Materi 48 – Bertawakallah Kepada Allah, Jangan Bertawakal Kepada Materi

Materi 48 – Bertawakallah Kepada Allah, Jangan Bertawakal Kepada Materi

dukung ngaji id

Tulisan tentang “Materi 48 - Bertawakallah Kepada Allah, Jangan Bertawakal Kepada Materi” ini adalah catatan yang kami tulis dari Audio kajian khusus

Mempelajari Amalan Hati – Part 3
Muqaddimah 1 Silsilah Amalan Dan Penyakit Hati
Pondasi Baiknya Amal

Tulisan tentang “Materi 48 – Bertawakallah Kepada Allah, Jangan Bertawakal Kepada Materi” ini adalah catatan yang kami tulis dari Audio kajian khusus peserta WAG UFA OFFICIAL yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. Hafizhahullah.

Sebelumnya: Materi 47 – Tawakal Sebab Datangkan Rezeki

Materi 48 – Bertawakallah Kepada Allah, Jangan Bertawakal Kepada Materi

Telah kita sebutkan bahwasanya di antara hal yang memudahkan seseorang meraih rezeki adalah dengan memperbaiki tawakalnya. Semakin seorang kuat tawakalnya disertai usaha sedikit, apalagi usahanya baik disertai dengan tawakal yang tinggi, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mudahkan rezekinya.

Kita coba introspeksi diri kita selama ini. Sebagian kita mungkin tawakalnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kurang, masih bersandar kepada sebab-sebab materi yang ada di hadapan matanya.

Sebagian kita bertawakal kepada bank, misalnya. Dia merasa usahanya tidak mungkin berjalan kecuali dengan bank, dia merasa bahwa satu-satunya keberhasilannya kalau lewat bank. Ini bertawakal bahkan kepada perkara riba yang ini berbahaya seperti ini.

Hendaknya kita menata hati, bahwasanya sumber rezeki adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita berusaha bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sambil berusaha melakukan sebab-sebab yang dihalalkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Oleh karenanya jangan pernah kita bertawakal kepada materi. Materi hanya sebab, kita lakukan. Seperti seorang bekerja di suatu perusahaan, jangan dia merasa bahwasanya rezekinya dari perusahaan itu; kalau tidak bekerja di perusahaan itu maka tidak mendapat rezeki.

Kemudian juga jangan seseorang -misalnya- dia berdagang kemudian dia tawakalnya kepada perdagangannya, tidak, dia bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Seorang tidak bertawakal kepada bank, tidak bertawakal kepada urusan yang dia bekerja, tidak bertawakal kepada usahanya sendiri, tawakalnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Usaha adalah keharusan tawakal, ikhtiar. Tetapi hati harus bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kepada Sang Maha Pemberi Rezeki.

Ada sebuah syair dari Al-Imam Syafi’i Rahimahullahu Ta’ala yang indah, saya bacakan syair tersebut dan saya terjemahkan, insyaa Allahu Ta’ala.

Beliau Rahimahullahu Ta’ala berkata:

تَوَكَّلتُ في رِزقي عَلى اللَهِ خالِقي

“Aku tawakal untuk urusan rezekiku kepada Allah Sang Penciptaku.”

وَأَيقَنتُ أَنَّ اللَهَ لا شَكَّ رازِقي

“Dan aku yakin bahwasanya tidak ragu sama sekali Dialah Allah yang akan memberi rezeki kepadaku.”

وَما يَكُ مِن رِزقي فَلَيسَ يَفوتَني

“Apapun rezeki yang sudah tercatat kepadaku, maka tidak akan luput dariku.”

وَلَو كانَ في قاعِ البِحارِ العَوامِقِ

“Meskipun rezeki tersebut berada di ujung dalam dasar lautan, kalau itu rezekiku maka akan datang kepadaku.”

سَيَأتي بِهِ اللَهُ العَظيمُ بِفَضلِهِ

“Allah akan mendatangkan rezekiku dengan karuniaNya.”

وَلَو لَم يَكُن مِنّي اللِسانُ بِناطِقِ

“Meskipun lisanku tidak memintanya. Kalau itu jatahku, Allah pasti akan memberi kepadaku.”

فَفي أَيِّ شَيءٍ تَذهَبُ النَفسُ حَسرَةً

“Karenanya, buat apa hati ini kemudian tersiksa, menyesal, ketakutan tidak dapat rezeki.”

وَقَد قَسَمَ الرَحمَنُ رِزقَ الخَلائِقِ

“Sementara Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membagi rezekiNya kepada makhlukNya.”

Jadi, kita yakin kalau kita bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dia akan memberikan rezeki kepada kita sebagaimana tadi nasihat Imam Syafi’i Rahimahullahu Ta’ala.

Kata Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا…

“Tidak ada satu binatang melata kecuali Allah mengatur rezekinya…” (QS. Hud[11]: 6)
Kalau hewan-hewan saja, seperti burung tadi, kemudian hewan-hewan lain yang tidak bisa berpikir, tidak seperti kita, mereka bisa mendapat rezeki, bagaimana dengan kita?

Ya ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Sebagian kita -alhamdulillah- rezekinya dilapangkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka jangan lupa banyak bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagian kita rezekinya terkadang mudah, terkadang seret, terkadang susah, apalagi di masa pandemi, jangan lupa tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Semua ini dibawah naungan dan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala berkehendak maka hanya mengatakan “Kun, Fayakun (Arab: كُنْ فَيَكُونُ)”. Tugas kita hanya tawakal hati kita, tawakal benar-benar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sambil kita ikhtiar.

Mudah-mudahan Allah Sang Maha Pemberi Rezei memberikan rezeki kepada kita. Yang penting kita berusaha, tawakal dan ikhtiar.

▬▬•◇✿◇•▬▬

Mari turut menyebarkan catatan kajian tentang “Materi 48 – Bertawakallah Kepada Allah, Jangan Bertawakal Kepada Materi” ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Baarakallahu fiikum..

Komentar

WORDPRESS: 0