Khutbah Jumat: Seriuslah Dalam Berbenah

Khutbah Jumat: Seriuslah Dalam Berbenah

Kita tahu hari demi hari melanggar dan ada niat di dalam hati untuk melakukan perbaikan. Namun setan berhasil menghalangi kita dari perbaikan itu dengan mengajak kita untuk menunda-nunda untuk berbenah. Dan yang setan dan bala tentaranya inginkan adalah sebelum saatnya kita berbenah, kematian lebih dahulu menjemput kita.

Berikut ini khutbah Jumat tentang “Seriuslah Dalam Berbenah” yang disampaikan oleh Ustadz Maududi Abdullah, Lc Hafizhahullahu Ta’ala.

Khutbah Jumat: Seriuslah Dalam Berbenah

Khutbah Jumat Pertama

Hadirin sidang Jum’at rahimakumullah wa rahmatullah,

Pertama-tama sekali, khatib mengajak diri sendiri dan semua yang hadir untuk bersyukur kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala, atas segala limpahan rahmat dan nikmat, serta curahan kasih sayang-Nya yang luar biasa banyak setiap hari.

Sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala pastikan manakala ada orang yang akan mencoba untuk menghitung nikmat-nikmat yang Dia berikan itu, pasti hal itu tidak akan pernah terhitung. Ini menunjukkan bahwa saking banyaknya nikmat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada kita.

Oleh karena itu, mari kita bersyukur kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala atas nikmat-nikmat tersebut. Dan kalau kita pandai bersyukur, Allah Subhanahu wa Ta’ala berjanji untuk menambahkan nikmat-nikmat itu. Namun kalau tidak bersyukur, itu artinya kita kufur nikmat. Dan kalau kita kufur adzab Allah Subhanahu wa Ta’ala  sangat dahsyat.

Shalawat serta salam kita kepada Rasul kita tercinta, suri tauladan kita. Kita semua yang hadir di masjid ini pasti sepakat secara lisan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah suri tauladan kita. Tidak ada seorang muslim yang ikhlas di dalam keislamannya, tidak ada seorang mukmin yang ikhlas di dalam keimanannya, yang tidak menyatakan secara lisan bahwa suri tauladannya adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Namun ketahuilah saudaraku, bahwa pernyataan Anda secara lisan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah suri tauladan, di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan ada harga dan nilainya manakala ternyata apa yang kita ucapkan dengan lisan itu tidak kita buktikan di dalam amal perbuatan.

Manakala lisan kita mengatakan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah suri tauladan bagiku, ternyata amal kita mengatakan bahwa kita tidak menjadikan beliau sebagai suri tauladan, maka apa yang diucapkan oleh lisan itu tidak akan dianggap apa-apa di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan dianggap sebagai pernyataan dusta. Karena dusta itu adalah mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi. Oleh karena itu, marilah kita berusaha untuk menjadikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai suri tauladan di dalam amal, perbuatan, sifat, dan tindak-tanduk kita dalam kehidupan di permukaan bumi ini.

Bersungguh-sungguhlah menjadikan beliau sebagai suri tauladan. Dengan cara apa? Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمْ عَنْهُ فَٱنتَهُوا۟ ۚ

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (QS. Al Hasyr: 7)

Hanya dengan cara itu, pengakuan bahwa kita menjadikan beliau sebagai suri tauladan di lisan tadi akan Allah Subhanahu wa Ta’ala terima. Berarti apa yang kita ucapkan dengan lisan itu benar-benar terbukti di dalam amalan. Dan ini dia manusia-manusia yang jujur. Apa yang lisannya ucapkan, seperti itu pula yang dia amalkan.

Ma’asyiral muslimin hadirin sidang Jum’at rahimani wa rahimakumullah,

Sangat teramat banyak umat Islam di zaman kita sekarang ini yang sudah terjerumus ke dalam apa yang tadi saya katakan; menyatakan secara lisan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah sebagai suri tauladan, tuntunan dirinya, pembimbing, dan pedoman yang dia pedomani.

Akan tetapi, itu hanya tinggal di lisannya saja. Apa yang dia kerjakan seharian? Yang dia lakukan sudah bertabrakan dengan apa yang dia katakan dengan lisannya. Apa yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam larang untuk dikerjakan, justru itu yang menjadi kegiatan sehari-harinya. Justru itu yang menjadi sebuah kesukaannya, style hidupnya.

Dan apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan, maka dia pilih-pilih. Kalau itu wajib, maka dia kerjakan. Namun dia kerjakan dengan hati yang lalai, secara asal, hanya karena hukumnya wajib. Kalaulah bukan karena wajib hukumnya, dia tidak akan berada di sana.

Yang dia kerjakan pun penuh dengan kekurangan. Adapun amal sunnah, maka dia dan orang-orang yang menyempurnakan amal sunnahnya sangatlah jauh.

Potret yang saya katakan ini bukanlah potret satu atau dua orang hidup di negeri yang kita cintai ini. Ini merupakan potret hidup dari banyak manusia yang setiap hari melakukan maksiat demi maksiat.

Mulai dari meninggalkan shalat, tidak berpuasa di bulan Ramadhan, berdusta, mencurangi timbangan, melihat hal yang Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya larang untuk dilihat, dan membicarakan perkara-perkara yang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam larang untuk dibicarakan.

Lalai dari ilmu agama. Dia justru menganggap agama ini adalah sesuatu yang membebani hidupnya. Dan dia merasa tidak bisa maju. Kecuali dengan cara melanggar aturan-aturan agama itu.

Sehingga lisannya mengatakan bahwa agama ini membuat saya tidak bisa menjadi orang-orang yang modern dan menjadi orang-orang yang maju dalam usaha dan berkarya.

Potret seperti ini sudah teramat banyak dalam kehidupan kita sekarang ini. Na’udzubillah tsumma na’udzubillahi mindzalik. Kalau sekiranya kita adalah salah satu di antaranya, apa gerangan yang akan terjadi jika dengan kondisi seperti ini Allah mewafatkan kita? Dengan kondisi lalai beragama, nyawa kita Allah Subhanahu wa Ta’ala ambil.

Apatah lagi di zaman kita sekarang ini yang teramat sering kita jumpai orang-orang yang mati mendadak. Dan bisa saja secara takdir kita salah seorang di antara yang akan mati mendadak tersebut. Sementara kita belum melakukan pembenahan diri dan perbaikan.

Kita tahu hari demi hari kita melanggar dan ada niat di dalam hati untuk melakukan perbaikan. Namun setan berhasil menghalangi kita dari perbaikan itu dengan mengajak kita untuk menunda-nunda untuk berbenah. Dan yang setan dan bala tentaranya inginkan adalah sebelum saatnya kita berbenah, kematian lebih dahulu menjemput kita.

Itulah su’ul khatimah. Buruk penghabisannya, buruk akhir dari pada hayatnya. Dan su’ul khatimah merupakan indikasi dari indikasi yang akan membawa manusia kepada murka Allah Subhanahu wa Ta’ala. Na’udzubillah tsumma naudzubillahi min dzalik.

Maka seriuslah dalam berbenah, wahai saudara muslimku. Dan jangan tunda sampai nyawa sudah sampai di tenggorokan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَيْسَتِ ٱلتَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ ٱلسَّيِّـَٔاتِ حَتَّىٰٓ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ ٱلْمَوْتُ قَالَ إِنِّى تُبْتُ ٱلْـَٰٔنَ وَلَا ٱلَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

“Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang”. Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.” (QS. An Nisa: 18)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ

“Sesungguhnya Allah menerima taubat hamba selama nyawa belum sampai di tenggorokan.” (HR. Tirmidzi no. 3537 dan Ibnu Majah no. 4253)

Khutbah Jumat Kedua

Ma’asyiral muslimin,

Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman,

وَتُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An Nisa: 31)

Di dalam ayat ini, para ulama ahli tafsir menerangkan kepada kita bahwa kesuksesan yang hakiki adalah manakala seorang hamba sebelum wafatnya itu diberikan oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala taufik untuk bertaubat.

Oleh karena itu saudaraku, mari kita bertaubat dari kelalaian-kelalaian kita. Demi Allah, kita tahu kita lalai, masih melanggar syariat, Pertanyaannya, kapan akan serius meninggalkan amalan-amalan itu? Hati-hati jebakan iblis yang mengatakan nanti dan nanti. Dan kemudian setelah kematian menjemput dan kita belum bisa bertaubat, iblis pun akhirnya tepuk tangan dan bahagia.

Video Khutbah Jumat: Seriuslah Dalam Berbenah

Sumber Video: YouTube Channel Maududi Abdullah

Mari turut menyebarkan “Khutbah Jumat: Seriuslah Dalam Berbenah” ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum.

Komentar

WORDPRESS: 0
DISQUS: