Berikut transkrip khutbah jumat tentang “Khutbah Jumat: Menguji Hamba dengan Dunia: Potensi Menjadi Prestasi” yang disampaikan Ustadz Ammi Nur Baits, Hafidzahullahu Ta’ala
KHUTBAH PERTAMA : Hakikat Ujian Kebaikan dan Keburukan Melalui Kemewahan Dunia
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ. وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ
Dalam hadits riwayat Bukhari dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ مِائَةَ دَرَجَةٍ أَعَدَّهَا اللَّهُ لِلْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِهِ مَا بَيْنَ الدَّرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ
“Sesungguhnya di surga itu ada seratus derajat yang khusus Allah sediakan untuk orang-orang yang berjihad di jalan-Nya. Jarak antara dua derajat seperti jarak antara langit dan bumi.” (HR. Bukhari)
Para ulama menjelaskan secara detail mengenai cara Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan balasan kepada hamba-Nya. Meskipun jenis amalnya sama, yakni jihad fi sabilillah, hasil yang diterima berbeda-beda, mulai dari peringkat pertama hingga peringkat keseratus. Sebagai gambaran, umat Muslim saat ini mungkin melakukan amal yang sama, seperti melaksanakan salat Jumat, namun pahala yang diperoleh tentu tidak sama.
Perbedaan pahala tersebut terjadi antara mereka yang datang lebih awal, duduk di barisan depan, mendengarkan khutbah dengan maksimal, serta berusaha fokus, dibandingkan dengan mereka yang duduk di barisan belakang, datang terlambat, tidak konsentrasi, ataupun mengantuk. Perbedaan ini tetap ada meskipun jenis amalnya sama, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat detail dalam memberikan pahala kepada setiap hamba.
Oleh karena itu, ketika menyadari bahwa salat Jumat merupakan sebuah forum untuk dzikrullah, sudah selayaknya aktivitas lain ditinggalkan dan waktu khusus disediakan demi memuliakan ibadah tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala bahkan melarang aktivitas yang produktif sekalipun demi mendahulukan salat Jumat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila telah diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.” (QS. Al-Jumu’ah[62]: 9)
Praktik jual beli serta aktivitas ekonomi yang menghasilkan keuntungan dilarang dilakukan agar seseorang dapat menghadiri salat Jumat. Berdasarkan ketentuan tersebut, aktivitas yang berada di bawah kadar produktif, seperti sekadar bermain atau beristirahat, sudah seharusnya dihentikan sementara waktu demi menghadiri salat Jumat.
Pembahasan utama kali ini berkaitan dengan bentuk ujian yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menguji hamba-Nya melalui kebaikan maupun keburukan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً
“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan.” (QS. Al-Anbiya[21]: 35)
Fitnah atau ujian hidup yang dialami oleh seorang hamba dapat berupa musibah ataupun berupa kenikmatan. Tidak jarang, hamba yang dianugerahi kenikmatan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala justru terjerumus ke dalam kebinasaan akibat kenikmatan tersebut, sebagaimana kisah yang disebutkan di dalam Al-Qur’an.
Salah satu contohnya adalah seorang raja yang berkuasa dalam jangka waktu yang sangat lama. Akibat masa kekuasaan yang panjang tersebut, ia menjadi takabur hingga berani menentang Nabi Ibrahim Alaihis Salam dan mengingkari keberadaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Penguasa tersebut adalah Raja Namrud. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an:
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ أَنْ آتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ
“Kamu perlu mengetahui tentang orang yang mendebat Ibrahim mengenai Tuhannya karena Allah telah menganugerahkan kerajaan kepadanya.” (QS. Al-Baqarah[2]: 258)
Al-Hafizh Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Namrud mengingkari keberadaan Tuhan setelah ia bertahta dalam waktu yang sangat lama. Masa kekuasaan yang panjang itu menumbuhkan kesombongan yang luar biasa dalam dirinya, hingga ia mengeklaim dirinya sebagai Tuhan. Ia kemudian menuntut rakyatnya untuk menyembah dirinya, serta mengaku memiliki kemampuan untuk menghidupkan, mematikan, dan mengendalikan segala sesuatu. Padahal, seluruh kekuasaan tersebut sejatinya merupakan pemberian dari Allah ‘Azza wa Jalla.
Contoh lainnya adalah Qarun. Ia dianugerahi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala harta kekayaan yang sangat melimpah. Al-Qur’an menggambarkan keluasan kekayaan Qarun melalui firman-Nya:
إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوءُ بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّةِ
“Sesungguhnya kunci-kunci perbendaharaannya sungguh berat dialihkan oleh sekelompok orang yang kuat-kuat.” (QS. Al-Qashash[28]: 76)
Kunci utamanya adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menceritakan tentang jumlah hartanya, melainkan menceritakan tentang kunci-kunci perbendaharaannya. Hal ini menunjukkan betapa banyaknya gudang penyimpanan harta yang dimiliki oleh Qarun. Namun, ketika Qarun diingatkan oleh masyarakatnya untuk bertakwa dan kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ia justru menolak. Ia mengeklaim bahwa seluruh harta tersebut diperoleh karena ilmu, kepintaran, keuletan, serta kerajinan dirinya dalam bekerja. Qarun melupakan Zat yang memberikan nikmat dan justru merasa ujub dengan kelebihan yang ada pada dirinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabadikan perkataan Qarun tersebut dalam Al-Qur’an:
قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِنْدِي
“Dia (Qarun) berkata, ‘Sesungguhnya aku diberi (harta itu) semata-mata karena ilmu yang ada padaku.'” (QS. Al-Qashash[28]: 78)
Sejarah seperti itu sangat mungkin berulang kembali, dan pelakunya bisa jadi adalah masyarakat yang hidup pada zaman sekarang. Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan aneka kejadian pada masa silam bertujuan agar menjadi pelajaran bagi seluruh hamba hingga akhir zaman. Melalui peristiwa-peristiwa tersebut, dapat dipahami bahwa ada di antara manusia yang silau dengan kelebihan serta kemewahan yang dimiliki, baik berupa harta, jabatan, maupun fasilitas lainnya, hingga membuat mereka jauh dari agama. Padahal, jika tolok ukur kebaikan terletak pada titik ketika seorang manusia diberi kelebihan dan kemewahan harta, tentu para nabi akan diberikan kemewahan seperti itu oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Namun, kenyataannya para nabi justru dominan hidup dalam kesederhanaan. Hal tersebut dapat dilihat pada kehidupan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Walaupun ada orang yang beralasan bahwa beliau adalah seorang nabi, setidaknya hal itu menjadi teladan yang nyata. Andaikan dunia ini mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti akan menjadikan para nabi sebagai manusia yang paling kaya.
Nabi Yusuf Alaihis Salam juga memiliki pengalaman hidup yang sangat pahit sebelum akhirnya diangkat menjadi menteri. Beliau pernah dimasukkan ke dalam sumur, dijual sebagai budak, hingga dituduh hendak melempar fitnah kepada seorang wanita. Padahal, sejatinya wanita itulah yang mengajak Nabi Yusuf untuk berzina. Akibat fitnah tersebut, beliau harus mendekam di dalam penjara dalam kurun waktu yang lama serta menerima aneka tuduhan lainnya.
Berkaca dari semua pengalaman pahit tersebut, para ulama menjelaskan bahwa andaikan dunia ini mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah tidak akan memberlakukan orang-orang saleh dan para nabi kekasih-Nya dengan perlakuan seberat itu di dunia. Seluruh kenyataan pahit dari sisi materi yang dialami oleh para nabi membuktikan bahwa dunia ini bukan merupakan tujuan akhir dari kehidupan manusia yang mulia. Mengenai hinanya nilai dunia di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda dalam sebuah hadits:
لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ
“Seandainya dunia ini memiliki nilai yang sepadan dengan satu sayap seekor nyamuk di sisi Allah, maka Orang kafir yang tidak mau beribadah kepada Allah tidak akan diberikan seteguk air pun untuk diminum.” (HR. Tirmidzi)
Oleh karena itu, ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala sudah memberikan kelebihan duniawi, kata kuncinya adalah belajar untuk hidup zuhud. Zuhud bukan masalah kaya atau miskin, melainkan sebuah amal batin mengenai cara seseorang memutus keterikatan antara kondisi lahiriah dengan kondisi hatinya. Terkait hal ini, ada seseorang yang bertanya kepada Imam Ahmad bin Hambal mengenai kemungkinan seseorang menjadi manusia yang zuhud sementara ia memiliki harta sebanyak seribu dinar. Nilai seribu dinar tersebut setara dengan empat kilogram emas pada saat ini, yang berarti bernilai miliaran rupiah. Seseorang tetap dapat menjadi manusia yang zuhud meskipun memiliki harta miliaran rupiah dengan sebuah syarat khusus. Imam Ahmad bin Hambal menjelaskan syarat tersebut:
أَنْ لَا يَفْرَحَ إِذَا زَادَتْ وَلَا يَحْزَنَ إِذَا نَقَصَتْ
“Dia tidak bertambah gembira ketika hartanya bertambah dan tidak bersedih ketika hartanya berkurang.” (Kitab Al-Zuhd)
Melalui prinsip tersebut, suasana yang ada di luar tidak akan memengaruhi kondisi batinnya. Pada saat itulah, seorang hamba dapat berada di posisi sebagai manusia yang zuhud. Nabi Sulaiman Alaihis Salam adalah seorang nabi yang sangat kaya, namun beliau tetap zuhud. Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu anhu, meskipun seorang saudagar yang kaya raya, beliau adalah orang yang zuhud. Umar bin Khattab juga memiliki kekayaan yang besar, namun beliau tetap hidup zuhud.
Demikian pula dengan beberapa sahabat nabi yang lain, seperti Abdurrahman bin Auf, Saad bin Abi Waqqas, dan Ibnu Umar. Warisan yang mereka tinggalkan ketika meninggal dunia berjumlah melimpah ruah, namun mereka tetap menjadi manusia yang zuhud selama hidup di dunia. Karena itulah, Imam Ahmad bin Hambal menyatakan:
وَلِهَذَا كَانَ أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَزْهَدَ النَّاسِ لِمَا فِيهِ فِيهِمْ مِنَ الْأَمْوَالِ
“Karena itulah para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjadi manusia yang paling zuhud meskipun harta melimpah di tangan mereka.” (Kitab Al-Zuhd)
Sebagian di antara sahabat tersebut terbukti memiliki berkilo-kilogram emas saat meninggal dunia, dengan nilai warisan mencapai miliaran bahkan triliunan rupiah. Harta melimpah itulah yang ditinggalkan oleh para sahabat, namun mereka tetap menjadi manusia yang tahu diri dan bijaksana dalam berinteraksi dengan harta.
Mereka diuji oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berhasil melalui ujian tersebut. Harta hanya ada di tangan, tetapi tidak sampai merasuk ke dalam hati. Demikian khutbah pertama ini disampaikan, semoga memberikan manfaat bagi jamaah sekalian.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّه
KHUTBAH KEDUA : Memaksimalkan Potensi Diri Menjadi Hamba yang Bermanfaat
الْحَمْدُ لِلَّهِ وَكَفَى، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِهِ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ Lَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Hadirin jamaah Jumat yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Setiap orang tentu teringat akan cita-cita orang tua saat mereka melaksanakan akikah, atau secara umum ketika mengharapkan kehadiran anak yang baru lahir. Orang tua selalu memanjatkan doa agar anak tersebut tumbuh menjadi anak yang saleh atau shalehah, serta berguna bagi nusa, bangsa, negara, agama, dan masyarakat. Harapan utama orang tua adalah agar keturunan mereka menjadi hamba yang mendatangkan manfaat bagi sesama. Belum pernah dijumpai orang tua yang tujuan utamanya ketika anak lahir hanyalah mendoakan agar menjadi anak yang kaya raya, memiliki jabatan tinggi, atau hal-hal duniawi lainnya semata, melainkan mereka selalu mendoakan agar anak tersebut menjadi sosok yang berguna.
Penting untuk merenungkan sejauh mana pembuktian diri dalam mewujudkan harapan luhur orang tua tersebut. Dari sinilah perlu dipahami perbedaan antara potensi dan prestasi. Kekayaan sejatinya berada pada ranah potensi pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan sebuah prestasi. Jika kekayaan dikategorikan sebagai prestasi, hal tersebut berarti para nabi yang hidup miskin dinilai tidak berprestasi. Padahal, banyak nabi serta orang-orang saleh yang menjalani kehidupan dalam kondisi penuh keterbatasan. Kekayaan mutlak berada di posisi potensi.
Sebuah potensi baru akan berubah menjadi prestasi apabila seorang hamba memanfaatkannya untuk memberikan kemanfaatan bagi orang lain. Pada titik itulah letak keberkahan seorang hamba berada. Mengenai keutamaan ini, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani)
Tidak sedikit orang yang memiliki kekayaan melimpah atau jabatan yang tinggi, tetapi ketika seluruh fasilitas tersebut hanya dipergunakan untuk kepentingan pribadi, maka eksistensinya tidak memiliki nilai di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan perumpamaan bahwa manusia itu layaknya barang tambang. Beliau bersabda dalam hadits:
النَّاسُ مَعَادِنُ كَمَعَادِنِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ
“Manusia itu seperti barang tambang, layaknya tambang emas dan perak.” (HR. Bukhari)
Artinya, setiap manusia dianugerahi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala potensi yang beragam; ada yang memiliki nilai tinggi dan ada pula yang lebih rendah. Namun, seluruh barang tambang ini hanya akan bernilai jika tidak dibiarkan terpendam di dalam tanah. Dapat dibayangkan apabila tanah bauksit atau bijih emas hanya tersimpan di dalam bumi tanpa pernah diproduksi dan dimanfaatkan. Kondisi tersebut serupa dengan seseorang yang memiliki potensi besar tetapi tidak memberikan manfaat bagi orang lain.
Sesuatu baru akan bernilai dan menjadi prestasi yang sesungguhnya pada saat manusia mampu memberikan kontribusi positif bagi sesamanya. Hal itulah yang menjadi kunci keberkahan hidup serta ladang perlombaan yang sesungguhnya. Oleh karena itu, siapa pun yang dikaruniai kelebihan oleh Allah ‘Azza wa Jalla, hendaknya berusaha mengabdikan diri untuk kemaslahatan masyarakat, terutama dalam mendukung kegiatan amal saleh. Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menilai setiap amal hamba sekaligus dampak atau pengaruh yang ditimbulkannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan hal ini dalam Al-Qur’an:
إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ
“Sungguh, Kamilah yang menghidupkan orang-orang mati, dan Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuz).” (QS. Yasin[36]: 12)
Berdasarkan ayat tersebut, yang dicatat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak hanya sebatas amal perbuatan yang dilakukan, melainkan juga dampak luas dari amal tersebut. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menjadikan kita sebagai hamba-Nya yang penuh berkah, hamba yang mampu memberikan manfaat bagi sesama, serta dimampukan untuk memaksimalkan segala potensi pemberian Allah untuk kebaikan umat dan masyarakat.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Sumber Video Khutbah Jumat “Menguji Hamba dengan Dunia: Potensi Menjadi Prestasi”
Sumber : anb channel
Yuk, ikut ambil bagian dalam menyebarkan dakwah ini. Bagikan tulisan dan link ini kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat kita. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.


COMMENTS