Khutbah Jumat: Bukti Benarnya Iman di Hati

Khutbah Jumat: Bukti Benarnya Iman di Hati

pandai mendengar

Bukti benarnya iman di dalam hati adalah kalau disebut nama Allah Subhanahu wa Ta’ala, menjadikan kita takut. Kalau ada yang menasehati dengan menyebut nama Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka hati segera menghadap untuk mendengarkan nasehat tersebut.

Muqaddimah 1 Silsilah Amalan Dan Penyakit Hati
Materi 9 – Faedah Ikhlas ke-6 dan 7
Kultum Singkat Tentang Sulitnya Memperbaiki Niat

Berikut khutbah jumat “Bukti Benarnya Iman di Hati” yang disampaikan Ustadz Abdullah Taslim, M.A. Hafidzahullahu Ta’ala pada 28 Rajab 1442 H / 12 Maret 2021 M di Masjid An Nur Kolaka, Sulawesi Tenggara.

Download pdf https://t.me/ngajiid/57

Khutbah Pertama Bukti Benarnya Iman di Hati

Ma’asyiral muslimin, jamaah shalat jumat rahimakumullah..

Alhamdulillah, kita senantiasa dan selalu bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas semua limpahan nikmat dan karuniaNya. Kita tidak henti-hentinya untuk selalu memuji dan menyanjung Allah Subhanahu wa Ta’ala atas semua kebaikan yang diturunkanNya kepada kita.

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala atas nikmat Islam, kemuliaan iman, nikmat menjadi pengikut Nabi kita yang mulia, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yang semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga nikmat ini pada diri kita sampai di akhir hayat kita.

Barakallahu fiikum..

Kemudian selalu khatib, pada kesempatan jumat kali ini, kami menghimbau kepada jamaah sekalian, marilah kita berusaha untuk selalu meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengusahakan sebab-sebab yang menyempurnakan keimanan, ketakwaan dan penghambaan diri kita kepadaNya.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah..

Keimanan yang merupakan perhiasan hati, yang ketika seorang hamba menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari kiamat nanti, tidak akan diterima kecuali dengan membawa keimanan yang benar ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ﴿٨٨﴾ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّـهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ ﴿٨٩﴾

Pada hari kiamat nanti tidak akan bermanfaat harta maupun anak-anak keturunan kecuali orang yang datang menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan hati yang bersih (hati yang diisi dengan iman dan tidak ada kotoran-kotoran yang merusak iman).” (QS. Asy-Syu’ara'[26]: 88)

Keimanan inilah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan petunjuk di dalam Al-Qur’an dalam rangka memberikan bimbingan kepada manusia agar menjadikan petunjuk ini sebagai sebab untuk menghidupkan dan menumbuhkan iman mereka. Makanya ketika ayat-ayat Al-Qur’an menyebutkan tentang iman atau tentang orang-orang yang beriman, Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menyebutkan dengan ciri-ciri atau tanda-tanda yang dengan itu seorang muslim bisa menilai dirinya apakah dia memiliki keimanan yang benar atau keimanannya sedang dalam masalah?

Tidak asing bagi kita ayat-ayat Al-Qur’an yang menyebutkan tentang hal ini. Misalnya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّـهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ ﴿٢﴾

“Hanyalah orang-orang yang beriman…”

Ini menunjukkan pembatasan, tidak disebut sebagai orang yang beriman dengan benar kecuali kalau dia memiliki ciri-ciri ini.

Hanyalah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang ketika disebut nama Allah Subhanahu wa Ta’ala maka hati mereka takut, hati mereka bergetar, dan ketika dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, dengan itu bertambahlah keimanan mereka, dan mereka senantiasa tunduk dan bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (QS. Al-Anfal[8]: 2)

Ini salah satu di antara ayat yang mengajarkan kepada kita bahwa bukti benarnya iman di dalam hati kita adalah contohnya seperti yang disebutkan di dalam ayat ini, yaitu kalau disebut nama Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita takut, kalau ada yang mengatakan kepada kita “ittaqillah (bertakwalah kepada Allah)“, maka hati kita akan takut untuk melanggar perintahnNya. Kalau ada yang menasehati kita dengan menyebut nama Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka hati kita segera menghadap untuk mendengarkan nasehat tersebut.

Sebagaimana juga Allah Subhanahu wa Ta’ala misalnya berfirman di ayat yang lain, di surat Al-Mukminun:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ﴿١﴾ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ ﴿٢﴾

Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyuk di dalam shalatnya.” (QS. Al-Mu’minun[23]: 1)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah..

Ayat ini menjelaskan salah satu di antara ciri utama orang yang beriman adalah khusyuk di dalam shalatnya. Maksudnya, orang yang beriman itu dengan konsekuensi imannya menjadikan amalan shalat itu sebagai sebab ketenangan dirinya. Sehingga tidak mungkin orang yang beriman itu malas-malasan menjalankan shalat, terburu-buru mengerjakan shalat, ingin cepat-cepat selesai dari shalatnya.

Kita ketahui ini bahkan disebutkan di dalam Al-Qur’an justru merupakan ciri-cirinya orang munafik.

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّـهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّـهَ إِلَّا قَلِيلًا ﴿١٤٢﴾

Sesungguhnya orang-orang munafik, mereka ingin memperdaya Allah dan Allah membalas tipu daya mereka, dan ketika mereka berdiri melaksanakan shalat, mereka berdiri/melakukannya sambil bermalas-malasan/tidak semangat, mereka berbuat riya’ (memperlihatkan amal kepada manusia) dan mereka tidak berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali sangat sedikit sekali.” (QS. An-Nisa'[4]: 142)

Kita lihat perbedaannya ma’asyiral muslimin jamaah shalat jumat rahimakumullah..

Orang yang beriman, karena konsekuensi imannya menjadikan ketika dia menghadap Allah, dia merasa gembir, dan disitulah ketenangan dirinya. Sehingga tidak salah kalau di dalam tafsir yang terkenal,  tafsir Ibnu Katsir Rahimahullahu Ta’ala, Al-Imam Ibnu Katsir Rahimahullahu Ta’ala ketika menyebutkan tafsir dari ayat ini, ketika beliau menjelaskan apa makna shalat yang khusyuk, beliau menafsirkannya dengan membawakan sebuah hadits yang shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, An-Nasa’i dan yang lainnya, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda:

وجُعِلَتْ قُرةُ عينِي في الصّلاةِ

“Dijadikan kesejukan bagi hatiku/penghibur bagi jiwaku ketika aku menunaikan shalat.” (HR. Ahmad, An-Nasa’i dan yang lainnya)

Juga hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang lain dalam musnad Imam Ahmad, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda kepada muadzin beliau (yaitu Bilal Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu):

ارحنا بالصلاة يابلال

“Wahai Bilal, berikanlah kesejukan kepada hati kita dengan melaksanakan shalat.” (HR. Ahmad)

Kita perhatikan, apa hubungan hadits ini dengan makna khusyuk yang disebutkan di dalam ayat tadi sebagai ciri orang yang beriman?

Ma’asyiral muslimin jamaah shalat jumat rahimakumullah..

Orang yang beriman, saat yang terindah bagi dirinya adalah ketika menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala. Makanya mereka sangat menantikan dan selalu merindukan waktu-waktu shalat. Kita kan semua tahu bahwa di antara yang disebutkan dalam sebuah hadits yang shahih tentang orang yang mendapatkan keutamaan besar pada hari kiamat, naungan ‘Arsynya Allah Subhanahu wa Ta’ala, di antaranya adalah:

رجل معلّق قلبه بالمساجد

“Seseorang yang hatinya selalu terikat dengan masjid.”

Maksudnya apa? Dia selalu menunggu waktu shalat, dia selalu merindukan saat-saat bertemu Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jadi, shalat itu bukanlah sesuatu yang menjadikan dia merasa susah, menjadi beban bagi dirinya, sama sekali tidak. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan di dalam hadits tadi, “Dijadikan kesejukan hatiku ketika aku menunaikan shalat.”

