Berikut transkrip khutbah jumat tentang “Khutbah Jumat: Hakikat Pemenuhan Kebutuhan Hidup dan Rasa Syukur” yang disampaikan Ustadz Maududi Abdullah, Hafidzahullahu Ta’ala
KHUTBAH PERTAMA : Kesempurnaan Syariat Islam Sebagai Petunjuk Hidup
Puji dan syukur senantiasa dipanjatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rabb yang telah menciptakan manusia serta melengkapi seluruh keperluan di dalam kehidupan tanpa ada kekurangan sedikitpun. Durasi hidup yang telah mencapai puluhan tahun menjadi bukti nyata bahwa seluruh kebutuhan pokok untuk bertahan hidup telah dipenuhi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Manusia perlu membedakan antara kebutuhan hidup dengan keinginan di dalam hidup. Apabila seseorang tidak mampu memisahkan kedua hal tersebut, keinginan sering kali dianggap sebagai kebutuhan. Kekeliruan sudut pandang inilah yang menjadi penyebab utama mengapa manusia sulit untuk bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Keinginan manusia tidak akan pernah ada batasnya dan tidak akan pernah berhenti hingga kematian datang menjemput.
Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, suri teladan dan pemimpin para nabi dan rasul. Di akhirat kelak, setiap hamba yang beriman tentu berharap dapat dikumpulkan bersama golongan beliau. Di padang mahsyar, tidak ada seorang pun, baik orang tua, guru, maupun pemimpin dunia, yang diharapkan kebersamaannya oleh orang beriman melebihi harapan untuk mendampingi Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Terkait ketaatan ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى
“Barangsiapa yang taat kepadaku maka dia masuk surga, dan barangsiapa yang bermaksiat kepadaku maka sesungguhnya dia telah enggan masuk surga.” (HR. Bukhari) [1]
Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Bijaksana dan Maha Perkasa telah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk serta penerang jalan kehidupan. Di dalam Al-Qur’an, seluruh sarana yang dibutuhkan untuk menggapai rida, rahmat, ampunan, serta surga Allah Subhanahu wa Ta’ala telah diterangkan secara utuh melalui wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sebagaimana firman-Nya:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu.” (QS. Al-Maidah[5]: 3)
Prinsip kesempurnaan agama ini juga ditegaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di dalam hadits beliau:
لَيْسَ مِنْ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى الْجَنَّةِ ، إِلا قَدْ أَمَرْتُكُمْ بِهِ ، وَلا عَمَلٌ يُقَرِّبُ إِلَى النَّارِ ، إِلا قَدْ نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ
“Tidak ada satu amalan pun yang dapat mendekatkan kalian ke surga melainkan aku telah memerintahkannya kepada kalian. Dan tidak ada satu amalan pun yang mendekatkan kalian ke neraka melainkan aku telah melarangnya bagi kalian.” (Mustadrak Al-Hakim) [2]
Sebagai bentuk kasih sayang yang tidak terhingga, Allah Subhanahu wa Ta’ala mendekatkan kitab suci kepada hamba-hamba-Nya yang beriman agar dijadikan hujjah serta pedoman hidup. Beruntunglah setiap manusia, khususnya umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di akhir zaman, yang memilih untuk patuh dan taat terhadap perintah serta larangan-Nya.
Di antara sekian banyak bagian di dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang menakdirkan sebuah surah yang paling banyak dihafal oleh hamba-hamba-Nya yang beriman, yaitu surah Al-Ikhlas. Di dalam surah tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
“Katakanlah: ‘Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia’.” (QS. Al-Ikhlas[112]: 1-4)
Surah Al-Ikhlas merupakan salah satu bagian Al-Qur’an yang sangat agung. Mengenai kedudukan surah ini, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ
“Surah ‘Qul huwallahu ahad’ (Al-Ikhlas) itu sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an.” (HR. Muslim) [3]
Kandungan makna di dalam surah tersebut telah mewakili sepertiga dari isi Al-Qur’anul Karim. Ayat pertama dari surah Al-Ikhlas ini menjadi tema sekaligus fokus bahasan khotbah pada kesempatan Jumat yang berbahagia ini. Doa dan harapan dipanjatkan agar Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan lisan untuk menyampaikan kebenaran, serta memudahkan kaum muslimin untuk mendengarkan sekaligus menerima kebenaran tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
“Katakanlah: ‘Dialah Allah, Yang Maha Esa’.” (QS. Al-Ikhlas[112]: 1)
Tidak ada seorangpun di antara kaum muslim yang ikhlas dalam keislamannya, serta tidak ada seorang mukmin yang jujur dalam keimanannya, yang menolak kalimat tauhid tersebut. Setiap muslim pasti mengucapkan, menghafal, mengumandangkan, serta membacanya di dalam salat, baik bertindak sebagai imam maupun saat mendirikan shalat sunnah sendirian.
Peringatan penting ini ditujukan kepada diri sendiri serta seluruh kaum muslimin yang mendengarkan khotbah ini, bahwa di dalam syariat Islam yang mulia, apa yang diucapkan oleh lisan tidak boleh dilanggar oleh perbuatan nyata. Perintah untuk menyatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala itu Maha Esa bukan sekadar ucapan kosong di lisan. Ucapan di dalam agama Islam wajib diiringi oleh keyakinan mendalam di dalam hati, serta dibuktikan melalui amal perbuatan setelahnya.
Kondisi tersebut menjadi bukti bahwa ucapan yang keluar memang bersumber dari hati yang meyakini. Hati merupakan raja bagi seluruh anggota tubuh, termasuk lisan. Ketika hati telah dipenuhi oleh keyakinan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala itu Maha Esa, tidak ada tandingan, tidak ada sekutu, serta tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia, maka lisan akan mengucapkan kalimat tauhid tersebut dengan lantang. Langkah selanjutnya, seluruh anggota tubuh akan bergerak mengiringi apa yang dikatakan oleh lisan dan yang diyakini oleh hati.
Prinsip keselarasan ini sejalan dengan hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang sangat masyhur:
قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ
“Katakanlah: ‘Aku beriman kepada Allah’, kemudian istiqomahlah.” (HR. Muslim) [4]
Maksud dari hadits tersebut bukan hanya sekadar memerintahkan lisan untuk berkata atau istiqamah dalam melafalkan kalimat iman. Kalimat yang diinginkan adalah sebuah pernyataan yang lahir dari lubuk hati, diikrarkan oleh lisan, dan dibuktikan oleh anggota tubuh bahwa seseorang benar-benar beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Konsekuensinya, ucapan lisan tidak boleh didustakan oleh tindakan nyata.
Fokus bahasan khutbah ini bertumpu pada ayat pertama surah Al-Ikhlas yang telah dihafal oleh mayoritas kaum muslim sejak masa kanak-kanak sebelum baligh. Harapan dan doa senantiasa dipanjatkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar hafalan dan keyakinan tersebut terus terjaga sampai akhir hayat, sehingga setiap hamba dapat menutup usia dalam keadaan taat kepada-Nya.
Di dalam syariat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tidak ada bentuk ketaatan yang lebih tinggi daripada hati yang mengikrarkan, lisan yang memproklamirkan, serta perbuatan yang membuktikan kalimat tauhid di dalam kehidupan sehari-hari hingga ajal menjemput. Manusia yang memahami esensi ini akan menjadikan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai satu-satunya Zat yang disembah dan tidak akan pernah menyekutukan-Nya dengan apa pun atau siapa pun.
Hati yang tahu, lisan yang mengerti, serta perbuatan yang patuh akan menyadari bahwa perkara yang paling dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah tindakan seorang hamba yang melanggar ikrar tauhidnya sendiri melalui perbuatan maksiat dan syirik.
Sahabat Nabi yang mulia, Abdullah Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu, pernah mengajukan pertanyaan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengenai dosa yang paling besar di sisi Allah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan jawaban yang esensinya bertabrakan secara mutlak dengan kandungan surah Al-Ikhlas:
أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ
“Engkau menjadikan tandingan bagi Allah, padahal Dialah yang telah menciptakanmu.” (HR. Bukhari) [5]
Dosa paling besar adalah ketika seorang hamba menjadikan ada sesuatu yang setara, sebanding, atau dianggap memiliki kemampuan yang sama dengan kemampuan Allah Subhanahu wa Ta’ala, padahal hanya Dia satu-satunya Zat yang mampu dan telah menciptakan diri manusia tersebut.
Di dalam hadits lain, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyampaikan sebuah pertanyaan retoris yang bertujuan untuk memancing perhatian yang sangat penting bagi umat:
أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ قَالَ لْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ
“Maukah kalian aku beritahu tentang dosa besar yang paling besar? Para sahabat menjawab: ‘Tentu, wahai Rasulullah’. Beliau bersabda: ‘Berbuat syirik kepada Allah’.” (HR. Bukhari) [6]
Perbuatan syirik merupakan lawan yang bertolak belakang 180 derajat dengan nilai tauhid yang diinginkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam surah Al-Ikhlas. Menyadari bahwa Allah itu Maha Esa (Allahu ahad) konsekuensinya adalah menjadikan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai satu-satunya Zat yang berhak di ibadahi.
Sebaliknya, tindakan melayangkan permohonan rezeki, perlindungan, penurunan hujan, hingga kelancaran karier kepada selain Allah yang mana perkara-perkara tersebut tidak ada yang mampu mewujudkannya kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan bentuk nyata dari perbuatan menjadikan tandingan bagi-Nya. Adapun meminta bantuan kepada sesama makhluk hanya diperbolehkan pada perkara yang memang mampu dilakukan oleh makhluk tersebut, dengan catatan hati harus tetap bergantung penuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai Zat yang mengatur seluruh makhluk.
KHUTBAH KEDUA : Bahaya Kontradiksi antara Ucapan Lisan dan Amal Perbuatan
Kenyataan pada zaman sekarang menunjukkan bahwa terlalu banyak manusia yang mengatakan sesuatu tetapi mengamalkan hal yang berbeda. Lisan mengucapkan suatu kalimat tauhid, tetapi amal perbuatannya justru membuktikan bahwa kalimat tersebut tidak nyata di dalam dirinya. Kontradiksi antara apa yang dinyatakan secara lisan dengan apa yang dikerjakan merupakan sebuah kedustaan.
Apabila ketidakselarasan ini terjadi dalam urusan dunia, hal tersebut sudah dikategorikan sebagai bentuk kemunafikan kecil. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ
“Tanda orang munafik itu ada tiga, (salah satunya) apabila dia berbicara maka dia berdusta.” (HR. Bukhari) [7]
Dusta yang dimaksud adalah ketika ucapan yang disampaikan tidak terbukti di dalam perbuatan nyata, atau bahkan bertabrakan dengan perkataannya sendiri. Setiap muslim tentu tidak ingin nilai akhir kehidupannya saat dikumpulkan di Padang Mahsyar kelak divonis sebagai sebuah kedustaan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Jangan sampai pengakuan qul huwallahu ahad yang sering diucapkan dinilai sebagai kebohongan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya karena amal perbuatan sehari-hari tidak mencerminkan keesaan-Nya. Bentuk kedustaan tersebut nyata terlihat ketika seorang hamba meminta perkara yang mutlak hanya bisa diwujudkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada selain Dia.
Mengenai ketauhidan yang murni, Nabi Ibrahim alaihissalam memberikan keteladanan yang diabadikan didalam Al-Qur’an:
وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ
“Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku.” (QS. Asy-Syu’ara[26]: 80)
Nabi Ibrahim alaihissalam menegaskan bahwa satu-satunya Zat yang memiliki otoritas mutlak untuk memberikan kesembuhan hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Keselarasan tauhid ini juga dipraktikkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melalui doa beliau ketika menjenguk orang sakit:
اللَّهُمَّ اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ
“Ya Allah, sembuhkanlah, Engkau adalah Zat Yang Maha Menyembuhkan, tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan yang datang dari-Mu.” (HR. Bukhari dan Muslim) [8]
Dua manusia agung ini, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Nabi Ibrahim alaihissalam, merupakan imamnya ahli tauhid (imamul muwahhidin). Mereka memberikan tuntunan nyata bahwa pengakuan terhadap keesaan Allah Subhanahu wa Ta’ala wajib diimplementasikan melalui pemurnian doa dan ketergantungan hati hanya kepada-Nya semata.
Nama Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Nabi Ibrahim alaihissalam senantiasa diucapkan di penghujung shalat, yaitu ketika membaca tasyahud. Kedua imam orang-orang yang bertauhid tersebut telah menerangkan kepada umat bahwa satu-satunya Zat yang mampu menyembuhkan penyakit hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Oleh karena itu, setiap muslim wajib berhati-hati agar tidak meminta kesembuhan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tindakan meminta obat, meminta resep, maupun meminta tindakan operasi kepada dokter hukumnya diperbolehkan. Hal tersebut merupakan bagian dari ranah ilmu yang dipelajari oleh para ahli kesehatan, yaitu meneliti ikhwal penyakit serta menentukan jenis obat yang tepat untuk dikonsumsi.
Manusia diperbolehkan meminta resep obat kepada dokter, namun tidak boleh meminta kesembuhan kepada mereka. Kesembuhan mutlak hanya datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana penegasan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di dalam doa beliau:
اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ
“Ya Allah, Rabb manusia, sembuhkanlah, Engkau adalah Zat Yang Maha Menyembuhkan, tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan yang datang dari-Mu.” (HR. Bukhari dan Muslim) [9]
Prinsip ini selaras dengan ucapan Nabi Ibrahim alaihissalam yang termuat di dalam Al-Qur’an:
وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ
“Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku.” (QS. Asy-Syu’ara[26]: 80)
Kenyataan yang sering terjadi di dalam kehidupan sehari-hari adalah munculnya ucapan lisan yang meminta kesembuhan secara langsung kepada ahli kesehatan, seperti kalimat, “Tolong sembuhkan anak saya.” Apabila di dalam lubuk hati seseorang tetap meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menyembuhkan, maka para ulama mengkategorikan perbuatan tersebut sebagai syirik lisan, bukan syirik hati. Perbuatan ini tidak termasuk ke dalam syirik besar, melainkan dimasukkan ke dalam kelompok syirik kecil.
Namun, apabila seseorang benar-benar meyakini di dalam hatinya bahwa ada manusia yang mampu menyembuhkan penyakit secara mandiri, maka dia telah terjatuh ke dalam perbuatan menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal yang sama berlaku bagi orang yang meyakini adanya makhluk yang mampu menurunkan atau menahan hujan di langit, melapangkan rezeki, memuluskan karier, memberikan keturunan, serta mengubah nasib seseorang dari miskin menjadi kaya.
Fenomena permintaan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk perkara-perkara yang mutlak hanya bisa diwujudkan oleh-Nya masih sering dijumpai di tengah masyarakat yang mengikrarkan dua kalimat syahadat dan membaca surah Al-Ikhlas setiap hari. Perkara menurunkan hujan, melapangkan rezeki, serta mendatangkan kekuasaan merupakan otoritas tunggal milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mampu memberikan kekuasaan, jabatan, dan pangkat kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya, begitu pula untuk urusan sebaliknya.
Permasalahan yang paling pelik muncul ketika pembahasan mengenai tauhid mulai dilupakan oleh umat Islam. Saat pengamalan isi kandungan surah Al-Ikhlas di dalam kehidupan sehari-hari mulai dijauhi, maka perkara-perkara yang dinilai sebagai kesyirikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya akan marak terjadi. Dampak dari kelalaian ini adalah hancurnya nilai-nilai tauhid, rusaknya esensi surah Al-Ikhlas, serta hilangnya makna dari kalimat laa ilaha illallah di dalam diri seorang hamba.
Setiap muslim yang mendambakan keselamatan wajib mempertahankan kemurnian kalimat laa ilaha illallah dan qul huwallahu ahad yang telah diikrarkan oleh lisan dan diyakini oleh hati. Penjagaan tersebut diwujudkan dengan cara mengamalkan seluruh aktivitas kehidupan secara selaras dengan nilai-nilai tauhid, menjauhkan diri dari segala bentuk kesyirikan, serta konsisten bertahan di atas prinsip tersebut hingga kematian datang menjemput.
Sebagai bentuk ketaatan, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan umat Islam untuk bershalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sebagaimana firman-Nya:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab[33]: 56)
Kewajiban bershalawat ini diperkuat oleh sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا
“Barang siapa yang berselawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim) [10]
Sumber Video Khutbah Jumat “Hakikat Pemenuhan Kebutuhan Hidup dan Rasa Syukur”
Sumber : Maududi Abdullah
Yuk, ikut ambil bagian dalam menyebarkan dakwah ini. Bagikan tulisan dan link ini kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat kita. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.
REFERENSI :
[1] https://sunnah.com/riyadussalihin:158
[2] https://sunnah.com/urn/6820720
[3] https://sunnah.com/muslim:811a
[4] https://sunnah.com/mishkat:15
[5] https://sunnah.com/bukhari:7520
[6] https://sunnah.com/bukhari:2654
[7] https://sunnah.com/bukhari:6095


COMMENTS