Khutbah Jumat: Mengapa Harus Terburu-buru? Rahasia di Balik Takaran Rezeki yang Sempurna

Khutbah Jumat: Mengapa Harus Terburu-buru? Rahasia di Balik Takaran Rezeki yang Sempurna

Khutbah Jumat Tentang Kematian Istirahat Bagi Seorang Muslim
Khutbah Jumat Saat Musibah: Pertolongan Tergantung Besarnya Ujian
Khutbah Jumat: Ketakutan Yang Salah Dalam Menyikapi Musibah

Berikut transkrip khutbah jumat tentang “Khutbah Jumat: Mengapa Harus Terburu-buru? Rahasia di Balik Takaran Rezeki yang Sempurna” yang disampaikan Ustadz Ammi Nur Baits, Hafidzahullahu Ta’ala

Khutbah Pertama: Hikmah di Balik Kadar Rezeki dan Bahaya Penyakit Istibtha’

Subhanahu wa Ta’ala menurunkan hujan kepada para hamba-Nya sesuai dengan kadar yang paling baik bagi keberlangsungan hidup. Hujan turun rintik demi rintik serta bertahap agar manfaatnya dapat dirasakan secara maksimal; sebagian terserap ke dalam tanah, sebagian mengalir di sungai, dan sebagian lainnya ditampung oleh manusia.

Gambaran ini serupa dengan cara Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan rezeki. Rezeki diberikan secara bertahap dan sedikit demi sedikit karena kondisi itulah yang paling nyaman dan cocok bagi manusia. Sebagaimana Allah tidak menurunkan hujan layaknya air terjun atau banjir bandang yang tiba-tiba menghancurkan bangunan dan membinasakan makhluk, demikian pula rezeki diatur agar tidak membawa kerusakan bagi penerimanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَٰكِن يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَّا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ

“Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura [42]: 27)

Setiap wilayah memiliki curah hujan yang berbeda sesuai kebutuhannya, demikian pula setiap hamba mendapatkan porsi rezeki yang berbeda. Ada yang diberi kelapangan harta dan mampu memanfaatkannya dengan baik, namun ada pula yang diberi lebih sedikit karena itulah yang terbaik baginya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan nasihat mengenai bahaya penyakit istibta, yaitu sifat ingin cepat sukses atau kaya sebelum waktunya. Penyakit ini sering kali mendorong manusia mengkonsumsi sesuatu yang haram demi mengejar target pribadi, seperti keinginan memiliki rumah, kendaraan, atau status sosial secara instan tanpa mempedulikan syariat.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ رُوحَ الْقُدُسِ نَفَثَ فِي رُوعِي أَنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِيَ رِزْقَهَا وَأَجَلَهَا

“Sesungguhnya Ruhul Qudus (Jibril) membisikkan dalam hatiku bahwa tidak akan mati satu jiwa pun hingga ia menggenapkan seluruh jatah rezekinya dan memenuhi seluruh ajalnya.” (HR. Ibnu Majah dan Abu Daud)

Rezeki berbanding lurus dengan ajal. Selama manusia hidup, Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti menjamin jatah rezekinya. Oleh karena itu, beliau menasehati agar manusia tidak memiliki sifat istibha’. Hampir semua maksiat dalam urusan muamalah seperti riba, gharar, judi daring, korupsi, hingga suap dalam proyek atau jabatan bersumber dari keinginan mendapatkan sesuatu sebelum waktunya.

Kekhawatiran utama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bukanlah kemiskinan, melainkan fitnah dunia. Saat pasukan yang dipimpin Abu Ubaidah ibn Jarrah membawa banyak ghanimah dari Bahrain, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membagikannya kepada para sahabat seraya bersabda:

فَوَاللَّهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنِّي أَخْشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ

“Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku takutkan menimpa kalian. Namun aku takut dunia dibentangkan untuk kalian sebagaimana telah dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba mendapatkannya sebagaimana mereka, kemudian dunia itu membinasakan kalian sebagaimana telah membinasakan mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rezeki telah ditentukan jatahnya dan tidak akan bergeser sedikit pun. Sebagai mukmin yang menyadari adanya pertanggungjawaban di kehidupan kedua, sikap yang benar adalah memegang prinsip hukum halal dan haram. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan saran yang tegas:

خُذْ مَا حَلَّ وَدَعْ مَا حَرُمَ

“Ambillah apa yang dihalalkan dan tinggalkan apa yang diharamkan.” (HR. Ibnu Majah)

Sebuah kisah menarik dialami oleh Ali bin Abi Thalib ‘Azza wa Jalla. Beliau telah menyiapkan suatu benda untuk diberikan kepada seseorang yang dikenal dengan inisial si A. Namun, sebelum benda tersebut diberikan, orang tersebut justru mengambilnya secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan Ali bin Abi Thalib. Secara hukum, perbuatan tersebut merupakan tindakan pencurian.

Setelah pelaku tertangkap, Ali bin Abi Thalib menyampaikan sebuah kalimat yang penuh hikmah. Beliau menyatakan telah berencana memberikan benda tersebut kepadanya. Seandainya orang itu bersabar, ia akan mendapatkannya dengan cara yang halal. Namun, karena ketidaksabaran, ia justru mengambilnya dengan cara yang haram.

Pelajaran penting dari kejadian ini adalah rezeki yang telah ditetapkan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan pernah bergeser jumlahnya. Jika total jatah rezeki seseorang dari lahir hingga wafat telah ditentukan jumlahnya, maka jumlah tersebut akan tetap terpenuhi. Perbedaannya hanya terletak pada cara mendapatkannya. Seseorang yang bersabar akan menjemput rezeki tersebut dalam warna yang bersih tanpa noda dosa. Sebaliknya, orang yang tidak bersabar dan menempuh jalan haram tetap akan mendapatkan jumlah yang sama, namun sebagian rezekinya menjadi berwarna merah atau hitam karena mengandung unsur syubhat dan haram.

Rezeki tidak dapat digeser. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang umatnya memiliki penyakit istibtha’, yaitu keinginan mendapatkan sesuatu sebelum waktunya yang kemudian menyebabkan seseorang melanggar batasan syariat yang telah ditetapkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Khutbah Kedua: Hakikat Qana’ah dan Keberuntungan Seorang Muslim

Sahabat Abu Darda Radhiallahu ‘Anhu pernah menyampaikan sebuah pernyataan bahwa kemiskinan lebih beliau sukai daripada kekayaan, dan sakit lebih beliau sukai daripada sehat. Ketika pernyataan ini sampai kepada Hasan bin Ali Radhiallahu ‘Anhuma, beliau memberikan pandangan yang sangat indah sebagai prinsip hidup seorang hamba agar memiliki sifat qana’ah:

مَنِ اتَّكَلَ عَلَى حُسْنِ اخْتِيَارِ اللهِ لَهُ لَمْ يَتَمَنَّ أَنَّهُ فِي غَيْرِ الْحَالِ الَّتِي اخْتَارَهَا اللهُ لَهُ

“Barangsiapa yang berserah diri kepada pilihan terbaik yang Allah berikan kepadanya, maka dia tidak akan berangan-angan untuk berada pada keadaan selain yang telah Allah pilihkan untuknya.”

Inilah hakikat qana’ah; merasa cukup dengan apa yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Orang yang memiliki sifat qana’ah disebut oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai manusia yang paling beruntung. Kebahagiaan sejati terletak pada batin, bukan pada fisik atau materi semata. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

“Sungguh beruntung orang yang berserah diri (masuk Islam), diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya qana’ah (merasa cukup) atas apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim)

Seseorang yang memiliki hati yang qana’ah diibaratkan seperti seorang raja dunia. Imam Asy-Syafi’i Rahimahullahu Ta’ala pernah menggubah syair yang bermakna bahwa jika seseorang memiliki hati yang qana’ah, maka derajatnya dengan raja dunia adalah sama, karena keduanya sama-sama merasa telah tercukupi.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan hati kita senantiasa Qana’ah, selalu merasa kaya dengan pemberian-Nya, bersyukur, dan rida atas segala ketetapan-Nya.

Sumber Video Khutbah Jumat “Mengapa Harus Terburu-buru? Rahasia di Balik Takaran Rezeki yang Sempurna”

Sumber: anb channel

Yuk, ikut ambil bagian dalam menyebarkan dakwah ini. Bagikan tulisan dan link ini kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat kita. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.

 

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: