Mempelajari Amalan Hati – Part 1

Mempelajari Amalan Hati – Part 1

ceramah tentang gowes

Tulisan tentang "Mempelajari Amalan Hati - Part 1" ini adalah catatan yang kami tulis dari Audio kajian khusus peserta WAG UFA OFFICIAL

Ceramah Singkat Tentang Tips Amalan Ringan Pahala Besar
Mempelajari Amalan Hati – Part 3
Materi 15 – Jihad Melawan Riya’

Tulisan tentang “Mempelajari Amalan Hati – Part 1” ini adalah catatan yang kami tulis dari Audio kajian khusus peserta WAG UFA OFFICIAL yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. Hafidzahullah.

Sebelumnya: Muqaddimah 2 Silsilah Amalan Dan Penyakit Hati

Mempelajari Amalan Hati – Part 1

 بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Ikhwan dan akhwat yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, kenapa kita mempelajari tentang amalan-amalan hati yang dianjurkan agar kita bisa mengamalkannya dan juga penyakit-penyakit hati yang bahaya yang harus kita jauhi?

1. Kedudukan dan derajat seseorang tergantung bersihnya hatinya

Banyak hal yang menunjukkan akan urgensinya kita belajar akan hal ini. Di antaranya yang pertama bahwasannya kedudukan seseorang dan derajat seseorang tergantung akan bersihnya hatinya. Oleh karenanya di antara doa Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam:

وَلَا تُخْزِنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ ﴿٨٧﴾ يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ﴿٨٨﴾

Ya Allah jangan Engkau hinakan aku pada hari dimana mereka dibangkitkan. Hari tidak bermanfaat harta dan anak-anak kecuali orang yang bertemu dengan Allah dengan hati yang selamat.” (QS. Asy-Su’ara[26]: 87-88)

Oleh karenanya Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam bertemu Allah dengan hati yang selamat. Kata Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ayat yang lain:

وَإِنَّ مِن شِيعَتِهِ لَإِبْرَاهِيمَ ﴿٨٣﴾ إِذْ جَاءَ رَبَّهُ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ ﴿٨٤﴾

Dan di antara golongannya Nabi Nuh ‘Alaihis Salam adalah Ibrahim. Tatkala dia datang bertemu dengan Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Ash-Shaffat[37]: 83-84)

Dan ini juga ditegaskan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits Abdullah bin ‘Amr bin Ash:

قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ؟

“Ditanyakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: ‘Ya Rasulullah, siapa orang yang paling afdhal?'”

Sahabat bertanya tentang orang yang paling afdhal. Mereka ingin tahu siapa orang yang paling afdhal agar mereka bisa menjadi orang tersebut. Kita tahu pertanyaan-pertanyaan sahabat kepada Nabi bukan hanya untuk wawasan, tapi untuk mereka amalkan. Dan ini banyak dalam pertanyaan-pertanyaan sahabat, amal yang terbaik, amal yang paling dicintai oleh Allah, sekarang ditanyakan manusia mana yang paling afdhal.

Maka Nabi menjawab. Perhatikan jawaban Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

كُلُّ مَخْمُومِ الْقَلْبِ صَدُوقِ اللِّسَانِ

“Yaitu seorang yang disapu (dibersihkan) hatinya dan jujur lisannya.”

Lalu para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, orang yang lisannya jujur kami paham. Apa yang dimaksud dengan hati yang dibersihkan (yang disapu)?

Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan maksud مَخْمُومِ الْقَلْبِ adalah:

هُوَ التَّقِيُّ النَّقِيُّ

“Yaitu hati yang bertakwa yang bersih.”

لَا إِثْمَ فِيهِ

“Tidak ada dosa di dalamnya.”

وَلَا بَغْيَ

“Tidak ada melampaui batas.”

وَلَا غِلَّ

“Tidak ada kedongkolan.”

وَلَا حَسَدَ

“Tidak ada dengki.” (HR. Ibnu Majah)

Hati yang bersih. Inilah manusia yang paling afdhal di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah hati yang bertakwa. Tidak ada dosa, yaitu syahwat ingin melihat hal-hal yang haram, ingin memandang hal-hal yang haram. Kemudian tidak melampaui batas, sombong dan yang lainnya. Tidak ada kedongkolan dan tidak ada hasad. Ini orang adalah orang yang paling afdhal di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Oleh karena itu dalam hadits, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَا إِلَى أَجْسَامِكُمْ ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak melihat kepada rupa kalian dan Allah tidak melihat kepada jasad kalian…”

Artinya apa? Nabi menjelaskan bahwasanya bukan itu barometer Allah dalam menilai derajat seseorang.

وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Tapi yang Allah lihat adalah hati kalian dan amalan kalian.”

Ini yang menjadi berometer Allah dalam menilai derajat seseorang. Pertama adalah hatinya, baru kemudian amalnya. Akan tetapi yang menjadi pusat perhatian Allah yang pertama adalah hati seseorang. Karena kalau seorang dinilai dari rupanya, dari parasnya, maka orang-orang tampan adalah yang paling tinggi di sisi Allah, wanita-wanita yang paling cantik merekalah yang paling tinggi di sisi Allah. Tapi itu bukan jadi patokan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Betapa banyak orang-orang mulia yang ternyata -misalnya- mereka adalah budak. Seperti Bilal bin Rabah yang tadinya budak kemudian dibebaskan oleh Abu Bakar, (Bilal) berkulit hitam.

Demikian juga dalam satu hadits, ketika Ibnu Abbas Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhuma pernah berkata kepada Atha’ bin Abi Rabah, kata Ibnu ‘Abbas:

أَلَا أُرِيَكَ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

“Wahai Atha’ bin Abi Rabah, maukah aku tunjukkan kepada engkau seorang wanita penghuni surga?”

Subhanallah..

Atha berkata: “Tentu Ya Ibnu Abbas, siapa wanita penghuni surga itu?”

Artinya bahwa Ibnu Abbas menyampaikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah mengatakan bahwa ini perempuan penghuni surga. Kemudian kata Ibnu Abbas:

هذِهِ المْرأَةُ السوْداءُ

“Inilah wanita berkulit hitam yang Rasulullah mengatakan dia adalah penghuni surga.”

Kok bisa wanita berkulit hitam ini menjadi penghuni surga?

أَتَتِ النَّبِىَّ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- فَقَالَتْ: إِنِّى أُصْرَعُ وَإِنِّى أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللَّهَ لِى

“Dia datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lantas dia berkata: ‘Ya Rasulullah aku terkena penyakit shara’ (semacam penyakit ayan atau aku kemasukan jin) dan ketika aku lagi kumat, terkadang sebagian auratku tersingkap (entah pahanya, entah betisnya, entah apanya). Berdo’alah kepada Allah untukku Ya Rasulullah agar aku sembuh.”

Maka kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الْجَنَّةُ

“Kalau kau mau kau bersabar dan bagimu surga.”

وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَكِ

“Tapi kalau kau mau aku berdoa kepada Allah kau akan sembuh dari penyakit ini.”

Apa kata wanita berkulit hitam ini?

أَصْبِرُ

“Aku memilih bersabar.”

Kemudian dia melanjutkan:

إِنِّى أَتَكَشَّفُ

“Tetapi Ya Rasulullah, aku tersingkap ketika aku sedang kumat.” Yaitu dia malu kalau terlihat sebagian. Subhanallah bagaimana rasa malu wanita yang berkulit hitam ini. Padahal kalau dia tersingkap mungkin tidak ada yang melihat dan tertarik. Tapi dia punya rasa malu yang tinggi di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka dia berkata:

فَادْعُ اللَّهَ أَنْ لاَ أَتَكَشَّفَ

“Maka berdoalah kepada Allah untukku agar ketika aku kambuh tidak tersingkap.”

فَدَعَا لَهَا

“Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendoakannya.”

Ini dalil bahwasanya wanita ini penghuni surga. Lihat, dia berkulit hitam, terkena penyakit, tetapi apa yang membuat dia masuk surga dan mulia di sisi Allah? Dia punya amalan hati, yaitu sabar.

Oleh karenanya ini peringatan kepada ikhwan-ikhwan dan akhwat yang terlalu perhatian terhadap penampilan dzahirnya. Hal itu bagus, tidak ada masalah. Tapi lupa dengan memperhatikan hatinya. Kita memperhatikan amalan dzahir, penampilan, casing kita perhatikan, tapi yang lebih utama adalah kita perhatikan isi hati kita. Ini yang paling penting, karena itu yang menjadi barometer penilaian Allah Subhanahu wa Ta’ala.

والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ

Perhatian: Mempelajari Amalan Hati – Part 1

⚠️ Note: Kalau team UFA merevisi audionya, insyaAllah catatan ini juga akan direvisi sesuai dengan audio yang baru.

Catatan 1: ngaji.id/ah1
Catatan 2: ngaji.id/ah2
Catatan 3: ngaji.id/ah3
Catatan 4: ngaji.id/ah4
Catatan 5: ngaji.id/ah5
Dan seterusnya, insyaAllah akan terus diupdate.

Selengkapnya kunjungi: www.kelas.firanda.com

COMMENTS

%d blogger menyukai ini: