Mencerdaskan Mental Anak

Mencerdaskan Mental Anak

Fiqih Pendidikan Anak ke 66

pandai mendengar

Tulisan tentang “Mencerdaskan Mental Anak” ini adalah catatan faedah dari kajian Islam yang dibawakan oleh  Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullahu

Kultum Singkat Tentang Orang Tua Pemadam Kebakaran
Materi 34 – ‘Ujub dengan Nasab Anak Keturunan
Ceramah Singkat Tentang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

Tulisan tentang “Mencerdaskan Mental Anak” ini adalah catatan faedah dari kajian Islam yang dibawakan oleh  Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullahu Ta’ala.

Mencerdaskan Mental Anak

Setiap orangtua pasti menginginkan putra atau putrinya menjadi cerdas, tentu ini adalah cita-cita setiap orangtua. Untuk mencapai hal itu tidak sedikit Orang tua yang rela mengeluarkan biaya yang cukup  besar untuk membentuk anaknya supaya menjadi cerdas dengan menyediakan sarana seperti memanggil guru les atau private bahkan ada juga orangtua yang memberikan suplemen-suplemen kepada anaknya entah itu sirup, obat atau vitamin yang dipercaya bisa mencerdaskan anaknya.

Amat disayangkan banyak orangtua yang mengaitkan kecerdasan anak hanya pada kecerdasan akademik atau kecerdasan otak. Sehingga jika ada anak mendapatkan nilai matematikanya 100 atau mendapat juara 1 olimpiade sains misalnya, maka akan dikatakan anak ini cerdas. Walupun dia jarang membantu orangtua, sholatnya masih bolong-bolong hubungan dengan saudara atau temanya tidak harmonis. Ini merupakan kecerdasan yang bersifat parsial, karna kecerdasan itu tidak hanya kecerdasan akademis atau kecerdasan otak saja.

Kecerdasan itu ada banyak jenisnya, setidaknya ada 4 jenis kecerdasan yang dibutuhkan oleh anak. Yang pertama adalah kecerdasan otak, kecerdasan otak ini sebagaimana yang sudah dijelaskan. Yang kedua, kecerdasan emosional yaitu ketika anak mampu mengendalikan emosinya, yang ketiga kecerdasan spiritual yaitu kepatuhan hamba kepada Allaah dan yang keempat kecerdasan mental.

Apa itu kecerdasan mental?

Ternyata tidak sedikit oranagtua yang kurang memahami tentang kecerdasan mental ini. Padahal kecerdasan mental sangat dibutuhkan oleh anak dalam menggapai kesuksesanya dalam kehidupanya dimasa yang akan datang. Sering kita dapati mungkin ada seorang anak yang ketika disekolah selalu mendapatkan juara 1 saat lulus tapi anak tersebut tidak ingin bekerja dan berkarya.

Kecerdasan mental itu sendiri adalah kecerdasan seorang anak dalam menghadapi suatu masalah atau kesulitan. sehingga jika masalah datang pada dirinya, ia tidaklah panik dan tidak kebingungan bahkan putus asa dalam menghadapi masalah tersebut, ia akan terus tegar, kuat.

Seorang anak bahkan orang dewasa sekali pun mesti memiliki kecerdasan mental dalam menjalani hidup. Jangan sampai ketika menghadapi masalah ia hanya bisa menghindar, hanya bisa menangis, bahkan hanya mengurung diri dan yang paling parah naudzubillaah min dzalik sampai bunuh diri dalam menghadapi masalah. Padahal apa yang dilakukan itu tidaklah menyelesaikan masalah.

Apa saja indikasi seorang anak memiliki kecerdasan mental?

Seorang anak yang memiliki kecerdasan mental bisa dilihat ketika ia menghadapi masalah, maka ia akan tangguh, gigih, kuat, tidak mudah putus asa dalam menghadapi masalah tersebut. sedangkan ciri orang yang memiliki kecerdasan mental yang rendah akan terlihat ketika mendapat masalah ia hanya menangis atau akan mudah mengeluh, mudah menyerah, mudah putus asa, cengeng, labil, dan daya juangnya kecil.

Lalu bagaimana agar anak memiliki kecerdasan mental yang tinggi?

Setiap kecerdasan, entah itu kecerdasan otak, emosional, spiritual atau kecerdasan mental tidak bisa didapatkan secara instan. Butuh ditanam atau diasah semenjak dini, sebgaimana seorang bayi yang ketika lahir tidaklah langsunng bisa membaca atau berhitung atau langsung fasih membaca al qur’an nya. tentunya membutuhkan latihan agar kecerdasan itu dibentuk. lalu bagaimana Cara mencerdaskan anak  ?.

1. Bangun kecerdasan mental anak semenjak dini.

Sebagian orang mengatakan melatih kecerdasan mental itu bukan hanya semenjak dini atau masih kecil akan tetapi semenjak anak didalam kandungan, bahkan ada juga yang mengatakan semenjak memilih pasangan. karna bisa jadi kecerdasan mental anak ini bisa menuruni dari kecerdasan pasangan yang dipilihnya bahkan menuruni dari kecerdasan bapak atau kakeknya.

Melatih kecerdasan anak semenjak dini, setelah pasangan menikah kemudian berhubungan kemudian sang istri hamil, mulai dari sini sudah dibentuk kecerdasan mental anak. menjaga emosional sang ibu saat hamil maka ini adalah usaha atau melatih kecerdasan mental anak semenjak dikandungan. Peran ayah yang senantiasa mengalah dan pengertian ketika ibu tengah hamil bisa jadi membuat emosional ibu yang tengah hamil stabil.

2. Membiasakan anak untuk disiplin sejak dini.

Perlu diketahui beda antara kedisiplinan dan ketegasan dengan kekerasan dan kekasaran. Mungkin orangtua berpikir ketegasan itu kasar atau kasar itulah ketegasan dan kekerasan itu disiplin atau kedisiplinan itulah kekerasan. Menerapkan prinsip kemiliteran dalam mendidik kedisplinan anak tidak mesti akan menghasilkan hal yang positif. Bisa jadi dengan hal itu malah membuat anak menjadi keras, kaku dan otoriter.

Beda kasar dengan disiplin atau tegas, kalau kasar identik dengan kekerasan fisik seperti suara yang tinggi dengan mata melotot tangan dan kaki pun ikut bergerak. Disiplin itu bisa diterapkan dengan muka serius mengatakan tidak kemudian diberikan alasan pada anak, ini sudah merupakan bentuk ketegasan. walaupun anak nangis dalam kondisi ini maka kita katakan tidak pada anak tanpa perlu mengangkat suara dan melakukan kekerasan fisik kepada anak.

3. Melatih anak agar bisa memilih dan menentukan.

Kenapa kita harus melatih anak bisa memililh dan menentukan ?. Ini bertujuan agar anak dapat menentukan sikap dalam menentukan suatu pilihan dan dapat melatih anak untuk berani mengambil resiko atas pilihanya. Dalam hal ini bukan berati orangtua melepas begitu saja anak untuk menentukan, akan tetapi orangtua harus tetap memberikan arahan dan edukasi kepada anak atas pilihanya sebelum menentukan.

4. Membangun motivasi dan optimisme pada anak.

Membangung sifat optimisme dan motivasi pada anak ini dianjurkan asalkan tidak terlalu berlebihan dan tidak mengarah kepada sifat sombong. Adalah sifat yang dianjurkan oleh agama kita bahkan sangat disukai oleh nabi kita. beliau bersabda;

إنّ الله يحب الفأل الحسن

(Sesungguhnya Allaah mencintai sifat optimisme yang baik), dan islam tidak menyukai sifat pesimisme apalagi putus asa. Latih anak mempunyai sifat optimisme dengan terus memotivasi anak baik saat belajar, ketika akan mengahadapi ujian dan lainya dengan kata-kata yang menyemangati dan tatapan yang serius.

5. Latih anak sanggup menghadapi kesulitan/masalah.

Setiap kita baik anak-anak maupun orang dewasa pasti akan menghadapi kesulitan. Jika kita hidup pasti akan menghadapi kesulitan. Baik kesulitan ekonomi, masalah studi, interaksi sosial, masalah dalam rumah tangga, masalah di kantor pasti kesulitan itu akan dihadapi. Tugas kita adalah melatih anak agar sanggup menghadapi kesulitan. Ketika anak sedang menghadapi masalah jangan buru-buru membantu anak, tapi berilah kesempatan anak untuk mengatasinya sendiri. Membiarkan anak menghadapi masalah sendiri adalah agar anak mampu mandiri dalam mengatasi masalah dan tidak tergantung kepada orang lain. Tentunya kita telah mengetahui kemampuan sang anak mampu mengatasi masalah itu sebelum membiarkan anak mengatasi masalahnya.

6. Ajarkan anak untuk bangkit dan tetap tegar ketika jatuh/gagal.

Kegagalan pasti akan dialami setiap orang, baik kegagalan dalam bisnis, nilai akademis dan lainya. Tidak mungkin setiap orang itu akan mengalami sukses terus. ketika kegagalan yang terjadi pasti ada reaksi, misalnya ketika belajar terus ternyata hasil belajarnya tidak memuaskan. ini adalah hal yang wajar, namun disinilah peran orangtua agar anak bisa bangkit dan tetap tegar dalam menghadapi kegagalan. karena kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. jangan mudah takut gagal, karna gagal itu biasa.

7. Latih anak mampu menganalisa kegagalanya.

Ketika mengalami kegagalan latih anak untuk menganalisa kegagalanya. Jangan jadi orangtua yang malah mengejek anaknya ketika gagal. Misalnya, ketika anak tidak berprestasi malah berkata “dasar anak bodoh”, anak yang sedang gagal sudah jatuh mentalnya jika ditambah dengan perkataan yang kurang baik maka mental anak malah makin jatuh. Latih anak menganalisa dengan mengajak bicara dengan bertanya akan masalahnya. kemudian orangtua mengarahkan kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh anak agar diperbaiki.

8. Orangtua harus menjadi contoh.

Bagaimana mungkin seorang anak memiliki mental yang tangguh kalau orangtuanya memiliki mental kerupuk kehujanan. Jika orangtua mentalnya sedang jatuh, jangan tunjukan hal tersebut di hapadan anak-anak kita. Karna dengan begitu mental akan kitapun akan jatuh dengan melihat orangtuanya.

Video Kajian Mencerdaskan Mental Anak

Kajian Bagian 1

Download mp3 kajian Mencerdaskan Mental Anak – Bagian ke-1 – Fiqih Pendidikan Anak (Ustadz Abdullah Zaen, M.A.)

Kajian Bagian 2

Download mp3 kajian Mencerdaskan Mental Anak – Bagian ke-2 – Fiqih Pendidikan Anak (Ustadz Abdullah Zaen, M.A.)

Mari turut menyebarkan catatan kajian tentang “Mencerdaskan Mental Anak” ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum..

COMMENTS

%d blogger menyukai ini: