Berikut transkrip khutbah jumat tentang “Ingat, Dunia Ini Tidak Ada Masa Depannya” yang disampaikan Ustadz Syafiq Riza Basalamah, Hafidzahullahu Ta’ala
KHUTBAH PERTAMA: Konsistensi Ketakwaan Pasca-Ramadan
Wasiat untuk senantiasa bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla merupakan pengingat bagi diri sendiri serta seluruh jemaah. Setiap manusia bekerja, berupaya, dan berusaha untuk mencapai kesuksesan. Kegembiraan sering kali terpancar tatkala seseorang berada di tingkat keberhasilan yang diharapkan. Namun, kesuksesan pada hakikatnya hanya milik orang-orang yang bertakwa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa kepada-Nya; dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 102)
Bulan Ramadan hadir untuk menempa manusia agar menjadi pribadi yang bertakwa. Setelah lebih dari dua puluh hari meninggalkan bulan suci tersebut, setiap individu perlu merenungkan keberadaan tanda-tanda ketakwaan di dalam dirinya. Hal ini ditandai dengan konsistensi penegakan shalat malam, keberlanjutan pembacaan Al-Qur’an, serta kemampuan yang terus terjaga dalam menahan syahwat. Perilaku takwa harus dijaga sampai akhir hayat karena tolok ukur kebaikan seorang hamba tidak hanya dilihat saat berada di masjid, melainkan pada kondisi akhir saat meninggalkan dunia ini.
Pasca-Ramadan, aktivitas pekerjaan kembali berjalan normal. Kesibukan di pelabuhan menjadi saksi bagi perpindahan manusia yang mudik lalu kembali ke tempat mereka mengais rezeki. Pemandangan orang-orang yang membawa tas sambil menunggu keberangkatan kapal dengan tiket yang telah dipesan menunjukkan sebuah kepastian perjalanan. Ke mana tujuan pergi dan apa yang dicari tercermin dari isi tas yang menjadi bekal perjalanan mereka.
Dalam menyikapi fenomena kehidupan ini, Allah ‘Azza wa Jalla memberikan penegasan mengenai kepastian janji-Nya di dalam Al-Qur’an:
وَعْدَ اللَّهِ ۖ لَا يُخْلِفُ اللَّهُ وَعْدَهُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“(Sebagai) janji Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum[30]: 6)
Allah ‘Azza wa Jalla telah berjanji bahwa seluruh fasilitas duniawi, termasuk bangunan, pelabuhan, hingga infrastruktur megah di bumi akan hilang dan rata dengan tanah. Dunia pada hakikatnya tidak memiliki masa depan yang abadi. Segala sarana yang dibangun oleh manusia berupa gedung-gedung tinggi maupun infrastruktur yang dipersiapkan untuk anak cucu di masa depan kelak akan sirna. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَإِنَّا لَجَاعِلُونَ مَا عَلَيْهَا صَعِيدًا جُرُزًا
“Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang di atasnya menjadi tanah baru yang tandus.” (QS. Al-Kahf[18]: 8)
Banyak manusia tidak menyadari kepastian akhir dari dunia ini. Kenyataan saat ini menunjukkan lembaga pendidikan didirikan secara masif, bahkan negara turut mengupayakan wajib belajar sembilan tahun hingga dua belas tahun. Jumlah lulusan sarjana, baik tingkat S-1, S-2, maupun S-3 semakin banyak, yang beriringan dengan tingkat kepintaran manusia serta pembangunan negeri yang terus meningkat. Meskipun manusia modern memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi, Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan bahwa kebanyakan manusia sebenarnya tidak mengetahui hakikat kebenaran. Al-Qur’an menjelaskan batasan ilmu yang dimiliki oleh mayoritas manusia melalui firman-Nya:
يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedangkan mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. Ar-Rum[30]: 7)
Manusia memiliki ilmu yang luas mengenai urusan lahiriah duniawi. Mereka mampu membangun pelabuhan besar, menciptakan kapal raksasa yang dapat memuat ribuan kontainer, serta mengembangkan teknologi canggih yang mempermudah segala urusan hidup. Namun, kecanggihan tersebut bukanlah ilmu yang sebenarnya jika tidak membawa pemiliknya kepada kesadaran spiritual.
Seseorang yang memfokuskan seluruh hidupnya untuk membangun kemegahan duniawi tanpa memikirkan akhirat diibaratkan seperti orang yang membangun rumah indah di atas gelombang lautan yang penuh badai, atau mendirikannya di bantaran sungai yang rawan tergerus banjir bandang. Tindakan tersebut mencerminkan ketiadaan ilmu yang hakiki. Pikiran manusia sering kali hanya dipenuhi oleh ambisi untuk memiliki rumah, usaha, atau perkebunan yang besar di dunia, padahal tempat tersebut pasti akan ditinggalkan.
Setiap orang sebenarnya menyadari bahwa dunia ini akan ditinggalkan. Manusia sudah berulang kali memikul jenazah sesamanya di atas pundak untuk diantarkan ke kuburan, meletakkannya di dalam tanah, lalu melangkah pergi meninggalkannya. Sebanyak apapun tanda jasa atau bintang yang melekat di pundak seorang manusia, pada akhirnya ia akan menjadi jasad yang terbujur kaku.
Para pemimpin besar terdahulu kini telah tiada, dan tokoh-tokoh yang masih hidup saat ini pun sebenarnya sedang menunggu antrean untuk meninggalkan dunia. Atas dasar kenyataan ini, Allah ‘Azza wa Jalla mengajak manusia untuk merenungkan hakikat penciptaan diri mereka melalui firman-Nya:
أَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوا فِي أَنفُسِهِم ۗ مَّا خَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُّسَمًّى
“Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan.” (QS. Ar-Rum[30]: 8)
Manusia berawal dari setetes air mani yang hina, kemudian lahir dari perut ibunda tanpa pernah mengajukan proposal untuk hidup di muka bumi. Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menyediakan segala fasilitas kehidupan ini agar manusia merenungkan tujuan hidup yang sebenarnya.
Rumah yang ditempati atau tanah yang saat ini bersertifikat atas nama pribadi, dahulu merupakan milik orang lain dan kelak akan berpindah tangan menjadi milik orang lain pula. Begitu pula dengan jabatan atau kursi kekuasaan; tempat duduk yang ditempati oleh seorang pejabat hari ini dahulu diduduki oleh orang lain, dan dalam waktu dekat akan digantikan oleh orang lain lagi.
Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menciptakan langit tujuh lapis serta bumi beserta seluruh kekayaannya tanpa tujuan yang jelas. Manusia terus mengeksploitasi isi bumi dengan mengeruk emas, minyak bumi, batu bara, hingga nikel yang persediaannya lambat laun akan habis. Manusia tidak pernah menciptakan bahan-bahan alam tersebut, melainkan hanya memanfaatkannya. Keberadaan langit yang tegak kokoh tanpa tiang penyangga serta milyaran planet yang beredar di antara langit dan bumi.
Segala sesuatu di alam semesta ini memiliki batas waktu yang telah ditetapkan secara pasti. Namun, realitas kehidupan menunjukkan bahwa kebanyakan manusia cenderung ingkar. Bentuk pengingkaran tersebut berupa ketidakpercayaan terhadap adanya hari kiamat serta keengganan untuk memercayai perjumpaan dengan Allah ‘Azza wa Jalla.
Kriteria manusia yang dibenci Allah Subhanahu wa Ta’ala dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ يُبْغِضُ كُلَّ جَعْظَرِيٍّ جَوَّاظٍ سَخَّابٍ فِي الْأَسْوَاقِ، جِيفَةٍ بِاللَّيْلِ، حِمَارٍ بِالنَّهَارِ، عَالِمٍ بِأَمْرِ الدُّنْيَا، جَاهِلٍ بِأَمْرِ الْآخِرَةِ
“Sesungguhnya Allah Ta’ala membenci setiap orang yang angkuh lagi kasar, suka berteriak-teriak di pasar (karena emosional atau serakah), menjadi bangkai di malam hari, menjadi keledai di siang hari, pintar dalam urusan dunia, namun bodoh dalam urusan akhirat.” (HR. Ibnu Hibban) [1]
Penderitaan besar akan dialami oleh seorang pekerja jika ia tidak disukai oleh atasan di tempatnya bekerja. Kondisi tersebut jauh lebih mengerikan jika yang membenci adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala, Pemilik mutlak bumi ini, Zat Yang Menerbitkan mentari di timur dan menenggelamkannya di barat, serta Ar-Razzaq Yang Mengatur dan Menanggung rezeki setiap makhluk. Setiap individu perlu bermuhasabah agar diri sendiri, orang tua, pasangan, maupun keluarga yang tinggal satu atap tidak termasuk dalam golongan yang dibenci oleh-Nya.
Sifat pertama yang dibenci adalah sikap angkuh, keras hati, kasar dalam berucap, serta memiliki ambisi duniawi yang rakus. Sikap berteriak-teriak di pasar menggambarkan ambisi besar untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya dengan bekerja tanpa henti dari pagi sampai sore, sore sampai malam, hingga malam ke pagi lagi, hanya demi memuaskan urusan perut dan syahwat di bawah perut.
Manusia yang dibenci tersebut diibaratkan seperti bangkai pada malam hari karena tidak pernah menegakkan shalat malam. Ia melewatkan sepertiga malam terakhir yang merupakan waktu paling mustajab saat Allah Subhanahu wa Ta’ala turun ke langit dunia. Pola pikirnya hanya fokus pada cara mencari rezeki dengan memeras keringat, membanting tulang, dan merantau, hingga melupakan fakta bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Yang Maha Pemberi Rezeki. Akibatnya, ia menghabiskan waktu malam hanya untuk tidur layaknya jasad tak bernyawa.
Sebaliknya, pada siang hari ia tampak gagah dan penuh semangat layaknya seekor keledai yang memiliki dedikasi tinggi dalam bekerja, bahkan dinilai sebagai pegawai teladan. Ia sangat pintar dan paham mengenai urusan dunia (alim bi amrid dunya), tetapi sangat bodoh dan tidak tahu apa-apa mengenai urusan akhirat (jahil bil akhirah).
Waktu hidup manusia di dunia sangat singkat, paling lama hanya berkisar seratus tahun bagi yang mencapainya. Sementara itu, satu hari di akhirat memiliki durasi waktu yang sangat panjang jika dibandingkan dengan waktu dunia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَإِنَّ يَوْمًا عِندَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِّمَّا تَعُدُّونَ
“Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS. Al-Hajj[22]: 47)
Sangat tidak seimbang bagi manusia yang menghabiskan seluruh kesibukan dan energinya hanya demi kehidupan dunia yang rata-rata berdurasi tujuh puluh tahun, tetapi mengabaikan kehidupan akhirat yang satu harinya setara dengan seribu tahun. Manusia yang pandai dalam urusan dunia namun bodoh dalam urusan akhirat, serta hanya memikirkan urusan perut dan syahwat, merupakan golongan yang mendapatkan kebencian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
KHUTBAH KEDUA: Keseimbangan antara Ambisi Dunia dan Akhirat
Larangan dalam agama bukan terletak pada aktivitas mencari dunia, melainkan tatkala dunia dijadikan sebagai puncak ambisi. Di dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala membagi manusia menjadi dua jenis berdasarkan arah tujuan hidup dan doa mereka. Golongan pertama adalah sebagian manusia yang doa, permintaan, serta khayalannya hanya berorientasi pada kemegahan duniawi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ
“Maka di antara manusia ada orang yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia,’ dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.” (QS. Al-Baqarah[2]: 200)
Sementara itu, golongan kedua adalah orang-orang beriman yang memiliki keseimbangan orientasi hidup. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمِنْهُم مَّن يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Dan di antara mereka ada orang yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka’.” (QS. Al-Baqarah[2]: 201)
Pencapaian kenikmatan duniawi diakui membutuhkan ilmu dan proses belajar yang panjang. Seseorang harus menempuh pendidikan khusus untuk menjadi dokter, kapten kapal, membuka bengkel, ataupun menjalankan bisnis. Urusan akhirat pun sejatinya membutuhkan ilmu yang tidak kalah mendalam.
Ketimpangan sering terjadi dalam pembagian waktu belajar. Manusia menghabiskan waktu enam tahun di sekolah dasar untuk mempelajari ilmu dunia, sedangkan porsi belajar ilmu akhirat mungkin hanya berkisar dua sampai tiga jam saja. Pola serupa berlanjut pada jenjang SMP dan SMA. Masa kuliah sarjana selama empat tahun yang kemudian ditambah dengan jenjang S-2 hingga S-3 sering kali hanya dihabiskan untuk mendalami urusan dunia secara terus-menerus.
Setiap insan perlu meluangkan waktu untuk mempelajari urusan akhirat guna mengetahui cara meraih istana dan perkebunan yang luas di surga. Diperlukan ilmu untuk mengetahui cara agar dapat minum dari sungai madu, khamar yang suci, susu, serta air yang segar, sekaligus cara agar tidak menjadi tua di sana. Oleh karena itu, kehadiran di majelis-majelis ilmu, membaca Al-Qur’an beserta tafsirnya, serta mengajak keluarga ke masjid merupakan sebuah keniscayaan.
Ketiadaan jemaah perempuan dalam majelis khutbah Jumat meletakkan tanggung jawab penuh di pundak kaum laki-laki untuk menyampaikan ilmu yang didengar kepada keluarga di rumah. Kewajiban mendengarkan khutbah dengan khidmat saat khatib naik ke atas mimbar ditetapkan karena kaum laki-laki merupakan pemimpin di rumah tangga mereka.
Setibanya di rumah, seorang suami atau ayah hendaknya mendudukkan istri dan anak-anaknya guna menyampaikan ilmu yang telah diperoleh dari masjid. Setiap manusia tidak akan masuk ke dalam surga sebelum melewati pertanggungjawaban dan pertanyaan-pertanyaan mengenai pemenuhan tugas terhadap keluarga masing-masing.
Hari Jumat merupakan hari yang sangat mulia di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Hari tersebut menjadi waktu diciptakannya Nabi Adam ‘Alaihis Salam sebagai permulaan manusia, waktu wafatnya beliau, waktu terjadinya kehancuran dunia atau kiamat, serta waktu dibangkitkannya manusia kembali.
Di antara amalan utama yang perlu dijaga pada hari Jumat adalah memperbanyak shalawat. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan anjuran melalui sabda beliau:
أَكْثِرُوا الصَّلَاةَ عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ
“Perbanyaklah kalian membaca shalawat kepadaku pada hari Jumat.” (HR. Ibnu Majah)[2]
Sumber Video Khutbah Jumat “Ingat, Dunia Ini Tidak Ada Masa Depannya”
Sumber : Syafiq Riza Basalamah Official
Yuk, ikut ambil bagian dalam menyebarkan dakwah ini. Bagikan tulisan dan link ini kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat kita. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.
Referensi:


COMMENTS