Berikut transkrip khutbah jumat tentang “Khutbah Jumat: Agungnya Ibadah Mengingat Nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala” yang disampaikan Ustadz Firanda Andirja, Hafidzahullahu Ta’ala
KHUTBAH PERTAMA : Kesempurnaan Nikmat Lahir dan Batin pada Diri Manusia
Sesungguhnya di antara ibadah yang sangat agung adalah mengingat-ingat nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Aktivitas ini bertujuan agar manusia pandai bersyukur serta semakin meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadahnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan manusia akan nikmat-nikmat tersebut di dalam banyak ayat Al-Qur’an, salah satunya melalui firman-Nya:
أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً
“Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin.” (QS. Luqman[31]: 20)
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menundukkan langit dengan berbagai macam isinya. Di sana terdapat bintang-bintang yang menghiasi langit, rembulan, serta matahari yang masing-masing memiliki fungsi spesifik. Dari langit pula Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan air hujan, awan, kilat, hingga salju yang semuanya diatur demi kemaslahatan manusia.
Di bumi, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan permukaannya mudah untuk ditempati oleh manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga membentangkan sungai, lautan, pepohonan, serta menurunkan berbagai jenis hewan ternak sebagai bentuk fasilitas kehidupan yang melimpah di atas muka bumi.
Manusia juga dianugerahi kenikmatan lahiriah berupa kesehatan dan kesempurnaan fisik. Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia dalam bentuk tubuh yang terbaik (fi ahsani taqwim), sangat berbeda dan jauh lebih sempurna dibandingkan dengan hewan. Di samping bentuk fisik yang indah, manusia diberikan kenikmatan sosial dan domestik seperti keberadaan istri, anak, dan rumah tempat tinggal. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَفِي أَنْفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ
“Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan.” (QS. Az-Zariyat[51]: 21)
Melalui ayat tersebut, manusia diarahkan untuk memperhatikan organ-orang tubuh yang luar biasa di dalam diri mereka, termasuk karunia penglihatan. Mengenai penciptaan ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قُلْ هُوَ الَّذِي أَنْشَأَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالأَفْئِدَةَ ۖ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ
“Katakanlah: ‘Dialah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati’. (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur.” (QS. Al-Mulk[67]: 23)
Penegasan mengenai keterbatasan manusia pada awal fase kelahiran juga disebutkan di dalam ayat lain:
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl[16]: 78)
Selain nikmat lahir, manusia juga diberikan nikmat batiniah yang berupa ketentraman, keimanan, serta ketenangan jiwa. Demi menjaga keberlangsungan nikmat batin ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab suci agar manusia dapat merasakan kedamaian yang sejati. Sungguh, karunia yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada manusia teramat banyak, sebagaimana firman-Nya di dalam Al-Qur’an:
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا
“Andai kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghilangkannya.” (QS. Ibrahim[14]: 34)
Meskipun limpahan nikmat-Nya begitu besar, manusia sering kali melupakan keberadaan karunia tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّ الْإِنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ
“Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya.” (QS. Al-‘Adiyat[100]: 6)
Mengenai tafsir ayat ini, ulama tabi’in Hasan Al-Basri rahimahullah memberikan penjelasan mengenai tabiat buruk manusia:
يَذْكُرُ الْمَصَائِبَ وَيَنْسَى النِّعَمَ
“Ia hanya mengingat-ingat musibah yang menimpanya dan melupakan nikmat-nikmat yang begitu banyak yang telah dirasakannya.”
Sebagai langkah preventif agar manusia tidak terjebak dalam kelalaian tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala menerapkan metode peringatan di dalam Al-Qur’an agar manusia senantiasa merenungkan nikmat-Nya:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ ۚ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ فَأَنَّىٰ تُؤْفَكُونَ
“Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling.” (QS. Fatir[35]: 3)
Melalui penegasan ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan bahwa seluruh alam semesta merupakan ciptaan-Nya semata, bukan hasil ciptaan nabi, wali, ataupun malaikat. Fakta ini sekaligus menjadi argumen kuat yang meruntuhkan tindakan sebagian manusia yang justru berpaling dan menyembah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Di dalam ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memberikan peringatan yang ditujukan khusus kepada orang-orang yang beriman, seperti para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, agar mereka mengingat pertolongan besar sewaktu berkecamuknya Perang Ahzab (Khandaq):
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَاءَتْكُمْ جُنُودٌ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا وَجُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا
“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin taufan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya.” (QS. Al-Ahzab[33]: 9)
Pertolongan tersebut diturunkan sewaktu pasukan musuh mengepung dari berbagai arah, yaitu pasukan sekutu (Ahzab) dari arah atas dengan kekuatan sepuluh ribu personel, dan kaum Yahudi dari arah bawah dengan kekuatan sekitar tujuh ratus personel. Ketegangan situasi perang tersebut juga direkam di dalam lanjutan ayat suci:
إِذْ جَاءُوكُمْ مِنْ فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَإِذْ زَاغَتِ الْأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ
“Ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan.” (QS. Al-Ahzab[33]: 10)
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengenai kondisi awal mereka melalui firman-Nya di dalam Al-Qur’an:
وَاذْكُرُوا إِذْ أَنْتُمْ قَلِيلٌ مُسْتَضْعَفُونَ فِي الْأَرْضِ تَخَافُونَ أَنْ يَتَخَطَّفَكُمُ النَّاسُ فَآوَاكُمْ وَأَيَّدَكُمْ بِنَصْرِهِ وَرَزَقَكُمْ
“Dan ingatlah (hai para muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di bumi (Mekah), kamu takut orang-orang (Mekah) akan menculik kamu, maka Allah memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezeki.” (QS. Al-Anfal[8]: 26)
Peringatan untuk mengingat karunia persatuan juga disampaikan kepada kaum Anshar yang dahulu terpecah belah:
وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا
“Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat-Allah, orang-orang yang bersaudara.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 103)
Sebelum bersatu menjadi kaum Anshar, suku Aus dan suku Khazraj terlibat dalam permusuhan yang berkepanjangan, hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala mempersatukan hati mereka di dalam ikatan Islam.
Kewajiban mengingat nikmat ini tidak hanya dibebankan kepada para sahabat, melainkan juga diperintahkan kepada para nabi besar seperti Nabi Isa alaihissallam:
يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ اذْكُرْ نِعْمَتِي عَلَيْكَ وَعَلَىٰ وَالِدَتِكَ إِذْ أَيَّدْتُكَ بِرُوحِ الْقُدُسِ تُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلًا
“(Ingatlah), ketika Allah mengatakan: ‘Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan ruhul qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa’.” (QS. Al-Maidah[5]: 110)
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menyeru Bani Israil untuk merenungkan keutamaan yang pernah mereka terima pada masa lalu:
يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ
“Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat.” (QS. Al-Baqarah[2]: 47)
Para utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala secara konsisten menggunakan metode ini untuk mendidik umat mereka agar tidak kufur nikmat. Nabi Hud alaihissalam berseru kepada kaum ‘Ad:
وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِنْ بَعْدِ قَوْمِ نُوحٍ وَزَادَكُمْ فِي الْخَلْقِ بَسْطَةً ۖ فَاذْكُرُوا آلَاءَ اللَّهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum Nuh, dan Tuhan telah melebihkan kamu dalam kekuatan tubuh dan perawakan yang besar. Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-A’raf[7]: 69)
Langkah serupa dilakukan oleh Nabi Saleh alaihissalam ketika memberikan peringatan kepada kaum Tsamud:
وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِنْ بَعْدِ عَادٍ وَبَوَّأَكُمْ فِي الْأَرْضِ تَتَّخِذُونَ مِنْ سُهُولِهَا قُصُورًا وَتَنْحِتُونَ الْجِبَالَ بُيُوتًا
“Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum ‘Ad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu Dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah.” (QS. Al-A’raf[7]: 74)
Nabi Musa alaihissalam pun mengingatkan kaumnya tentang kekejaman Firaun yang berhasil mereka lewati atas pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَإِذْ نَجَّيْنَاكُمْ مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوءَ الْعَذَابِ يُذَبِّحُونَ أَبْنَاءَكُمْ
“Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari (Firaun dan) pengikut-pengikut Firaun; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang dahsyat, mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu.” (QS. Al-Baqarah[2]: 49)
Sebagai bentuk latihan syukur, manusia diajak untuk merenungkan satu nikmat spesifik yang sering digunakan, yaitu nikmat berupa sarana transportasi atau tunggangan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَالَّذِي خَلَقَ الْأَزْوَاجَ كُلَّهَا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنَ الْفُلْكِ وَالْأَنْعَامِ مَا تَرْكَبُونَ لِتَسْتَوُوا عَلَىٰ ظُهُورِهِ ثُمَّ تَذْكُرُوا نِعْمَتَ رَبِّكُمْ إِذَا اسْتَوَيْتُمْ عَلَيْهِ وَتَقُولُوا سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَٰذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَىٰ رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ
“Andai Dia yang menciptakan semua yang berpasang-pasangan dan menjadikan untukmu kapal dan binatang ternak yang kamu tunggangi. Supaya kamu duduk di atas punggungnya kemudian kamu ingat nikmat Tuhanmu apabila kamu telah duduk di atasnya; dan supaya kamu mengucapkan: ‘Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami’.” (QS. Az-Zukhruf[43]: 12-14)
Kenyataan membuktikan bahwa apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menundukkan karakteristik hewan-hewan tersebut, manusia tidak akan pernah memiliki kemampuan untuk mengendarainya. Demikian pula jika Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menundukkan hukum fisika pada lautan, manusia tidak akan mampu mengendarai kapal laut. Penundukan ini dijelaskan di dalam ayat lain:
وَذَلَّلْنَاهَا لَهُمْ فَمِنْهَا رَكُوبُهُمْ وَمِنْهَا يَأْكُلُونَ
“Dan Kami tundukkan binatang-binatang itu untuk mereka; maka sebagiannya menjadi tunggangan mereka dan sebagiannya mereka makan.” (QS. Yasin[36]: 72)
Unta merupakan contoh hewan yang memiliki kekuatan fisik yang sangat besar. Secara logika, apabila unta tersebut mengamuk dan menyerang manusia, kekuatannya dapat berakibat fatal hingga menyebabkan kematian. Bahkan, ketika hendak disembelih, unta tersebut tinggal diposisikan berdiri kemudian disembelih pada bagian pangkal lehernya (dinahar) tanpa memberikan pemberontakan yang berarti. Hal ini terjadi karena ada Zat Yang Maha Menundukkan, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Seandainya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menciptakan hewan-hewan tunggangan tersebut, manusia akan mengalami kerepotan yang sangat besar untuk membawa barang-barang berat ke tempat-tempat yang jauh. Namun, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan kemudahan dengan menundukkan hewan-hewan tersebut. Di samping itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman di dalam Al-Qur’an:
وَالْخَيْلَ وَالْبِغَالَ وَالْحَمِيرَ لِتَرْكَبُوهَا وَزِينَةً
“Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan.” (QS. An-Nahl[16]: 8)
Allah ‘Azza wa Jalla juga menciptakan berbagai sarana lain yang ditundukkan bagi kemaslahatan manusia. Jika satu nikmat tunggangan saja direnungkan secara mendalam, maka akan terlihat betapa besarnya karunia yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan. Oleh karena itu, mengingat-ingat nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan bagian dari ibadah yang agung agar manusia menjadi hamba yang pandai bersyukur.
KHUTBAH KEDUA : Faedah Mengingat Nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala
Aktivitas mengingat-ingat nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala (tadzakkur ni’amillah) secara konsisten akan membuahkan beberapa faedah yang sangat mendasar bagi seorang muslim:
1. Menumbuhkan Rasa Cinta Kepada Allah
Hamba yang sadar akan besarnya karunia yang diterima akan semakin mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena dia memahami bahwa Dialah satu-satunya Zat yang bersumber menjadi muara dari segala kenikmatan hidup.
2. Menghindarkan Diri dari Sifat Ujub dan Sombong
Dengan mengingat nikmat, seorang hamba akan menyandarkan seluruh keberhasilannya hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan kepada kehebatan dirinya sendiri. Teladan ini ditunjukkan oleh Nabi Sulaiman alaihissalam ketika singgasana Ratu Balqis dihadirkan di hadapan beliau dalam sekejap mata:
قَالَ هَٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ
“Ia berkata: ‘Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya)’.” (QS. An-Naml[27]: 40)
Sikap yang sama juga ditunjukkan oleh Zulkarnain setelah berhasil membangun dinding besi yang kukuh untuk menghalangi kerusakan yang ditimbulkan oleh Yakjuj dan Makjuj:
قَالَ هَٰذَا رَحْمَةٌ مِنْ رَبِّي
“Zulkarnain berkata: ‘Ini (dinding) adalah rahmat dari Allah.” (QS. Al-Kahf[18]: 98)
Kesadaran tersebut akan membentengi manusia dari karakter sombong layaknya Karun, yang dengan angkuh mengklaim kesuksesannya melalui perkataan:
قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِنْدِي
“Karun berkata: ‘Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku’.” (QS. Al-Qashash[28]: 78)
3. Meningkatkan Semangat Beramal Saleh
Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan nikmat dengan tujuan agar hamba-Nya menggunakan fasilitas tersebut untuk bersyukur dan beribadah. Setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala memaparkan berbagai nikmat-Nya kepada keluarga Nabi Dawud, Dia menegaskan:
اعْمَلُوا آلَ دَاوُدَ شُكْرًا
“Wahai keluarga Dawud (Sulaiman) beramal lah kepada Allah sebagai bentuk syukur (kepada Allah).” (QS. Saba'[34]: 13)
Sikap tanggap terhadap nikmat ini juga dialami oleh Nabi Sulaiman alaihissalam ketika rombongan pasukan beliau melintasi sebuah lembah semut. Beliau mendengar seekor semut berseru kepada kawanannya:
يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ
“Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarang mu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.” (QS. An-Naml[27]: 18)
Nabi Sulaiman alaihissalam merasa takjub karena semut tersebut mengenali diri beliau serta memberikan uzur bahwa andaikata pasukan Sulaiman menginjak mereka, hal itu terjadi semata-mata karena ketidaktahuan. Menyadari keistimewaan berupa kemampuan memahami bahasa binatang ini sebagai nikmat yang luar biasa, beliau langsung meresponsnya dengan doa:
فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِنْ قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَتِي وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ
“Maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: ‘Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridai’.” (QS. An-Naml[27]: 19)
4. Mencegah Sifat Suka Berkeluh Kesah
Manusia secara tabiat memiliki kecenderungan untuk sering berkeluh kesah. Hasan Al-Bashri rahimahullah menyebutkan bahwa manusia sering kali hanya menghitung musibah yang dialaminya, tetapi melupakan tumpukan nikmat yang telah dirasakannya selama bertahun-tahun.
Kisah keteladanan dalam menghadapi ujian ini tercermin pada Nabi Ayyub alaihissalam. Ketika beliau diuji dengan penyakit berat selama tujuh tahun hingga membuat istrinya mengeluh, Nabi Ayyub alaihissalam memberikan teguran yang bijaksana kepada istrinya bahwa sikap tersebut tidak adil, sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan masa kesehatan dan kenikmatan selama tujuh puluh tahun, sedangkan masa ujian sakit baru berjalan selama tujuh tahun.
Hikmah serupa juga terdapat pada kisah kesembuhan Uwais Al-Qarni. Sebagaimana yang disampaikan oleh Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu sewaktu bertemu dengannya:
فَكَانَ بِكَ بَرَصٌ فَبَرَأْتَ مِنْهُ إِلاَّ مَوْضِعَ دِرْهَمٍ
“Dan dahulu engkau pernah menderita penyakit kusta, lalu engkau sembuh darinya kecuali tersisa seukuran sekeping dirham.” (HR. Muslim) [1]
Para ulama menjelaskan bahwa sisa tanda penyakit seukuran dirham tersebut sengaja disisakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala agar Uwais senantiasa mengingat kondisi sakitnya yang dahulu, sehingga dia tidak akan pernah melupakan nikmat kesembuhan yang telah dikaruniakan-Nya.
Apabila seseorang mulai merasa lalai terhadap karunia yang dimilikinya, dia diperintahkan untuk membicarakan dan menceritakan nikmat-nikmat tersebut secara lisan, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.” (QS. Ad-Duha[93]: 11)
Menceritakan nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala ini dapat dipraktikkan di dalam lingkungan keluarga kepada anak, istri, maupun kepada sahabat-sahabat yang tepercaya. Kisah perjalanan hidup mengenai masa-masa sulit dan penderitaan pada masa lalu yang kini telah berubah menjadi kelapangan hidup layak untuk dibicarakan. Hal tersebut bertujuan untuk memicu rasa syukur yang mendalam di dalam hati, sekaligus menjadi benteng agar seorang hamba tidak menghabiskan energinya hanya untuk berkeluh kesah di hadapan manusia.
Sumber Video Khutbah Jumat “Agungnya Ibadah Mengingat Nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala”
Sumber : Firanda Andirja
Yuk, ikut ambil bagian dalam menyebarkan dakwah ini. Bagikan tulisan dan link ini kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat kita. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.
REFERENSI:


COMMENTS