Wabah dan Penyakit Sebagai Ujian dari Allah

Wabah dan Penyakit Sebagai Ujian dari Allah

dukung ngaji id

Tulisan tentang "Wabah dan Penyakit Sebagai Ujian dari Allah" ini adalah catatan yang kami tulis dari ceramah agama yang disampaikan oleh Ustadz Yazid

Kultum Singkat Untuk Remaja: Antara Pemuda dan Harta
Adab Berdoa
Pondasi Baiknya Amal

Tulisan tentang “Wabah dan Penyakit Sebagai Ujian dari Allah” ini adalah catatan yang kami tulis dari ceramah agama yang disampaikan oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas Hafizhahullahu Ta’ala.

Wabah dan Penyakit Sebagai Ujian dari Allah

Allah Maha Kasih dan Sayang

Kaum muslimin rahimakumullah,

Banyak sekali di antara kita ini yang sakit. Istrinya, anaknya, suaminya, orang tuanya sampai masuk ke rumah sakit. Bahkan juga sampai ada yang meninggal dunia. Antum coba perhatikan tentang masalah ini. Bahsawanya ini merupakan cobaan/ ujian yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin melihat apakah iman kita benar atau tidak, sabar atau tidak.

Dan ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan ujian kepada kita, kita harus ingat bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala itu Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Bijaksana dan Maha Adil. Kita perhatikan itu. Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan cobaan sakit kepada kita, kita ingat bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala sayang kepada kita.

Mengapa Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan sakit kepada kita? Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin menghapuskan dosa-dosa kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin mengangkat derajat kita, ingin melihat orang ini tabarru‘ atau tidak kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, bermunajat atau tidak kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin melihat kita benar-benar meminta atau tidak kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, memelas kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sabar Terhadap Ujian

Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin melihat kesabaran kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin menguji iman kita, Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin menempatkan kita di tempat yang tertinggi nanti di surga dengan sebab cobaan ujian itu selama kita sabar. Dan selama kita ridha. Ingat itu.

Artinya Dzat yang menguji kita adalah Dzat Yang Maha Kasih dan Sayang. Jadi jangan kemudian -sekarang ini- banyak orang yang panik luar biasa. Kalau seandainya datang ajal, itu karena memang sudah datang ajalnya. Hatta kalau dia sehat, kalau memang sudah datang ajalnya tetap dia pasti akan meninggal. Allah Subhanahu wa Ta’ala sudah menetapkan tentang ajal ini dan semua yang ada 50.000 tahun sebelum Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan langit dan bumi. Ini penting untuk kita pahami.

Terkadang tidak sadar, bukan hanya orang awam, termasuk juga penuntut ilmu dan para dai. Begitu kena sakit, dia berkata, “Mungkinkah saya sembuh?” Antum minta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala soal kesembuhan. Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menyembuhkan. Bukan dokter, alat, maupun obat. Adukan semua kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dokter tidak mempunyai apa-apa. Apakah dokter bisa memanjangkan ajal seseorang? Tidak mungkin.

Hatta sehebat apapun alat atau obat itu, kalau sudah ajal pastilah meninggal dia. Karena ini berkaitan dengan hak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memiliki langit dan bumi. Makanya ketika ada orang yang meninggal kita ucapkan إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ , Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada-Nya kita akan kembali.

Ketika orang tua kita meninggal, atau seorang suami meninggal, istri meninggal, atau anak meninggal kita ucapkan:

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ. اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا

“Sesungguhnya kita adalah milik Allah, dan sesungguhnya hanya kepada Allah kita akan kembali. Ya Allah, berikanlah pahala untukku pada musibahku ini dan gantikanlah untukku dengan yang lebih baik daripadanya.” (HR. Muslim)

Hikmah di Balik Musibah

Antum perhatikan, saya akan membacakan dari buku Hikmah Di Balik Musibah. Jadi orang yang tertimpa musibah dan penyakit ini harus kita ingat bahwa Antum bisa merasakan manfaat. Kata Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu ta’ala, ini saya bawakan dalam buku Hikmah Di Balik Musibah di halaman 33, “Kalau tidak karena cobaan dan musibah dunia, niscaya manusia terkena penyakit kesombongan.”

Kalau tidak diberi sakit, dia akan sombong. Diberi sakit, cobaan, ujian, kefakiran, kesusahan, dan yang lainnya agar dia tidak terkena penyakit kesombongan. Penyakit ‘ujub, bangga diri, dan kerasnya hati. Padahal sifat-sifat ini merupakan sebab kehancuran baginya di dunia maupun di akhirat.

Di antara rahmat Allah Yang Maha Kasih dan Sayang, kadang manusia tertimpa musibah yang menjadi pelindung baginya dari penyakit-penyakit hati dan menjaga kemurnian ibadah dia kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Serta mengeluarkan dia dari materi-materi yang rusak, jelek, dan membinasakan. Maha Suci Allah Yang Maha Kasih dan Sayang kepada manusia dengan cobaan dan ujian ini.

Ini dalam kitab Zaadul Ma’ad Fi Hadyi Khoiril ‘Ibaad di juz yang keempat. Itulah salah satu hikmah. Di antaranya bahwa dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan cobaan, ujian,dan penyakit akan hilang sifat sombong, keras hati, ‘ujub, dan sifat yang lainnya. Yang kalau sifat ini tetap ada maka akan menghalangi dia untuk masuk surga. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan penyakit ini agar hilang sifat-sifat itu. Inilah tanda sayangnya Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita.

Kemudian juga, ingatlah bahwasanya musibah, petaka, cobaan, penyakit, dan semua yang terjadi Allah Subhanahu wa Ta’ala sudah menakdirkan. Tidak akan mengenai kita kecuali apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala takdirkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ . لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,” (QS. Al-Hadid[57]: 22-23)

Ridha dengan Takdir Allah

Semua berjalan dengan takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semua yang terjadi ini, adanya pandemi, wabah, penyakit yang berbahaya, dan ada yang lainnya semua sudah Allah Subhanahu wa Ta’ala takdirkan 50 ribu tahun sebelum Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan langit dan bumi. Maka kewajiban kita ketika terkena musibah itu adalah bersabar dan ridha. Semuanya berjalan dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. At-Taghabun[64]: 11)

Artinya kalau kita tertimpa musibah, kita ridha dan sabar karena Allah Subhanahu wa Ta’ala sudah menetapkan demikian. Dan yang perlu kita ingat bahwa musibah, penyakit, bahkan kematian yang menimpa kita menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala sayang kepada kita. Semua perbuatan Allah Subhanahu wa Ta’ala itu semuanya indah. Tidak ada yang tidak indah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ

⁠“Sesungguhnya Allah Maha indah dan mencintai keindahan” (HR. Muslim dari Ibnu Mas’ûd radhiyallahu’anhu).

Dari Umar bin Al Khattab radhiallahu ‘anhu , beliau menuturkan:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kedatangan rombongan tawanan perang. Di tengah-tengah rombongan itu ada seorang ibu yang sedang mencari-cari bayinya. Tatkala dia berhasil menemukan bayinya di antara tawanan itu, maka dia pun memeluknya erat-erat ke tubuhnya dan menyusuinya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada kami, “Apakah menurut kalian ibu ini akan tega melemparkan anaknya ke dalam kobaran api?”

Kami menjawab, “Tidak mungkin, demi Allah. Sementara dia sanggup untuk mencegah bayinya terlempar ke dalamnya.”
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada ibu ini kepada anaknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)[1]

Husnuzhan Kepada Allah

Jadi jangan kita su’uzhan (berprasangka buruk) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seharusnya kita husnuzhan (berprasangka baik) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena ajal itu maktub (tertulis) sebagaimana rezeki juga maktub. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menentukan ajal kita sebagaimana juga telah menentukan rezeki. Kita harus ridha dan husnuzhan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Adapun jika sedih, itu wajar sebagai manusia. Menangis pun wajar. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menangis dan bersedih ketika anaknya meninggal. Tapi kemudian tidak mengucapkan kalimat-kalimat yang mengingkari takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan kalau kita sabar dan ridha, Allah Subhanahu wa Ta’ala pun akan ridha. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

Sesungguhnya besarnya pahala tergantung besarnya ujian. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang ridho, maka ia yang akan meraih ridho Allah. Barangsiapa siapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (Hadits ini hasan, diriwayatkan oleh At Tirmidzi dan Ibnu Majah dari sahabat Anas bin Malik. Lafaz ini milik Imam At Tirmidzi dan Syaikh Al Albaniy menghasankan dalam Silsilah Hadits Ash Shahih di juz 1)

Dan yang perlu kita ingat adalah bahwa ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menguji kita adalah karena Allah Subhanahu wa Ta’ala inginkan kebaikan kepada kita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من يرد الله به خيرا يصب منه

“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan, Allah akan memberinya musibah.” (HR. Bukhari dan Muslim).Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjanjikan surga bagi orang-orang yang sabar dan ridha dalam menghadapi cobaan dan ujian.

Kesembuhan Hanya dari Allah

Kemudian yang harus kita ingat bahwasanya yang bisa menghilangkan wabah penyakit ini hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bukan dokter, obat, vaksin, atau yang lainnya. Jangan kita bergantung kepada obat. Tetap kita menjalankan syariat. Kita tetap minum obat, tapi ingat yang bisa menyembuhkan hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ini berkaitan dengan iman. Dengan masalah tauhid kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ ۚ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۚ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yunus[10]: 107)

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.” (QS. Al-An’am[6]: 17)

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman mengisahkan tentang Nabi Ibrahim ‘alaihissalam,

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

“dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku,” (QS. Asy-Syu’ara'[26]: 80)

Inilah adabnya. Pada hakikatnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memberikan sakit. Tapi tidak disebutkan dalam ayat ini. Tapi untuk kesembuhan, dinisbatkan pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini adalah adab kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Bersyukur Terhadap Musibah

Ikhwani fiddin rahimakumullah,

Setiap penyakit pasti ada obatnya. Tidak mungkin tidak ada. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا أَنْزَلَ اللهُ دَاءً إِلَّا أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً

“Tidaklah Allah menurunkan penyakit kecuali Dia juga menurunkan obatnya.” (Hadits ini shahih riwayat Al Bukhari dari Abu Hurairah).

لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ، فَإِذَا أُصِيْبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللهِ

“Semua penyakit ada obatnya. Jika cocok antara penyakit dan obatnya, maka akan sembuh dengan izin Allah.” (HR. Muslim dari Jabir)

Kemudian yang terakhir saya bawakan penjelasan dari seorang tabi’in yang menjelaskan bagaimana kalau dia terkena musibah, yaitu Syuraih Al Qadhi. Beliau mendapat julukan Al Qadhi itu karena menjadi qadhi (hakim) selama puluhan tahun. Imam Adz Dzahabi membawakan dalam kitabnya Siyar A’lamin Nubala dari Asy Sya’bi rahimahullahu ta’ala. Syuraih Al Qadhi ini masuk Islam di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tapi tidak pernah bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau di yaman lalu pindah ke Kuffah dan menjadi qadhi di Kuffah kurang lebih selama 60 tahun. Kata beliau,

إِنِّي لَأُصَابُ بِالْمُصِيبَةِ فَأَحْمَدُ اللهَ عَلَيْهَا أَرْبَعَ مَرَّاتٍ

“Sesungguhnya aku memuji Allah atas musibah yang menimpaku dengan empat kali pujian,”

أَحْمَدُهُ إِذْ لَمْ تَكُنْ أَعْظَمَ مِمَّا هِيَ

(Pertama) “Aku memuji-Nya, karena aku tidak ditimpa dengan musibah yang lebih besar.”

Musibah yang kita alami ini kalau dibandingkan dengan yang lain, masih lebih besar musibah yang lain. Kalau kita bandingkan covid-19 dengan tha’un, tentu lebih besar tha’un. Karena jika terkena tha’un, langsung meninggal seketika saat itu juga. Bintik-bintik hitam, darah, kemudian muntah darah, lalu langsung meninggal.

وَأَحْمَدُهُ إِذْ رَزَقَنِيَ الصَّبْرَ عَلَيْهَا

(Kedua) “aku memuji-Nya, karena Dia telah menganugerahkan kesabaran kepadaku dalam menghadapinya,”

وَأَحْمَدُهُ إِذْ وَفَّقَنِي لِلِاسْتِرْجَاعِ لِمَا أَرْجُو فِيهِ مِنَ الثَّوَابِ

(Ketiga) “aku memuji-Nya, karena dengan musibah itu aku bisa mengucapkan kalimat istirja’ (Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun) sehingga aku mengharap pahala darinya,”

وَأَحْمَدُهُ إِذْ لَمْ يَجْعَلْهَا فِي دِينِي

(Keempat) “dan aku memuji-Nya, karena tidak menjadikan musibah itu mengenai agamaku.” [2]

Kalau musibah masih mengenai fisik kita atau pada keluarga; istri, anak, dan suami, itu masih lebih ringan. Yang berat adalah jika terkena pada agama. Diberikan keraguan tentang agama atau mengikuti firqah/ golongan yang sesat. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa, “Dan janganlah Engkau jadikan musibah menimpa agama kami.”

Tetaplah Beribadah di Tengah Musibah

Mudah-mudahan bermanfaat dari apa yang saya sampaikan. Mudah-mudahan dari apa yang saya sampaikan bisa kita amalkan. Begitu juga yang tertimpa musibah semoga diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kesabaran dan ridha dengan apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala takdirkan. Kemudia memperbanyak dzikir dan juga memperbanyak doa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas musibah ini. Dan kita wajib husnuzhan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas semua yang terjadi pada kita.

Dan juga yang perlu kita ingat bahwa jangan sampai musibah ini menghalangi kita untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika kita sakit, terpapar, tidak boleh ke masjid, kita tetap beribadah di rumah. Tetap shalat di rumah karena shalat adalah kewajiban. Kita masih bisa beristighfar, berdzikir, maka lakukan itu.

Bahkan ketika dia punya rezeki masih bisa bersedekah. Jika tidak mungkin keluar rumah, minta tolong kepada orang untuk menyedekahkan hartanya. Banyak amal-amal shalih yang bisa kita lakukan. Dia bisa shalat malam. Tidak mampu berdiri maka duduk. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah sakit namun tetap shalat malam.

jadi jangan sampai musibah menghalangi kita untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala karena itu kesempatan kita untuk mencapai derajat yang tertinggi. Dan juga untuk mencapai surga.

Video Wabah dan Penyakit Sebagai Ujian dari Allah

Sumber video: MIAH Bogor

Demikian catatan “Wabah dan Penyakit Sebagai Ujian dari Allah”. Mari turut menyebarkan catatan kajian ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum..

Catatan:

[1] Lihat: https://muslim.or.id/41309-allah-sangat-sayang-kepada-hamba-nya-melebihi-kasih-sayang-ibu.html

[2] Lihat: https://muslim.or.id/23996-untuk-saudaraku-yang-sedang-tertimpa-musibah.html

Komentar

WORDPRESS: 1
  • comment-avatar

    Masya Allah…ustadz ..