Materi 36 – ‘Ujub dengan Kekuatan dan Kecerdasan

Materi 36 – ‘Ujub dengan Kekuatan dan Kecerdasan

pandai mendengar

Segala nikmat yang Allah berikan kepada kita adalah amanah. Kalau kita diberikan tubuh yang kuat, gunakan untuk beribadah kepada Allah, untuk membantu kaum Muslimin.

Materi 38 – ‘Ujub Berafiliasi dan Dekat dengan Penguasa Dzalim
Hikmah Tatkala Kita Berdosa – 5 Menit yang Menginspirasi
Materi 15 – Jihad Melawan Riya’

Tulisan tentang “Materi 36 – ‘Ujub dengan Kekuatan dan Kecerdasan” ini adalah catatan yang kami tulis dari Audio kajian khusus peserta WAG UFA OFFICIAL yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. Hafidzahullah.

Sebelumnya: Materi 35 – ‘Ujub dengan Penampilan

Transkrip Materi 36 – ‘Ujub dengan Kekuatan dan Kecerdasan

 بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Di antara model ‘ujub yang berikutnya,

3. ‘Ujub dengan kekuatan

Al-Ghazali berkata: Yaitu ‘ujub dengan kekuatan, sebagaimana dihikayatkan dari kaum ‘Ad. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَأَمَّا عَادٌ فَاسْتَكْبَرُوا فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَقَالُوا مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً ۖ أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّـهَ الَّذِي خَلَقَهُمْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُمْ قُوَّةً ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ ﴿١٥﴾

Adapun kaum ‘Ad, mereka menyombongkan diri mereka di atas muka bumi tanpa hak. Mereka berkata: ‘Siapa yang lebih kuat daripada kami?’ Apakah mereka tidak melihat bahwasanya Allah yang menciptakan mereka lebih kuat daripada mereka? Dan mereka mengingkari ayat-ayat Kami.” (QS. Fussilat[41]: 15)

Di sini Allah mengisahkan ada suatu kaum yang ‘ujub dengan kekuatannya, yaitu kaum ‘Ad. Karena ‘ujub dengan kekuatannya, mereka menjadi sombong. Ketika Nabi Hud menasihatkan mereka dengan berkata:

وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِن بَعْدِ قَوْمِ نُوحٍ وَزَادَكُمْ فِي الْخَلْقِ بَسْطَةً

Ingatlah wahai kaum ‘Ad atas nikmat yang Allah berikan kepada kalian. Allah menjadikan kalian menempati bumi setelah kaum Nabi Nuh dan Allah berikan kalian kelebihan yaitu dengan tubuh yang kuat.” (QS. Al-A’raf[7]: 69)

Ini contoh ada satu kaum yang ‘ujub dengan kekuatannya. Maka di antara bentuk ‘ujub adalah seorang bangga dengan kekuatan tubuhnya. Terkadang ini menimpa orang yang suka nge-gym, kadang-kadang mereka kesana-sini menggunakan baju yang ketat-ketat supaya orang melihat badannya kuat. Ini di antara bentuk ‘ujub.

Seorang kalau ikut nge-gym adalah untuk sehat, bukan untuk pamer-pamer ototnya. Memang kalau badan berotot kemudian mulia dan masuk surga yang tinggi? Jawabannya tidak.

Dan ingat, bisa saja Allah cabut kekuatan tersebut jika Allah berkehendak. Orang nge-gym bukan berarti kemudian dia pasti sehat.

Kita ceritanya di zaman corona ini tentang trainer atau pelatih nge-gym yang meningggal. Seorang badannya sehat, tubuhnya kuat, mungkin sixpack, kemudian tiba-tiba meninggal dunia. Hal ini ada.

Kita tidak mengatakan dia ‘ujub. Tapi maksud saya, bukan berarti kalau tubuh Anda kuat berarti akan selamat apalagi mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita tidak tahu, kapan saja Allah bisa mencabut kenikmatan yang Allah berikan kepada kita.

Maka kalau kita diberi tubuh yang sehat dan kuat, bukan untuk kita pamer-pamerkan, jalan ke sana ke mari menunjukkan kekuatan kita.

Kita bersyukur kepada Allah, segala nikmat yang Allah berikan kepada kita adalah amanah. Kalau kita diberikan tubuh yang kuat, gunakan untuk beribadah kepada Allah, untuk membantu kaum Muslimin. Bukan untuk selfie sana selfie sini, dipamerkan sana sini, memfitnah orang yang melihat, pamerkan di hadapan para wanita, tidak! Anda diberikan kekuatan tubuh, gunakan untuk bersyukur kepada Allah dengan membantu Islam dan kaum Muslimin. Jika tidak, itu adalah amanah akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

4. ‘Ujub dengan kecerdasan

Di antara ‘ujub yang disebutkan oleh Al-Ghazali berikutnya, beliau berkata: ‘Ujub dengan akal kecerdasan kecerdikan dan kepandaian terhadap perkara-perkara yang pelik dari kemaslahatan agama dan dunia.

Buah dari ‘ujub ini adalah keras kepala dengan pendapatnya, meninggalkan musyawarah dan mebodoh-bodohkan orang yang menyelisihinya dan menyelisihi pendapatnya. Juga menyebabkan kurangnya ia mendengarkan para ulama, berpaling dari mereka, karena sudah cukup pendapat akal sendiri dan merendahkan mereka.

Ini bentuk ‘ujub berikutnya yang juga menimpa sebagian orang. Merasa pintar.

Baru hafal sedikit, baru bisa menelaah sedikit, baru tahu ilmu sedikit, kemudian memahami dalil sendiri, ulama disalah-salahkan seakan-akan dia sudah merdeka, bisa memahami Al-Qur’an dan Sunnah dengan sendiri, berani berfatwa tanpa melihat fatwa-fatwa ulama yang lain, berani berfatwa langsung tanpa konsultasi dengan orang lebih alim darinya, tidak mau bermusyawarah, tidak menghargai pendapat yang lain, menghina pendapat yang lainnya, nyinyir pendapat yang lain. Ini contoh orang yang ‘ujub.

Yang berkata demikianlah adalah Al-Ghazali Rahimahullahu Ta’ala. Maka seorang waspada, ini bisa menimpa siapa saja.

Saya tidak mengatakan ‘ujub harus kepada orang yang cerdas. Bahkan orang yang tidak cerdas merasa cerdas pun terkena ‘ujub. Baru ngaji sedikit sudah mulai sok tahu. Kadang-kadang ustadz ditanya: “Ustadz apa hukumnya ini?” dia duduk di samping ustadz dan menjawab bahwa hukumnya begini dan seterusnya.

Hal ini terjadi. Baru tahu ilmu sedikit sudah sok tahu. Bagaimana nanti kalau jadi ustadz, apalagi kalau sudah punya hafalan banyak, apalagi sudah menelaah sana sini, bisa jadi tidak perlu dengar ulama lagi, semua ulama disalahkan, tidak mau musyawarah, tidak mau diselisihi, kalau ada yang menyelisihi dibodoh-bodohin, dihina dan yang lainnya. Ini ‘ujub, hati-hati.

Adapun obatnya, kata Al-Ghazali adalah hendaknya dia bersyukur kepada Allah atas kecerdasan yang telah Allah anugerahkan kepadanya. Hendaknya ia merenungkan bahwasanya bisa saja dengan penyakit yang sangat ringan menyerang otaknya, akhirnya ia pun menjadi orang yang terganggu dan gila hingga menjadi bahan tertawaan. Maka hendaknya ia tidak merasa aman bahwa akalnya bisa dihilangkan oleh Allah jika ia ‘ujub dengan akalnya, lantas tidak menjalankan konsekuensi rasa syukur dan anugerah atas akalnya tersebut.

Jadi harus ingat, kalau dia ‘ujub dengan akalnya tersebut, Allah bisa saja hilangkan kecerdasannya, bisa jadi kepalanya kebentur atau yang lainnya. Dan juga dia harus ingat bahwa akal yang telah Allah berikan tersebut untuk disyukuri, untuk sumbang sih kepada iklan. Bukan untuk angkuh, merendahkan yang lain, tidak musyawarah, merendahkan pendapat yang menyelisihinya, sok alim dan yang lainnya.

Semoga Allah menjauhkan kita dari penyakit seperti ini.

والله أعلم بالصواب

Perhatian Materi 36 – ‘Ujub dengan Kekuatan dan Kecerdasan

⚠️ Note: Kalau team UFA merevisi audionya, insyaAllah catatan ini juga akan direvisi sesuai dengan audio yang baru.

Komentar

WORDPRESS: 0