Khutbah Jumat: Orang Shalih Yang Bangkrut

Khutbah Jumat: Orang Shalih Yang Bangkrut

Khutbah Jumat tentang “Orang Shalih Yang Bangkrut” ini adalah tulisan yang kami transkrip dari video khutbah yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Syafiq R

Kultum Tentang Hutang Dalam Islam: Menunda Pembayaran Hutang adalah Kedzaliman
18# Memaafkan Menjadi Sebab Terhinanya Musuh
17# Kedzaliman Yang Menimpa adalah Sebab Diampuni Dosa

Khutbah Jumat tentang “Orang Shalih Yang Bangkrut” ini adalah tulisan yang kami transkrip dari video khutbah yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah Hafizhahullahu Ta’ala.

Khutbah Jumat: Orang Shalih Yang Bangkrut

Khutbah Jumat Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ لمُلْكُ، وَلَهُ الحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ صَلَوَاتُ رَبِّ وَسَلاَمُهُ وَبَرَكَاتُهُ، عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ، وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَي اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ ﴿آل عمران : ۱۰۲﴾

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (QS. Ali ‘Imran[3]: 102)

Ini seruan Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya untuk yang beriman. Yang tidak beriman, silakan tutup telinga. Mungkin kita berpikir bahwa kalimat takwa adalah kalimat yang sering kita dengarkan. Ya, kita sering mendengarkannya. Tapi tahukah kita, untuk siapa surga itu?

اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ ۙ ﴿آل عمران : ۱۳۳﴾

“Disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” (QS. Ali ‘Imran[3]: 133)

Maka kita perlu sering-sering mengevaluasi diri kita. Apakah kita sudah bertakwa? Atau kita hanya pura-pura bertakwa selama ini?

Ahibbati Fillah,

Sebagian kita merasa sudah bertakwa dan melakukan banyak ketaatan. Dia memakmurkan masjid, dia mungkin imam atau ustadz, mungkin banyak sedekah, dan membaca Al-Qur’anul Karim. Ya, alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah  Subhanahu wa Ta’ala. Tapi kita perlu tahu juga bahwa ternyata pada hari kiamat kelak ada orang-orang yang shalih/ yang banyak ketaatannya, dia masuk neraka.

Ke mana ketaatan dia? Ke mana shalat dia, Al-Qur’an yang dia baca, dan ke mana puasa sunnah yang dia lakukan? Habis. Habis ibadah dia gara-gara ada perampok-perampok amalan dia, ada pencuri-pencuri ibadah dia yang tidak dia sadari tatkala hidup di dunia.

Oleh karena itu, Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan kita tentang bagaimana menjaga amalan kita. Jangan hanya sibuk beramal tapi kita tidak menjaga amalan tersebut. Di dalam hadits riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ta’ala anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada para sahabat,

أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ؟

“Apakah kalian tahu siapa orang yang bangkrut itu?”

قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ

Para sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut itu adalah yang tidak mempunyai dirham maupun harta benda.”

فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ

Tetapi Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata, “Orang yang bangkrut dari umatku ialah, orang yang datang pada hari kiamat membawa (pahala) shalat, puasa dan zakat,”

Dia datang membawa pahala shalat, berarti shalatnya ikhlas lillahi ta’ala dan ada pahalanya. Bukan riya’. Shalatnya pun ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dia membawa pahala puasa, berarti puasanya ikhlas lillahi ta’ala. Dan ia datang dengan membawa pahala zakat, menunjukkan bahwa ibadah dia berpahala. Namun orang ini bangkrut gara-gara;

وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

“(Ketika di dunia) Dia suka mencaci maki dan (salah) menuduh orang lain, makan harta orang lain, menumpahkan darah dan memukul orang lain (tanpa hak). Maka orang-orang yang terdzalimi itu akan diberi pahala dari kebaikan-kebaikan pelaku dzalim. Jika telah habis kebaikan-kebaikannya, maka dosa-dosa mereka akan ditimpakan kepadanya, kemudian dia akan dilemparkan ke dalam neraka” (HR. Muslim)

Dia datang bawa pahala yang banyak, menunjukkan bahwa dia adalah orang sholih/ baik. Mungkin di mata kita, orang ini Maa syaa Allah ‘alim dan ahli ibadah. Tapi ternyata lisannya tidak dijaga. Dia suka memaki orang, menggunjing, menjelek-jelekkan, dan juga menuduh orang berzina/ menfitnah orang.

Kemudian dia mengambil uangnya fulan. Baik itu dengan mencuri atau dengan berhutang dan tidak membayarnya. Dia juga mungkin pernah mengucurkan darah orang atau memukul. Semua orang yang pernah dia zalimi akan datang kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari kiamat.

Mereka menuntut kepada si fulan. Dia punya banyak pahala, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengambil pahala shalatnya  lalu diberikan kepada si fulan. Lalu habislah pahala shalatnya. Kemudian pahala puasanya diberikan kepada si fulan. Ternyata banyak orang yang dia sakiti selama ini. Dan habis pula pahala puasanya, lalu demikian juga pahala sedekahnya.

Hingga semua pahala dia habis dan ternyata masih ada orang-orang yang pernah dia zalimi di dunia, maka dosa orang-orang itu dilemparkan kepada orang yang alim/ shalih ini. Sudah habis pahalanya, lalu dosanya bertambah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَاَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهٗ ۙ ﴿۶﴾ فَهُوَ فِيْ عِيْشَةٍ رَّاضِيَةٍ ۗ ﴿۷﴾ وَاَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِيْنُهٗ ۙ ﴿۸﴾ فَاُمُّهُ هَاوِيَةٌ ۗ ﴿۹﴾ وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا هِيَهْ ۗ ﴿۱۰﴾ نَارٌ حَامِيَةٌ ࣖ ﴿القارعة :۱۱-۶﴾

“Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. ahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas.” (QS. Al-Qari’ah[101]: 6-11)

Maka ahibbati fillah,

Kita perlu duduk untuk merenungkan orang-orang yang pernah kita zalimi. Karena ternyata yang paling banyak memasukkan ke neraka itu adalah karena lisan. Mungkin kita mengatakan, “Alhamdulillah, ana enggak pernah ngambil uangnya orang, memukul orang, ataupun menipu orang.”

Renungkan lisan/ tulisanmu. Pernahkah engkau membicarakan orang? Pernahkah engkau menjelek-jelekkan orang? Mungkin orang itu tidak tahu dan tidak sadar,

وَأَنَّ ٱللَّهَ عَلَّٰمُ ٱلْغُيُوبِ

“dan bahwasanya Allah amat mengetahui segala yang ghaib.” (QS. At-Taubah[9]: 78)

Maka kita harus mempersiapkan akan adanya persidangan yang di mana orang-orang itu akan menuntut kita. Tatkala orang-orang bergerak di Padang Mahsyar, mereka hendak menuju ke surga, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَقِفُوهُمْ ۖ إِنَّهُم مَّسْـُٔولُونَ

“Dan tahanlah mereka (di tempat perhentian) karena sesungguhnya mereka akan ditanya:” (QS. As-Saffat[37]: 24)

Mereka harus bertanggung jawab dulu.

Ahibbati Fillah,

Kalau kita tidak pandai menjaga lisan kita, maka sayang shalat Jumat kita hari ini. Kita tadi shalat tahiyyatul masjid atau mungkin ba’diyah Jum’at kita shalat. Namun ternyata shalat kita itu kita berikan kepada orang lain. Di mana akal kita?

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Jumat Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّهِ وَكَفَى وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيُّ الْمُصْطَفَى وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنِ اقْتَفَى، أَمَّا بَعْدُ

Ahibbati Fillah,

Ada satu perkara dari bab muamalat kita sama manusia, yang kita lihat di negeri kita menjadi sebuah tradisi dan budaya yang dianggap biasa. Yaitu hutang.

Berapa banyak orang yang berhutang tapi tidak membayarnya? Berapa banyak orang yang juga berhutang secara online, karena dia berpikir dia bisa mendapat uang. Dia dapat menggunakannya, walaupun di situ ada lintah darat/ riba dia tetap melakukannya.

Ahibbati Fillah,

Nasihat ana untuk diri ana dan Antum yang hadir semua di tempat ini, jangan mati meninggalkan hutang. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah duduk bersama para sahabat, lalu beliau meletakkan tangan di keningnya dan mengatakan,

مَاذَا نُزِّلَ مِنَ التَّشْدِيدِ؟

“Kesulitan (berat) apa yang diturunkan?”

Para sahabat terdiam dan ketakutan. Tidak ada yang berani bertanya. Lalu keesokan harinya ada yang bertanya kepada Nabi ‘Alaihisshalatu wa Sallam, “Ya Rasulullah, apa hukuman berat yang Allah turunkan?”

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ ! لَوْ أَنَّ رَجُلا قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ أُحْيِيَ ، ثُمَّ قُتِلَ ، ثُمَّ أُحْيِيَ ، ثُمَّ قُتِلَ ، وَعَلَيْهِ دَيْنٌ مَا دَخَلَ الْجَنَّةَ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ دَيْنُهُ

“Demi yang jiwaku yang ada ditangan-Nya. Seandainya seseorang terbunuh di jalan Allah kemudian dihidupkan kembali, kemudian terbunuh lagi (di jalan Allah) kemudian dihidupkan kembali, kemudian terbunuh lagi (di jalan Allah) sementara dia punya tanggungan hutang maka dia tidak akan masuk surga sampai hutangnya dilunaskan.” (HR. An Nasa’i No. 4367)

Bayangkan. Kita mengetahui pahala orang yang mati syahid itu diampuni dengan awal tetesan darahnya. Kemudian jika ada orang yang tiga kali mati syahid namun punya hutang, maka tidak diampuni dosanya. Sedangkan kita menganggap hutang itu hal yang remeh. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di dalam doanya, beliau sering mengatakan,

اللَّهُمَّ إِنّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأثَمِ وَالـمَـغْــرَمِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan dosa dan lilitan hutang.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Beliau berlindung dari hutang, sedangkan kita bermudah-mudahan berhutang. Rumah berhutang, motor berhutang, handphone berhutang, semuanya berhutang.

Ahibbati Fillah,

مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّى اللَّهُ عَنْهُ ، وَمَنْ أَخَذَ يُرِيدُ إِتْلاَفَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ

“Barang siapa yang mengambil harta manusia (berhutang), (dan) ingin melunasinya, niscaya Allah akan melunaskan atasnya dan barang siapa yang mengambil (dan) ia ingin menghilangkannya niscaya Allah menghilangkannya.” (HR. Bukhari)

Maka apabila memang harus berhutang, berhutanglah untuk kebutuhan primer/ pokok kita. Dan niatkan untuk membayarnya dengan harapan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang melunasi hutang-hutang kita.

Yang terakhir, ahibbati fillah,

Kita masih banyak melihat jama’ah yang hadir setelah khutbah kedua. Hadir setelah khatib naik mimbar. Mengapa, jama’ah? Apakah begitu sibuknya diri kita sampai panggilan Allah ‘Azza wa Jalla tidak kita gubris? Kita lebih mementingkan pekerjaan kita. Padahal hanya sepekan sekali. Itulah manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا . وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’la[87]: 16)

Ahibbati Fillah,

Ada satu surat di dalam Al-Qur’an yang mungkin luput dari bacaan kita. Surat itu namanya surat Al-Jumu’ah, surat tentang Jum’at. Bacalah surat itu agar kita mengetahui aturan kita sebagai hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika hadir Jum’atan.

Ahibbati Fillah,

Hari ini adalah harinya bershalawat kepada Nabi Alaihisshalatu wa Sallam, maka perbanyaklah shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا، اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَزِدْ وَبَارِكْ وَاَنْعِمْ عَلَى سَيِّدِنَاوَمَوْلَانَامُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ، اَللَّهُمَّ اغْفِرْلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبٌ الدَّعَوَاتِ، اللَّهُمَّ مُنْزِلَ الْكِتَابِ مُجْرِيَ السَّحَابِ هَازِمً أَحْزَاب اِهْزِمْ أَعْدَائَك أَعْدَاءَالدِّيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ، اَللَّهُمَّ انْصُرْإِخْوَاننَاَ الْمُسْتَضْعَفِينَ فِيْ کُلِّ مَکن، اَللّٰهُمَّ أصْلِحْ وَلِيًّاأَمْرِنَاوَؤُلَآتَ أُمُوْرِالْمُسْلِمِیْنَ، اَللّٰهُمَّ أصْلِحْ وَلِيًّاأَمْرِنَاوَؤُلَآتَ أُمُوْرِالْمُسْلِمِیْنَ، رَبَّنَا ظَلَمْنَآ أَنفُسَنَا وَإِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ، اللَّهُمَّ تَوَفّنَا مُسْلِمِينَ، وَأَلْحِقْنَا بِالصَّالحينَ، رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى ٱلْءَاخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ، وَسُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Video Khutbah Jumat Tentang Orang Shalih Yang Bangkrut

Sumber video khutbah Jumat:  Channel Ustadz Syafiq Riza Basalamah Official

Demikian khutbah Jumat tentang “Orang Shalih Yang Bangkrut“. Mari turut menyebarkan catatan kajian ini di media sosial yang Anda miliki. Baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum.

Komentar

WORDPRESS: 0