Sifat Mukmin

Sifat Mukmin

Tulisan tentang “Sifat Mukmin” ini adalah apa yang bisa kami ketik dari kajian yang disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdur Razzaq bin ‘Abdil Muhsin

Khutbah Idul Fitri: Orang-Orang Yang Bertakwa
Faktor Dari Luar Sebab Turunnya Iman (Bag. 2)
Khutbah Jumat : Beningnya Hati

Tulisan tentang “Sifat Mukmin” ini adalah apa yang bisa kami ketik dari kajian yang disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdur Razzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-Badr Hafizhahumullahu Ta’ala.

Sifat Mukmin

Di zaman kita seperti ini, kita tahu bagaimana perhatian orang-orang terhadap yang namanya jaminan atau garansi. Kalau kita perhatikan, terutama tatkala dalam transaksi jual beli, orang-orang memberi perhatian yang sangat kuat terhadap masalah garansi. Kalau ada barang yang ada garansinya, maka orang-orang akan membeli barang tersebut. Berbeda dengan barang yang tidak ada jaminannya, tentunya orang tidak akan membelinya. Hal ini semakin membuktikan dengan kuat bahwasannya perhatian orang-orang terhadap jaminan/ garansi sangat besar.

Kemudian, ternyata garansi itu juga ada yang benar dan ada yang tidak benar. Kita dapati sebagian barang tertulis “Jaminannya demikian dan demikian,” bahwasanya barang jaminan mutu (mungkin dua tahun lagi baru rusak) ternyata dipakai baru sebentar sudah rusak. Ini menunjukkan bahwasannya garansinya itu tidak benar, tidak menunjukkan kebaikan barang tersebut. Oleh karena itu ini juga harus masyarakat perhatikan.

Akan tetapi, jika yang menjamin itu dikenal selalu benar (tidak seperti jaminan-jaminan yang palsu), tapi kalau yang menjamin dikenal dengan perkataan yang selalu benar, kemudian untuk meraih jaminan tersebut juga mudah, maka perkaranya semakin mudah lagi.

Menit ke-6:58 Kemudian, bagaimana lagi jika kita mengetahui ternyata yang menjamin adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam? Yang selalu benar dan dibenarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang tidak pernah berbicara dengan hawa nafsunya. Itulah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau lah yang menjamin.

Jaminan Berupa Surga

Kemudian perkaranya lebih menarik lagi. Ternyata yang dijamin adalah surga yang lebarnya seluas langit dan bumi. Surga itu sangat luas, lebarnya saja langit dan bumi, belum lagi panjangnya.

Kemudian di surga itu Allah Subhanahu wa Ta’ala menyediakan bagi kita perkara-perkara yang sama sekali tidak pernah dilihat oleh mata kita, kenikmatan-kenikmatan yang sama sekali tidak pernah didengar oleh telinga kita, bahkan kenikmatan-kenikmatan tersebut sama sekali tidak pernah terbetik dalam hati kita.

Yang menjamin Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yang barang jaminannya adalah surga, kemudian syarat untuk mendapatkan jaminan tersebut ternyata sangatlah mudah bagi orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala mudahkan.

Menit ke-10:01 Sekarang kita mendengarkan tentang teks dari pada garansi tersebut. Kita ketahui bersama yang menjamin adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan barang jaminannya adalah surga. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan kita dan para pendengar sekalian untuk masuk ke dalam surga dan semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjauhkan kita semua dari api neraka yang sangat pedih.

Kemudian juga tersebutkan apa saja syarat-syaratnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memudahkan kita untuk memenuhi persyaratan tersebut.

Syarat Masuk Surga

Imam Ahmad meriwayatkan di dalam Musnadnya, demikian juga dalam riwayat yang lain dari para ahli ilmu. Dari sahabat ‘Ubadah bin Shamit Radhiyallahu ‘Anhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

اضْمَنُوا لِي سِتًّا مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَضْمَنْ لَكُمْ الْجَنَّةَ اصْدُقُوا إِذَا حَدَّثْتُمْ وَأَوْفُوا إِذَا وَعَدْتُمْ وَأَدُّوا إِذَا اؤْتُمِنْتُمْ وَاحْفَظُوا فُرُوجَكُمْ وَغُضُّوا أَبْصَارَكُمْ وَكُفُّوا أَيْدِيَكُمْ

“Berikanlah kepadaku jaminan enam perkara dari diri kalian, maka aku akan menjamin bagi kalian surga; hendaknya kalian jujur tatkala berbicara, dan hendaknya kalian memenuhi janji jika berjanji, dan hendaknya kalian menunaikan amanah jika diberi amanah, dan hendaknya kalian menjaga kemaluan-kemaluan kalian, dan hendaknya kalian menjaga pandangan-pandangan kalian, dan tahanlah tangan-tangan kalian.” (HR. Imam Ahmad)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan di awal hadits ini bilangan “enam”. Ini menunjukkan persyaratan agar kita bisa memperoleh jannah. Untuk memperoleh jaminan tersebut kita harus memenuhi persyaratan yang akan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebutkan. Dan penyebutan angka enam ini bukan sia-sia, tapi agar kita perhatikan dan benar-benar kita berusaha untuk memenuhinya.

Menit ke-14:01 Wahai orang yang menghendaki bagi dirinya kemenangan dengan mendapatkan surga Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hendaknya kalian menulis syarat-syarat agar kita bisa memperoleh barang jaminan yang telah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jamin, yaitu surga Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tulis enam persyaratan ini dalam kertas agar kita tidak melupakannya. Kemudian kita berusaha untuk memahaminya, memperhatikannya, dan untuk mengamalkannya.

Perkara yang disebutkan dalam hadits ini adalah jaminan dengan jaminan. Kalau kita menjamin bagi Rasulullah, kita melakukan enam perkara, maka jaminan dari Rasulullah akan datang, yaitu kita mendapatkan surga. Kalau kita berhasil mendatangkan jaminan tersebut, bisa melaksanakan enam perkara tersebut, maka tentunya Rasulullah tidak akan berdusta, surga akan datang menemui kita.

Orang Yang Enggan

Namun jika ternyata kita melalaikan enam perkara tersebut, maka sesungguhnya kita sendiri yang telah menghalangi diri kita dari masuk ke dalam surga.

Oleh karena itu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda:

كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى

“Seluruh umatku pasti masuk dalam surga, kecuali yang enggan.”

Para sahabat bingung, mereka bertanya: “Siapa yang enggan masuk surga, Ya Rasulullah?” Kata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

“Barangsiapa yang taat kepadaku masuk surga, dan barangsiapa yang bermaksiat kepadaku maka dia telah enggan masuk surga.” (HR. Bukhari)

Menit ke-16:35 Kalau kita perhatikan di awal hadits, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan enam perkara yang kalau kita perhatikan merupakan amalan-amalan yang sangat mudah. Sangat mudah bagi orang-orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala mudahkan.

Barang siapa yang melaksanakan enam perkara tersebut dalam kehidupannya di dunia dan dia terus menjaga enam perkara tersebut sampai akhirnya dia meninggal, maka jelas dan pasti dia masuk surga. Jaminan yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berikan itu pasti, tidak meragukan lagi dia akan masuk surga.

Bersungguh-Sungguh dan Jangan Menyerah

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَ غَيْرَ بَعِيدٍ ‎﴿٣١﴾‏ هَٰذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٍ ‎﴿٣٢﴾‏ مَّنْ خَشِيَ الرَّحْمَٰنَ بِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُّنِيبٍ ‎﴿٣٣﴾‏ ادْخُلُوهَا بِسَلَامٍ ۖ ذَٰلِكَ يَوْمُ الْخُلُودِ ‎﴿٣٤﴾‏ لَهُم مَّا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ ‎﴿٣٥﴾‏

Dan surga pun didekatkan kepada orang-orang mukmin dan tidak jauh. Ini adalah perkara yang telah dijanjikan bagi setiap orang-orang yang kembali dan menjaga. Yaitu orang-orang yang takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tatkala dia bersendirian, dan dia datang dengan hati yang penuh dengan taubat. (Dikatakan kepadanya) masuklah ke dalam surga dengan penuh keselamatan, ini adalah hari yang abadi. Bagi mereka apa yang mereka kehendaki dalam surga tersebut dan di sisi Kami ada tambahan kenikmatan.” (QS. Qaf[50]: 31-35)

Menit ke-19:01  Kita benar-benar harus bersungguh-sungguh dan tidak menyerah untuk bisa menjalankan enam perkara ini. Ingat, kita harus bersungguh-sungguh, berusaha semaksimal mungkin dan jangan menyerah. Hal ini karena zaman sekarang ini penuh dengan rintangan, penuh dengan hambatan, apalagi zaman kita sekarang ini adalah zaman fitnah

Betapa banyak kita dapati seorang yang dia tahu di depannya ada jalan kebenaran, tapi dia berpaling. Dia pergi ke kanan dan ke kiri. Hal ini karena terlalu banyak rintangan, terlalu banyak hambatan, terlalu banyak hal-hal yang bisa menggelincirkan dia, yang bisa merayu dia, sehingga dia berpaling dari jalan kebenaran.

Oleh karena itu nasihat beliau, kita dari sekarang benar-benar berniat, kemudian berusaha bersungguh-sungguh untuk bisa melaksanakan enam perkara yang tadi telah disebutkan.

Selanjutnya: Enam Syarat Masuk Surga (Bag.1)

MP3 Kajian Sifat Mukmin

Mari turut menyebarkan tulisan tentang “Sifat Mukmin” ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum..

Komentar

WORDPRESS: 0