Larangan Mendurhakai Rasul dan Menyekutukan Allah

Larangan Mendurhakai Rasul dan Menyekutukan Allah

ceramah tentang gowes

Tulisan tentang Larangan Mendurhakai Rasul dan Menyekutukan Allah ini adalah apa yang bisa kami ketik dari kajian Kitab Al-Ushul Ats-Tsalatsah yang di

Mempelajari Amalan Hati – Part 1
ADAB BERBEDA PENDAPAT
Perkataan Imam Syafi’i tentang Surat Al-Ashr

Tulisan tentang Larangan Mendurhakai Rasul dan Menyekutukan Allah ini adalah apa yang bisa kami ketik dari kajian Kitab Al-Ushul Ats-Tsalatsah yang disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdur Razzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-Badr Hafidzahumullahu Ta’ala.

Kajian Tentang Larangan Mendurhakai Rasul dan Menyekutukan Allah

Menit ke-8:30 Bismillahirrahmanirrahim.. Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, juga kepada keluarganya dan sahabatnya serta orang-orang yang mengikutinya dengan baik sampai hari kiamat nanti.

Larangan Mendurhakai Rasul

Para pendengar yang semoga dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, kita lanjutkan kajian kita pada penjelasan kitab Ushul Ats-Tsalatsah. Dan kita telah sampai pada perkataan pengarang kitab ini:

اعلم رحمك الله، أن الله خلقنا ورزقنا ولم يتركنا هملا، بل أرسل إلينا رسولا؛ فمن أطاعه دخل الجنة ومن عصاه دخل النار.

“Ketahuilah, semoga Allah merahmati Anda. Bahwasannya Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan kita, memberikan kita rezeki dan tidak meninggalkan kita begitu saja. Akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus kepada kita seorang Rasul. Barangsiapa yang menaati Rasul tersebut maka dia akan masuk surga. Dan barangsiapa yang mendurhakainya maka dia akan masuk neraka.”

Dalil dari perkataan ini adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّا أَرْسَلْنَا إِلَيْكُمْ رَسُولًا شَاهِدًا عَلَيْكُمْ كَمَا أَرْسَلْنَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ رَسُولًا ﴿١٥﴾

Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada kalian seorang Rasul yang menjadi saksi atas kalian sebagaimana Kami utus kepada Firaun seorang Rasul.” (QS. Al-Muzzamil[73]: 15)

فَعَصَىٰ فِرْعَوْنُ الرَّسُولَ فَأَخَذْنَاهُ أَخْذًا وَبِيلًا ﴿١٦﴾

Akan tetapi Firaun mendurhakai Rasul tersebut, maka Kami adzab dia dengan adzab yang sangat keras.“(QS. Al-Muzzamil[73]: 16)

Ini adalah dalil dari perkara yang disebutkan oleh pengarang kitab Ushul Ats-Tsalatsah. Dan telah kita ketahui dari pembahasan-pembahasan sebelumnya dan bahwasanya intisari dari permasalahan ini adalah wajibnya kita menaati Rasul ‘Alaihish Shalatu was Salam.

Intisari dari permasalahan ini adalah wajibnya kita menaati Rasul ‘Alaihish Shalatu was Salam.

Dan dalil dari wajibnya kita menaati Rasul yang diutus kepada kita adalah Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala إِنَّا أَرْسَلْنَا إِلَيْكُمْ رَسُولً (Kami telah mengutus kepada kalian seorang Rasul), yaitu Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Karena yang dimaksud Rasul di sini adalah Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan yang dimaksud dengan perkataan عليكم (kepada kalian), yaitu umat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman إِنَّا أَرْسَلْنَا إِلَيْكُمْ رَسُولًا شَاهِدًا عَلَيْكُمْ (Kami mengutus kepada kalian seorang Rasul yang menjadi saksi atas kalian), yaitu saksi atas amalan-amalan kalian.

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

Dan demikianlah Kami jadikan kalian sebagai umat pertengahan agar kalian menjadi saksi-saksi atas manusia dan Rasul menjadi saksi atas kalian.” (QS. Al-Baqarah[2]: 143)

Yaitu saksi atas amalan-amalan kalian.

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman شَاهِدًا عَلَيْكُمْ كَمَا أَرْسَلْنَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ رَسُولًا (Menjadi saksi atas kalian sebagaimana Kami telah utus kepada Firaun seorang Rasul). Dan ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Rasul, ini bukanlah perkara yang baru. Akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengutus Rasul-Rasul kepada umat-umat yang sebelum kita.

Kenapa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus para Rasul? Ternyata akhir yang baik atau keberuntungan akan didapatkan bagi orang yang mengikuti dan menaati para Rasul tersebut dan akibat buruk akan didapatkan oleh orang-orang yang mendurhakai para Rasul tersebut.

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan permisalan tentang perkara ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan كَمَا أَرْسَلْنَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ رَسُولً (Sebagaimana Kami telah utus kepada Firaun seorang Rasul). Dan di sini Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi peringatan yang keras dari bahayanya mendurhakai para Rasul. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman إِنَّا أَرْسَلْنَا إِلَيْكُمْ رَسُولًا شَاهِدًا عَلَيْكُمْ (Kami mengutus kepada kalian seorang Rasul yang menjadi saksi atas kalian), maka taatilah dia, taatilah perintah-perintahnya, ikutilah ia dan hati-hatilah dari mendurhakai para Rasul tersebut, tinggalkanlah hal tersebut.

“Sebagaimana Kami telah utus kepada Firaun seorang Rasul, akan tetapi Firaun mendurhakai Rasul tersebut,” Maka apa yang terjadi? Yaitu فَأَخَذْنَاهُ أَخْذًا وَبِيلًا (Maka Kami adzab dia dengan adzab yang keras). Apa yang dimaksud dengan perkara ini? Kenapa Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan hal ini? Yaitu agar kita berhati-hati dari mendurhakai para Rasul. Karena sesungguhnya mendurhakai para Rasul adalah kebinasaan dan kehancuran.

Dan contoh-contoh dalam sejarah telah banyak sekali yang menunjukkan bahwasanya orang-orang yang bermaksiat kepada para Rasul mereka diadzab oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman كَمَا أَرْسَلْنَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ رَسُولًا ﴿١٥﴾ فَعَصَىٰ فِرْعَوْنُ الرَّسُولَ (Sebagaimana Kami utus kepada Firaun seorang Rasul, kemudian Firaun mendurhakai Rasul tersebut). Yaitu bagaimana sikap Firaun terhadap Rasul yang diutus kepada dia, yaitu Nabi Musa ‘Alaihish Shalatu was Salam? Ternyata Firaun mendurhakai Rasul tersebut, tidak menjawab seruan dan tidak menjawab dakwah yang didakwahkan oleh Nabi Musa, bahkan dia mendustakan Nabi Musa ‘Alaihis Salam, bahkan menuduhnya dengan berbagai tuduhan-tuduhan yang bohong. فَعَصَىٰ فِرْعَوْنُ الرَّسُولَ (Firaun mendurhakai Rasul yang diutus kepadanya).

Maka apa yang terjadi? Apa akibat yang didapatkan oleh Firaun ketika ia mendurhakai Rasul yang diutus kepadanya? Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman فَأَخَذْنَاهُ أَخْذًا وَبِيلًا (Kami adzab dia dengan adzab yang keras). Apa adzab yang keras yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ayat ini? Adab yang keras ternyata dijelaskan dalam Al-Qur’an dalam banyak ayat-ayat Al-Qur’an. Yaitu adzab yang keras selama di dunia, di kubur dan di hari kiamat.

Jadi adzab yang keras yang didapatkan oleh Firaun selama di dunia, di alam kubur dan di hari kiamat. Adapun adab yang keras ketika di dunia yaitu ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala mengadzabnya dengan Allah menenggelamkan Firaun di lautan. Yang mana ketika dia sangat sombong dan dia mengatakan:

وَهَـٰذِهِ الْأَنْهَارُ تَجْرِي مِن تَحْتِي

Lihatlah sungai-sungai yang mengalir di bawahku.” (QS. Az-Zukhruf[43]: 51)

Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menghukumnya dan menghadzabnya dengan menenggelamkannya di lautan. Dan ini adalah tanda-tanda kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sangat luar biasa. Yaitu Ketika Nabi Musa ‘Alaihis Salam dan bersamanya kaumnya lari dari Firaun yang Firaun ketika itu ingin membunuhnya. Kemudian Firaun dan tentara-tentaranya mengejar Musa dari belakang. Dan ketika Nabi Musa ‘Alaihis Salam sampai ke depan lautan, ia pun menoleh ke belakang bersama orang-orang yang bersamanya dan ia melihat Firaun dan tentara-tentaranya serta kekuatannya telah berada di belakang mereka. Mereka pun menyangka bahwasanya mereka akan mati dan dibinasakan oleh Firaun. Karena laut berada di hadapan mereka dan Firaun berada di belakang mereka. Dan jumlah mereka sangat sedikit dan tidak mungkin mereka mampu untuk melawan Firaun dan tentara-tentaranya.

Maka pengikut Nabi Musa ‘Alaihis Salam mengatakan:

إِنَّا لَمُدْرَكُونَ

Sungguh kami akan disusun dan Firaun dan terntara-tentaranya.” (QS. Asy-Su’ara[26]: 61)

Kemudian Nabi Musa mengatakan:

كَلَّا ۖ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ

Tidak, sesungguhnya Rabbku bersamaku akan memberiku petunjuk.“(QS. Asy-Su’ara[26]: 62)

Lautan di depan mereka dan Firaun telah sampai di belakang mereka. Akan tetapi Nabi Musa ‘Alaihis Salam dengan penuh keyakinan dan keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan: “Tidak, sesungguhnya Tuhanku bersamaku akan memberiku petunjuk.” Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada Nabi Musa ‘Alaihis Salam untuk memukul laut dengan tongkatnya. Kemudian Nabi Musa memukul laut dengan tongkatnya.

Dan apa yang terjadi? Air yang tadinya mengalir dengan sangat deras tiba-tiba berhenti dan menjadi seperti gunung-gunung yang menjulang tinggi. Tanah yang tadinya becek kemudian tiba-tiba menjadi kering dalam sesaat ketika Nabi Musa ‘Alaihis Salam memukulkan tongkatnya kepada lautan tersebut sehingga lautan tersebut berubah menjadi seperti gunung-gunung yang sangat tinggi, Allah Subhanahu wa Ta’ala mensifatinya dengan

طَرِيقًا فِي الْبَحْرِ يَبَسًا

Jalan di tengah lautan yang menjadi kering.” (QS. Tha-ha[20]: 77)

Yang mana tidak ada basah bahkan tidak ada becek sama sekali. Kalau seseorang ingin menghilangkan air dari sebuah lembah atau sungai, maka tentu akan tersisa air atau terjadi basah dan tidak kering dalam waktu yang singkat. Akan tetapi ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Nabi Musa memukul laut dengan tongkat Nabi Musa, maka dalam sekejap laut tersebut menjadi kering. Dan ini adalah tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sangat luar biasa.

Akhirnya Nabi Musa pun berjalan di tengah lautan yang telah menjadi kering dan di sisi kiri dan kanannya air berhenti seperti gunung-gunung yang tinggi yang Nabi Musa dan kaumnya melihat di sebelah kanan dan kirinya air tersebut seperti gunung yang tinggi. Ini adalah tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sangat luar biasa.

Kemudian Nabi Musa pun melewati atau menyeberangi lautan tersebut menuju sisi yang lain. Kemudian Firaun dan tentara-tentaranya mengikuti Nabi Musa dan kaumnya dan ikut masuk ke dalam lautan. Dan ketika Nabi Musa dan pengikutnya semua telah keluar dari lautan dan juga Firaun bersama tentaranya telah masuk ke dalam lautan, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan air untuk kembali sebagaimana semula. Maka Firaun pun dibinasakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala bersama tentara-tentaranya semuanya. Dia dan tentaranya diadzab oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan adzab yang sangat pedih selama di dunia.

Adapun di alam barzakh atau di kuburan, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengadzab Firaun dengan ditampakkannya kepada mereka neraka dari sejak ia meninggal sampai hari ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا

Neraka ditampakkan kepada Firaun dan kaumnya dan pengikutnya di waktu pagi dan di waktu sore.” (QS. Ghafir[40]: 46)

Dan inilah adzab selama ia di kuburan. Neraka ditampakkan kepadanya pada pagi hari dan sore hari. Dan semenjak dia meninggal sampai saat ini dan ini adalah waktu yang sangat panjang, Allah Subhanahu wa Ta’ala terus mengadzab Firaun di kuburnya dengan adzab yang pedih ini.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا

Neraka ditampakkan kepada Firaun pada pagi dan sore hari. Dan ketika hari kiamat telah terjadi, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan agar Firaun dan pengikutnya diadzab dengan adzab yang sangat pedih.” (QS. Ghafir[40]: 46)

Ini adalah adzab yang sangat luar biasa yang didapatkan Firaun ketika di dunia, ketika di kubur dan ketika hari kiamat. Itu semua disebabkan karena apa? Karena ia mendurhakai Rasul.

Maka di sini ada pertanyaan, kenapa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan kita hal ini? Apakah sekedar agar kita mengetahui? Agar sekedar kita tahu cerita tentang Firaun? Ataukah ada tujuan lain yang Allah Subhanahu wa Ta’ala inginkan kepada kita?

Tentu Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan hal ini agar kita menaati Rasul yang diutus kepada kita dan tidak mendurhakainya. Karena orang yang mendurhakai Rasul, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengancamnya dengan adzab yang pedih, dengan adzab yang keras. Dan kesuksesan untuk mendapatkan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mungkin didapatkan kecuali dengan menaati para Rasul. Dan barangsiapa yang tidak menaati para Rasul, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengadzabnya dengan adzab yang keras. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَن يُطِعِ اللَّـهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ ﴿١٣﴾

Dan barangsiapa yang menaati Allah dan RasulNya, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memasukkannya kedalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka akan kekal di dalamnya dan itu adalah kemenangan yang besar.” (QS. An-Nisa[4]: 13)

Akan tetapi sebaliknya, barangsiapa yang mendurhakai para Rasul, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengancamnya dengan firmanNya:

وَمَن يَعْصِ اللَّـهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُّهِينٌ ﴿١٤﴾

Dan barangsiapa yang bermaksiat kepada Allah dan RasulNya serta melampaui batasan-batasanNya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya dan baginya adzab yang menghinakan.” (QS. An-Nisa[4]: 14)

Maka ini adalah masalah yang besar, masalah yang sangat penting yang wajib bagi setiap orang untuk mengetahui dan mengamalkannya serta mengetahui bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakannya, memberinya rezeki dan tidak membiarkannya begitu saja. Akan tetapi Allah mengutus kepadanya seorang Rasul dan wajib bagi dia untuk menaati Rasul tersebut dan mengikuti apa yang diperintahkan oleh Rasul yang diutus kepadanya. Dan barangsiapa menaati Rasul, maka ia akan masuk surga. Dan barangsiapa yang mendurhakainya, maka dia akan masuk kedalam neraka.

Larangan Menyekutukan Allah

Menit ke-26:18 Masalah yang kedua yang disebutkan oleh pengarang kitab ini Rahimahullah, yaitu bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak ridha untuk dipersekutukan denganNya sesuatu apapun dalam hal ibadah, baik itu malaikat yang dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala ataupun Nabi yang diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, apa lagi selain keduanya. Karena malaikat yang dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan para Nabi yang diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala mempunyai kedudukan yang tinggi disisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maka apabila mereka yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala saja Allah tidak ridha untuk mereka dijadikan sekutu, apalagi selainnya. Tentu Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak ridha dengan hal tersebut. Karena ibadah adalah hak yang murni untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah menciptakan makhluk agar mereka menyembah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak ridha apabila seorang persekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sesuatu apapun.

Pengarang kitab ini mengatakan:

أن الله لا يرضى أن يشرك معه أحد في عبادته

“Bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak ridha untuk dipersekutukan denganNya sesuatu apapun dalam hal ibadah.”

Sekutu adalah tandingan-tandingan bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan ibadah adalah kata yang mencakup seluruh hal yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan diridhai dari perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan, baik yang nampak maupun yang tidak nampak.

Maka semua ibadah menjadi hak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Shalat dengan ruku’nya, dengan sujudnya, berdoa, menyembelih, bernadzar, takut dan mengharap, itu semua adalah ibadah yang menjadi hak Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak ridha sama sekali untuk dipersekutukan denganNya, baik itu malaikat yang dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala ataupun para Rasul yang diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Walaupun malaikat mempunyai kedudukan di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, para Nabi juga mempunyai kedudukan di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, akan tetapi Allah tidak ridha mereka dijadikan sekutu bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka selain dari mereka tentu Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak ridha untuk dijadikan sekutu dalam hal ibadah.

Menit ke-33:39 Pendengar yang semoga dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, ibadah adalah murni hak Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam hadits Mu’adz Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepada sahabat Mu’adz Radhiyallahu ‘Anhu:

يَا مُعَاذُ! أَتَدْرِي مَا حَقُّ اللّهِ عَلَى الْعِبَادِ

“Wahai Mu’adz, tahukah engkau apa hak Allah atas hambaNya dan apa hak hamba atas Allah Subhanahu wa Ta’ala?”

Maka Mu’adz menjawab:

الله وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ

“Allah dan RasulNya lebih mengetahui.”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun mengatakan:

حَقَّ اللّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوا اللّهِ وَلاَ يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئاً

“Hak Allah atas hambaNya adalah agar mereka menyembah hanya kepadaNya dan tidak mensekutukanNya dengan sesuatu apapun.”

وَحَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللّهِ أَنْ لاَ يُعَذِّبَ مَنْ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئاً

“Dan hak hamba atas Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu mereka tidak diadzab bagi siapa yang tidak mempersekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sesuatu apapun.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Apa arti hadits ini? Hadits ini artinya bahwasanya hak hamba atas Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu mereka tidak akan diadzab bagi siapa yang tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun. Artinya, barangsiapa yang mempersekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka dia akan diadzab dan Allah tidak akan mengampuninya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak ridha untuk dipersekutukan dengan sesuatu apapun. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَا يَرْضَىٰ لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ

Allah tidak ridha dari hambaNya kekufuran.” (QS. Az-Zumar[39]: 7)

Juga Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ…

Dan barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam, maka tidak akan diterima darinya.” (QS. Ali-Imran[3]: 85)

Dan agama Islam dibangun di atas tauhid. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَن يَرْغَبُ عَن مِّلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلَّا مَن سَفِهَ نَفْسَهُ…

Dan tidaklah benci terhadap agama Ibrahim kecuali orang yang membodohi dirinya sendiri.” (QS. Al-Baqarah[2]: 130)

Dan agama Ibrahim adalah agama tauhid. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّـهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ…

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan mengampuni dosa syirik dan akan mengampuni dosa selainnya bagi siapa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala kehendaki.” (QS. An-Nisa[4]: 48)

Juga Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

…وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّـهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ ﴿٣١﴾

Dan barangsiapa yang mempersekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka seakan-akan dia jatuh dari langit kemudian dia disambar oleh burung atau ia dihempaskan oleh angin di tempat yang sangat jauh.” (Al-Hajj[22]: 31)

Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak ridha dan tidak menerima untuk dipersekutukan dengan sesuatu apapun. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

رَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا<>

Dan Aku ridha bagi kalian Islam sebagai agama kalian.” (QS. Al-Maidah[5]: 3)

Islam adalah mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengikhlaskan seluruh ibadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Allah tidak terima untuk dipersekutukan dengan sesuatu apapun walaupun yang dijadikan sekutu bagi Allah adalah malaikat atau bahkan Nabi atau bahkan pemimpin para Nabi, yaitu nabi Muhammad ‘Alaihish Shalatu was Salam. Allah tidak ridha untuk dijadikan sekutu dalam ibadah. Karena ibadah adalah hak murni hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak ada sesuatu apapun yang berhak disembah kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan semua selain Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah hamba dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik itu para malaikat, para Nabi. dan banyak sekali ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang menjelaskan bahwasanya para Nabi tidak memiliki hak untuk disembah sama sekali. Kita baca dalam ayat-ayat yang banyak bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan para Nabi tidak mempunyai keputusan sedikitpun sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ…

Engkau tidak mempunyai hak untuk memutuskan sesuatu apapun…” (QS. Ali-Imran[3]: 128)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahkan berkata kepada anaknya, yaitu Fathimah Radhiyallahu ‘Anha:

يَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَلِينِي مَا شِئْتِ مِنْ مَالِي لاَ أُغْنِي عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا

“Wahai Fathimah anak Muhammad, mintalah kepadaku dari hartaku apa yang engkau inginkan. Saya tidak akan mampu untuk membelamu dihadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala sedikitpun.” (HR. Bukhari)

Juga suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah mendengar seseorang mengatakan:

وَفِينَا نَبِيٌّ يَعْلَمُ مَا فِي غَدٍ

“Dan di tengah-tengah kita ada seorang Rasul yang diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengetahui apa yang akan terjadi esok hari.”

Kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:

اَ يَعْلَمُ مَا فِي غَدٍ إِلَّا اللَّهُ

“Tidak ada yang mengetahui apa yang terjadi esok hari kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Juga Imam Hakim meriwayatkan dalam Al-Mustadrak bahwasanya ada seorang tawanan yang didatangkan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian ia mengumumkan taubatnya dan ia mengatakan:

أتوب إلى الله ولا أتوب إلى محمد

“Saya bertaubat kepada Allah dan tidak bertaubat kepada Muhammad.”

Maka Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:

عَرَفَ الْحَقَّ لِأَهْلِهِ

“Dia mengetahui hak bagi yang mempunyai.” (HR. Hakim)

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

…وَتُوبُوا إِلَى اللَّـهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴿٣١﴾

Dan bertaubatlah kepada Allah wahai sekalian orang yang beriman agar kalian beruntung.” (QS. An-Nur[24]: 31)

Juga Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah mendengar orang yang memujinya dengan berlebihan. Maka beliau pun mengatakan:

مَا أُحِبُّ أَنْ تَرْفَعُونِي فَوْقَ مَنْزِلَتِي الَّتِي أَنْزَلَنِي اللَّهُ

“Aku tidak menyukai kalian mengangkatku diatas derajat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tempatkan aku pada tempat tersebut.”

Juga beliau mengatakan:

لاَ تُطْرُونِي ، كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ

“Janganlah kalian memujiku secara berlebihan sebagaimana orang Nashara Memuji ‘Isa secara berlebihan.”

فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ ، فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ ، وَرَسُولُهُ

“Sesungguhnya aku hanyalah hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka katakanlah hamba Allah dan RasulNya.” (HR. Bukhari)

Adapun yang berkaitan dengan para malaikat, kita dapatkan ayat-ayat yang sangat banyak sekali menjelaskan bahwasanya malaikat tidak mempunyai andil sedikitpun dalam penciptaan langit dan bumi. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan dalam surat Saba’:

قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُم مِّن دُونِ اللَّـهِ ۖ لَا يَمْلِكُونَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَمَا لَهُمْ فِيهِمَا مِن شِرْكٍ وَمَا لَهُ مِنْهُم مِّن ظَهِيرٍ ﴿٢٢﴾

Katakanlah: ‘Serulah orang-orang yang kalian anggap Tuhan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka tidak mempunyai sebesar biji zarah pun andil di langit dan di bumi. Bahkan mereka tidak punya bantuan sama sekali, mereka sama sekali tidak menolong Allah Subhanahu wa Ta’ala.’” (QS. Saba'[34]: 22)

وَلَا تَنفَعُ الشَّفَاعَةُ عِندَهُ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ ۚ حَتَّىٰ إِذَا فُزِّعَ عَن قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ ۖ قَالُوا الْحَقَّ ۖ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ ﴿٢٣﴾

Dan tidak akan bermanfaat syafaat di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali apa yang diizinkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan ketika hilang rasa ketakutan pada hati-hati para malaikat, mereka pun mengatakan: ‘Apa yang Rabb kalian katakan?’ Mereka menjawab: ‘Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan kebenaran’ Dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Saba'[34]: 23)

Telah datang dalam sebuah hadits yang menjelaskan tentang ayat ini, yaitu ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala berbicara tentang wahyu, para malaikat pun jatuh pingsan karena mereka mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Para malaikat pingsan ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menyampaikan wahyu. Dan ketika hilang rasa takut mereka, mereka pun mengatakan: “Apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala katakan?” Malaikat yang sangat kuat, yang mempunyai tubuh yang besar, mereak tidak berhak disembah karena walaupun para malaikat sangat kuat, sangat besar tubuh mereka dan mereka mempunyai kemampuan yang luar biasa, akan tetapi mereka tidak berhak sama sekali untuk disembah.

Maka kita dapat melihatnya bagaimana manusia banyak yang terfitnah. Di antara manusia banyak yang mereka mensekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika melihat perkara-perkara yang luar biasa. Maka bagaimana apabila mereka melihat para malaikat dengan kekuatannya, dengan kebesaran badannya, maka tentu bisa jadi seorang akan terfitnah bahkan mereka menyembah malaikat.

Maka dari sini kita mengetahui bahwasanya mereka pun lemah dan ibadah itu hanya hak Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kita tutup kajian kita pada siang hari ini dan kita akan lanjutkan pada pertemuan-pertemuan berikutnya.

Mp3 Kajian Tentang Larangan Mendurhakai Rasul dan Menyekutukan Allah

Sumber audio: radiorodja.com

Mari turut menyebarkan catatan kajian “Larangan Mendurhakai Rasul dan Menyekutukan Allah” ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Barakallahu fiikum..

COMMENTS

%d blogger menyukai ini: