Membedakan Kebutuhan dan Keinginan
Oleh: Ustadz Maududi Abdullah, Lc. Hafidzahullah
Segala puji bagi Allah, selawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.
Rasa syukur selayaknya dipanjatkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, Rabb yang telah menciptakan manusia beserta seluruh sarana penunjang kehidupan. Seluruh kebutuhan dalam hidup ini telah diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala secara sempurna. Bukti nyatanya adalah keberlangsungan hidup manusia hingga puluhan tahun. Hal itu menunjukkan bahwa seluruh kebutuhan pokok telah dipenuhi oleh Allah tanpa ada kekurangan sedikit pun.
Setiap insan harus mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan untuk menjalani hidup. Kebutuhan adalah sesuatu yang bersifat mendasar, sehingga manusia tidak mungkin dapat bertahan hidup tanpanya. Sebaliknya, keinginan manusia bersifat sangat panjang dan tidak terbatas.
Persoalan muncul ketika seseorang tidak mampu membedakan keduanya, sehingga keinginan dianggap sebagai kebutuhan. Dampaknya, manusia sering merasa bahwa kebutuhannya tidak tercukupi. Padahal, yang sebenarnya tidak tercukupi adalah keinginannya. Kondisi ini menyebabkan seseorang merasa fakir secara terus-menerus karena keinginan tidak pernah ada habisnya.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersalam:
لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لَابْتَغَى ثَالِثًا، وَلَا يَمْلأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ
“Seandainya anak Adam memiliki dua lembah berisi harta, niscaya ia akan mencari lembah yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah.” (HR. Bukhari)
Jika keinginan terus dianggap sebagai kebutuhan, manusia akan merasa tidak dilayani oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini sangat berbahaya karena dapat menjerumuskan seseorang pada purbasangka buruk atau su’udzan kepada Rabb-nya. Padahal, Allah ‘Azza wa Jalla telah memberikan segala yang dibutuhkan secara lengkap.
Organ tubuh yang sangat mahal dan vital telah dianugerahkan secara cuma-cuma. Begitu pula dengan makanan dan minuman sebagai penyambung hidup. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjamin rezeki setiap makhluk-Nya.
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا
“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.” (QS. Hud[11]: 6)
Selain makanan, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menyediakan oksigen untuk bernapas, pakaian untuk melindungi tubuh, serta tempat tinggal sebagai tempat berteduh dari terik matahari dan hujan, sekaligus menjaga aurat. Meskipun tempat tinggal tersebut berstatus sewa, kontrak, atau menumpang, pada hakikatnya Allah tetap memberikan sarana untuk menetap. Itulah kebutuhan hidup yang sebenarnya yang telah dijamin dan dipenuhi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Keinginan merupakan sesuatu yang tidak memiliki batas kecuali jika manusia sendiri yang membatasinya. Jika tidak dibatasi, keinginan akan menjadi liar dan manusia tidak akan pernah mencapai titik kepuasan karena keinginan pasti jauh lebih tinggi daripada apa yang sedang dihasilkan.
Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits sahih:
لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لَابْتَغَى ثَالِثًا
“Sekiranya anak cucu Adam diberikan dua lembah berisi emas, niscaya ia akan mencari lembah yang ketiga.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Keinginan tidak pernah berhenti, sehingga penting untuk membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Terkait kebutuhan, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melengkapkan semuanya, bahkan memberikan jauh lebih banyak daripada apa yang benar-benar dibutuhkan. Di sinilah manusia akan merasa kaya dan menyadari bahwa ia memiliki kekayaan luar biasa jika bersedia melihat apa yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan untuk mencukupi kebutuhannya.
Sebagai contoh, manusia hidup pasti membutuhkan makan. Kebutuhan makan dalam sehari secara wajar adalah tiga piring; satu piring untuk sarapan, satu piring makan siang, dan satu piring makan malam. Itu adalah kebutuhan hidup. Namun, kemampuan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada manusia saat ini sering kali melampaui itu. Seseorang mungkin memiliki kemampuan untuk menyediakan 30, 100, hingga 200 piring makanan dalam sehari.
Demikian pula dengan pakaian. Kebutuhan pakaian untuk hidup di Indonesia mungkin sekitar tujuh setel agar dapat berganti setiap hari. Namun, jika lemari pakaian dibuka, jumlah baju yang dimiliki biasanya jauh melebihi jumlah tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan lebih dari sekadar fungsi penutup tubuh.
يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا
“Wahai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menyediakan pakaian untuk menutupi auratmu dan untuk perhiasan bagimu.” (QS. Al-A’raf[7]: 26)
Demi Allah, apabila seseorang mampu membedakan kebutuhan hidup dan keinginan, maka ia akan menyadari bahwa dirinya sangat kaya. Kekayaan itu sudah ada di depan mata melalui terpenuhinya kebutuhan yang bahkan jumlahnya telah melampaui apa yang sebenarnya diperlukan untuk bertahan hidup.
Jika seseorang ingin menelaah lebih luas, penggunaan barang-barang pelengkap seperti jam tangan sering kali melebihi fungsi utamanya. Seseorang mungkin memiliki dua, tiga, atau empat jam tangan, padahal kebutuhan dasarnya hanyalah satu sebagai penunjuk waktu. Demikian pula dengan alas kaki; seseorang mungkin memiliki banyak pasang sandal di rumah, padahal yang benar-benar dibutuhkan hanya satu atau dua pasang. Persoalan muncul ketika nikmat-nikmat besar yang telah diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala seolah menghilang dan tidak terasa nilainya hanya karena keinginan yang belum tercapai.
Sering kali manusia melupakan nikmat jantung, pankreas, oksigen, paru-paru, darah, tulang, indra, hingga anggota tubuh lainnya. Padahal, semua itu adalah nikmat kebutuhan yang sangat vital. Bahaya besar timbul ketika keinginan dianggap sebagai kebutuhan, sehingga segala anugerah tersebut menjadi tidak berharga di mata manusia. Penting bagi setiap insan untuk selalu menyadari perbedaan antara kebutuhan dan keinginan.
Allah ‘Azza wa Jalla telah memberikan segalanya dengan lengkap. Terlebih di negeri yang subur, semua sarana untuk bertahan hidup telah tersedia selama manusia mau berusaha. Jika seseorang pandai membedakannya, ia akan menyadari bahwa keinginan sebenarnya sangat remeh dibandingkan dengan kebutuhan. Hal yang paling berharga untuk keberlangsungan hidup adalah terpenuhinya kebutuhan pokok.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ
“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl[16]: 18)
Harta sebanyak apa pun tidak akan berguna tanpa adanya makanan. Pangkat setinggi apa pun tidak ada artinya tanpa air minum. Tidak ada kenikmatan pada aset yang bernilai miliaran rupiah apabila seseorang sedang menderita sakit gigi. Kenikmatan berkendara dengan mobil mewah akan hilang seketika saat kesehatan fisik terganggu. Namun, kesehatan adalah nikmat yang sering kali dilupakan manusia hanya karena mengejar keinginan.
Secara logika yang jernih, nikmat oksigen jauh lebih penting daripada jabatan presiden. Nikmat air lebih utama daripada menjadi menteri, dan nikmat makanan lebih berharga daripada posisi gubernur. Sebagai gambaran, sebotol air mineral jauh lebih berharga dan dibutuhkan oleh tubuh manusia daripada gedung pencakar langit setinggi belasan lantai. Kesadaran akan hal ini akan membawa manusia pada rasa syukur yang mendalam atas segala kecukupan yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan.
Gedung belasan lantai yang dipenuhi oleh uang rupiah, emas, hingga brankas penyimpanan merupakan aset yang sangat mahal. Namun, sebotol air mineral pada hakikatnya jauh lebih penting daripada seluruh isi gedung tersebut. Di sinilah letak keadilan Allah Subhanahu wa Ta’ala; sesuatu yang menjadi kebutuhan pokok hidup manusia akan dibagikan secara merata.
Semua manusia mendapatkan akses terhadap makanan, air, oksigen, organ tubuh seperti jantung dan mata, serta tempat tinggal dan pakaian. Prinsipnya, segala sesuatu yang benar-benar dibutuhkan oleh manusia pasti Allah ‘Azza wa Jalla sediakan dalam jumlah yang melimpah. Jika sesuatu itu sangat dibutuhkan, maka jumlahnya akan banyak, sedangkan hal yang tidak dibutuhkan akan berjumlah sedikit.
Sebagai perbandingan, manusia sebenarnya lebih membutuhkan garam daripada berlian dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang tetap dapat hidup dengan baik meskipun seumur hidupnya tidak pernah memiliki berlian. Namun, garam sangat dibutuhkan untuk metabolisme tubuh dan pemberi rasa pada makanan. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan garam melimpah sehingga setiap orang, tanpa memandang status ekonominya, dapat memperoleh garam dengan mudah.
Hal ini sejalan dengan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Rahman, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:
وَاٰتٰىكُمْ مِّنْ كُلِّ مَا سَاَلْتُمُوْهُۗ وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَا
“Dan Dia telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. Ibrahim[14]: 34)
Kebutuhan manusia terhadap air lebih besar daripada terhadap garam, maka jumlah air dijadikan lebih banyak. Demikian pula kebutuhan terhadap oksigen jauh lebih besar daripada air, sehingga oksigen tersedia paling melimpah di alam semesta. Semakin tinggi tingkat kebutuhan manusia, semakin mudah Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikannya untuk didapatkan.
Sebaliknya, hal-hal yang hanya merupakan keinginan dan bukan kebutuhan pokok dijadikan berjumlah sedikit. Kehidupan manusia akan hancur sekiranya Allah Subhanahu wa Ta’ala membalik kondisi tersebut, misalnya dengan mengubah seluruh garam di bumi menjadi berlian dan seluruh berlian menjadi garam. Hidup akan menjadi hambar tanpa adanya pemenuhan kebutuhan yang mendasar.
Sering kali manusia mengeluhkan kekurangan padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melimpahkan nikmat yang berlipat ganda. Sangat sedikit manusia yang menyadari hal ini dan mampu bersyukur atas kecukupan yang ada. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:
وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba[34]: 13)
Sifat manusia yang sering mengabaikan kelimpahan nikmat kebutuhan dan hanya fokus pada keinginan yang belum tercapai merupakan bentuk kurangnya rasa syukur kepada Rabb-nya. Kesadaran untuk membedakan kedua hal ini adalah kunci utama untuk merasakan kekayaan yang sesungguhnya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan manusia mengenai berbagai nikmat kebutuhan yang sangat mendasar melalui firman-Nya dalam Al-Qur’an Surah Al-Balad:
أَلَمْ نَجْعَلْ لَهُ عَيْنَيْنِ وَلِسَانًا وَشَفَتَيْنِ
“Bukankah Kami telah menjadikan untuknya (manusia) sepasang mata, dan lidah, serta sepasang bibir?” (QS. Al-Balad[90]: 8-9)
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan dua mata, satu lidah, dan dua bibir sebagai sarana vital bagi manusia untuk melihat dan berkomunikasi. Selain itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menurunkan air yang penuh berkah dari langit dan tercurah deras dari awan untuk menjamin keberlangsungan hidup makhluk-Nya. Segala hal tersebut merupakan nikmat kebutuhan yang nyata. Manusia membutuhkan mata, lidah, bibir, air, bahkan matahari demi cahaya dan energi untuk bertahan hidup.
Demi kepentingan manusia pula, Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan malam sebagai sarana untuk beristirahat. Hal ini dijelaskan dalam firman-Nya:
وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُمْ بِالنَّهَارِ
“Dialah yang menidurkan kalian pada malam hari dan Dia mengetahui apa yang kalian kerjakan pada siang hari.” (QS. Al-An’am[6]: 60)
Tidur merupakan nikmat kebutuhan yang sangat spesial. Manusia pada hakikatnya tidak memiliki kemampuan untuk tidur dengan sendirinya, melainkan ditidurkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Berbeda dengan berjalan, berbicara, atau melihat yang merupakan aktivitas sadar, tidur bukan merupakan sebuah kemahiran. Seseorang dapat melakukan rebahan atau memejamkan mata, namun ia tidak dapat memerintah dirinya untuk langsung tertidur.
Sering kali seseorang merasa sangat mengantuk hingga matanya memerah, namun tetap tidak bisa tertidur. Sebaliknya, terkadang seseorang justru tertidur saat sebenarnya ia tidak ingin tidur. Hal ini membuktikan bahwa tidur bukan merupakan hasil usaha atau kemampuan manusia, melainkan murni anugerah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, pernyataan seseorang yang mengaku tidur tepat pada jam tertentu kurang tepat, karena selama ia masih menyadari waktu, ia sesungguhnya belum tertidur melainkan baru sekadar rebahan atau masuk ke kamar.
Penderitaan yang dirasakan oleh penderita insomnia atau orang yang kesulitan tidur menunjukkan betapa berharganya nikmat ini. Seseorang yang kehilangan kemampuan untuk tidur harus bergantung pada bantuan medis, meskipun pada hakikatnya tidak ada obat yang benar-benar bisa “menjual” rasa tidur karena tidur adalah otoritas Allah ‘Azza wa Jalla.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan doa sebelum tidur sebagai bentuk kepasrahan kepada Allah ‘Azza wa Jalla yang memegang jiwa manusia:
بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا
“Dengan nama-Mu, ya Allah, aku mati dan aku hidup.” (HR. Bukhari)
Nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala begitu besar, luas, dan melimpah. Segala keinginan manusia yang belum tercapai sesungguhnya tidak sebanding dengan nikmat kebutuhan yang telah dirasakan selama puluhan tahun. Kesadaran akan hal ini seharusnya mendorong setiap insan untuk senantiasa bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas karunia-Nya yang luar biasa.


COMMENTS