Berikut transkrip khutbah jumat tentang “Khutbah Jumat: Bahaya Menyia-Nyiakan Waktu” yang disampaikan Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, Hafidzahullahu Ta’ala
Khutbah Pertama : Bahaya Menyia-Nyiakan Waktu yang Lebih Parah daripada Kematian
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 102)
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
“Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu, dan darinya Allah menciptakan istrinya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki yang banyak dan perempuan. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS. An-Nisa[4]: 1)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab[33]: 70-71)
فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ
“sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Seburuk-buruk urusan adalah perkara yang diada-adakan, setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.” (HR. Muslim)
Ma’asyiral muslimin,
sidang Jumat yang semoga dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Marilah senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala nikmat yang telah dianugerahkan, dengan menjadikan segenap nikmat tersebut sebagai sarana mendekatkan diri kepada-Nya melalui rasa syukur dan tahmid. Apabila nikmat-nikmat tersebut dipergunakan di jalan selain takwa, hal itu akan berbalik menjadi bumerang serta membuahkan azab karena digolongkan sebagai perbuatan kufur nikmat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُ كُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.'” (QS. Ibrahim[14]: 7)
Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya takwa, serta jangan sampai ajal menjemput kecuali dalam kondisi beriman kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berbicaralah dengan benar serta jujur, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memperbaiki urusan, menyempurnakan amal-amal, serta mengampuni dosa-dosa hamba-Nya. Barang siapa yang taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka sungguh ia akan memperoleh kemenangan yang agung.
Ma’asyiral muslimin yang semoga dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beserta keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang istiqamah berjalan di bawah naungan sunnah beliau hingga hari kiamat kelak.
Banyak orang beranggapan bahwa kematian merupakan momok yang paling menakutkan atau ancaman terbesar bagi seorang manusia di dunia. Bagi yang masih memiliki pandangan demikian, perlu menyimak penjelasan para ulama mengenai adanya suatu perkara yang jauh lebih mengerikan, lebih menakutkan, serta lebih membinasakan daripada kematian itu sendiri.
Ibnu Qayyim rahimahullahu ta’ala menjelaskan:
إِضَاعَةُ الْوَقْتِ أَشَدُّ مِنَ الْمَوْتِ
“Menyia-nyiakan waktu itu lebih parah daripada kematian.” (Al-Fawaid)
Membuang-buang waktu untuk hal yang tidak diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik untuk aktivitas yang dibenci oleh-Nya maupun perbuatan mubah yang berlebihan tanpa adanya unsur ibadah serta ketaatan, memiliki dampak yang jauh lebih fatal daripada kematian. Mengenai alasan di balik pernyataan tersebut, para ulama memaparkan:
لِأَنَّ إِضَاعَةُ الْوَقْتِ تَقْطَعُكَ عَنِ اللَّهِ وَالدَّارِ الْآخِرَةِ، وَالْمَوْتُ يَقْطَعُكَ عَنِ الدُّنْيَا وَأَهْلِهَا
“Karena menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu dari Allah dan negeri akhirat, sedangkan kematian hanyalah memutuskanmu dari dunia dan penduduknya.” (Al-Fawaid)
Oleh sebab itu, membuang-buang waktu dalam hal-hal yang tidak bermanfaat, yang sunyi dari unsur ketaatan dan ibadah, serta berlebihan dalam perkara mubah, merupakan sebuah kerugian yang sangat nyata.
Menyia-nyiakan waktu akan memutuskan hubungan seorang hamba dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, membuat seseorang tidak sampai kepada-Nya, serta mendatangkan kesengsaraan di kampung akhirat. Sebaliknya, kematian dengan segala kengeriannya pada substansinya hanya memisahkan manusia dari dunia, ahli dunia, penduduk dunia, beserta segala fasilitas dunia.
Kematian dengan segala kengeriannya tidak memisahkan seseorang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kematian tidak memisahkan seseorang dari akhirat maupun surga. Bahkan, kematian justru menjadi satu-satunya jembatan untuk kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta jalan utama menuju kampung akhirat dan surga-Nya. Oleh karena itu, para ulama menjelaskan bahwa menyia-nyiakan waktu jauh lebih menakutkan dan mengerikan daripada kematian. Membuang-buang waktu akan memisahkan seseorang dari surga. Apabila waktu tersebut digunakan untuk kesyirikan, baik syirik besar maupun kekufuran, perpisahan dengan surga tersebut akan terjadi selama-lamanya.
Terdapat fakta yang sangat mencengangkan dan jarang dipikirkan oleh banyak pihak. Kematian dengan segala kengeriannya memang tidak pernah meremehkan kondisi manusia, terlebih dengan banyaknya kesalahan dan dosa yang dimiliki. Namun, substansi kematian tidak pernah memisahkan seorang hamba dengan Rabb-Nya. Kematian tidak pernah memisahkan seorang hamba dengan surga, melainkan perbuatan membuang-buang waktulah yang melakukannya. Terlebih jika waktu tersebut diisi dengan maksiat, perkara yang haram, serta hal-hal yang mungkar. Perbuatan itulah yang akan memisahkan manusia dari surga Allah Subhanahu wa Ta’ala, menghalangi kesempatan untuk melihat wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala di surga, serta mendatangkan murka-Nya pada hari kiamat kelak.
قُلْ قِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ
KHUTBAH KEDUA: Urgensi Menjaga Setiap Detik Umur dari Kerugian Dunia dan Akhirat
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَالصَّلَا وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ
Ma’asyiral muslimin yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَالْعَصْرِ، إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ، إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi waktu. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Asr[103]: 1-3)
Melalui ayat tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan kelompok manusia yang dikecualikan dari kerugian, yaitu orang-orang yang mengisi waktunya dengan iman, amal saleh, serta saling menasihati untuk terus berada di atas kebenaran dan kesabaran. Merekalah orang-orang yang terjaga dari kerugian, baik di dunia maupun di akhirat.
Ma’asyiral muslimin yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Seseorang sering kali berusaha keras menjaga dirinya dari kematian, meskipun segala usaha tersebut tidak akan pernah bisa mengubah takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal itu memang sudah menjadi tabiat manusia.
Terdapat sebuah kontradiksi pada prinsip manusia dalam menyikapi waktu. Seseorang bisa sangat waspada dan terjaga jika sudah berbicara tentang kematian, namun pada saat yang sama, ia begitu mudah membuang-buang waktu. Sebagai contoh, seseorang akan berusaha berobat ke sana kemari, berpindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit yang lain ketika dokter memvonisnya mengidap penyakit serius yang dapat mengarah pada kematian. Ia akan berusaha keras melawan penyakit tersebut melalui pengobatan serta doa agar Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kesembuhan. Ia tidak cukup dengan mencari opini dari satu dokter, melainkan mencari opini kedua hingga ketiga, serta rela pergi mengunjungi rumah sakit A demi rumah sakit B.
Sikap manusia terhadap waktu sering kali kontradiktif dengan sikapnya terhadap kematian. Manusia kerap membiarkan detik demi detik terbuang, serta membiarkan menit demi menit berlalu begitu saja tanpa dzikir, tanpa istighfar, tanpa taubat, dan tanpa amal saleh. Bahkan, waktu tersebut tidak jarang diisi dengan kemaksiatan dan kemungkaran. Padahal, kelalaian inilah yang dapat memisahkan seorang hamba dari surga serta membuatnya gagal mendapatkan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Apabila seorang anak manusia bersedia mengeluarkan seluruh kekuatan penuh demi kesembuhan dari penyakit serta agar selamat dari kondisi darurat, sudah seharusnya ia menggunakan kekuatan yang sama besar untuk mengisi waktunya. Kekuatan tersebut mesti digunakan untuk menjaga agar setiap detik, menit, dan jam tidak terbuang dengan percuma.
Terlebih lagi, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan kemudahan untuk beramal saleh. Berdzikir dan beristighfar sama sekali tidak membutuhkan modal materi maupun energi yang besar. Seseorang dapat dengan mudah mengucapkan kalimat istighfar:
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
Ketika sedang menunggu lift atau transportasi umum, seseorang juga dapat mempergunakannya untuk murajaah Surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas. Aktivitas tersebut tidak membutuhkan kekuatan hafalan yang sangat berat sewaktu seseorang menunggu taksi atau menunggu rekan mengambil mobil dari tempat parkir. Namun, kesempatan berharga itu sering kali disia-siakan. Bahkan, sekadar untuk tersenyum dan mengucapkan salam yang sejatinya merupakan amal saleh, sumber pahala, serta mendatangkan keberkahan, manusia sering merasa tidak memiliki waktu.
Oleh karena itu, ma’asyiral muslimin yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala, setiap muslim hendaknya menjaga waktu minimal sama seperti menjaga nyawanya sendiri. Bahkan, sangat utama jika penjagaan terhadap waktu tersebut dapat melebihi penjagaan terhadap nyawa. Hal itu dikarenakan menyia-nyiakan waktu jauh lebih parah daripada kematian jika ditinjau dari sudut pandang para ulama.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan hamba-hamba-Nya termasuk orang-orang yang mampu menjaga waktu dan mengubah kebiasaan membuang-buang waktu. Dengan demikian, hubungan seorang hamba tidak terputus dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak dipisahkan dari surga-Nya pada hari kiamat, serta mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan Allah Subhanahu wa Ta’ala kelak.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab[33]: 56)
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا
اللَّهُمَّ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ، اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا أُمُورَنَا كُلَّهَا، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Sumber Video Khutbah Jumat: “Bahaya Menyia-Nyiakan Waktu”
Sumber : Muhammad Nuzul Dzikri
Yuk, ikut ambil bagian dalam menyebarkan dakwah ini. Bagikan tulisan dan link ini kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat kita. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.


COMMENTS