Materi 7 – Faedah Ikhlas ke-4

Materi 7 – Faedah Ikhlas ke-4

ceramah tentang gowes

Tulisan tentang "Materi 7 - Faedah Ikhlas ke-4" ini adalah catatan yang kami tulis dari Audio kajian khusus peserta WAG UFA OFFICIAL yang disampaikan

Ceramah Singkat Motivasi Beramal: Hilang Hartaku
Materi 11 – Faedah Ikhlas 10
Mempelajari Amalan Hati – Part 1

Tulisan tentang “Materi 7 – Faedah Ikhlas ke-4” ini adalah catatan yang kami tulis dari Audio kajian khusus peserta WAG UFA OFFICIAL yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. Hafidzahullah.

Sebelumnya: Materi 6 – Faedah Ikhlas

Transkrip Materi 7 – Faedah Ikhlas ke-4

 بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

4. Membantu mewujudkan cita-cita

Di antara faedah keikhlasan yang ke-4 adalah membantu mewujudkan cita-cita.

Banyak orang yang memiliki cita-cita yang mulia, namun betapa sering cita-cita mereka kandas di tengah jalan dan tidak berhasil. Tentu banyak sebab yang membuat dia tidak berhasil. Namun bisa jadi di antaranya adalah kurang tulusnya niat atau kurang ikhlasnya niat. Barangsiapa yang memiliki cita-cita yang mulia dan dia benar-benar tulus dan ikhlas kepada Allah, maka Allah akan mudahkan dia meraih cita-citanya.

Di antaranya disebutkan dalam satu hadits, ada seorang Arab badui datang menemui Nabi Shallallahu’Alaihi wa Sallam kemudian dia beriman kepada Nabi dan mengikuti Nabi. Kemudian dia berkata:

أُهَاجِرُ مَعَكَ

“Ya Rasulullah, aku berhijrah bersamamu.”

Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mewasiatkan kepada sebagian sahabatnya untuk memperhatikan orang Arab Badui ini.

فَلَمَّا كَانَتْ غَزْوَةٌ

“Tatkala terjadi peperangan,”

غَنِمَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم شيئاً

“Maka Nabi mendapatkan ghanimah.”

فَقَسَمَ وَقَسَمَ لَهُ

“Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membagikan ghanimah tersebut kepada para mujahidin dan dia juga dapat bagian.”

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan kepada para sahabat bagian Arab Badui ini dari harta ghanimah.

Kebetulan,

وَكَانَ يَرْعَى ظَهْرَهُمْ

Orang Arab Badui ini menjaga bagian belakang, maka dia terlambat datang karena dia menjaga bagian belakang pasukan.

فَلَمَّا جَاءَ دَفَعُوهُ إِلَيْهِ فَقَالَ : مَا هَذَا؟

Tatkala dia datang, maka para sahabat memberikan jatah ghanimahnya kepada Arab Badui ini karena dia ikut perang. Maka dia berkata: “Apa ini?”

Para sahabat berkata:

قِسْمٌ قَسَمَهُ لَكَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم

“Ini bagianmu yang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sudah memberikan jatahmu.”

فَأَخَذَهُ فَجَاءَ بِهِ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم

“Maka dia pun mengambil jatah ghanimahnya lantas dia datang kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.”

Dan dia berkata:

مَا هَذَا؟

“Apa ini Ya Rasulullah?”

Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

قَسَمْتُهُ لَكَ

“Aku bagi untukmu, itu jatah ghanimahmu.”

Maka orang Arab Badui ini berkata:

مَا عَلَى هَذَا اتَّبَعْتُكَ

“Aku ikut engkau Ya Rasulullah, bukan untuk mendapatkan ghanimah ini.”

وَلَكِنِّي اتَّبَعْتُكَ عَلَى أَنْ أُرْمَى إِلَى هَا هُنَا – وَأَشَارَ إِلَى حَلْقِهِ بِسَهْمٍ –

“Tapi aku ikut engkau Ya Rasulullah, agar aku dipanah lewat sini -Yaitu dia memberi isyarat kepada lehernya-”

Yaitu maksudnya: “Aku ingin dipanah oleh anak panah dan masuk di kerongkonganku.”

فَأَمُوتَ فَأَدْخُلَ الْجَنَّةَ

“Lalu aku mati syahid, lalu aku masuk surga.”

Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata mengomentari perkataan Arab Badui ini:

إِنْ تَصْدُقِ اللَّهَ يَصْدُقْكَ

“Kalau kau tulus, kalau kau ikhlas di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, Allah akan mewujudkan cita-citamu.”

فَلَبِثُوا قَلِيلاً ثُمَّ نَهَضُوا فِي قِتَالِ الْعَدُوِّ

“Kemudian para sahabat terdiam sebentar, kemudian mereka bangkit lagi untuk berperang melawan musuh.”

Kemudian ternyata orang ini meninggal dalam peperangan, mati syahid. Orang ini diangkat oleh para sahabat, dibawa ke hadapan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ternyata benar lehernya terkena anak panah sebagaimana yang diisyaratkan ke arah lehernya.

Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya kepada para sahabat:

أَهُوَ هُوَ

“Ini tadi Arab Badui yang tadi?”

Kata para sahabat: “Iya benar Ya Rasulullah.”

Maka Nabi berkata:

صَدَقَ اللَّهَ فَصَدَقَهُ

“Dia telah tulus kepada Allah, dia ikhlas kepada Allah, dia benar dihadapan Allah, maka Allah pun membenarkan keinginannya.”

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun mengkafankan orang ini dengan jubah Nabi Shallallahu’Alaihi wa Sallam. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun menyalatkannya.

Inilah orang yang berniat tulus, maka niatnya dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hadits ini hadits riwayat Imam An-Nasa’i dan dishahihkan oleh Syaikh Albani Rahimahullaahu Ta’ala dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib nomor 1336.

Dan ini pelajaran bagi kita. Kalau kita punya cita-cita yang baik, maka tuluskan niat kita ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga Allah memudahkan kita untuk bisa mewujudkan cita-cita kita yang terbaik.

والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ

Perhatian Catatan Materi 7 – Faedah Ikhlas ke-4

⚠️ Note: Kalau team UFA merevisi audionya, insyaAllah catatan ini juga akan direvisi sesuai dengan audio yang baru.

COMMENTS

%d blogger menyukai ini: