat banyak musibah, dan musibah itu tidak berhenti, hanya berganti. Apa kata Allah tentang musibah musibah-musibah tersebut? Yaitu supaya kita sadar.

Khutbah Jumat Tentang Kematian: Semua Pasti Mati
Khutbah Jumat: Cara Mensyukuri Nikmat Allah Berupa Kesehatan
Khutbah Jumat: Terlena Dengan Dunia dan Jabatan

Berikut khutbah jumat tentang “Ketakutan Yang Salah Dalam Menyikapi Musibah” yang disampaikan Ustadz Syafiq Riza Basalamah Hafizhahullahu Ta’ala.

Khutbah Jumat – Ketakutan Yang Salah Dalam Menyikapi Musibah

Khutbah Pertama

Wahai manusia yang beriman, hai orang-orang yang beriman bertakwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa dan janganlah kalian mati kecuali dalam kondisi Islam.

Semua mati, yang tua, yang muda, yang anak-anak, yang kaya, yang miskin, yang sehat, yang sakit, yang pejabat, yang rakyat biasa, semuanya bakal mati. Tapi hendaklah engkau memilih kematian yang indah, jangan mati kecuali dalam kondisi Islam.

Ahibbati fillah.. Sampai hari ini dunia masih kebingungan tentang apa yang harus dilakukan menghadapi covid-19, corona. Yang sampai hari ini telah menelan 2.000 lebih dan akan terus bertambah. Yang terinfeksi sudah 70.000 lebih. Kenapa itu terjadi? Apa sebenarnya yang harus dilakukan oleh manusia?

Kadangkala manusia lupa bahwa bumi ini memiliki pencipta. Sebagian merasa sebagai pengurus/pengatur bumi ini. Padahal dia hanya menjadi khalifah yang sementara ditugaskan untuk memakmurkan bumi ini, dengan catatan melaksanakan perintah Allah dan menjauhi laranganNya.

Dulu ada sebuah istilah di Arab sana. Kalau ada pendatang baru datang ke kampung tempat kita tinggal, maka kita katakan kepada dia: يا غريب كن أديب (wahai pendatang, jadilah engkau orang yang beradab dan beretika). Dan kita adalah pendatang di bumi ini, kita bukan pemilik. Allah ‘Azza wa Jalla mengatakan:

وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ…

Di antara tanda-tanda kebesaran Allah diciptakannya langit dan bumi ini…”

وَمَا بَثَّ فِيهِمَا مِن دَابَّةٍ

Dan yang kita lihat dengan mata kita, adanya binatang-binatang, adanya makhluk-makhluk hidup yang bertebaran di muka bumi ini, ada yang menciptakan, ada yang membuat mereka hidup dan ada yang memberikan rezeki kepada mereka. Kata Allah:

وَهُوَ عَلَىٰ جَمْعِهِمْ إِذَا يَشَاءُ قَدِيرٌ

Dan kalau Allah berkehendak untuk mengumpulkan mereka, Allah kumpulkan semuanya.” (QS. Asy-Syura'[42]: 29)

Musibah disebabkan dosa

Kita melihat banyak musibah, dan musibah itu tidak berhenti, hanya berganti. Sebelumnya ada sars, mungkin juga ada mars, kemudian datang lagi covid-19 dan entah apalagi yang akan datang. Bencana-bencana alam yang kita lihat, yang terjadi di negeri kita, di negeri orang lain, di Australia, itu terus berganti dan tidak berhenti. Apa kata Allah tentang musibah musibah-musibah tersebut? Yaitu supaya kita sadar. Apakah penyakit yang terjadi itu karena kita salah makan, atau karena kita salah berolahraga, atau karena kita kurang mengkonsumsi vitamin, atau karena ada hal lain? Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ

Tidak ada satupun musibah yang menimpa kalian melainkan itu karena dosa-dosa kalian…” Yaitu karena pekerjaan kalian. Kita sering mencari kambing hitam, kita suka menyalahkan orang lain. Kata Allah: “dan banyak yang Allah maafkan.” Kalau karena setiap dosa engkau mendapat adzab, maka tidak ada yang hidup dimuka bumi ini.

Tapi Allah masih kesian kepada kita. Andaikata semua dosa yang kita kerjakan diberi adzab dan musibah, maka tidak ada satupun penduduk Jember yang hidup. Kita sok suci.

Ketika perzinahan merajalela

Ahibbati fillah.. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah berpesan kepada para sahabatnya. Beliau mengatakan bahwa ada lima perkara yang aku berlindung kepada Allah semoga kalian tidak menghadapi perkara tersebut. Salah satunya:

لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلاَّ فَشَا فِيهِمُ الطَّاعُونُ وَالأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلاَفِهِمُ الَّذِينَ مَضَوْا

Tidaklah perbuatan zina, kekejian, LGBT, nampak di suatu kaum, sampai mereka mengumumkannya…” dan kita melihat perzinahan di negeri kita, di dunia. Kita melihat bagaimana LGBT, berbagai penyakit nampak di masyarakat dan diumumkan, mereka merekamnya, mereka menyebarkannya, ada suami yang menjual istrinya, ada tempat-tempat yang memang diperuntukkan untuk mengumumkan perzinhaan tersebut. Kamu itu terjadi -dan Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam berlindung jangan sampai kita mendapati hari itu- maka hari itu akan menjadi hari yang gelap untuk kita, walaupun matahari masih terbit dari ufuk timur. 

Apa yang akan terjadi? Yaitu Allah akan tebarkan ke mereka penyakit-penyakit, wabah-wabah yang belum ada di umat-umat sebelumnya. Dan itu sudah terjadi, tapi kita tidak menyadari.

Beberapa hari yang lalu banyak anak-anak muda yang merayakan Valentine. Pada malam itu bapak-bapak tahu betapa larisnya kondom diperjualbelikan. Berapa banyak anak-anak kuliah, anak-anak muda, yang kemudian terjerumus kepada sex bebas dan orangtuanya diam.

Kembali kepada Allah

Ahibbati fillah.. Apa yang harus kita lakukan? Jawabnya yaitu kembali kepada Allah. Allah ketika menurunkan bala’, ketika menurunkan musibah, Allah ingin kita balik, kita sadar. Kalau bicara covid-19,

‏ نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Ada dua nikmat yang manusia lalai, lengah dan mungkin tidak memandang nikmat itu; kesehatan dan waktu luang yang Allah berikan kepada kita.”

Maka gunakan kesehatan yang Allah berikan untuk mengabdi kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Taatkala kita melihat orang-orang tertimpa musibah, seharusnya kita berfikir, kita pun bisa tertimpa musibah tersebut, kita tidak lebih baik dari mereka. Namun Kebanyakan orang ketika dikasih musibah, dikasih adzab berulangkali. Sekarang kita melihat dengan mata kepala kita, kita melihat adanya banjir, kita melihat adanya gempa, kita melihat manusia-manusia yang ditelan oleh bumi, tapi kita tidak kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Allah mengatakan:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا

“Andaikata penduduk negeri itu beriman dan bertaqwa…” Iman bukan di ktp, iman bukan di status, tapi iman dihati yang diucapkan dengan dengan lisan dan dipraktekkan dengan raga kita. “Dan bertakwa,” meninggalkan larangan-larangan Allah ‘Azza wa Jalla.

Allah ketika melarang bukan karena Allah bakhil dengan larangan tersebut. Tapi karena Allah sayang dengan kita. “Andaikata penduduk negeri itu beriman dan bertakwa, apa yang akan terjadi?

لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

“Allah akan bukakan pintu-pintu berkah dari langit dan dari bumi.”

وَلَٰكِن كَذَّبُوا

Tapi mereka ingkar, mereka mendustakan, mereka sibuk dengan dunia mereka, mereka sibuk dengan syahwat mereka, tidak kenal halal-haram, yang ada nafsu perut dan yang di bawah perutnya, itu yang menjadi imam buat mereka dalam kehidupan ini. Nafsunya seperti “tour leader” yang mengantarkan ke tempat-tempat kemaksiatan. Itu yang menjadi pemimpin dia dalam kehidupan ini.

Lalu apa yang akan terjadi dengan mereka? Allah mengatakan:

وَلَٰكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Gara-gara kerjaan mereka itulah Kita mengadzab mereka (Allah tidak pernah mendzalimi hambaNya).” (QS. Al-A’raf[7]: 96)

 Lalu Allah mengatakan:

أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَىٰ أَن يَأْتِيَهُم بَأْسُنَا بَيَاتًا وَهُمْ نَائِمُونَ

Apakah penduduk negeri itu merasa aman dari adzab Allah yang adzab itu bisa datang tatkala Antum tidur di malam hari.” (QS. Al-A’raf[7]: 97)

Berapa banyak negeri-negeri yang hilang, mereka tidur di malam hari, tahu-tahu negeri itu terkena penyakit. Lalu Allah katakan:

أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَىٰ أَن يَأْتِيَهُم بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ

“Mereka merasa aman, adzab Allah bisa datang kepada mereka di waktu dhuha tatkala mereka sibuk dengan pekerjaan mereka, tatkala mereka sedang bermain-main?”

أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ ۚ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

Apakah mereka merasa aman dari makar Allah…” Allah melihat tatkala kita berbuat dosa, malaikat-malaikat Allah menyaksikan tatkala kita berbuat dosa. Mungkin tetangga kita tidak mengetahuinya, mungkin istri kita tidak mengetahuinya, tapi Allah Jalla jalaluh,

إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu,” Lalu engkau merasa aman dari adzab Allah?

Khutbah Kedua

Jama’ah Rahimakumullah.. Kira-kira 1441 tahun yang lalu, setelah 13 tahun dari turunnya Al-Qur’anul Karim, ada yang mengatakan setelah 4 tahun dari turunnya Al-Qur’anul Karim, Allah berfirman:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ

Allah menyinggung para sahabat Nabi. Apa belum tiba saatnya, apa belum tiba waktu buat orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka dengan peringatan-peringatan Allah, untuk menuruti ayat-ayat Allah. Apa belum tiba saatnya? Nunggu kapan kalian bertaubat?

Itu para sahabat Nabi, 1441 tahun yang lalu mereka ditegur. Apakah mereka menunggu hati mereka keras seperti hatinya orang-orang Ahlul kitab? Karena menunda-nunda taubat, iya saya akan bertaubat InsyaAllah tatkala umur saya diatas 40 tahun, tatkala saya tua, namun ternyata banyak di antara mereka yang mati dan tidak pernah bertaubat.

فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ

Hati mereka menjadi keras.” Ceramah-ceramah disampaikan, ayat-ayat Allah dibacakan, tapi tidak memiliki pengaruh apa-apa pada diri mereka.

Meninggal belum bertaubat

Allah ‘Azza wa Jalla mengatakan tentang orang-orang yang dikasih bala, dikasih cobaan, tapi dia tidak sadar kalau itu datangnya dari diri mereka sendiri, kalau Allah menurunkan itu agar manusia kembali kepada Allah, ketika dia tidak sadar-sadar, apa yang akan terjadi? Allah mengatakan:

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ

Tatkala orang-orang itu lupa dengan peringatan-peringatan Allah,”

فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ

Maka Kami akan bukakan untuk mereka segala pintu kebaikan, segala pintu kesenangan, segala pintu kenikmatan,”

حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا

Sampai tatkala mereka bergembira dengan pencapaian mereka, mereka senang dengan kesuksesan mereka,”

أَخَذْنَاهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ

Kami cabut nyawa mereka dalam kondisi mereka tidak siap, tiba-tiba mati.

Mereka belum sempat bertaubat. Apakah kita menunggu itu terjadi dengan kita?

Di antara tanda-tanda kiamat -kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam- adalah banyaknya mati mendadak. Kalau orang itu orang baik, semoga kematian itu jadi husnul khatimah. Tapi kebanyakan kita berada dalam kubangan dosa. Maka ahibbati fillah, jangan tergiru dengan kenikmatan yang ada pada diri kita, jangan terpedaya dengan dunia yang kita miliki, karena kita memang lebih mementingkan dunia. Padahal kita tahu semua, semua akan kita tinggalkan.

Ahibbati fillah.. Hari ini hari Jumat, usahakan ketika datang ke rumah Allah jangan sampai khatib naik mimbar, jangan sampai kau datang ke rumah Allah tapi malaikat sudah tutup bukunya. Sepekan sekali kita datang mendengarkan peringatan-peringatan Allah ‘Azza wa Jalla. Allah sudah turunkan surah Jumat, maka baca adab dan etika datang jumatan.

Hari ini harinya bershalawat untuk Nabi ‘Alaihis Shalatu was Salam, harinya berdoa di akhir Jumat nanti, manfaatkan untuk berdoa. Doakan saudara-saudara kita, agar mereka mendapatkan petunjuk dari Allah dan diberi keselamatan dalam kehidupan dunia dan akhirat.

Video Khutbah Jumat Tentang Ketakutan Yang Salah Dalam Menyikapi Musibah

Sumber video: SRB Official

Demikian khutbah jumat tentang “Ketakutan Yang Salah Dalam Menyikapi Musibah“. Mari turut menyebarkan catatan kajian ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum..

Komentar

WORDPRESS: 0