Ibnu Katsir Rahimahullahu Ta’ala menyebutkan inilah hakikat daripada shalat yang khusyuk. Shalat yang khusyuk itu adalah orang yang tenang ketika melaksanakan shalatnya. Anggota badannya tenang disebabkan karena hatinya tenang ketika dia menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Makanya tidak diartikan shalat yang khusyuk itu hanya sekedar shalatnya orang yang tidak ingat apa-apa, dia akan lupa nanti rakaat shalatnya, dia tidak ingat nanti bacaan-bacaan dzikir dalam shalatnya, tidak.

Justru orang yang khusyuk dalam shalatnya karena hatinya dipenuhi dengan iman, hatinya gembira ketika bertemu dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, ini menjadikan dia tenang ketika menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga urusan-urusan dunia dilupakan ketika dia sedang menjalankan shalat tersebut. Ini yang kita kenal, misalnya disebutkan di dalam ayat-ayat Al-Qur’an tentang dalil-dalil pendukungnya, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّـهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّـهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ﴿٢٨﴾

Orang-orang yang beriman dan hati mereka tenang ketika berdzikir kepada Allah, ketahuilah dengan berdzikir kepada Allah hati manusia menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d[13]: 28)

Ini menunjukkan orang yang beriman tidak ada satupun dalam urusan di dunia ini yang menjadikan hatinya tenang selain daripada ketika dia berdzikir dan mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Oleh karena itulah, karena ini menjadi sebab ketenangan dirinya, makanya ketika dia melaksanakan shalat yang shalat itu adalah sebesar-besarnya dzikir. Maka ketika dia menjalankan shalat menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka dia merasakan ketenangan yang dengan sebab itu dia akan terfokus hatinya hanya menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak mengingat lagi urusan-urusan dunianya.

Oleh karena itulah, ma’asyiral muslimin jamaah shalat jumat rahimakumullah..

Dari sinilah para ulama kita menjelaskan bahwa khusyuk itu berbanding lurus dengan iman. Buktinya ayat tadi menyebutkan ciri pertama orang beriman yang beruntung adalah shalatnya khusyuk. Karena khusyuk itu berbanding lurus dengan iman, berarti orang yang tidak belajar iman, tidak mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an yang menjadi sebab tumbuhnya iman, tidak akan mungkin dia mencapai khusyuk, tidak akan mungkin mencapai khusyuk.

Sebagian dari para sahabat Radhiyallahu ‘Anhum ada yang mengatakan:

إياكم وخشوع النفاق !!!

“Hati-hati kalian dari namanya khusyuk munafik (khusyuk yang pura-pura).”

أن ترى الجسد خاشعا والقلب ليس بخاشع

“Yaitu orang yang kelihatannya tunduk anggota badannya padahal hatinya tidak tunduk/tidak tenang.”

Ini khusyuk yang palsu, yang tidak benar.

Maka khusyuk yang benar adalah ketenangan di hati yang menjadikan anggota badan tenang. Kenapa hati tenang? Karena hati itu ketika menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dia akan tunduk.

Inilah sebabnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan di dalam Al-Qur’an bahwa orang yang beriman dan imannya murni, tidak ada keburukan-keburukan syirik, pelanggaran-pelanggaran iman yang menodainya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan dia merasakan keamanan yang mutlak, ketentraman hati yang sempurna, yang dengan sebab itu dia akan merasakan ketenangan yang kemudian ketenangan ini akan terpancar pada anggota badannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُولَـٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ ﴿٨٢﴾

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan imannya dengan kedzaliman (kesyirikan), mereka inilah orang-orang yang akan mendapatkan keamanan/kedamaian hidup yang sesungguhnya/yang mutlak, dan mereka selalu mendapatkan petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (QS. Al-An’am[6]: 82)

Oleh karena itu hanya orang yang belajar tentang aqidah yang benar, hanya orang yang punya tauhid, senantiasa menghambakan diri, beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata-mata dan tidak menyekutukanNya, hanya orang yang mengenal kemahaindah nama-nama Allah dan kemahatinggian sifat-sifatnNya, inilah yang akan bisa meraih khusyuk dalam shalatnya. Karena dengan sebab ini hatinya akan tunduk kemudian diikuti oleh anggota badannya.

Oleh karena itu Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hambali, salah seorang ulama Ahlus Sunnah berkata:

من كان بالله أعرف . كان منه أخوف

“Barangsiapa yang dia lebih mengenal Allah, lebih mengenal tentang iman, maka otomatis dia akan lebih khusyuk dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Oleh karena itulah, ma’syiral muslimin rahimakumullah..

Melalui mimbar jumat ini saya wasiatkan kepada kita semua, hendaknya kita perbaiki hal-hal yang berhubungan dengan iman kita. Karena inilah yang menjadi sebab kita akan selamat ketika menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari kiamat nanti.

Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullahu Ta’ala mengatakan:

ليس الإيمان بالتمني ولا بالتحلي، ولكن هو ما وقر في القلب وصدقه العمل

“Iman itu bukanlah cuma dengan angan-angan dan bukan cuma dengan menghiasi diri dengan pengakuan-pengakuan lisan, tapi iman itu adalah sesuatu yang menetap di hati dan dibenarkan dengan amal-amal perbuatan anggota badan.”

Oleh karena itu belajarlah Al-Qur’an, bacalah Al-Qur’an dan renungkan isinya, kemudian pelajari tentang hal-hal yang menguatkan iman kita dari petunjuk Allah dan petunjuk RasulNya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, pelajari tauhid dan murnikan ibadah kita hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata-mata, jauhi perbuatan-perbuatan syirik dan hal-hal yang merusak iman.

Kemudian tentu saja pelajari sebaik-baik petunjuk yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Nabi kita yang mulia Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ini yang menjadi sebab kita akan meraih kebaikan-kebaikan dalam kehidupan di dunia sampai di akhirat nanti.

Semoga khutbah ini bermanfaat.

Lihat juga: Khutbah Jumat Menyentuh Hati Tentang Kegembiraan dan Kesedihan Seorang Muslim

Khutbah kedua Bukti Benarnya Iman di Hati

Ma’asyiral muslimin jamaah shalat jumat rahimakumullah..

Salah seorang ulama besar, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullahu Ta’ala pernah menyebutkan bahwa di antara bukti iman yang tidak benar atau iman yang sedang bermasalah adalah ketika seseorang menjalankan amalan shalih, kemudian dia tidak merasakan nikmatnya beramal, tidak merasakan kelezatan dalam beramal.

Ibnu Taimiyah Rahimahullahu Ta’ala mengatakan:

إذا لم تجد للعمل حلاوة في قلبك فاتهمه

“Kalau kamu ketika melaksanakan satu amalan kemudian kamu tidak merasakan nikmatnya, hatimu tidak menjadi tenang dengannya, maka curigailah/periksalah imanmu.”

Beliau mengatakan:

فإن الرب تعالى شكور

“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala itu memiliki nama yang Maha Indah, Maha Berterimakasih, Maha Membalas kebaikan dengan balasan yang lebih baik.”

يعني: أنه لابد أن يثيب العامل على عمله من حلاوة يجدها في قلبه

“Artinya: kalau seseorang bermal dengan benar, Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti akan membalasnya dengan balasan yang lebih baik berupa rasa manis dan nikmat, ketenangan di dalam hatinya.”

Maka ketika seseorang tidak mendapatkan balasan ini, berarti keadaan imannya sedang sangat-sangat bermasalah.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga kita dan melindungi kita dari sebab-sebab yang merusak keimanan.

Maka ini sebagai nasihat untuk menggugah pikiran kita bahwa kita butuh keselamatan untuk menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala, selagi kita masih punya kesempatan, diberikan waktu untuk memperbaiki diri, maka segeralah kita kembali dan perbaiki diri kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, segera kita kembali kepada petunjukNya, segera belajar agama, sebelum Allah Subhanahu wa Ta’ala mencabut ajal kita, sebelum Allah Subhanahu wa Ta’ala mencabut nyawa kita, kesempatan untuk kita memperbaiki diri, kesempatan untuk kita berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, meminta penjagaanNya dalam segala kebaikan dan perlindungan dari segala keburukan sampai di akhir hayat kita.

Video Khutbah Jumat Tentang Bukti Benarnya Iman di Hati

Sumber audio: https://www.facebook.com/ibbnu.abbas.9/videos/3962707773787282/

Mari turut menyebarkan link download kajian ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum..

Komentar

WORDPRESS: 0