Mukadimah Kajian Al-Ushul Ats-Tsalatsah – Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq Al-Badr

Mukadimah Kajian Al-Ushul Ats-Tsalatsah – Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq Al-Badr

pandai mendengar

Kitab Al-Ushul Ats-Tsalatsah ini sebenarnya adalah kaidah keimanan, pondasi agama dari inti dari agama ini, yang mana di atasnyalah agama ini dibangun.

Penjelasan Ibadah Khasyyah, Inabah, Isti’anah, Isti’adzah
3 Landasan Utama yang Wajib Diketahui Setiap Muslim
Pengertian Ilmu Dalam Islam

Mukadimah Kajian Al-Ushul Ats-Tsalatsah ini adalah apa yang bisa kami ketik dari kajian Kitab Al-Ushul Ats-Tsalatsah yang disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdur Razzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-Badr Hafidzahumullahu Ta’ala.

Navigasi Catatan:

Mukadimah Kajian Al-Ushul Ats-Tsalatsah

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji bagi Allah, semoga shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, juga kepada keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang senantiasa mengikutinya dengan baik sampai hari kiamat nanti.

Di hadapan kita, ada kitab yang sangat agung dan sangat mulia yang dibutuhkan oleh setiap muslim. Kitab ini menjelaskan tentang tiga landasan utama; yaitu mengenal Allah, mengenal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan mengenal agama Islam dengan dalil-dalilnya. Hal ini disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits yang shahih:

ذَاقَ طَعْمَ الإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالإِسْلامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُوْلاً

“Akan merasakan manisnya iman siapa yang ridha Allah sebagai Rabbnya, dan Islam sebagai agamanya, dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai RasulNya.” (HR. Muslim no. 34)

Hal ini diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk diucapkan setiap kali kita selesai mendengarkan adzan, yaitu seseorang mengucapkan:

وَأَنَا أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـٰهَ إِلاَّ اللَّهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، رَضِيْتُ بِاللَّهِ رَبًّا، وَبِاْلإِسْلاَمِ دِيْنًا، وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَسُوْلاً

“Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwasanya Nabi Muhammad adalah hamba dan rasulNya. Aku ridha Allah sebagai Rabbku, Islam sebagai agamaku dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai Rasulku.” (HR. Muslim)

Menit ke-03:30 Ini adalah pokok-pokok yang akan ditanyakan seorang mayit apabila dia telah dimasukkan ke dalam kuburnya. Akan datang dua malaikat yang mendudukkannya dan berkata kepadanya: “Siapa Tuhanmu, apa agamamu dan siapa Nabimu?”

Menit ke-05:07 Kitab ini adalah kitab yang ditulis oleh Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullahu Ta’ala untuk menjelaskan tiga landasan utama beserta dalil-dalil dari Al-Qur’an dan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan jalan beliau Rahimahullah adalah jalan para salaf, dan manhajnya adalah manhaj para salaf. Dan  tidak ada seorangpun dari kalangan salaf yang mendakwahkan kepada manusia dengan keyakinan yang dia karang sendiri. Akan tetapi aqidah mereka adalah apa yang diucapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan apa yang diucapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Oleh karena itu apa yang akan disebutkan oleh penulis kitab yang mulia ini dan juga dalam Kitab Tauhid dan juga kitab-kitab beliau yang lain, semuanya dibangun di atas dalil-dalil yang jelas, hujjah-hujjah yang kuat dan bukti-bukti yang didatangkan dari kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan kita akan melihat dalam kitab yang mulia ini bagaimana beliau berdalil dengan Kitabullah dan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan bagaimana beliau menyandarkan segala perkara dan mengembalikan segala perkara agama ke dalam Kitabullah dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Menit ke-07:40 Oleh karena itu, para pendengar yang semoga dimudahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kitab ini adalah kitab yang seyogyanya setiap muslim memperhatikan dan berusaha mempelajarinya, membacanya dan memahaminya. Juga kandungan-kandungan yang disebutkan oleh kitab ini serta tujuan-tujuan ditulisnya kitab ini. Kemudian setelah itu dia berusaha mempelajarinya dan mengajarkannya kepada keluarganya, kepada anak-anaknya, kepada karib-kerabatnya, untuk menyebarkan kebaikan dan menjelaskan pokok-pokok penting yang akan ditanyakan kepada Anda dan akan ditanyakan kepada anak Anda, ditanyakan kepada  ibu Anda, bapak Anda, saudara Anda dan seluruh karib-kerabat Anda. Semua akan ditanya apabila telah masuk ke dalam kubur.

Maka sangat pantas bagi kita untuk saling membantu, saling tolong-menolong dalam menasihati agama Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kepada hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menyebarkan dan menjelaskan perkara-perkara pokok yang sangat penting dan mengajarkannya kepada seluruh manusia sebagai bentuk nasihat kita kepada agama Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Menit ke-09:40 Dan para ulama serta imam-imam masjid senantiasa memperhatikan untuk menjelaskan perkara-perkara ini dan mereka bersungguh-sungguh untuk menyuruh anak-anak kecil untuk menghafalkannya, juga kepada orang-orang dewasa. Yang mana perkara-perkara ini dihafalkan oleh mereka dan dipahami oleh mereka semuanya. Setelah itu mereka berusaha untuk mengamalkan isi dan kandungan dari kitab ini.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz Rahimahullah pernah berkata: “Dahulu Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab senantiasa mengajarkan dan membacakan kepada murid-muridnya serta orang-orang awam kitab Ushul Ats-Tsalatsah ini dan mengajarkannya serta menyuruh mereka untuk menghafalkannya agar perkara-perkara ini senantiasa ada dalam hati-hati mereka dan menjadi kaidah dalam aqidah mereka.”

Menit ke-11:30 Tiga landasan utama ini sebenarnya adalah kaidah keimanan, pondasi agama dari inti dari agama ini, yang mana di atasnyalah agama ini dibangun. Dan tiga landasan utama ini adalah pondasi kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan di akhirat. Dan tidak akan dicapai keselamatan kecuali dengan merealisasikan landasan-landasan yang agung ini.

Dan dahulu Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah senantiasa menasihati manusia dengan nasihat-nasihat yang sangat agung, dengan mengkhususkan tiga landasan utama ini dengan penjelasan yang gamblang dan mengumpulkan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam agar mudah untuk dipelajari dan mudah untuk diamalkan dengan penjelasan yang mantap dan dalil-dalil yang kuat dari Kitabullah dan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan hal ini menunjukkan perhatian imam kepada hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Menit ke-13:35 Kitab ini sangat diperhatikan oleh para ulama, yang mana mereka bersungguh-sungguh dalam menjelaskannya dan menjelaskan tujuan-tujuan dari kitab ini. Juga mereka mempermudah bagi para penuntut ilmu dan kalangan awam serta mereka menulis kitab-kitab yang banyak untuk menjelaskan tiga landasan utama ini.

Sebagaimana mereka juga sangat memperhatikan agar kitab ini dihafalkan oleh anak-anak dan kalangan awam dari kaum muslimin. Bahkan di sebagian waktu kadang-kadang imam masjid bertanya kepada para jamaah tentang tiga landasan utama ini.

Dan dahulu orang-orang awam mengetahui kitab ini dengan istilah Ad-Din (agama). Sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain: “Bacakan kepadaku agama.” atau “Dengarkan kepadaku Ad-Din.” Maka mereka pun membaca Kitab Ushul Ats-Tsalatsah ini.

Dan kitab ini telah dihafalkan oleh banyak dari kalangan awam sejak mereka kecil. Karena kitab ini telah dibacakan kepada mereka sejak mereka masih kecil dan kitab ini tetap ada dalam hafalan mereka sampai mereka besar, bahkan ketika mereka menjadi tua dan sudah sangat tua.

Menit ke-15:40 Sejak dahulu banyak dari kalangan manusia senantiasa memperhatikan pokok-pokok ini. Maka sangat disayangkan sekali saat ini banyak dari kalangan awam yang mereka sampai tua bahkan sampai hampir meninggal dia belum mengetahui ushul dan pokok-pokok ini dan tidak pernah mempelajarinya. Karena dia tidak mendapati dalam lingkungannya orang yang mengajarkan kitab ini atau orang yang membacakan kitab ini.

Oleh karena itu sudah menjadi kewajiban dan tanggung jawab bagi para penuntut ilmu dan para da’i serta penolong agama agar mereka menasehati hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala, terutama dalam hal memperhatikan dan mengajarkan kitab Ushul Ats-Tsalatsah ini, kitab yang agung yang dikumpulkan oleh Imam Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullahu Ta’ala dalam kitab yang mulia ini.

Menit ke-17:57 Oleh karena itu kita memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memudahkan kita untuk pertemuan kajian ini dalam Radio Rodja agar kita saling mempelajari kitab Ushul Ats-Tsalatsah dan saling mengingatkan satu sama lain dan hal ini merupakan nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang besar. Maka saya menganjurkan kepada saudaraku semua, mari kita saling mengingatkan, saling tolong-menolong dan berusaha untuk mengikuti pelajaran ini dengan baik. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengaruniakan kepada kita ilmu yang bermanfaat, amal shalih dan memberikan kita taufik kepada jalan yang lurus.

Menit ke-19:57 Kemudian marilah kita memulai pelajaran kita pada kitab Ushul Ats-Tsalatsah ni dengan memberikan sedikit penjelasan tentang kitab ini.

Materi Kajian Al-Ushul Ats-Tsalatsah

بسم الله الرحمن الرحيم

“Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”

اعلم رحمك الله أنه يجب علينا تعلم أربع مسائل:

“Ketahuilah -semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmatimu- sesungguhnya wajib bagi kita semua untuk mempelajari empat perkara.”

الأولى: العلم.

“Yang pertama: ilmu.”

Lihat di sini: 2# Pengertian Ilmu Dalam Islam

وهو معرفة الله، ومعرفة نبيه، ومعرفة دين الإسلام بالأدلة.

“Yaitu mengenal Allah, mengenal Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan mengenal agama Islam dengan dalil-dalilnya.”

الثانية: العمل به.

“Perkara kedua: mengamalkan.”

الثالثة: الدعوة إليه.

“Yang ketiga: mendakwahkan kepada hal ini.”

الرابعة: الصبر على الأذى فيه.

“Bersabar atas segala gangguan yang kita dapatkan.”

Lihat di sini: 3# Empat Perkara Yang Wajib Diketahui

والدليل قوله تعالى: بسم الله الرحمن الرحيم {وَالْعَصْرِ * إِنَّ الأِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ * إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ}.

Dalil dari perkara ini adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih dan saling berwasiat dalam kebenaran dan saling berwasiat dalam kesabaran.” (QS. Al-Ashr[103]: 2)

Lihat di sini: 4# Ayat Tentang Sabar Diatas Gangguan Dalam Jalan Ilmu, Amal dan Dakwah

قال الشافعي رحمه الله تعالى: لو ما أنزل الله حجة على خلقه إلا هذه السورة لكفتهم.

“Berkata Imam Asy-Syafi’i Rahimahullahu Ta’ala: ‘Seandainya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menurunkan hujjah kepada hambaNya selain surat ini, maka hal ini sudah cukup.'”

وقال البخاري رحمه الله تعالى: باب العلم قبل القول والعمل. والدليل قوله تعالى: {فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ}. فبدأ بالعلم، قبل القول والعمل.

“Dan berkata Imam Al-Bukhari Rahimahullah dalam kitabnya: ‘Bab ilmu sebelum berkata dan beramal.’ Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: ‘Ketahuilah bahwasanya tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan minta ampunlah atas dosa-dosamu‘ (QS. Muhammad[47]: 19). Maka dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala memulai dengan perintah berilmu sebelum berkata dan beramal.”

Penjelasan Al-Ushul Ats-Tsalatsah oleh Syaikh ‘Abdurrazzaq Al-Badr

1. Bismillahirrahmanirrahim

Menit ke-23:57 Penulis kitab ini -semoga Allah merahmatinya- memulai kitabnya dengan ucapan bismillahirrahmanirrahim. Kalimat ini adalah kalimat permintaan tolong kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang dianjurkan bagi seorang muslim untuk membaca bismillahirrahmanirrahim ketika dia memulai kegiatan-kegiatannya, baik itu ketika ingin makan atau minum atau masuk atau menulis atau membaca atau selainnya. Hal ini dalam rangka mencari berkah ketika menyebutkan nama Allah Subhanahu wa Ta’ala dan meminta pertolongan dan bantuan serta taufik dariNya.

Dan penulis kitab ini Rahimahullah dalam apa yang beliau lakukan ini adalah mengambil contoh dari Al-Qur’an, yang mana semua surat-surat dalam Al-Qur’an dimulai dengan bismillahirrahmanirrahim. Juga dalam rangka mengikuti dan mencontoh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika beliau menulis surat dan menulis apa yang beliau akan tulis, beliau selalu memulai dengan basmalah.

Dan sebagaimana yang telah kita sebutkan bahwa kalimat adalah kalimat isti’anah, yaitu seseorang meminta tolong kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun huruf jar dan isim majrur setelahnya, yaitu kata bismillah berhubungan dengan fi’il (kata kerja) yang tidak nampak, yaitu kata “saya menulis”. Dan kata ini sebaiknya diakhirkan karena objek apabila diakhirkan setelah subjek akan mengandung makna pembatasan. Yaitu: “Saya tidak meminta tolong selain kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Juga di sini berarti bahwasanya: “Saya memulai tulisan ini dengan nama Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hanya kepadaNya saya meminta tolong.”

Juga huruf ba dalam kalimat bismillah, ba di sini adalah ba isti’anah. Yaitu seseorang meminta tolong kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. “Saya menulis ini dalam rangka meminta pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap apa yang akan saya tulis dan saya juga mengharap berkah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika saya menyebutkan nama Allah ‘Azza wa Jalla.”

Menit ke-28:10 Adapun nama Allah, para pendengar yang semoga dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, ini adalah nama yang tidak boleh diberikan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena nama ini menunjukkan uluhiyah dan kemuliaan, kesempurnaan serta keagungan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan hanya Dialah yang berhak disembah dan tidak ada sesuatupun yang boleh disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh sahabat Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma, beliau berkata:

الله ذو الألوهية والعبودية على خلقه أجمعين

“Allah adalah pemilik uluhiyah dan yang berhak disembah dari seluruh makhlukNya.”

Maka beliau Radhiyallahu ‘Anhu dalam menjelaskan makna nama ini mengandung dua perkara, yaitu:

  1. Uluhiyatullah, yaitu kesempurnaan, ketinggian dan kebesaran serta keagungan Allah Subhanahu wa Ta’ala serta bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala mempunyai nama-nama yang sempurna serta sifat-sifat yang agung.
  2. Ubudiyah, yang mana ini menunjukkan perbuatan seorang hamba, yaitu konsekuensi dari keimanan seorang hamba, yaitu hanya menyembah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tunduk hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bersandar hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, juga menyembah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengikhlaskan agama kepadaNya dan tidak menjadikan bersamanya sesuatu apapun dalam hal ibadah.

Menit ke-31:07 Adapun arrahmanirrahim, dua nama ini adalah nama yang menunjukkan rahmat adalah sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat luas. Dan juga rahmatNya senantiasa sampai kepada hamba-hambaNya. Dan dua nama ini menunjukkan terhadap sifat rahmat adalah sifat bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Adapun nama Ar-Rahman menunjukkan luasnya rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena dalam wazan fa’lan menunjukkan bahwasanya rahmat ini sangat luas. Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ

Dan rahmatKu mencakup segala sesuatu.” (QS. Al-A’raf[7]: 156)

Juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَّحْمَةً وَعِلْمًا

Wahai Rabb kami, Engkau telah mencakup segala sesuatu dengan rahmatMu dan pengetahuanMu.” (QS. Ghafir[40]: 7)

Maka hal ini menunjukkan tentang luasnya rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Adapun nama Ar-Rahim, maka nama ini menunjukkan bahwasanya rahmat Allah sampai kepada hamba-hambaNya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

… وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا ﴿٤٣﴾

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Penyayang terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ahzab[33]: 43)

Dan tidak pernah disebutkan dalam Al-Qur’an wa kaa na bil mu’miniina rahmaana. 

Jadi dalam ayat ini disebutkan sifat Ar-Rahim, bukan sifat Rahman. Karena nama Ar-Rahim adalah nama yang menunjukkan sampainya rahmat ini kepada hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka dalam kalimat basmalah ini ada tiga nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mulia, yaitu nama Allah, nama Rahman dan nama Ar-Rahim.

2. Ketahuilah semoga Allah merahmatimu

Menit ke-35:05 Kemudian beliau berkata dalam kitabnya اعلم رحمك الله (ketahuilah semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmatimu), juga akan datang setelah ini perkataan beliau اعلم رحمك الله, kemudian akan datang perkataan beliau أرشدك الله لطاعته (semoga Allah memberimu petunjuk kepada ketaatan kepadaNya), ini ada tiga tempat. Kemudian setelah itu beliau Rahimahullah dalam kitab Ushul Ats-Tsalatsah ini baru menyebutkan tentang siapa Rabbmu, apa agamamu dan siapa Nabimu.

Oleh karena itu seyogyanya bagi kita untuk mempelajari dan mengetahui Ushul Ats-Tsalatsah (tiga landasan utama) ini yang dimulai dengan tiga bagian kitab yang disebutkan oleh imam Rahimahullah, dan semua bagian ini dimulai dengan perkataan beliau اعلم (ketahuilah) dan doa dari beliau.

Di risalah yang pertama, beliau mendoakan dengan rahmat dan risalah yang ketiga beliau mendoakan agar kita diberi petunjuk untuk ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kemudian pada risalah bagian yang pertama, beliau menyebutkan empat perkara agung yang dibutuhkan oleh setiap muslim dan muslimah, yang wajib untuk dipelajari bagi setiap muslim dan muslimah, yaitu belajar, berilmu, beramal, berdakwah dan bersabar. Dan perkara-perkara ini telah terkumpul dalam surat Al-Ashr sebagaimana yang akan datang penjelasannya pada pertemuan yang akan datang.

Dan risalah yang kedua terkandung dalamnya penjelasan tauhid dengan dua macamnya, yaitu tauhid ilmu dan tauhid amal. Juga perkara al-wala’ wal bara’ (loyalitas dan permusuhan).

Serta risalah yang ketiga akan disebutkan tentang perkara hanifiyah, yaitu agama Nabi Ibrahim, yang mana beliau adalah imam para hunafa.

Dan setelah risalah-risalah ini, maka akan disebutkan tiga landasan utama, yang pada risalah yang pertama dari risalah-risalah ini telah disebutkan bahwasanya tiga landasan utama itu yang pertama adalah Al-Ilmu. Dan yang dimaksud dengan ilmu adalah mengenal Allah, mengenal NabiNya dan mengenal agama Islam dengan dalil-dalilnya.

Dan akan datang pula penjelasan kenapa beliau mengkhususkan penyebutan tiga landasan utama ini di sini.

Menit ke-40:15 Para pendengar yang semoga dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, perkataan penulis اعلم رحمك الله. Beliau memulai risalah ini dengan ucapan beliau اعلم رحمك الله (ketahuilah semoga Allah merahmatimu).

Beliau memulai dengan peringatan dan doa. Peringatan agar sang pembaca memperhatikan dan mengambil faedah terhadap apa yang akan disampaikan dan akan diajarkan kepadanya dari perkara-perkara yang agung, perkara-perkara pokok, dan masalah-masalah yang mulia yang dibutuhkan seseorang untuk mendengarkannya dengan baik, memperhatikan dengan baik, dan berusaha mengambil faedah dari apa yang akan beliau ucapkan. Maka beliau mengatakan: “Ketahuilah.”

Dan ketahuilah para pendengar yang semoga dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa metode seperti ini sangat bermanfaat ketika seorang mengajarkan ilmu yang mana hal ini diambil dari kitabullah dan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kita dapati dalam Al-Qur’an banyak ayat-ayat yang menjelaskan tentang perkara-perkara yang besar yang Allah Subhanahu wa Ta’ala memulai dengan kata فعلم. Seperti contohnya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَـٰهَ إِلَّا اللَّـهُ…

Ketahuilah bahwasanya tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah...” (QS. Muhammad[47]: 19)

Juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ…

Ketahuilah bahwasanya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan perbuatan sia-sia...” (QS. Al-Hadid[57]: 20)

Juga dalam Al-Qur’an, lebih dari 30 ayat yang dimulai dengan kata اعلم (ketahuilah) atau اعلمو (ketahuilah oleh kalian semua).

Juga dalam sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam banyak hadits-hadits yang dimulai dengan perkataan اعلم atau اعلمو. Di antaranya adalah sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada sahabat Ibnu ‘Abbas:

وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ…

“Ketahuilah, bahwasanya seandainya seluruh umat ini berkumpul untuk memberimu manfaat sedikit pun, mereka tidak akan mampu memberi manfaat sedikit pun kecuali apa yang telah ditulis oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan seandainya mereka berkumpul untuk memberi mudharat, mereka tidak akan mampu memberikan mudharat kepadamu sedikit pun kecuali apa yang telah ditulis oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (HR. Tirmidzi)

Juga sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam kitab musnad karya Imam Ahmad, beliau berkata kepada sahabat Abu Umamah:

اعْلَمْ أَنَّكَ لَنْ تَسْجُدَ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلَّا رَفَعَ اللَّهُ لَكَ بِهَا دَرَجَةً ، وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً

“Ketahuilah bahwasanya engkau tidak bersujud kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan satu sujud, kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengangkat derajatmu dan menghapuskan dosamu.” (HR. Ahmad)

Dan juga hadits-hadits dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sangat banyak yang menggunakan metode ini, yang mana metode ini telah dipakai oleh para ulama dalam kitab-kitab mereka.

Menit ke-44:55 Beliau mengucapkan dalam kitab ini:

اعلم رحمك الله أنه يجب علينا تعلم أربع مسائل:

“Ketahuilah -semoga Allah merahmatimu- bahwasanya wajib bagi kita untuk mempelajari empat perkara,” yaitu kita seluruh orang mukallaf, baik itu laki-laki, perempuan, anak kecil, orang dewasa, semuanya wajib dengan fardhu ‘ain semuanya wajib untuk mempelajari masalah-masalah ini. Dan kewajiban ini adalah fardhu ‘ain bagi kita semua untuk mengamalkannya.

Dan juga perlu diketahui bahwasanya kewajiban-kewajiban yang Allah Subhanahu wa Ta’ala wajibkan kepada kita terbagi menjadi dua, yaitu fardhu ‘ain dan fardhu kifayah. Adapun fardhu ‘ain yaitu kewajiban yang wajib bagi setiap orang, dan fardhu kifayah yaitu kewajiban yang apabila dilakukan oleh sebagian orang, maka sebagian yang lain tidak diwajibkan.

Maka mempelajari masalah ini adalah termasuk fardhu ‘ain yang tidak cukup untuk dipelajari oleh sebagian orang. Akan tetapi wajib setiap orang untuk mempelajari apa yang akan disebutkan dalam kitab ini.

Perkataan beliau “Wajib bagi kita untuk mempelajari empat perkara,” mempelajari empat yaitu memahaminya, mengetahuinya dengan pengetahuan yang benar yang berdasarkan kitabullah dan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Menit ke-47:05 Kemudian setelah itu beliau Rahimahullah memulai menyebutkan empat perkara ini yang mana empat perkara ini telah disebutkan dalam surat Al-Ashr. Dan kita akan meneruskan pelajaran kita ini pada pertemuan berikutnya.

Daftar Isi Kajian Al-Ushul Ats-Tsalatsah

Mp3 Kajian Mukadimah Al-Ushul Ats-Tsalatsah – Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq Al-Badr

Sumber audio: Mukadimah – Kitab Al-Ushul Ats-Tsalatsah (Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq Al-Badr)

Mari turut menyebarkan catatan kajian “Mukadimah Al-Ushul Ats-Tsalatsah” ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Barakallahu fiikum..

COMMENTS

%d blogger menyukai ini: