Materi 49 – Hakikat Tawakal

Materi 49 – Hakikat Tawakal

iklan erto's

Tulisan tentang “Materi 49 – Hakikat Tawakal” ini adalah catatan yang kami tulis dari Audio kajian khusus peserta WAG UFA OFFICIAL yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. Hafizhahullah.

Sebelumnya: Materi 48 – Bertawakallah Kepada Allah, Jangan Bertawakal Kepada Materi

Materi 49 – Hakikat Tawakal

Kita akan membahas tentang hakikat tawakal. Tawakal hakikatnya adalah menggabungkan antara penyandaran hati kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan melakukan sebab, atau bahasa umumnya adalah ikhtiar. Dan sudah banyak dalil yang mengisyaratkannyal. Seperti sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ

“Semangatlah engkau untuk meraih apa yang bermanfaat bagimu (baik perkara dunia maupun perkara akhirat)…”

Di sini Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam suruh semangat.

وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ

“Dan minta tolonglah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan jangan kau lemah/malas.”

Jadi dalam hadits ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyuruh menggabungkan antara berikhtiar dan minta tolong kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Inilah yang disebut hakikat tawakal.

Demikian juga dalam satu hadits, ketika ada seorang datang kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian dia mengatakan:

يَا رَسُولَ الله، أُطْلِقُهَا وَأَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ؟

“Wahai Rasulallah, ini untaku aku lepaskan saja dan aku bertawakal kepada Allah (yaitu ditinggal masuk masjid atau kemana)?”

Kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak..

إعْقِلْها و تَوَكَّل على اللهِ

“Yang benar yaitu kau ikat untamu dan kau bertawakal kepada Allah.”

Di sini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyuruh dia untuk menggabungkan dua hal, pertama bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemudian mengikat unta agar untanya tidak hilang. Ini jelas Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyuruh menggabungkan dua perkara.

Sebagaimana juga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengisyaratkan dalam hadits yang pernah kita bahas, yaitu hadits tentang burung. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُوا خِمَاصاً وَتَرُوْحُ بِطَاناً

“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sesungguhnya, maka Allah niscaya akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Allah memberi rezeki pada burung. Burung pergi di pagi hari dalam kondisi perut kosong dan dia kembali dalam kondisi perut kenyang.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah)

Perhatikan di sini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang seorang bertawakal kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan dengan burung. Burung bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, akan tetapi dia juga berusaha/ berikhtiar.

Makanya burung di pagi hari sudah bangun, kemudian bercuit-cuit di antara mereka dengan giatnya, kemudian terbang ke tempat yang sangat jauh untuk mencari makanan, kemudian kembali ke sangkar dalam keadaan perut sudah kenyang, bahkan membawakan makanan untuk anaknya.

Ini dalil bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyuruh kita untuk menggabungkan antara tawakal dan usaha.

Oleh karenanya ketika ada sebagian jamaah haji yang mereka ingin berhaji tanpa membawa bekal kemudian mereka berkata: “Kami tawakal kepada Allah, tidak perlu membawa bekal, pokoknya kami bisa melaksanakan haji.” Maka ditegur oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah turunkan firmanNya dalam Al-Qur’an:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ

“Berbekallah kalian (ketika berhaji) dan sebaik-baik bekal adalah ketakwaan.” (QS. Al-Baqarah[2]: 197)

Yaitu kalian berbekal ketakwaan dan berbekal juga dengan bekal yang untuk haji. Makanya haji tidak diwajibkan bagi orang yang tidak mampu.

وَلِلَّـهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا

“Haji itu wajib bagi orang yang mampu.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 97)

Bahkan para ulama menjelaskan yang disebut mampu haji itu adalah bukan hanya dia mampu berangkat pergi haji, akan tetapi dia juga mampu dalam artian dia meninggalkan nafkah untuk keluarganya di rumah selama dia berpergian.

Kalau ternyata dia mau berhaji sementara anak istrinya terlantar/tidak ada yang mengurus, maka tidak wajib baginya untuk haji.

Ini jelas bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala menyuruh kita untuk berikhtiar. Jangan sampai seorang mengatakan: “Saya berhaji jalan sendirian tanpa bekal, Allah akan menolong saya,” tentu dia akan merepotkan orang lain. Kecuali mungkin dia pakar atau ahli dalam bekerja maka tidak ada masalah. Berarti dia berikhtiar dengan kerjanya. Tapi kalau dia hanya mengatakan: “Saya bersandar, saya tidak perlu membawa bekal, saya akan bisa haji,” maka ini adalah bentuk tawakal yang keliru.

Jadi, ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala, tawakal yang bener itu bukan hanya sekedar menyandarkan hati kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Benar kita tahu bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menentukan semuanya, yang menetapkan segalanya adalah Allah, yang menciptakan segalanya adalah Allah, tetapi Allah menyuruh kita untuk berikhtiar/berusaha.

Nah, tawakal yang benar adalah menggabungkan kedua-duanya. Menyandarkan hati kepada Allah disertai dengan usaha.

▬▬•◇✿◇•▬▬

Mari turut menyebarkan catatan kajian tentang “Materi 49 – Hakikat Tawakal” ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Baarakallahu fiikum..

Komentar

WORDPRESS: 0
DISQUS: