Khutbah Jum’at: Pertanggungjawaban di Akhirat

Khutbah Jum’at: Pertanggungjawaban di Akhirat

pandai mendengar

Sebagian orang kehilangan shalat subuh, sebagian orang melakukan kemaksiatan, sebagian orang melakukan kesyirikan, tapi dia tidak merasa itu musibah. Padahal dua rakaat sebelum subuh itu lebih baik dari negeri ini.

Khutbah Jumat Singkat Tentang Manfaat Dzikir
Teks Khutbah Idul Fitri Tentang Pelajaran dari Ramadhan
Khutbah Jumat: Cara Mensyukuri Nikmat Allah Berupa Kesehatan

Berikut khutbah jumat “Pertanggungjawaban di Akhirat” yang disampaikan Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah Hafidzahullahu Ta’ala.

Khutbah Pertama Pertanggungjawaban di Akhirat

“Wahai orang-orang yang beriman,” menurut ana semua yang hadir di tempat ini beriman. Berarti kita dipanggil, jama’ah.

Berulang kali Allah memanggil kita di dalam Al-Qur’anul Karim, tapi kita tidak mendengarkan, kita sibuk dengan aktivitas kita. Allah mengatakan:

اتَّقُوا اللَّـهَ حَقَّ تُقَاتِهِ

Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa.

Sebagian berkata “kalau takwa kita sering mendengarnya”. Padahal itu bukan hanya ucapan yang didengar, tapi takwa adalah mengingat Allah selalu dan tidak melupakanNya. Takwa adalah bersyukur kepada Allah dan tidak kufur. Takwa adalah melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya.

وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Jangan mati kalian kecuali dalam kondisi Islam.

Ahibbati Fillah..

Kalau kita melihat peristiwa demi peristiwa yang kita hadapi di rumah kita, di diri kita pribadi, di kampung kita, di negeri kita, ada banyak musibah. Dan ternyata musibah itu seakan-akan tidak pernah berhenti menimpa kita.

Kenapa? Yaitu karena memang kita sedang berada di negeri bala’, kita sedang hidup di dunia yang kata Allah ‘Azza wa Jalla:

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ

Kami benar-benar akan menguji kalian dengan rasa takut, rasa lapar

وَنَقْصٍ…

“Ada kekurangan harta, keurangan buah-buahan, kurangan kerabat.”

Iya, itu ujian dari Allah ‘Azza wa Jalla.

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Berikan kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar.” (QS. Al-Baqarah[2]: 155)

Ahibbati Fillah..

Di antara musibah-musibah yang menimpa kita, yang menimpa saudara kita, ada sebagian kehilangan motornya, ada sebagian yang terbakar rumahnya, ada sebagian terjadi gempa di negerinya. Menurut kita sebagian musibah itu besar. Kasihan fulan, bapaknya mati, ibunya mati, rumahnya habis. Iya, kita kasihan sama fulan. Satu kampung hilang dari Indonesia.

Tapi ada sebuah musibah yang lebih besar daripada kita kehilangan rumah dan isi rumah kita. Ada sebuah musibah yang lebih dahsyat daripada gempa bumi, daripada tsunami, apa itu? Yaitu musibah agama kita.

Sebagian orang kehilangan shalat subuh, sebagian orang melakukan kemaksiatan, sebagian orang melakukan kesyirikan, tapi dia tidak merasa itu musibah.

Ahibbati Fillah..

Berapa sih harga rumah kita? Berapa sih harga kompleks ini? 10 triliun? Tidak sampai! 1 triliun? Kemahalan. Berapa kira-kira?

Kita tau dua rakaat sebelum subuh:

رَكعَتَا الْفجْر خير من الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

“Dua rakaat sebelum subuh itu lebih baik dari negeri ini.”

Kita sering kehilangan dua rakaat sebelum subuh tapi kita tidak merasa kehilangan apa-apa. Kalau cluster ini ditelan oleh bumi, akan jadi cerita di dalam koran, akan di-publish di mana-mana bahwa ada sebuah cluster yang hilang ditelan bumi. Tapi masyarakat-masyarakatnya tidak shalat, tidak ada yang cerita.

Ahibbati Fillah..

Musibah dalam agama itu musibah dunia dan akhirat. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdoa mengatakan:

وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا

“Ya Allah, jangan jadikan musibah kami dalam agama kami, Ya Allah.”

Antum tahu sebagian orang ketika datang ke Masjid, dia lihat sudah bubar shalat berjamaah di Masjid. Itu tangga-tetangganya takziah bela sungkawa ke rumahnya. Sampai sebagian dari Salafush Shalih mengatakan: “Aku ketika anakku meninggal dunia 1000 orang datang untuk bela sungkawa. Aku kehilangan shalat berjamaah di Masjid tidak ada yang peduli sama aku.”

Kenapa jama’ah? Yaitu karena kita memandang dunia ini segala-galanya. Wallahi dunia ini tidak lebih dari satu sayap nyamuk. Kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

لَوْ كَانَت الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّه جَنَاحَ بَعُوضَةٍ

“Andaikata dunia ini ada nilainya seperti salah satu sayap nyamuk itu,”

مَا سَقَى كَافِرًا مِنْها شَرْبَةَ مَاءٍ

“Orang kafir tidak akan dikasih seteguk air.”

Antum pandang dunia, Antum pandang mobil-mobil yang mewah, Antum pandang gedung-gedung yang tinggi? Antum lihat semua itu dan Antum pegang satu nyamuk. Antum lihat, ternyata nilai semua itu tidak lebih dari satu sayap nyamuk.

Tapi kita berjuang dari pagi sampai sore, malam hari kita bekerja lembur, tapi untuk akhirat kita jama’ah? Hari ini mungkin ada yang tidak membaca Al-Qur’anul Karim, belum selesai membaca Al-Kahfi, tapi buat dia juga itu bukan musibah.

Coba dia telat datang ke kantornya. Mungkin dia akan menyesal.

Ahibbati Fillah..

Allah mengatakan:

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا ﴿١٦﴾

Kalian lebih mementingkan kehidupan dunia.”

وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ ﴿١٧﴾

Akhirat itu lebih baik, lebih abadi.

Semua yang kita lihat akan kita tinggalkan, jama’ah.

Khutbah Kedua Pertanggungjawaban di Akhirat

Jama’ah Rahimakumullah,

Mungkinkah orang seperti kita masuk surga? Para sahabat Nabi ketika mereka sampai ke Kota Madinah, setelah hidup 13 tahun penuh perjuangan dan pengorbanan, rumah mereka mereka tinggalkan, keluarga mereka mereka tinggalkan di Kota Mekah. Mereka datang ke Kota Madinah untuk hijriah. Ternyata Allah masih menegur mereka di surah Al-Baqarah ayat 214, Allah mengatakan:

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ

Apakah kalian mengira kalian bisa masuk surga?

Itu sahabat Nabi yang sebagian terbunuh mempertahankan agamanya. Allah katakan:

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ

Kalian mengira kalian bisa masuk surga?

وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِن قَبْلِكُم ۖ مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّـهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّـهِ قَرِيبٌ ﴿٢١٤﴾

Kalian mengira kalian bisa masuk surga?

Kita ini santai hidupnya, jama’ah. Perjuangan apa yang sudah kita lakukan? Darah mana yang sudah kita teteskan? Lihatlah itu para sahabat Nabi Allah tegur. Lalu kalian berharap masuk surga?

Ahibbati Fillah..

Kita ini mungkin tidak terbayang seperti apa surga yang Allah tawarkan. Kerudungnya bidadari surga kalau dibandingkan dengan dunia, maka itu lebih baik dari dunia dan isinya.

Orang bangga punya jam 5 milyar, bangga punya baju 1 miliar, punya tas miliaran, kerudungnya penghuni surga itu lebih baik dari dunia dan isinya.

Terus apa yang harus kita lakukan? Kata Allah “Sedangkan kalian belum ditimpa dengan musibah-musibah yang pernah menimpa orang-orang sebelum kalian.” Mereka ditimpa dengan berbagai balak, kemiskinan, kefakiran, penyakit, serangan musuh, dibantai, ditindas, digoyangkan bumi ini.

Wallahi, sebagian kita mungkin diuji dengan harta, paginya muslim sorenya kafir, sorenya muslim paginya kafir.

يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

“Dia jual agamanya untuk mendapatkan sedikit kenikmatan dunia.” (HR. Muslim)

Kita sedang berbincang tentang musibah dunia. Kalau Antum kehilangan semua harta Antum, asalkan tidak kehilangan iman, ada harapan Antum masuk surga.

Mereka para pengikut-pengikut Nabi sebelumnya pun diuji. Antum lihat bagaimana tukang sihir Firaun yang diuji imannya. Pagi hari datang kepada Firaun mendukung Firaun bahkan dia ingin menjadi orang-orang dekatnya Firaun. Sore harinya mereka dibantai dan disalib di pohon kurma dalam kondisi tangan dan kakinya diputus. Iman mereka paginya masih cinta dunia, sorenya sudah berharap masuk surga.

Mampukah kita kalau agama kita ditawar seperti itu?

Kisah Ashabul Ukhdud, bagaimana orang-orang dimasukkan ke dalam ukhdud (parit) yang penuh dengan api. Salah satunya seorang wanita dengan bayi dalam gendongan dia. Dia disuruh memilih antara beriman dengan sekutu-sekutu/berhala-berhala atau mati dalam kondisi beriman kepada Allah ‘Azza wa Jalla?

Sempat dia kasihan kepada anaknya. Allah turunkan bantuan sehingga anak itu bisa bicara mengatakan:

اصبرى يا أماه…

“Sabar bunda, adzab dunia ini lebih ringan daripada adzab akhirat.”

Maka tolong bersabar, berjuanglah terus, engkau akan terus disakiti. Kita tidak akan pernah beristirahat. Kapan istirahat? Ketika engkau meletakkan kakimu di surga.

Ahibbati fillah..

Hari ini hari Jumat. Hari Jumat ini afdhal, kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lebih afdhal daripada idul fitri dan idul adha. Apa yang kita lakukan di hari Jumat? Berapa kali kita bershalawat buat Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam?

Sebagian tidak mengagungkan Jumatan, datang telat dan tidak merasa itu musibah buat dia. Kenapa? Karena ada masalah di hati dia. Agungkan hari Jumat. Di sore hari ada doa yang mustajab, perbanyak doa, perbanyak shalawat.

Video Khutbah Jumat Tentang Pertanggungjawaban di Akhirat

Mari turut menyebarkan link download kajian ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum..

Komentar

WORDPRESS: 0